“Apa ku bilang, kamu akan terlihat sangat cantik saat menggunakan baju ini,” ucap Arnold, seraya memandang penampilan Bella dari atas sampai bawah.
Sebuah gaun malam berwarna biru muda yang membalut tubuhnya, pas namun tertutup dengan sempurna.
Bella yang dipuji tersenyum, seraya tersipu malu.
“Aku memang cantik,” jawab Bella dengan percaya diri, sementara Arnold, langsung mengelus pucuk kepala sahabatnya itu dengan sayang.
“Akan lebih cantik lagi jika senyummu itu tulus, tidak dibuat-buat.”
Bella, langsung mencebik.
Kedatangan Azam sore tadi, memang berhasil merusak suasana hatinya. Bahkan hingga malam begini, ia masih saja merasa kesal.
“Ayo pergi,” ajak Arnold kemudian, seraya menyerahkan lengannya untuk dipeluk oleh Bella.
Dengan riang, Bella menerima uluran lengan itu. Mereka berjalan beriringan dengan Bella yang memeluk lengan Arnold, erat.
Kenapa Bella tidak menikah saja dengan tuan Arnold, kenapa pula harus menikah dengan Azam. Rutuk Fhia, ia mengekor dibelakang Bella dan Arnold, bersama para penjaga yang sudah siap melindungi Bella dari serangan wartawan.
Dari kemarin, Bella dan Arnold memang sudah saling sepakat, jika Arnold akan menemani Bella dalam acara malam ini. Peluncuran mode terbaru dari sebuah butik ternama di Singapura, Nelson Yapp.
“Aduh, aku kebelet pipis, tunggu sebentar ya,” pinta Bella seraya meringis menahan sesuatu dibawah sana.
Arnold hanya terkekeh, dan melihat Bella yang berlari seraya menarik Fhia ke toilet di basement apartemen mereka.
Arnold, menunggu di sana, seraya menyandarkan tubuhnya di mobil.
“Ar,” panggil seorang pria dengan suaranya yang berat.
Arnold langsung menoleh kearah sumber suara dan melihat Azam yang datang mendekat.
Arnold, langsung tersenyum miring.
Semenjak ia mengetahui semuanya dari Bella, hubungannya dengan Azam sudah tak baik lagi. Arnold lebih memilih menghindar, daripada tak kuat menahan tangannya untuk memukul wajah si brengsek ini, pria pengecut.
“Kamu datang?” tanya Azam, ketika ia sudah berdiri dihadapan Arnold, sementara Arnold acuh, tetap bersandar di samping mobilnya dan memilih memainkan ponsel.
“Kamu hanya tahu cerita dari Bella Ar, kamu belum dengar cerita dariku.” Ucap Azam kemudian, membuat Arnold akhirnya melirik.
Kini, Arnold bahkan mulai tegak dan berdiri dengan sempurna.
“Aku memang brengsek Zam, tapi aku tidak pernah mempermainkan wanita. Karena apa? Karena ibu dan adikku juga wanita.” Jawab Arnold lantang. Ia malah benci mendengar ucapan Azam tadi, seolah Azam malah akan menyudutkan Bella dan mencari pembelaan untuk dirinya sendiri. Menutupi kesalahannya dengan menyalahkan orang lain.
Cih, Arnold tak habis pikir.
Azam yang mendengar penuturan Arnold pun bergeming, langsung terlintas dibenaknya wajah ibu Haura dan kedua adiknya, Zura dan Agata.
Azam, hanya mampu menelan salivanya dengan susah payah.
“Semuanya tidak semudah itu Ar, harusnya kamu dengar dulu penjelasanku.”
“Tidak perlu, Aku tahu kenapa kamu lebih berat pada wanita itu dibanding Bella, aku tahu karaktermu Zam, dan aku tau persis kamu menginginkan istri yang seperti apa. Karena itulah, lebih baik cepat ceraikan Bella dan nikahilah wanitamu itu,” ucap Arnold lagi dengan begitu santainya, seolah urusan cerai antara Azam dan Bella adalah perkara yang mudah.
Azam hanya diam. Karena baginya berpisah dengan Bella tidak bisa segampang itu. Ia butuh waktu, butuh alasan yang tepat, agar semua keluarganya mengerti.
Diujung sana, langkah Bella langsung memelan, saat melihat Arnold tidak sendirian. Tapi juga ada si pria brengsek.
“Bell, jangan ragu, turuti saja semua kemauan dia. Tunjukkan jika apapun perlakuannya tidak akan mempengaruhimu,” ucap Fhia, tak ingin Bella jadi lemah.
Tidak menjawab apapun, Bella hanya melangkahkan kakinya dengan lebih mantap.
Hingga ia berdiri diantara Azam dan Arnold.
“Ayo Ar, kita pergi,” ajak Bella, ia menyelipkan rambutnya kebelakang telinga dan berbicara pada Arnold seraya mengabaikan Azam.
Arnold mengangguk, ia lalu berjalan hendak membukakan pintu Bella disebelah sana. Bella pun mengikuti, namun terhenti saat Azam malah menahan lengannya.
“Pergi bersamaku,” ucap Azam dengan suaranya yang dingin.
“Baiklah, tapi lepas tangan kotormu itu,” jawab Bella, dengan segera ia menarik lengannya kuat.
Bella berbalik, ia lalu menarik Arnold untuk masuk pula ke mobil Azam.
Masuk kesana lalu menutup pintu dengan keras.
Membuat Azam memejamkan matanya sejenak, menahan amarahnya agar tidak terpancing.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Arnold dengan terkekeh. Merasa lucu dengan sikap Bella itu, menariknya pula untuk masuk ke dalam mobil ini.
“Ikuti sajalah,” jawab Bella pula.
Azam masuk ke dalam mobilnya dan mengemudi. Dengan Bella dan Arnold di kursi belakang.
Sesekali, Azam mendengar, Bella yang berbisik-bisik dengan Arnold. Membuatnya sungguh merasa tak nyaman.
Hingga akhirnya, Azam menghentikan mobil itu di pinggir jalan, meskipun tempat tujuan mereka masih jauh.
“Pindah kedepan!” titah Azam, tapi yang turun malah Arnold dan bukannya Bella, membuat Azam kehabisan kata-kata, dan menelan kekesalannya sendiri.
Cukup lama menempuh perjalanan, akhirnya mobil mereka sampai di Nelson Yapp. Acara malam ini akan diadakan di butik itu, disebuah aula yang memang digunakan untuk fashion show.
Ini adalah kali pertama, Azam mendampingi Bella dalam bekerja. Jujur saja, ia merasa tak nyaman. Apalagi saat banyak wartawan tiba-tiba datang menyerang.
Arnold turun lebih dulu dan membukakan pintu untuk Bella, dengan menerima uluran tangan Arnold itu, Bella akhirnya keluar. Lalu disusul pula oleh Azam.
Bella, langsung tersenyum lebar dan mengedarkan pandangannya, menghargai setiap kamera yang meliputnya dengan antusias.
Hingga akhirnya Azam berdiri di sana dan memperlihatkan senyum kecil.
Nyonya, kenapa anda malah memeluk lengan tuan Arnold, kenapa bukan lengan tuan Azam? Tanya salah satu wartawan.
Bella tersenyum, dan menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan itu.
“Arnold bukan hanya sahabatku, tapi dia juga sahabat suamiku. Ku rasa kalian juga tahu itu kan, lagipula, jika aku ada hubungan dengan Arnold, aku akan lebih memilih sembunyi-sembunyi, daripada memperlihatkan secara umum seperti ini,” jawab Bella, belum lepas pula senyum di bibirnya.
Sebuah jawaban yang begitu menyindir Azam, tentang hubungan dan bersembunyi-sembunyi.
“Ayo sayang, masuk,” ajak Bella pada suaminya, ia bahkan menggenggam tangan Azam dan membawa suaminya ini masuk. Tapi tangannya yang lain, masih memeluk erat lengan Arnold.
Sampai didalam, Azam, langsung menarik tangannya dengan kuat. Entah kenapa, ia merasa Bella sudah menginjak-nginjak harga dirinya.
Azam bahkan langsung menarik Bella dan membawanya entah kemana.
Arnold hendak menahan, namun langkahnya terhenti oleh anak buah Azam.
“Lepas!” pekik Bella, ia tak tahu Azam hendak membawanya kemana. Hingga dilihat olehnya, sebuah pintu yang bertuliskan tangga darurat.
Azam, membukanya dengan kasar dan menarik Bella masuk.
“Zam! Tanganku sakit!” pekik Bella lagi, berusaha menarik tangannya tapi gagal.
“Jangan sentuh aku brengsek! Aku tidak sudi tangan kotormu itu menyentuhku!”
“Tanganku kotor? Lalu tanganmu apa?!” tanya Azam, dengan suaranya yang membentak. Membuat Bella takut dan langsung diam.
Bella bahkan, tak lagi memberontak. Membiarkan pergelangan tangannya dicekal oleh sang suami.
“Berhenti memeluk Arnold di hadapanku.”
Bella, hanya diam, sedikit menunduk.
“Aku tahu aku salah Bell, aku tahu aku sudah menyakitimu dan juga Raya. Tapi kita sudah sepakat untuk bercerai kan? Karena itulah, bisakah kita tetap memiliki hubungan yang baik? Seperti dulu, sebelum kita menikah.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
komalia komalia
aku benci kamj azzam
2025-01-23
0
andi hastutty
Enak ajha mau hubungan seperti dlu
2024-09-14
0
Leng Loy
Kasian sekali kamu Bell
2024-06-11
0