Fhia, memang selalu meminta kepadanya untuk menuruti semua mau Azam. Tapi untuk yang satu ini, Bella tidak bisa.
“Tidak Zam, hubungan kita sudah rusak. Sekarang lebih baik kita saling menghindar. Aku tidak mau bertemu denganmu lagi,” jawab Bella akhirnya, ia bahkan memutar tangannya agar Azam melepaskan cengkraman tangan itu.
“Tentang perceraian kita, aku aku akan tetap mengajukannya 2 bulan lagi. Ku rasa waktu itu sudah cukup, untuk membuat keluargamu tidak curiga,” jelas Bella lagi, dengan suaraanya yang dingin. Ia berucap pelan sekali.
Seolah tenaganya benar-benar habis hanya untuk berdebat dengan Azam. Hati dan otaknya selalu bekerja keras.
Bahkan Bella terus menurunkan pandangannya, sedikitpun tidak menatap Azam.
“Kamu tenang saja, aku akan membuat semua orang berpikir jika hubungan kita baik-baik saja. Dan saat berpisah nanti, aku akan mengatakan jika prinsip kita berbeda, pandangan hidup kita tak sama.”
Hening, bahkan Azam hanya bergeming, terus menatapi wajah Bella yang tidak menatapnya.
Melihat wajah Bella yang mendadak sendu, membuat Azam pelan-pelan melepaskan genggamannya pada pergelangan tangan istrinya itu.
Ada desiran aneh yang kembali ia rasakan, juga sesak yang tidak bisa ia gambarkan.
Dan Bella langsung menarik tangannya, ingin menjauh. Sakit dihatinya jauh lebih terasa dibanding sakit dipergelangan tangan ini.
“Nanti, aku tidak akan jatuh dan kamu tidak perlu menolongku. Jadi aku mohon, lebih baik kamu pergi,” putus Bella akhirnya.
"Dan satu lagi, berhentilah menyuruh anak buahmu untuk mengikuti aku. Beri aku privasi, seperti aku membebaskanmu dulu."
Setelah mengatakan itu, Bella langsung berbalik dan hendak keluar dari tangga darurat ini. Namun kembali urung, saat Azam kembali menahan tangannya.
Bella menunggu, apa yang akan Azam ucapkan. Bahkan Bella sudah menyiapkan hatinya untuk kembali merasa sakit hati.
Tapi lama menunggu, Azam nyatanya hanya diam, ia bahkan bingung kenapa tangan ini bergerak menahan Bella untuk jangan pergi.
Jengah, akhirnya Bella kembali buka suara.
“Apa masih ada yang belum membuatmu puas?” tanya Bella lirih, ia bahkan sangat enggan untuk menatap Azam.
Hingga akhirnya Bella kembali menarik tangannya dan Azam melepas.
Dan saat itu juga tanpa ada kata lagi, Bella langsung pergi dari sana.
Membiarkan waktu berlalau, detik demi detik. Malam merayap semakin larut. Saat ini bahkan Bella sudah berada di atas catwalk. Memasang wajah dingin dan berjalan dengan sempurna di atas panggungnya.
Arnold dengan setia menunggu sang sahabat, seraya menatap kagum pada Bella.
Jika sedang berada di atas catwalk seperti itu, Bella seperti bukan Bella yang ia kenal. Seolah Bella memiliki auranya sendiri ketika sedang menjadi model.
Bahkan bukan hanya Arnold saja yang merasa kagum, semua tamu undangan yang datang kala itu pun tak henti-hentinya memuji kepawaian Bella.
Saat sang istri tengah tampil dihadapan semua orang, kini Azam sedang berada di dalam mobilnya. Mobil yang sedang dikemudikan oleh Ben. Mereka menuju Bandara internasional Changi dan akan kembali ke Indonesia malam ini juga.
Azam, menatap jalanan yang begitu ramai. Namun hanya kesepian yang ia rasakan. Bahkan hati itu, seolah kosong.
"Ben."
"Iya Tuan," sahut Ben, cepat.
"Katakan pada Priska untuk berhenti mengikuti Bella."
"Baik Tuan," jawab Ben, patuh. Saat itu juga ia memerintahkan Priska untuk meninggalkan sang Nyonya.
Mobil yang dinaiki Azam terus melaju, bahkan Priska pun benar-benar sudah berlalu meninggalkan Bella.
Bella yang kini melangkahkan kakinya dengan kepala yang terus terbayang ucapan Azam.
Ucapan-ucapan menyakitkan yang membuatnya merasa begitu sedih. Kata-kata menyakitkan itu terus terngiang, membuat kepalanya mendadak pusing.
Belum lagi ditambah suara riuh tepuk tangan semua orang. Membuat pandangan Bella terasa mengabur.
Bella, menoleh teman-temannya yang mulai masuk ke balik panggung. Ia menunggu hingga gilirannya tiba.
Hampir saja, Bella jatuh di sana saat kepalanya terasa berputar. Namun sekuat tenaga Bella menahan diri, bersikap seprofesional mungkin.
Semua tamu undangan tak menyadari wajah pucat Bella itu, namun Arnold dapat melihatnya jelas.
Dengan langkah tergesa, Arnold pun berlari ke arah belakang panggung dan ingin menghampiri Bella.
Sampai di ambang pintu, Arnold langsung melihat tubuh Bella yang ambruk.
"Bell!" teriak Fhia, sama terkejutnya dengan Arnold.
Bahkan tim dari Nelson Yapp pun langsung dengan sigap membantu Bella, model andalan mereka.
"Biar aku yang membawanya," ucap Arnold, ia bahkan langsung melepas jasnya dan membalut tubuh Bella dengan itu. Menggendong Bella dengan cepat dan membawanya keluar dari dalam gedung ini.
Melalui pintu darurat, hingga aman dari semua mata wartawan.
Sedangkan Fhia langsung menggunakan masker dan berlari melalui pintu depan. Menyiapkan mobil untuk mereka.
Keempat bodyguard Bella, memastikan semua keadaannya aman.
Mereka semua langsung membelah jalanan kota di malam itu, melaju dengan kecepatan tinggi dan menuju rumah sakit Mount Elizabeth Novena.
Arnold dan Fhia sama-sama cemas, sangat menghawatirkan keadaan Bella. Selama ini, Bella tidak pernah sampai jatuh dan pingsan seperti ini.
Sampai di rumah sakit itu, Bella langsung mendapatkan penanganan di IGD. Saat itu juga dokter mengatakan, jika Bella kelelahan, juga dehidrasi.
Setelah mendapatkan perawatan, Bella segera dipindah ke ruang rawat.
Arnold dan Fhia, masih setia mendampingi.
"Maafkan aku Tuan, aku tidak bisa menjaga Bella dengan baik," lirih Fhia, merasa bersalah. Sebagai asisten pribadi sang model, harusnya ini juga menjadi tanggung jawabnya.
"Ini bukan salahmu Fhia, kamu sudah terlalu sibuk untuk mengurus Bella juga," jawab Arnold. Selain asisten, Fhia juga merangkap jadi manajer. Semuanya, Fhia yang mengurus.
Bella, tidak mau terikat dengan agensi. Dan memilih berjalan sendiri. Dengan begitu ia bisa bebas menentukan waktu kerjanya.
"Ini sudah larut, lebih baik tidurlah, aku akan menjaga Bella," timpal Arnold lagi.
Saat ini, sudah tengah malam.
Bella pun belum sadar juga, kata dokter, saat ini Bella sedang tidur.
Arnold, memilih duduk di pinggir ranjang dengan sofa kecil yang ia pakai. Sementara Fhia, membaringkan tubuhnya di sofa panjang dalam kamar itu.
"Ini semua gara-gara Azam kan Bell?" tanya Arnold, lirih.
Fhia yang sudah terlelap, tak mampu lagi mendengarnya.
"Bertahanlah, setelah berpisah dengan Azam. Aku akan membuat hidupmu kembali dipenuhi kebahagiaan," ucap Arnold lagi, seraya menatap lekat wajah Bella yang nampak damai.
Sejak dulu, Arnold sudah menyukai Bella. Namun Arnold tahu, jika Bella menyukai Azam.
Tak ingin persahabatan mereka hancur hanya karena cinta, Arnold lebih memilih mencintai Bella dalam diam.
Seraya terus memberikan perhatian. Terus mengatakan jika ia menyayangi Bella seperti sang adik.
Namun nyatanya, itu hanyalah alasan.
Malam semakin larut dan menjelang pagi. Bella membuka mata dan melihat Arnold yang terlelap seraya menggenggam erat tangan kanannya.
Kecil, Bella tersenyum getir. Bodohnya sesaat ia mengira, jika itu adalah Azam.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
komalia komalia
ya ampun aku emosi terus ya bahkan sampai kebawa bawa
2025-01-23
0
Leng Loy
Sebenarnya mengharap ada Azam disisinya namun kenyataannya tidak ada, dan Arnold yang setia mendampinginya
2024-06-11
0
Anonim
berarti dalam hati kecil Bella masih berharap sama Azam ya....
2024-03-28
0