Pulang dari Singapura, Zura jadi lebih banyak diam. Ia bahkan menolak saat Julian hendak mengantarnya untuk pulang.
Tapi Julian bukanlah tipe pria penurut, meski Zura menolak ia tetap menarik gadis ini untuk masuk ke dalam mobilnya.
"Kamu tidak ingin langsung pulang kan? katakan, kemana kamu akan pergi, aku akan mengantarmu," ucap Julian, setelah mobilnya melaju keluar dari area parkir bandara internasional Soekarno-Hatta.
Mulai memasuki jalan raya.
Jalanan siang itu cukup padat, Julian memilih sisi kiri dan melaju dengan kecepatan rendah. Melihat wajah Azura yang nampak murung, ia ingin memiliki banyak waktu untuk berbincang.
"Ke tempat acil Luna," jawab Zura lirih, hingga membuat Julian menoleh kearahnya sekilas. Dalam benaknya Julian bertanya-tanya, ada keperluan apa Zura sampai ingin ke rumah tante Luna.
"Ada perlu apa?" tanya Julian langsung, mengungkapkan pertanyaan yang sedang ia pikirkan.
"Aku akan meminta acil Luna untuk menyelidiki rumah tangga abang dan Bella."
Chiit!!
Tiba-tiba, Julian mengerem mendadak, membanting stir hingga mobil mereka berhenti tepat dipinggir jalan raya. Jalan yang terpampang jelas tulisan dilarang parkir.
"Astagfirulahalazim! Julian!" pekik Zura, sungguh terkejut.
Zura tidak tahu, jika jawabannya tentang acil Luna lebih membuat Julian terkejut.
Jika acil Luna sampai tahu bisa dipastikan ayah Adam dan ibu Haura akan tahu semuanya. Acil Luna adalah seorang asisten yang setia pada tuannya.
"Maaf Zura, aku tidak bermaksud menyakitimu, apa ada yang terbentur?" tanya Julian, setelah sadar jika tindakannya barusan sangat membahayakan. Ia bakan menarik kedua bahu Azzura, lalu memeriksa gadis kecilnya ini secara teliti, ingin memastikan secara langsung jika Azzura baik-baik saja.
Mulai dari kepala, dahi, hidung bibir dan semua wajahnya.
"Jangan cemaskan aku, kenapa kamu begitu terkejut saat aku mengatakan akan meminta bantuan pada acil Luna, apa kamu tahu sesuatu tentang abang dan Bella?"
Seketika, pergerakan tangan Julian terhenti. Mendengar pertanyaan Azura itu, membuat ia mendadak gamang. Terhadap Azzura, ia sungguh amatir dalam berbohong.
Bahkan tak lama kemudian, kepala Julian secara otomatis membuat gerakan mengangguk, membenarkan petanyaan Azura itu.
Ya, dia tahu sesuatu tentang rumah tangga Azam dan Bella.
Melihat itu, Azura menghembuskan napasnya pelan. Ia tahu, ada sesuatu yang tidak beres.
"Apa? kenapa tidak ada yang mengatakannya padaku? Arnold juga tahu kan?" desak Azura lagi, makin membuat Julian merasa terpojok.
Sejak kecil saling mengenal, Zura sangat memahami karakter setiap sahabatnya. Azura bisa merasa jika ada sedikit saja perubahan diantara mereka.
"Katakan semuanya, jangan buat aku mengetahuinya dari acil Luna."
Julian, memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya ia mulai menceritakan semuanya pada Azzura.
Semuanya dan ada yang terlewat sedikitpun. Mendengar itu, air mata Zura mengalir dengan sendirinya. Antara malu, marah dan kecewa sekaligus.
Ia tak menyangka, kakak yang begitu dibangga-banggakannya bisa berbuat sehina ini.
Sungguh memalukan.
"Kenapa tidak ada yang mengatakannya padaku, ini masalah penting Julian. Mereka butuh orang ketiga untuk memperbaiki rumah tangga itu, bukannya membiarkan semuanya hancur. Pernikahan itu bukan main-main Julian," ucap Zura, diantara isak tangisnya.
Ia menggelengkan terus kepalanya, menyesalkan keputusan yang akan Bella ambil. Menggugat cerai sang kakak.
"Tidak, aku tidak akan membiarkan mereka berpisah," rancau Zura, berulang kali ia menghapus air matanya namun air mata itu kembali keluar lagi.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan? mengatakannya kepada ayah Adam dan ibu Haura?" tanya Julian, hal inilah yang paling ditakutkan oleh Bella. Keluarga Malik akan tahu sumber masalah keluarga mereka.
Hubungan Azam dan Raya.
"Apa itu yang Bella takutkan? takut semua keluarga akan tahu? apa kalian pikir aku ini anak kecil, hingga aku mengadukan semuanya pada ayah dan ibu?"
"Bukan seperti Zura."
"Lalu apa? memang itukan yang kalian pikirkan? tak ingin aku memberi tahu ayah dan ibu, lalu kalian memilih untuk tidak menceritakan semuanya padaku." jelas Zura, jujur saja ia sangat kecewa.
Azura merasa, ia tak dianggap sebagai seorang sahabat.
"azam memang abangku Julian, tapi aku tidak akan membelanya jika dia salah."
"Aku tahu, maafkan aku," potong Julian cepat. Ia bahkan langsung menarik Azura dan mendekapnya erat.
"Jangan menangis lagi, kami salah, maafkan kami," timpal Julian sungguh-sungguh.
Sementara Azura terus menangis, membuat dada Julian menjadi basah.
Dan Julian terus memeluknya erat, berharap Zura segera tenang.
Keduanya sampai tak sadar, jika mobil mereka sudah ditarik oleh petugas derek.
Sadar sadar mereka sudah berada di kantor polisi.
Julian menyelesaikan tilang parkir sembarangan itu dan Zura masih duduk di dalam mobil ini, menunggu.
Zura termenung, dengan banyak pikiran yang berkecamuk didalam kepalanya.
Rasa-rasanya, ia sungguh tak punya muka untuk bertemu dengan Bella dan rasanyapun ia begitu enggan, untuk melihat wajah sang kakak.
Pelan, Azura mengusap wajahnya frustasi.
"Pikirkan Azura, pikirkan apa yang harus kamu lakukan," gumam Zura, sungguh bingung.
Azura tak ingin Bella dan Azam sampai bercerai. Bagaimanapun dulu, kini mereka adalah sepasang suami istri. Sudah seharusnya pernikahan itu dipertahankan. Yang seharusnya pergi dalam hubungan ini adalah Raya.
"Apa aku harus menemui wanita itu? ah tidak." Zura menggelengkan kepalanya, merasa itu bukanlah ide yang tepat.
Zura tak bisa berbuat gegabah, sementara Julian terua memintanya untuk tetap berpura-pura untuk tidak tahu apa-apa, karena itu adalah keinginan Bella.
Yang bisa Zura lakukan hanya satu, melakukan semuanya secara diam-diam. Hingga Azam dan Bella tidak akan tahu jika ia telah mengusahan agar pernikahan itu selamat.
"Tapi bagaimana? bagaimana caranya ya Allah."
Zura, menyandarkan kepalanya diatas dasboard. Ia bahkan berulang kali mengatuk-ngatukkan kepalanya yang pusing di dashboard mobil itu.
Hingga akhirnya ia berhenti saat sebuah ide muncul di dalam kepalanya.
Zura tersenyum kecil, merasa jika rencananya akan berhasil.
Azam dan Bella selama ini selalu sibuk dengan dunianya masing-masing. Mereka tak memiliki waktu untuk saling dekat dan mengenal. Yang bisa menyatukan keduanya hanyalah satu, keluarga.
Jika ada pertemuan keluarga ataupun perayaan keluarga, maka Bella dan Azam akan bertemu.
Senyum Zura semakin terkembang, saat menyadari jika 2 hari lagi adalah perayaan ulang tahun pernikahan ayah dan ibunya.
Zura akan memanfaatkan waktu itu untuk membuat Azam dan Bella kembali bertemu. Lalu memiliki banyak waktu untuk bersama.
Karena Zura yakin, di depan para keluarga, Bella dan Azam akan menyembunyikan rapat-rapat masalah rumah tangga mereka.
Lalu memperlihatkan pada semua orang jika mereka baik-baik saja. Bahkan memiliki keluarga yang harmonis.
Sebuah drama yang akan dilakukan oleh Bella dan Azam. Zura akan membuatnya menjadi nyata.
"Ayo kita lakukan Bang, Bella, Raya, kita lihat siapa yang akan menang," gumam Zura dengan senyumnya yang makin mengembang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments
andi hastutty
Ayo zura
2024-09-14
0
Leng Loy
Klo udah diselingkuhi tuch sakit Zura, tidak semudah itu menerima kembali
2024-06-11
1
Reza Imam
naif lah gak liat prasaan Bella , big no
2024-04-17
1