Mayra sudah bersiap untuk tidur setelah menyelesaikan segala kewajibannya. Dia juga sudah mengecek segala keperluan pekerjaannya esok hari.
Dia melepas hijab dan membiarkan rambut nya tergerai bebas semalam.
Mayra hendak naik ke tempat tidur ketika ponselnya tiba2 berdering. Ternyata pak Bima yang menelpon.
"Assalamualaikum ayah..apa kabar?"
Sambut Mayra dengan wajah bahagia.
"Waalaikumsalam..ayah baik nak.. bagaimana dengan kamu, apa kamu baik disana?"
"Alhamdulillah..sejauh ini May baik-baik saja Ayah.
Ayah tidak usah menghawatirkan May.."
"Syukurlah ayah lega mendengarnya.."
Mereka terdiam sejenak.
"May..ayah sudah tidak bekerja lagi sekarang.. Tuan Dirga menyuruh ayah berhenti..karena ayah sudah tua."
"Bagus dong kalau gitu yah..itu yang May harapkan selama ini..Ayah tidak usah khawatir May akan mengirimkan uang tiap bulannya pada Ayah.."
"Tidak perlu nak.."
"Kenapa yah?"
"Tuan Dirga sudah menjamin masa tua ayah..Jadi
sekarang kamu fokuslah pada dirimu sendiri nak..!"
"Ohh begitu ya..baiklah kalau gitu..May harap ayah selalu sehat, jangan cape-cape..Kalau May ada waktu nanti May akan berkunjung.."
"Baiklah nak..jaga dirimu baik-baik..Ayah tutup dulu telpon nya, istirahatlah.. Assalamualaikum..!"
"Waalaikumsalam.."
Lirih Mayra mengakhiri percakapan teleponnya dengan sang Ayah.
Mayra beranjak melangkah menuju tempat tidur.
Namun tertahan ketika pintu tiba2 dibuka dari luar, dan sosok Dirga muncul dihadapan nya.
Mereka terdiam di tempat dan hanya saling melihat.
Namun kemudian Mayra cepat tersadar, dia berjalan menghampiri Dirga.
"Tuan.. anda datang?"
Ucapnya seraya mengambil tas kerja ditangan Dirga, ditaruhnya di sofa. Lalu membantu membuka jas yang dipakai Dirga.
Dirga hanya terdiam memperhatikan apa yang dilakukan istrinya itu.
"Kenapa..apa kau tidak suka aku datang?"
Ketus Dirga melonggarkan dasinya.
Mayra terdiam, mereka saling menatap.
Malam ini Mayra memakai gaun tidur sutra warna peach bermotif bunga warna abu yang sedikit pas ditubuhnya. Terlihat cantik dan menawan.
"Bukan begitu Tuan..Aku hanya tidak menyiapkan makan malam untukmu.."
"Aku tidak lapar..!"
Sergah Dirga sambil merangsek maju mendekati Mayra yang otomatis mundur.
Dirga mengernyitkan alis melihat reaksi Mayra.
"Apa tuan ingin mandi..saya akan siapkan air hangat dulu sebentar.."
Ucap Mayra mencoba mengalihkan perhatian dan akan melangkah menuju kamar mandi.
"Tidak perlu aku bisa sendiri..!"
Potong Dirga dengan wajah mulai mengeras.
Tatapannya tidak bisa diartikan, seperti nya suasana hatinya sedang buruk.
Detik berikutnya tangan Mayra ditarik kencang oleh Dirga hingga tubuh Mayra otomatis berbalik menabrak dada bidang Dirga. Tangan Dirga mengunci pinggang ramping nya dan memeluk nya erat.
Tubuh Mayra menegang..wajah mereka kini begitu dekat, mata mereka bertemu saling menatap mencoba membaca apa yang ada dalam pikiran masing-masing
Mayra mencoba berontak dengan mendorong dada bidang Dirga, namun itu seakan sia-sia saja karena Dirga tak bergeser sedikitpun malah kini rengkuhannya semakin kuat.
"Tuan..sebaiknya anda membersihkan diri dulu..saya akan siapkan pakaian anda.."
"Ada hubungan apa antara kau dengan bos mu itu..!"
Sentak Dirga, tatapannya berubah tajam dan menusuk.
Mayra gugup dan makin tegang.
"Ti..tidak ada apa-apa Tuan.."
"Bohong..kau jangan coba-coba bermain di belakang ku..!"
Sentak Dirga dengan suara sedikit meninggi.
Dia mengangkat dagu Mayra hingga kini wajah mereka benar2 tanpa jarak.
"Aku tidak bohong..anda bisa mencari tahu sendiri kebenarannya.."
"Aku tidak percaya..Kau sudah berani bermain2 di belakangku.. bukankah sudah aku peringatkan..! Kau harus tahu batasanmu..!!"
Dirga berucap sambil tangannya membelai wajah Mayra, napasnya kian memburu.
"Tidak..itu tidak benar..Hubunganku dengan pak Agam hanya sebatas atasan dan bawahan semata..!"
"Kau sudah menghinaku dengan berani bermain di belakangku..!"
"Anda juga sudah menghinaku dengan menuduhku tanpa bukti.."
Suara Mayra tercekat, terdesak oleh rasa marah dan kesal yang menghimpit dadanya. Air mata mulai menetes dipipi mulusnya.
"Baiklah..kita akan buktikan itu sekarang juga.."
Ucap Dirga kemudian sambil tiba2 membopong tubuh Mayra berjalan menuju tempat tidur.
"Tuan..lepaskan aku..apa yang akan kau lakukan..!"
Mayra panik, dia mencoba meronta dari pelukan Dirga yang pada detik berikutnya sudah menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Mayra bangkit beringsut mundur menyentuh kepala ranjang, dia menarik selimut ingin menutupi tubuhnya.Tapi Dirga lebih dulu menariknya dan membuangnya ke sembarang arah.
Dirga naik ke atas tempat tidur, melepaskan dasi dari lehernya dan membuka kancing kemeja bagian atasnya. Mayra makin panik, dia mencoba beranjak ingin turun dari tempat tidur.
Tapi Dirga mengurung nya dengan meletakan kedua telapak tangannya disisi kanan kiri tubuh Mayra.
"Tuan..kita bisa bicarakan ini baik-baik.."
Mayra berucap dengan suara bergetar takut.
Tatapan Dirga mengunci di wajah Mayra, intens dan matanya sedikit berkabut.
"Baiklah..ayoo kita bicarakan ini..Apa yang ingin kau katakan..?"
Ucap Dirga dengan suara semakin berat dan serak.
Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Mayra, membuat Mayra memalingkan muka kearah lain, tubunya makin tegang.
"Ayo..kau mau bicara apa?"
Ucap Dirga ditelinga Mayra, darah Mayra berdesir, tubunya seketika merinding mendapatkan sentuhan Dirga di telinganya.
"Tuan..tidak..dengan cara seperti ini.. a-aku.."
"Tapi aku suka dengan cara seperti ini..!"
Suara Dirga tiba2 melembut membuat Mayra makin merinding. Bibir Dirga bergerak perlahan mengecup daun telinga Mayra, kemudian berpindah ke tengkuk lehernya, menghirup aroma wangi menenangkan dari tubuh Mayra. Bibirnya bergerak lagi ke leher jenjang Mayra yang sudah mulai berkeringat karena tegang dan juga takut.
"Tuan..aku mohon..jangan begini..kita..!"
"Jangan banyak bicara..aku berhak melakukan apapun pada dirimu..aku ini suami mu..!"
Ucapan Dirga yang membuat Mayra terdiam, dia sadar sekarang akan posisinya. Ya..laki2 ini memang berhak atas apapun yang ada dalam dirinya...
Tapi..tidak..!! dia belum siap untuk menyerahkan diri seutuhnya pada laki2 ini.
Walau bagaimanapun mereka belum saling mengenal satu sama lain.
"Aku ingin mengambil hak ku malam ini..!"
Ucap Dirga berbisik pelan di telinga Mayra.
Deg
Jantung Mayra berdetak kencang. Dadanya berdebar hebat..seluruh tubunya seakan terbakar.
Tidak..itu tidak bisa..!! dia belum bisa merelakan kehormatan nya diambil begitu saja. Setidaknya dia harus dengan sadar dan ikhlas saat menyerahkan dan memberikan satu2nya hal berharga yang dia jaga selama ini pada suaminya itu.
Bibir Dirga sudah bergerak mencium lembut leher jenjang Mayra, menghisap, menggigit dan meningalkan jejak kepemilikan disana. Kemudian naik ke bibir Mayra, melumatnya lembut, menyesap, dan menjilat penuh hasrat. Napasnya makin berat.
Mayra masih meronta dan melawan memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan. Namun kini tangan Dirga bergerak menekan tengkuk Mayra memaksa Mayra menerima ciuman nya.
Akhirnya Mayra pasrah, dia membuka mulut dan mulai membalas ciuman panas Dirga walau masih terkesan kaku. Untuk beberapa saat mereka melepaskan ciumannya dan menghirup oksigen sebanyak2nya.
Mata Dirga makin berkabut, napasnya kian memburu terdorong hasrat yang mulai menguasai tubunya.
Dia kembali ******* bibir ranum Mayra penuh napsu, sudah sedari siang dia ingin sekali mencicipi bibir ini disaat mereka bertemu di restoran xx..
Sejenak Dirga melepas kan ciumannya, dia menatap wajah Mayra yang masih terlihat tegang, dan ada tetesan air mata yang turun membasahi pipinya.
Dirga melepaskan kemeja yang dipakai nya.
Dan kini nampaklah sudah bentuk tubuh sempurna Dirga yang begitu sexi, polos dan menggoda.
Mayra menutup matanya melihat tubuh bagian atas Dirga yang telah polos itu. Wajahnya merah padam.
"Aku ingin memiliki mu malam ini.."
Ucap Dirga yang mulai menindih tubuh Mayra.
Mayra menggeleng dan tapi dia tidak kuasa bergerak.
Dirga menenggelamkan wajahnya di bagian atas dada Mayra, aroma harum dari tubuh Mayra makin menguar membangkitkan napsunya yang langsung melonjak. Dia mencoba melepaskan kancing baju tidur Mayra yang mati2an di tahan oleh tangan Mayra..
Tubuh Mayra makin bergetar..
"Jangan Tuan..kumohon..aku belum siap.."
Suara Mayra bergetar, air mata jatuh bercucuran..
Dirga terdiam menatap Mayra, ada perasaan tak tega dalam hatinya. Walau hasrat nya hampir membuat dia meledak, namun perasaan tak tega melihat ketakutan Mayra lebih menguasai hatinya.
Dia tidak ingin Mayra merasa terpaksa.
Akhirnya Dirga mengalah, Dia bangkit dari atas tubuh Mayra dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk mendinginkan suhu tubunya yang kini hampir terbakar.
Sementara Mayra menarik napas lega sambil masih terisak. Dia cepat2 menarik selimut sampai ke ujung kepala menenggelamkan tubuh di dalam nya..
*****
TBC....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 117 Episodes
Comments
andi hastutty
Mayra salah klo menolak tapi prihatin berada di posisi Mayra cuman jadi madu dan penampung benih
2023-10-09
0
Putri Minwa
💪💪💪
2023-01-29
0
Lesly Manurung
jngn mau Mayra, tunggu sampai hatimu iklas
2022-11-02
0