Di sebuah hutan berkabut, terlihat seorang remaja pria dengan rambut pirang ia kucir ke atas memperlihatkan ketegasan di parasnya.
Ia berdiri tegap dengan sorot mata tajam saat membaca tulisan yang muncul dari sebuah batu besar di hadapannya. Tulisan itu terukir dengan sendirinya, membuat sebuah cetakan hingga goresan itu terbentuk sempurna.
Mereka bicara dalam bahasa Inggris. Terjemahan.
"Welcome to ... Maniac? Oh," ucapnya dengan senyum tipis saat membaca baris pertama tulisan itu. "Cuh!"
Pemuda itu meludah ke samping dan terkekeh akan suatu hal yang baginya menggelikan. Pria bertubuh tinggi dan atletis, mengenakan setelan ekslusif layaknya pengusaha muda berwarna hitam, tapi menggendong sebuah tas ransel hitam di punggung. Sekilas, pemuda itu terlihat dari kalangan berada.
"Hem, video games? Seperti ... JUMANJI?" ucapnya seperti sebuah sindiran. "Oke. Akan ikuti permainannya. Maniac, kau salah memilih calon peserta. Aku penyuka video games, dan kau, akan kutaklukan. Kita lihat saja, seberapa keren permainanmu untuk menyenangkanku," ucapnya mencibir.
Oag dan para kadal melihat pemuda itu dengan saksama. Sang Jenderal masih terlihat santai seraya meneguk secangkir teh dengan tali celupan di pinggir benda pecah belah tersebut.
"Analisis," pinta Oag.
Segera, operator dari hewan bertentakel corak biru melakukan perintah pemimpinnya.
"Lazarus Benedict. Putera dari Ivan Benedict dan Sherly—"
BUZZZ!!
Spontan, sang Jenderal langsung menyemburkan teh yang masih berada di mulutnya hingga ia batuk-batuk dan tersedak. Para alien itu melirik pria berwajah kebulean tersebut dalam diam.
"Kau mengenalnya?"
"Ohok, ohok!" jawabnya batuk-batuk dan minta menunggu sebentar karena ia harus mengelap mulutnya yang basah seraya meletakkan cangkir. "Benedict? Ivan? Oh, sungguh, kenapa para mafia itu harus bertahan sampai sejauh ini?" pekik Jenderal kesal.
"Biar kutebak? Salah satu jajaran 13 Demon Heads?" tanya Oag, dan Jenderal mengangguk. "Oke, tandai. Aku ingin lihat aksinya," pinta Oag dan pemuda bernama Lazarus masuk dalam salah satu daftar anak yang dipilih secara khusus.
Pemuda yang diketahui bernama Lazarus membaca misi di batu tersebut dengan tenang terlihat tak terintimidasi.
"Menangkap Centaur, lalu ... merebut perisai dan pedangnya, hem ... mudah," jawab Lazarus santai, tapi kemudian keningnya berkerut. "Centaur?"
Lazarus diam sejenak. Ia melihat sekitar dengan sorot mata tajam penuh kewaspadaan. Ia lalu membuka tasnya dan mengambil sebuah tablet.
Ternyata, tablet itu bisa menyala, tapi tak ada koneksi internet dan telepon untuk berkomunikasi atau terhubung dengan dunia maya.
Pemuda yang memakai sepatu fantovel hitam mengkilat itu memasukkan kembali tablet ke dalam tasnya.
Matanya menyipit dan terlihat serius tak santai seperti ketika membaca pesan pada batu tadi. Putera dari Ivan kembali melihat tulisan di batu untuk memastikan misinya.
Tiba-tiba, mata Lazarus melebar. Ia melihat seekor Centaur jenis betina berjalan keluar dari hutan berkabut dengan langkah perlahan.
Pemuda tampan itu mundur terlihat gugup, tapi matanya tetap terfokus pada sosok yang tak pernah dilihatnya secara nyata selama hidupnya.
Makhluk berambut panjang dan berwajah layaknya manusia itu sedang memeluk sebuah bantal. Pemuda itu tetap berdiri tegap di kejauhan memandangi sosok mahkluk mitologi tersebut.
"Dari mana kau dapat bantal itu?" tanya Lazarus dari tempatnya berdiri.
Makhluk dengan tubuh seperti seekor kuda karena memiliki empat kaki, ekor yang panjang, meski bagian depan atasnya adalah manusia, menunjuk ke dalam hutan.
Lazarus melangkah dengan hati-hati ke arah telunjuk manusia setengah binatang itu. Lazarus melihat sepasang sandal selop di balik semak, memiliki bulu lembut warna merah muda dengan boneka kelinci tertempel lucu di punggung alas sandal.
Pemuda itu segera mendekat dan menyibak semak itu. Namun, "Wargh!" teriaknya lantang dengan mata melotot lebar saat melihat tubuh dari seorang anak perempuan membiru mengenakan piyama tidur.
Mata gadis malang itu terbelalak lebar dengan mulut menganga terdapat beberapa butir buah di dalamnya.
Dalam genggaman tangan kanannya, ada beberapa buah berwarna-warni. Lazarus berasumsi jika anak itu tewas karena memakan buah itu.
Lazarus melihat sekitar dan mendapati buah tersebut tumbuh subur di dalam hutan itu. Kepalanya lalu kembali ke arah Centaur yang masih memeluk bantal yang ia duga di dapat dari gadis malang itu.
Lazarus membuka kembali tasnya dan mengambil sebuah buku catatan lalu menuliskan kalimat dalam kapital.
Centaur betina itu mendekat dan masih memeluk bantal itu di depan dadanya seperti penasaran dengan kegiatan yang dilakukan oleh Lazarus di hutan beri beracun itu.
Ternyata, Lazarus menempelkan banyak tulisan 'Danger! Poisonous Berries!'
"Kenapa? Aku harus memperingatkan yang lain. Rasanya tidak seru jika hanya aku yang masih hidup. Aku cukup yakin banyak pemain yang terperangkap di ... Maniac. Ya, begitulah nama permainan konyol ini," ucap Lazarus seraya menepelkan kertas-kertas itu dengan selotip yang ia bawa dalam tasnya ke ranting-ranting pohon beri yang terlihat indah.
Namun, mata Lazarus melebar, saat ia melihat Centaur itu mengambil setangkai berisi banyak buah berwarna biru dan ungu tersebut lalu memakannya dengan santai. Mulut Lazarus menganga.
"Ka-kau memakannya?" tanyanya bingung menunjuk Centaur betina yang kini berdiri di hadapannya.
Centaur itu diam saja tak menjawab dan memakan habis buah berbentuk bulat itu. Lazarus penasaran. Ia mengambil buah dalam genggaman anak itu. Saat ia akan memakannya, PLAK!
"Agh! Aw! Apa yang kaulakukan?!" pekiknya kesal karena tangannya ditampik kuat hingga beri-beri itu terjatuh.
"No," ucap Centaur itu dengan penekanan. Mata Lazarus melebar saat ia menyadari jika sosok di depannya bisa bahasa Inggris.
"You ... you ... speak English?" tanyanya seraya memegangi tangannya yang sakit.
"Yes," jawabnya angkuh dengan dagu terangkat.
Lazarus mengangguk pelan terlihat gugup karena tubuh manusia Centaur tak tertutupi, terutama di bagian depannya sehingga buah dadanya yang padat terlihat begitu jelas menonjol.
"What?" tanyanya dengan logat Inggris kental.
"Mm. Mungkin ... di tempatmu, maksudku ... di sini, kaum kalian tak berpakaian itu hal biasa. Hanya saja, bagiku ... di tempatku, para manusia, hal itu ... tidak sopan dan terlalu vulgar," ucapnya gugup memalingkan wajah.
Centaur itu menggunakan bantal yang ada dalam genggaman tangan kirinya untuk menutupi tubuh bagian depannya. Lazarus tersenyum dan kini berani bertatapan dengannya.
"Oh!" ucapnya lalu melepaskan jas miliknya dan menyerahkannya kepada makhluk berwajah cantik tanpa make up itu. "Pakai ini, untuk ... menutupi tubuhmu," ucap Lazarus yang tingginya hanya sedada makhluk itu.
"Aku ... tak tahu cara memakainya," ucap makhluk yang memiliki suara indah, tapi tegas.
"Oke. Mm, aku pakaian. Rentangkan tanganmu, seperti ini," ucap Lazarus mempraktekkan, tapi membuat bantal itu jatuh dan buah dadanya kembali terlihat. Lazarus kembali gugup, tapi kali ini ia bisa mengatasinya. "Aw!" rintihnya saat terkena pinggul dari kaki belakang Centaur ketika akan memakaikan dari samping.
Lazarus diam sejenak seperti berpikir. Tubuhnya lebih pendek dari hewan itu dan ia kesulitan saat memakaikannya pakaian.
"Oh! Ikuti caraku," ucapnya seraya memberikan jasnya. Centaur betina tersebut melihat Lazarus membuka kancing kemejanya dan ikut bertelanjang dada sepertinya.
Makhluk itu menatap Lazarus seksama yang mengajarkan cara menggunakan pakaian. Makhluk berkaki empat itu mengikuti gerakan pemuda itu saat berpakaian, meski terlihat kaku dan sedikit bingung, tapi berhasil.
"Good. Lalu, kancingkan. Seperti ini," sambung Lazarus layaknya seorang guru yang mengajari muridnya dengan hati-hati dan perlahan. "Wah, kau cepat belajar. Kau ... hebat," ucap pemuda itu memuji.
Centaur betina itu terlihat risih dengan pakaian yang menutupi tubuhnya, tapi senyumnya terkembang. Ia mengambil bantal yang jatuh di rumput dan memberikannya pada pemuda berambut pirang itu. Lazarus menerimanya dengan gugup.
"Untukmu," ucapnya dengan dagu terangkat terkesan angkuh, tapi tetap menawan.
"Terima kasih," ucap Lazarus kikuk. Keduanya saling diam untuk beberapa saat. "Oia. Siapa namamu?" tanya pemuda itu menatap makhluk berparas cantik di depannya.
"Atala. Puteri dari kaum Centaur Wilayah Selatan Planet Mitologi."
Lazarus diam sejenak dengan mata berkedip.
"You ... a princess?" Atala mengangguk. "Woho, wow! Awesome," ucap Lazarus kagum.
"You?" tanya Atala menatap Lazarus seraya menunjuknya.
"Oh. I-i am ... Lazarus Benedict. Keturunan dari keluarga Benedict di Inggris, Planet Bumi," jawabnya seraya membungkuk ala pangeran kerajaan.
"Prince?"
Lazarus diam sejenak.
"Yes. I am prince in Black Castle," jawabnya gugup.
"Black Castle?" Lazarus mengangguk.
Ia lalu teringat akan tablet-nya. Ia meminta Atala menunggu sebentar saat ia mengaktifkan benda berbentuk persegi empat itu lalu menunjukkan kepada makhluk cantik tersebut.
"See? Ini ayahku, Ivan Benedict. Lalu ini ... ibuku, Sherly. Lalu ... ini istana tempat aku tinggal, Black Castle," jawabnya seraya menunjukkan bangunan megah berwarna hitam terlihat begitu kokoh.
Atala melebarkan mata dan menatap Lazarus lekat. Putera dari Ivan—salah satu mantan anggota Dewan 13 Demon Heads saat masa kejayaannya dulu—tersenyum tipis seraya memasukkan kembali tablet ke tasnya.
"You are a Prince!" pekik Atala yang membuat Lazarus terkejut.
"Ya, begitulah," jawabnya kaku.
Atala tersenyum lebar dan melangkah mendekat ke arah pemuda tampan itu. Lazarus terlihat canggung karena ditatap tajam.
"I will help you complete the mission, as long as you promise me," ucap Atala serius.
"Mm, oke. About what?"
"Marry me."
"What?!" pekik Lazarus langsung melebarkan mata.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
pengen kasih ss koin tapi sayangnya gak ada😆 gimana dong
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
◤✧ 𝕯𝖊𝖜𝖎𝖖 𝕹𝖔𝖚𝖗𝖆 ✧◥
anjay makhluk mitologi aja sampe kepincut maklum keturunan Playboy ce 🤣🤣🤣
2022-05-27
1
🏕️👑🐒 𖣤᭄Kyo≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ💣
wkwkwkwk pernikahan centaur dan lazarus ngakak cuii
semanagat aju aku padamu wis
2022-05-26
1
Rasmonika Rari
bukanya Cassie dan Jojo y di black kastil
2022-05-10
1