Timo dan Gibson pucat seketika. Mereka terkejut karena misi yang harus dilewati oleh kawan barunya adalah mengalahkan Medusa.
"Kalian diminta melakukan apa?" tanya Timo terlihat shock.
"Membutakan Medusa. Aku terus berpikir dari kemarin bagaimana caranya," jawab Rex terlihat pusing dengan misi yang dirasa mustahil itu.
"Bahkan dengan kemampuan baruku sebagai duyung, itu sepertinya mustahil. Kekuatanku hanya berfungsi ketika di dalam air," sahut Timo. "Eh, air? Oh! Aku harus selalu membawa air. Kalian ingat kata Elena? Aku hanya bisa berubah jika terkena air," sambung Timo cepat.
"Tapi ... kami tak memiliki botol," sahut Rex.
Timo terlihat bingung. Tiba-tiba, Jubaedah langsung berdiri dan mengeluarkan pil warna kuning dari dalam botol. Ia menuangkannya ke dalam koper.
"Hei! Apa yang kaulakukan? Itu serum penawar!" pekik Rex langsung melotot.
"Kita butuh botolnya buat bawa air untuk Timo," sahut Jubaedah langsung membawa sebuah botol kosong ukuran sedang ke pinggir kolam lalu mengisinya dengan air. Gadis manis itu lalu mendekati Timo dan memberikannya.
"Kau harus selalu membawanya. Simpan dengan baik, ini senjata rahasiamu," ucap Jubaedah mengingatkan dan Timo mengangguk berterima kasih.
"Lalu ... di mana kita menemukan Medusa?" tanya Gibson.
Jubaedah, Ryan dan Rex menaikkan kedua bahunya seraya menggeleng tidak tahu. Gibson menghembuskan napas panjang.
"Bisa gak, kita cari air dulu. Sumpah, Juby aus banget. Mana pisangnya juga udah raib. Kita bisa mati kelaparan nanti," ucapnya sedih seraya mengelus perutnya yang rata.
Tiba-tiba, "Oh!" kejut Ryan karena seekor ikan melompat dari dalam kolam ke arah mereka yang sedang duduk berkumpul.
Ternyata, Elena yang melakukannya. Duyung cantik itu muncul ke permukaan dengan senyuman lalu menyelam lagi. Timo mendekati kolam dan membasahi kakinya.
"Siapkan api. Sebaiknya, kita berkemah di sini untuk malam ini seraya memikirkan rencana selanjutnya. Sepertinya, ikan bakar enak," ucap Timo yang kedua kakinya sudah berubah menjadi ekor duyung.
"Yey! Hidup Timo!" seru Jubaedah gembira dengan kedua tangan terangkat ke atas.
Gibson dengan sigap berdiri diikuti oleh Rex dan Ryan. Gibson mengajak dua kawan barunya itu mencari kayu bakar untuk membuat api. Jubaedah berjaga di sekitar koper seraya mengambil belati Silent Blue untuk membersihkan ikan.
"Untung Juby suka bantuin mami Dewi masak. Oke, saatnya menunjukkan kemampuan memasak Juby ke para pejantan tampan itu!" ucapnya semangat seraya menatap seekor ikan yang sudah sekarat di dekat kakinya. "Maap ikan, but you have to die," ucapnya bengis.
Dengan terampil, Jubaedah membersihkan ikan seukuran telapak tangan orang dewasa tersebut seraya bersenandung lagu 'Sue Ora Jamu'.
Timo dan Elena berenang bersama di dalam kolam air asin itu. Elena mengajarkan Timo menangkap ikan hanya dengan bersiul.
Timo mempraktekannya dan dengan sendirinya, ikan-ikan itu datang padanya. Elena segera menangkap salah satu ikan dan melemparkannya ke arah Jubaedah.
"Aaaa! Jangan bikin kaget! Kan kalo Juby kaget mukanya jadi jelek!" serunya kesal karena tiba-tiba seekor ikan melayang ke hadapannya.
"Masak yang enak, Juby!" seru Timo dari dalam air dengan Elena di sebelahnya.
Jubaedah menunjukkan jempolnya dengan senyum terkembang. Gadis itu kembali membersihkan ikan kedua seraya bernyanyi lalu meletakkan ikan-ikan yang sudah bersih itu di atas koper yang ia tutup rapat.
"Juby! Juby!" panggil Timo yang datang dengan membawa banyak ikan dalam sebuah buntalan kain yang ia temukan di dasar kolam.
Mulut Jubaedah menganga lebar. Timo duduk di pinggir kolam seraya meletakkan ikan-ikan tersebut.
"Wah! Timo hebat!" serunya lantang. Timo mengangguk senang.
Ternyata, Elena ikut muncul dan malah menunjukkan sebagian tubuhnya di atas batu. Jubaedah terkesima saat ikan duyung cantik itu ikut bersenandung dengan suara merdu dan cahaya lembut menyinari tubuhnya seperti berada di panggung.
Seketika, air yang tadinya tenang menjadi berombak. Jubaedah cukup terkejut termasuk Timo yang tak mengetahui hal itu.
Jubaedah menatap gerak-gerik Timo dan Elena saat mereka berbicara dengan bahasa ikan. Jubaedah terlihat sabar menunggu seraya menancapkan ujung belati itu ke ikan-ikan yang menggelepar di atas pasir dengan wajah datar, menusuk mereka satu persatu.
"Oh," ucap Timo tiba-tiba seperti menyadari satu hal.
"Apa, Timo? Kasih tau dong. Kamu ngomong bahasa ikan lagi, Juby gak ngerti," sahut Jubaedah dari tempatnya duduk.
"Oh. Elena mengatakan jika nyanyian duyung itu memiliki dua kemampuan. Satu menghipnotis dan dua membuat ombak. Semakin tinggi suara yang dinyanyikan, semakin besar gelombang dari ombak itu," jawabnya semangat.
"Wahhhh ...," seru Jubaedah kagum sampai mulutnya menganga lebar, tapi tangannya dengan cekatan menyayat perut ikan lalu mengeluarkan isinya.
"Selain itu, siulan duyung bisa mengundang para ikan. Oleh karena itu, aku bisa menangkap banyak tanpa harus mengejarnya," sambung Timo yang membuat Jubaedah kembali membuka mulutnya lebar.
Namun tiba-tiba, "Emph! Buah! Rexy!" teriak Jubaedah kesal karena mulutnya disumpal dengan sebuah pisang.
Gibson, Rex dan Ryan terkekeh karena wajah imut Jubaedah berubah menjadi garang, tapi senyumnya kembali muncul.
"Oh! Kalian dapat dari mana barang-barang itu?" tanya Jubaedah kagum karena tiga pria itu membawa banyak perlengkapan manusia beserta beberapa kayu.
"Ingat tempat kita melawan naga? Anak-anak itu sudah tak ada di sana, hanya barang-barangnya saja yang tersisa. Jadi, kami mengambilnya," jawab Rex seraya meletakkan kayu di atas pasir lalu menumpuknya.
"Wow, ikannya banyak sekali!" seru Ryan kagum.
Jubaedah tersenyum seraya menunjuk Timo yang duduk di pinggir kolam masih dalam wujud duyung.
"Haduh, pemandangan di hari menjelang malam ini indah banget," ucapnya seraya melihat Timo yang terlihat begitu rupawan dengan rambut panjangnya yang berkilau terkena sinar dari langit padahal bulan tak tampak, hanya beberapa bintang.
Timo menghabiskan waktunya bersama Elena untuk mempelajari banyak hal tentang dunia duyung. Jubaedah dan lainnya sibuk untuk menyiapkan makan malam serta api unggun.
Ryan terlihat telaten dalam memilah barang-barang yang mereka temukan lalu memasukkannya dalam sebuah tas ransel di mana nantinya Gibson yang akan menggendongnya.
Malam itu, para remaja tersebut tertidur lelap di pinggir kolam. Namun, Timo masih terjaga dan ia terlihat betah berlama-lama di dalam air bersama Elena hingga pagi menjelang.
"Sepertinya ... sudah saatnya kita berpisah, Elena. Terima kasih atas bantuanmu dan ... aku minta maaf atas meninggalnya saudari-saudarimu," ucap Timo terlihat sedih saat keduanya duduk di pinggir kolam saling memandang menyambut mentari.
"Jangan khawatir. Jumlah kami ada banyak, hanya saja, kami tersebar di beberapa penjuru wilayah. Aku juga mengucapkan terima kasih karena kau mau menguburkan mereka sampai kau tak tidur seperti yang lain," jawab Elena seraya menoleh ke arah para remaja yang tertidur lelap.
Timo mengangguk pelan. Elena mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Timo dengan senyuman. Pemuda itu terkejut dan mematung saat ikan duyung cantik itu melakukannya.
"Aku ingin memberikan hadiah untukmu. Sebagai ... tanda pertemanan?" ucap Elena dengan senyuman.
Timo menatap Elena seksama yang kembali bernyayi. Seketika, ombak datang sembari membawa sebuah kerang berukuran cukup besar berbentuk seperti terompet di atas pasir dengan buih di sekitarnya.
Timo terkejut dan kagum dalam waktu bersamaan. Ia mengambil kerang tersebut dan melihatnya dengan saksama.
"Pastikan saat kau meniupnya, kau menjadi duyung. Suara panggilan dari terompet itu hanya bisa didengar dan digunakan oleh para duyung saja. Saat kau meniupnya, diantara kami akan datang padamu. Anggap saja, sebagai salah satu bentuk pertolongan. Jaga baik-baik," ucap Elena menjelaskan, dan Timo mengangguk berterima kasih dengan wajah gembira.
Timo terlihat bingung akan sesuatu. Ia meminta Elena menunggunya. Timo berenang sampai ke seberang kolam seperti mengambil sesuatu lalu kembali lagi ke sisi Elena.
"Ini ... kacamataku. Benda ini sangat penting karena selain membantuku melihat lebih jelas, ini pemberian ayahku," jawabnya seraya memberikan kacamatanya.
Elena menerimanya dengan senyuman. Ia mencoba memakainya, tapi ikan cantik itu terlihat tak cocok dan memilih untuk menyimpannya. Timo tersenyum tipis.
Tiba-tiba, tangan Timo diraih oleh Elena. Pemuda itu bingung saat ia diberikan sebuah kerang berisi mutiara laut berwarna putih.
"Jika kau terdesak dan serasa sudah tak ada jalan lain hingga pilihan terakhir adalah mati, gunakan mutiara putih ini. Namun, hanya bisa dilakukan satu kali. Telan mutiara itu untuk menyelamatkanmu," ucap Elena serius. Timo mengambil mutiara putih itu dan menatapnya saksama, ia mengangguk.
"Aku akan menyimpannya dengan baik," jawab Timo dengan senyuman.
Timo mengambil mutiara putih itu lalu memasukkannya ke dalam botol berisi air pemberian Jubaedah.
"Sepertinya ... kawan-kawanmu kehausan. Kau bisa membantu mereka dengan cangkang mutiara ini," ucap Elena seraya mengambil cangkang lalu mengambil air seperti menyendoknya. "Berikan pada kawan perempuanmu itu. Dia sudah bangun," pinta Elena dan Timo mengangguk.
"Juby!" panggil Timo dan gadis manis yang masih berwajah sayu karena baru bangun itu menatapnya dengan malas.
"Hem?" jawabanya dengan mata terbuka tertutup.
"Mau minum tidak? Aku punya air," tanya Timo. Praktis, mata semua remaja di sekitar Jubaedah terbuka seketika.
"Hei!" seru Jubaedah kesal karena dengan sigap, Gibson bangun lalu berlari ke arah Timo.
Timo menoleh ke arah Elena yang menceburkan diri ke kolam. Duyung cantik itu kembali muncul, tapi hanya menunjukkan setengah badannya.
Timo terkejut sampai tersungkur di tepian kolam saat Gibson merebut cangkang berisi air darinya. Dengan cepat, Gibson segera meminumnya.
"Woah! Segar! Ini tidak asin!" seru Gibson sampai matanya terbelalak.
Elena berbicara dengan Timo menggunakan bahasa ikan. Semua orang terlihat serius melihat gerak-gerik keduanya.
"Oh! Cangkang kerang itu bisa mengubah semua jenis cairan menjadi air tawar. Kalian tak akan kehausan lagi. Minumlah yang banyak," ucap Timo menjelaskan dengan mata berbinar.
Dengan sigap, Gibson mengambil air dari kolam air asin itu dengan cangkang kerang tersebut lalu meneguknya. Ia menoleh dan menatap kawan-kawannya dengan wajah gembira.
Seketika, Gibson dikeroyok oleh para remaja itu yang mengantri untuk bisa minum. Timo terlihat begitu gembira karena kawan-kawannya kembali bersemangat.
"Terima kasih, Elena. Terima kasih," ucap Timo tersenyum lebar dan Elena mengangguk pelan dengan senyum menawan.
***
ILUSTRASI
SOURCE : GOOGLE
Maksih tipsnya mak Ben😍 Kwkwkw ini mah bisa sampai 3 eps mendatang❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
🏕️👑🐒 𖣤᭄Kyo≛ᔆᣖᣔᣘᐪᣔ💣
hmmm sepertinya bakal ada cinlok lagi nih disini
semangat aju aku padamu wis ju
2022-06-15
1
👑 N 💣
seneng kali yaa punya ilmu gitu..
2021-11-19
1
👑Nurul💣
Mak Ben kejar hadiah ya
2021-11-17
1