Rangga membuka matanya dan terdiam untuk beberapa saat seperti mengumpulkan seluruh kesadarannya di tengah kondisi yang membingungkan saat ini.
Tubuhnya dalam posisi tengkurap dan berada di atas rumput. Remaja itu langsung mengangkat kepalanya ke atas lalu menoleh ke kanan dan ke kiri terlihat bingung.
"Ini di mana?" tanyanya bingung melihat sekitar dan mendapati dirinya sendirian tak ada anak-anak lainnya.
Rangga berdiri perlahan seraya membersihkan pakaian Pramukanya yang kotor. Ia diam sejenak mengingat kejadian terakhir hingga ia berakhir di tempat yang tak dikenalinya itu seperti berada di hutan, tapi terlihat tak lazim.
"Mm ... kalau gak salah ...," ucapnya menggantung dengan kening berkerut.
Rangga teringat saat ia dan kawan-kawannya telah selesai memasang tenda, kelompoknya tersebut beristirahat. Rangga merebahkan dirinya di dalam tenda sebelum jam makan siang di perkemahan. Ia yakin, jika dirinya tertidur, tapi tempat dirinya berada sekarang di luar nalarnya.
"Ini bukan mimpi. Tempat ini sungguhan. Tapi ... kenapa langitnya berwarna kaya pelangi?" tanyanya bingung mendongak menantang langit.
Tak lama, tubuh Rangga mematung seketika, saat ia mendengar suara erangan di kejauhan seperti binatang buas, menggema di hutan tak dikenal itu. Rangga langsung menoleh, meski tubuhnya kaku.
Ia melihat sekitar dan berlari ke sebuah semak dengan pepohonan rimbun yang memiliki batang tinggi, meski dedaunannya berwarna orange. Rangga tengkurap dan mengintip dari balik semak untuk melihat sosok yang berjalan mendekat ke tempat ia terbangun tadi.
"Tanda-tanda kiamat kah? Udara di sini rasanya lain. Kaya gak ada angin," ucapnya mencoba bernafas seperti orang normal, tapi ia merasa hembusan dari lubang hidungnya hampir tak terasa. "Rangga mati 'kah? Ini alam akhirat? Ya Allah, aku mati muda!" pekiknya dengan mata melotot.
Rangga pucat dan lemas seketika. Ia lalu merebahkan diri melihat langit dengan penuh tanda tanya.
Hingga akhirnya, suara seperti seekor makhluk besar kembali terdengar, tapi menjauh dari tempatnya berada. Pemuda itu takut, tapi penasaran. Ia memberanikan diri untuk mencari asal suara itu dengan tetap mengendap.
Rangga terlihat waspada terhadap sekitar. Matanya memindai, langkahnya penuh kehati-hatian, hingga ia melihat sebuah tempat berkabut berwarna biru yang semakin sulit untuk diungkapkan saat melihat sosok hewan yang ragu untuk diucapkan.
"Naga?" ucapnya dengan kening berkerut.
Naga itu terlihat samar untuknya. Berkilau dan menyala terang bagaikan api yang berkobar, tapi berwarna keunguan.
Rangga berasumsi jika dia masih bermimpi, tapi mimpinya kali ini terasa sungguh nyata. Ia bisa meraba pohon di sebelahnya dan merasakan teksturnya yang kasar. Kakinya juga memijak tanah, meski sekitarnya terlihat seperti fatamorgana untuknya.
"Kayaknya Rangga harus sungkem sama ayah dan ibu saat pulang camping nanti," gumannya memilih pasrah dan berpaling dari hewan yang dilihat barusan di kejauhan.
Rangga berjalan dengan bingung seraya memijat kepalanya yang tak pusing, tapi entah kenapa ia ingin melakukannya.
Rangga melihat jalan setapak dan memilih untuk mengikuti jalan tanah itu yang entah membawanya ke mana.
Pemuda itu sudah tak peduli lagi dengan sekitarnya. Ia hanya ingin berjalan dan berharap cepat bangun dari mimpi anehnya.
Di sisi lain.
"Rex," panggil Jubaedah saat mereka berada di sebuah tempat tak dikenal.
Dua remaja itu mematung dan saling bergandengan tangan dengan erat, tak saling bicara, tapi mata mereka memindai sekitar yang nampak asing dan di luar logika karena banyak jamur tumbuh dalam ukuran besar dari berbagai jenis dan corak.
"Jangan tanya aku tentang tempat ini. Ini di luar mata pelajaran, meski Rex selalu juara 1 di sekolah," jawab remaja pria di sampingnya yang ikut bingung dalam mendiskripsikan kejadian aneh yang menimpa mereka hari ini.
"Oh, Rexy, liat! Itu hewan apaan? Lucu ya," seru Jubaedah saat matanya mendapati sebuah makhluk aneh yang tak pernah mereka berdua lihat sebelumnya berada di pinggir sungai.
Kening Rex semakin berkerut. Jubaedah memaksanya untuk mendatangi hewan itu yang sedang duduk di atas batu memegang seekor kadal hijau.
"Hati-hati," pinta Rex seraya menarik tangan Jubaedah karena gadis itu terlihat tak takut dengan hewan asing itu.
"Dia kayaknya gak berbahaya. Lihat, dia gak punya taring dan kuku tajam. Dia pasti herbivora. Ini temuan baru, Rexy. Ayo foto!" pintanya riang dengan mata membulat penuh, tapi Rex terlihat enggan. Tiba-tiba saja, "AAAA!" teriak Jubaedah histeris saat hewan yang baginya menggemaskan itu memakan kadal tersebut hidup-hidup. Gigi dan cakarnya keluar begitu saja saat ia menyantapnya.
"Run!" teriak Rex lantang saat mata hewan itu kini membidik mereka.
Praktis, Jubaedah langsung berlari dengan panik dengan Rex di sampingnya yang menenteng koper. Portal yang membawa mereka menghilang begitu tiba di tempat antah berantah tersebut.
Rex menoleh ke belakang dan mendapati hewan itu masih duduk di atas batu, tapi dalam posisi seperti siap untuk menerkam mereka.
"Aag, aag, aag!" lengking hewan berkulit tebal berwarna abu-abu jingga seperti menyuarakan sebuah kode yang tak dimengerti oleh dua anak manusia tersebut.
Benar saja, "Ag! Ag! Ag!"
"AAAAAA!" teriak Jubaedah untuk kesekian kali saat tiba-tiba saja makhluk-makhluk sejenis muncul dari balik batu yang berada di sekitar tempat itu.
Keduanya berlari kencang melewati jalan setapak melintasi jamur-jamur besar yang terlihat tak berbahaya bagi mereka.
Namun, keanehan kembali terjadi, saat keduanya masuk ke wilayah jamur-jamur itu, para makhluk bertelinga runcing berhenti mengejar. Mereka tak berani mendekat, dan Rex merasakan bahaya baru akan muncul di depannya nanti.
"Juby! Kenapa mereka berhenti dan tak mengejar?" tanya Rex menarik tangan Jubaedah dan memintanya berhenti melaju.
"Hah? Mana aku tau, udah lari aja!" pintanya panik dan kembali menarik tangan Rex.
Rex yang bingung dengan keadaannya, akhirnya berlari mengikuti Jubaedah yang lebih dulu memasuki hutan di balik kumpulan jamur-jamur besar itu.
Ternyata, fenomena aneh itu dirasakan seluruh anak di seluruh penjuru dunia. Semua negara, bahkan tempat terpencil terkena dampak.
Anak-anak itu berada di sebuah tempat yang tak mereka kenal dan terpisah antara satu dan lainnya kecuali Jubaedah dan Rex yang sedari awal memasrahkan diri masuk ke portal seraya bergandengan tangan.
Anak-anak yang lainnya kebingungan. Beberapa dari mereka menangis bahkan memanggil nama orang tua di sepanjang kaki melangkah.
Di dimensi lain. Terlihat sebuah ruangan dengan kolam-kolam besar dan lantai di penuhi genangan air.
Mereka bicara dalam bahasa yang tak pernah dipelajari oleh manusia manapun di dunia karena bersuara seperti orang bersendawa.
Terjemahan.
"Mereka sudah memasuki level 1," ucap seekor makhluk bertentakel di bagian bawah dagunya melaporkan.
Seekor makhluk sejenis dengan corak warna biru melangkah pelan dengan dua kaki berjinjit, memiliki ekor panjang layaknya kadal, tapi berdiri tegak.
Makhluk yang mungkin akan kita panggil dengan sebutan 'alien', mendekati makhluk-makhluk bercorak serupa yang menghadap ke arahnya, membelakangi sebuah dinding seperti air yang tak tumpah dan terlihat bagaikan monitor komputer jika manusia menilainya.
Makhluk yang memiliki dua tangan dan tiga jari tersebut melihat genangan air di dinding yang menunjukkan anak-anak di seluruh dunia sedang menghadapi keanehan nyata di depan mereka.
"Oag!" panggil makhluk sejenis memasuki ruangan tanpa terlihat kabel, atau mesin di dalamnya. Makhluk itu memiliki corak lain yakni berwarna merah dan tekanan suara berbeda, terdengar lebih halus—jenis betina.
"Sudah 30 anak manusia yang gugur. Dan statistik menunjukkan, akan terus berkurang tiap jamnya," ucap makhluk yang ukurannya lebih besar dari makhluk bercorak biru.
"Hanya dibutuhkan 10 anak manusia untuk lolos dalam 10 level yang kita tawarkan. Lebih dari itu, anak-anak manusia itu memang layak untuk—"
"Oag!" panggil makhluk bercorak merah lainnya yang datang memotong ucapan makhluk bernama Oag.
"Ada anak manusia yang membawa senjata," ucapnya yang membuat Oag langsung meminta ditunjukkan keberadaan anak manusia itu.
"Siapa dia?" tanya Oag kepada makhluk yang bertugas bagian identifikasi latar belakang para anak manusia.
"Namanya Daniel Mandarin. Dia anak dari Daniel Maximilan dan Mayleen," jawab petugas bercorak biru.
"Dia menggunakan sebuah pedang laser berwarna kuning. Apakah manusia sudah menerapkan senjata itu di abad ini?" tanya Oag menatap para operator di sekitarnya tajam.
"Masih dalam tahap pengembangan dan diawasi ketat oleh pemerintah di negara yang bersangkutan, Oag. Sepertinya, itu senjata ilegal. Pasti ada manusia yang membuatnya karena tak ada lisensi dari pemerintah," jawab operator tersebut dari hasil analisis senjata.
"Panggil Jenderal! Awas saja jika dia berani menipu kita," tegasnya garang.
Dua makhluk bercorak merah segera pergi meninggalkan ruangan, dan tak lama, seorang manusia dewasa muncul dengan seragam layaknya seorang perwira.
"Itu apa?" tanya Oag menunjuk pedang yang digunakan Mandarin dengan silau warna emas. Praktis, mata Jenderal itu melebar.
"Agh! Aku tak menyangka jika komplotan mafia itu masih hidup dan memberikan senjata itu kepada generasi mereka," jawabnya dengan mata terpejam dan menundukkan wajah.
"Kalian memiliki konflik dengan sesama manusia di waktu silam dan belum usai sampai sekarang? Kau bilang jika duniamu sudah damai dan tak ada perang lagi. Oleh karena itu, kita menerapkan sistem ini sekarang," tegas Oag menatap sang Jenderal tajam.
"Ya. Memang seperti itulah yang kami tahu. Para mafia itu sungguh licik," jawabnya seraya membuka mata.
"Lalu ... siapa mereka?" tanya Oag seraya mendekat dan tentakelnya terjulur ke wajah sang Jenderal, meraba kedua pipinya. Jenderal manusia itu terlihat gugup, meski mencoba tetap tenang.
"13 Demon Heads. Pedang itu disebut Silent Gold. Namun aku pastikan, mereka bukan ancaman. Terlebih, anak-anak itu, tetaplah anak-anak," tegasnya tegang.
"Kita lihat saja, Jenderal. Apakah ucapanmu terbukti?" jawab Oag seraya melepaskan juluran tentakelnya yang hampir memasuki lubang hidung dan telinga sang Jenderal. Suasana di tempat itu tegang seketika.
***
ILUSTRASI
SOURCE : PINTEREST, GOOGLE, ArtStation, etc.
tadi mati lampu dan hujan gede, jadi bobo aja😆 eh pas bangun udah sore. kwkwk baru inget si novel pink belom di up. semoga suka dan jangan lupa like serta komennya. ditunggu tipsnya. lele padamu😍
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
Rhakean Djati
keren. Jubaedah panggilannya juby.
2024-05-17
1
🌹 Noer Yati 🌹
sampai cerita ini End ... siapa yg jdi Jenderal masih misteri
2022-12-13
1
Kerta Wijaya
🤟
2022-11-06
0