Mereka bicara dalam bahasa Jepang.
Suasana kacau-balau seketika. Anak-anak berteriak ketakutan dan beberapa dari mereka berusaha untuk melarikan diri, meski tarikan dari lubang portal itu semakin kuat jika melawan.
"Kak Kenta!" teriak Azumi menangis saat tubuhnya telah melayang dengan kedua tangan menggenggam kaki sang Kakak di mana Kenta berpegangan kuat pada sebuah pohon untuk mempertahankan dirinya.
"Bertahanlah, Azumi!" jawab Kenta lantang berusaha sekuat tenaga agar pegangannya tak terlepas. Namun ....
"AAAAA! KAK KENTA!!" panggil Azumi berteriak histeris saat genggamannya terlepas dan membuat dirinya tersedot oleh portal dengan cahaya biru menyilaukan.
"AZUMI!!" panggil Kenta dengan mata terbelalak lebar saat melihat sang Adik tertarik dengan sangat kuat dan cepat ke dalam lubang besar bersama seluruh anak-anak di perkemahan tersebut.
Kenta memejamkan matanya rapat. Akhirnya, "Arrrghhh!" teriaknya lantang saat melepaskan dekapannya dan merelakan diri tersedot ke portal asing itu.
Kenta hanya bisa melihat kegelapan di dalam terowongan yang entah membawanya ke mana. Jantungnya berdebar kencang saat ia merasa terowongan itu lebih luas dari dugaannya.
Kenta mencoba untuk membalik tubuhnya dan merapatkan tubuhnya seperti meluncur dari permukaan air ke dasar kolam.
Mata Kenta menajam untuk mencari keberadaan adiknya di mana anak-anak lainnya mulai terpisah darinya dan malah tersebar ketika mereka memasuki ruangan yang lebih besar.
Mata Kenta terbelalak lebar saat melihat ternyata banyak portal di berbagai tempat di ruangan besar tersebut yang membuatnya melayang tanpa menyentuh alas sebagai pusatnya.
"Aku ... ada di mana?" tanyanya gugup melihat sekitar.
China, Grey House.
Mereka bicara dalam bahasa Mandarin.
"Ayah! Ibu!" panggil seorang anak lelaki berwajah Asia dengan mata berkaca ketika tiba-tiba saja orang tuanya tergeletak tak sadarkan diri saat mereka keluar dari sebuah kapal perang untuk memastikan kondisi benda tersebut masih layak untuk digunakan.
Mata remaja pria itu melebar seketika saat mendapati sebuah drone melayang ke arahnya dan menyorotnya dengan sebuah sinar.
"Pasti kalian mata-mata! Tak ada ampun bagi penyusup! Rasakan!" teriaknya geram dan langsung menarik pistol dari balik pinggang sang ayah yang jatuh tengkurap.
DOR! DOR! DOR!
Remaja pria bertubuh tinggi tegap itu menembaki drone di depannya dengan teriakan lantang penuh kebencian.
Pemuda itu satu-satunya manusia yang tak terkena dampak dari sinar yang dipancarkan oleh drone ke semua orang di wilayah tersebut.
Drone tersebut berasap dan terbang menghindar, tapi pemuda itu tak membiarkannya lolos. Ia melompat dari atas kapal dan segera berlari ke pantai dengan pistol dalam genggamannya.
"Kau apakan ayah ibuku?!" teriak pemuda itu terlihat marah besar dan terus berlari dengan pakaian serba hitam serta sepatu boots ala militer mengejar benda terbang tersebut.
Hingga tiba-tiba, langkahnya terhenti karena kaget. Pemuda itu jatuh di atas pasir dengan posisi terlentang saat sebuah pesawat besar berbentuk seperti gangsing logam muncul dari balik awan yang menutupi sosoknya. Mata pemuda itu melebar seketika.
Ia melihat sekitar dan mendapati beberapa jet ski berada di dermaga. Pria berwajah Asia dengan alis tebal dan rambut hitam dicukur rapi ala tentara, segera bangun dan berlari ke arah benda tersebut.
"Hah! Hah! Hah!" engahnya karena ia dikejar oleh drone yang melumpuhkan sekelompok pria bersenjata di kawasan itu.
DEMM!
"No! No! No!" teriaknya lantang saat tiba-tiba tubuhnya tertarik ke atas dengan kaki lebih dahulu dan membuat kepala pemuda itu berada di bawah. "Ayah!" panggil pemuda itu sekencang-kencangnya saat tubuhnya melayang tinggi jauh dari permukaan dan masuk ke sebuah benda asing tak dikenalinya.
Korea Selatan, Seoul. Gedung Dream High Entertainment.
Mereka bicara dalam bahasa Korea.
"Ayah! Ayah! Apa kau mendengarku? Ayah?" panggil seorang remaja pria berwajah bule dengan rambut pirang terlihat panik, bersembunyi di toilet pria dengan ponsel dalam genggaman. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan jantung berdebar dan nafas tersengal.
"Nico! Nicolas!" panggil seorang pria di luar toilet terdengar panik.
"Oh!" kejut pemuda bernama Nicolas saat ia mengenali suara itu. "Harun! Harun!" jawab Nicolas lalu keluar dari bilik kamar mandi dengan tergesa.
BRUKK!
"Agh! Shitt! Hei, kau tak apa?" tanya Nicolas dengan mata melebar saat mendapati kawannya ikut jatuh di depannya.
"Yes. Aku menelepon ayah dan ibu, tapi tak ada jawaban dari mereka. Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya panik seraya melihat sekitar di mana banyak orang-orang tergeletak tak sadarkan diri di sepanjang koridor.
"Entahlah. Kita harus bersembunyi sebelum drone itu datang kembali. Ayo," ajak Nicolas berbisik dan pria berkulit hitam bernama Harun mengangguk.
Keduanya merangkak di atas lantai seraya memepetkan diri ke tembok untuk menyembunyikan diri.
"Sttt," bisik Harun saat ia merasakan pergerakan di persimpangan koridor di hadapannya.
Nicolas segera merangkak ke bawah meja komputer diikuti Harun. Mereka bersembunyi di bawah tubuh seorang pria dewasa yang tak sadarkan diri, duduk membungkuk.
Kedua remaja itu berjongkok terlihat pucat karena kejadian mendadak yang tak pernah mereka ketahui alasannya.
Benar saja, drone itu melayang di sekitar koridor melakukan pemindaian. Jantung keduanya berdebar kencang dan berusaha untuk tak melakukan gerakan mencurigakan agar tak ketahuan.
Drone tak mendeteksi keberadaan dua pemuda yang bersembunyi itu. Harun mengangguk memberikan kode untuk mengajak Nicolas keluar dari tempat tersebut.
Keduanya sepakat untuk meninggalkan gedung dan pergi menuju ke rumah tempat tinggal pemuda berambut pirang tersebut.
"Teruslah merangkak, Nico. Gunakan tubuh orang-orang dewasa untuk menutupi keberadaan kita. Aku merasa, drone itu memindai manusia dari segi umur. Aku terpindai dan aku masih sadar sampai sekarang," ucap Harun berbisik dari hasil analisisnya seraya merangkak.
"Kau benar. Aku juga terpindai, tapi tak pingsan seperti orang-orang itu," jawab Nico mengikuti Harun di belakangnya dengan mata sibuk mengawasi sekitar.
Saat keduanya tiba di ujung koridor, terlihat sebuah sinar dari lorong. Harun dan Nicolas saling memandang.
Tiba-tiba, "AAAAA!" teriak seorang anak perempuan saat ia melintas di persimpangan koridor dengan cara terbang. Mata dua pemuda itu melebar seketika.
"A-apa itu barusan?" tanya Nicolas panik dan merangkak mundur.
Namun lagi-lagi, "AAAAAA!" teriakan-teriakan itu makin santer terdengar di seluruh ruangan yang membuat bulu kuduk meremang.
Nicolas dan Harun melihat para remaja di gedung itu seperti tertarik oleh sesuatu. Keduanya takut, tapi penasaran. Mereka akhirnya sepakat untuk mendekat.
Akan tetapi, "Arrrghhh! Harun!" teriak Nicolas lantang saat tiba-tiba kakinya tertarik dan membuat tubuhnya melayang.
Harun langsung memegangi lengan Nicolas dengan satu tangan kanan dan tangan kiri memegang bilik ruangan bersekat di lantai itu.
"Harrrghhh! Aku tidak kuat lagi!" teriaknya lantang dengan seluruh otot di tubuhnya menegang.
"Harun! Harun!" panggil Nicolas panik karena genggamannya hampir terlepas.
"AAAAA!" teriak Harun dan Nicolas bersamaan ketika tubuh keduanya ikut tersedot dan kini masuk ke sebuah portal bersama para remaja lainnya yang berada di gedung itu.
Rusia, Kastil Borka.
Mereka bicara dalam bahasa Indonesia campuran.
"Bapak!" teriak seorang anak perempuan panik ketika dirinya dikejar oleh sebuah drone serupa seperti yang terjadi dengan para anak lainnya di seluruh dunia. Drone itu juga menyinarinya.
Gadis berwajah Asia dengan rambut hitam ikal sebahu dan kulit sawo matang itu masuk ke sebuah ruangan untuk menyelamatkan diri.
Gadis itu lalu bersembunyi ke sebuah almari besar dan menutup pintunya rapat. Nafasnya terengah dan terlihat ketakutan. Bola matanya bergerak tak beraturan karena melihat kengerian yang terjadi.
"Ah!" teriaknya terkejut saat mendapati seorang anak lelaki berada di sebelahnya yang ternyata ikut bersembunyi.
Anak lelaki berwajah campuran Asia dan Eropa itu membungkam mulut lawan bicaranya, dan gadis itu mengangguk paham, meski terlihat jelas ketakutan di wajahnya.
Keduanya mengintip dari balik celah almari pakaian tersebut. Anak lelaki berambut hitam itu menemukan sebuah koper hitam di sampingnya.
Gadis berwajah manis itu menatap anak lelaki di sebelahnya dengan gugup saat melihat kawannya membuka koper tersebut.
KLEK!
BRAKKK!
"AAAAAA!" teriak gadis itu histeris saat drone yang mengejarnya berhasil menemukan persembunyiannya.
Mata anak lelaki itu ikut terbelalak lebar saat ia melihat sebuah portal terbuka dari pintu yang seharusnya membawanya ke ruang makan, tapi di balik pintu itu, hanya kegelapan tanpa cahaya yang terlihat.
"Jubaedah, sttt, sttt ... tidak apa. Jangan panik," ucap anak itu menatapnya saksama mencoba menenangkan.
"Gimana gak panik? Semua orang pingsan, Rex!" jawabnya seperti akan menangis.
"Sepertinya, kita harus masuk ke sana. Jangan takut, ada aku. Ayo," ajaknya seraya menenteng koper temuannya yang telah ia tutup lagi.
Gadis bernama Jubaedah terlihat ragu, tapi pada akhirnya mengangguk karena hanya anak lelaki bernama Rex yang masih selamat dari serangan tak terduga itu.
Jubaedah memegangi tangan kanan Rex erat dan melangkah ragu menuju ke pintu di hadapannya yang terlihat menyeramkan.
Rex melihat ke arah kamera drone dan menatapnya tajam penuh selidik. Dua anak itu akhirnya masuk ke dalam portal yang kemudian, pintu tersebut lenyap.
Drone kembali terbang menuju ke atas langit usai melakukan tugasnya dan hilang dari pandangan.
***
tengkiyuw tipsnya😍 novel ini dibuat dalam rangka ikut lomba dan menyelesaikan semua tokoh yang pernah nongol di novel sebelumnya dengan nama dan karakter belum dikisahkan biar gak utang dan ditanyain lagi. kwkwkw. selain itu, kisahnya gak sampai mereka gede karena mentok diumur segini aja, jadi gak ada sekuel selanjutnya. Ceritanya pendek kaya simulation❤️
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 233 Episodes
Comments
Kerta Wijaya
🤟🤟
2022-11-06
0
Aries🍒
anak eko kah wkwk
2022-09-15
0
🏘⃝Aⁿᵘ Yu
mau donk ikut tersedot
2022-07-19
1