Ivona menatap tak percaya pada apa yang Alexander tanyakan. Apa pria ini sedang tidak sehat jiwanya?
Bagaimana mungkin ia punya pemikiran seperti itu, hal yang tak pernah terbesit sedikit pun dalam benak Ivona.
Ivona baru saja akan membalas perkataan Alexander saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. Ivona merasa kesal melihat nama yang tertera di layar benda pipih itu.
Dengan malas ia mengangkat panggilan itu. Vaya menelponnya dan bertanya ke mana dirinya, kenapa sampai sekarang belum juga datang. Setelah memberi tahu di mana lokasinya, Ivona segera menutup ponsel dengan kasar.
Ivona lupa dengan pertanyaan Alexander sebelumnya, ia segera bergegas. "Maaf Tuan, aku akan traktir lain kali saja." Kemudian ia pergi.
Alexander yang ditinggalkan begitu saja, hanya bisa menatap nyalang pada Ivona. "Tidak sopan!" gumamnya. Setelahnya, ia langsung kembali ke dalam mobil. Di sana Evan sudah menunggunya.
"Bagaimana, Kak. Apa kau akan menikah dengan kakak cantik?" tanya Evan.
"Aku akan mendukungmu jika kau benar-benar ingin menikah dengannya," imbuhnya.
"Aku juga ikut bahagia jika kakak menikahi kakak cantik tadi, dengan begitu aku bisa melihat kakak cantik setiap harinya." Raut Evan menyiratkan harapan yang besar akan kakaknya untuk bisa menikah dengan Ivona.
"Kakak cantik sangat baik, aku yakin Kakak akan bahagia jika menikah dengannya."
"Dan yang terpenting, aku tidak perlu mengembalikan Max padanya jika kami tinggal bersama." Evan begitu cerewet mempromosikan Ivona.
Alexander menatap tajam Evan. "Tidak!!!" tolak Alex. "Dengan adanya kau di rumah saja sudah membuatku sakit kepala, apalagi harus tambah satu."
Evan terdiam melihat sikap dingin Alexander, ia merasa kakaknya itu tidak sayang padanya. Setiap hari, sepanjang tahun, Evan selalu merasa kalau kakaknya ini seperti ingin membuangnya jauh-jauh dari kehidupannya.
Sebelum Ivona sampai di restoran. Vaya mengomel di hadapan Thomas. "Sebenarnya apa yang dia lakukan, dia sudah ada di dekat sini, tapi masih saja belum datang. Apa dia sengaja membuat kita menunggu!"
"Atau dia ingin menguji kesabaran kita?" ocehnya.
Mendengar Vaya yang terus saja mengomel, Thomas hendak keluar untuk mencari Ivona. Di saat yang sama Ivona berjalan masuk ke arahnya.
Thomas yang tak mengalihkan perhatian dari pintu masuk, membuat Vaya mengikuti arah pandang Thomas. "Itu dia, si Tuan putri sudah datang," sindir Vaya.
"Maaf, aku terlambat," ucap Ivona begitu sampai pada Thomas dan Vaya.
"Apa kau berkeliling dulu sebelum datang kemari, atau sengaja membuat kami menunggumu hingga kelaparan," tuduh Vaya.
Thomas mendelik pada Vaya.
"Tadi ada insiden kecil, Joseph tiba-tiba menghentikan mobilnya karena ada seorang nenek yang tidak hati-hati saat menyeberang. Nenek itu terjatuh, jadi aku menolongnya terlebih dulu," jelas Ivona, yang ia tujukan pada Thomas yang kembali menatapnya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Thomas khawatir.
"Ya ... aku baik-baik saja, hanya saja aku jadi membuat kalian menunggu."
"Tidak apa, lagi pula kami belum terlalu lapar," ucap Thomas menenangkan.
Melihat bagaimana Thomas memperlakukan Ivona, membuat Vaya merasa tidak suka. Gadis gila ini telah benar-benar merebut perhatian Thomas.
"Pesanlah, apa pun yang kau suka." Thomas menyodorkan buku menu pada Ivona. Ia juga memanggil pelayan untuk mencatat pesanan mereka. Vaya selalu memperhatikan gerak-gerik Thomas dan Ivona, semakin di perhatikan semakin membuat Vaya bertambah kesal.
Tak lama, pesanan mereka pun datang. Thomas segera mempersilahkan adiknya untuk segera makan. "Makanlah selagi hangat."
Mereka menikmati makanan disertai dengan obrolan, tentang perpindahan Ivona ke sekolah Vaya.
"Iv ... aku akan memindahkanmu ke sekolah yang sama dengan Vaya," ujar Thomas.
Vaya langsung tersedak begitu mendengarnya. "A ... apa yang Kak Thomas katakan? Ivona pindah ke sekolah yang sama denganku?" Saking kagetnya, Vaya sampai mengulang kalimat yang Thomas ucapakan untuk bertanya.
"Ya," jawab Thomas lugas.
"Kak Thomas bercanda, 'kan?" pekik Vaya.
Thomas menggeleng. "Aku sudah mengaturnya," jelasnya.
Ivona akan pindah sekolah ke G-School? Sekolah yang sama dengannya?
G-School, atau Great Grammar School adalah sekolah elit yang terkenal dengan siswanya yang pintar dan juga biaya sekolahnya yang mahal. Karena itu, kebanyakan dari mereka yang bersekolah di sana adalah anak-anak dari orang kaya di Victoria.
"Aku tidak setuju!" protes Vaya.
Vaya tidak terima kalau harus satu sekolah dengan Ivona. Kalau sampai diketahui oleh orang lain bahwa Ivona adalah Nona Besar keluarga Iswara yang sesungguhnya, bagaimana nasibnya?!
Tidakkah dia akan ditertawakan seluruh penghuni sekolah?!
Tidak ... Vaya tidak akan membiarkannya terjadi!!!
"Kenapa Ivona tidak boleh satu sekolah
denganmu?" tanya Thomas.
Kelemahlembutan di mata Thomas perlahan berubah menjadi dingin, dan membuat Vaya merasa iri dan sedih. Sepanjang hari ini, kakak ketiga tidak sekali pun memihaknya, dan sekarang berniat memindahkannya ke sekolah yang sama dengannya.
Bahkan dia menganggap Ivona seperti harta berharga, hingga melupakan dirinya!
Vaya menarik napas panjang, berusaha mengontrol emosinya. Ia juga tidak mau kalau terlihat terlalu menentang Thomas dan Ivona.
"I-itu, aku hanya kasihan pada Ivona jika dia tidak bisa menyesuaikan diri di G-School," elaknya.
"Bagiku tidak masalah, terserah kau saja," kata Ivona dengan santai.
Kedua orang tua Ivona di dunia nyata, sebelum ia masuk ke dalam buku, telah bercerai sebelum usia Ivona 18 tahun. Ia hidup bersama ibunya yang merupakan seorang ilmuwan terkenal, dan Ivona sendiri telah lulus kuliah kelas junior (sekolah untuk anak berbakat) di usia 14 tahun.
Hingga akhirnya sang Ibu meninggal dunia, barulah dia kembali ke perusahaan sang Ayah dan menjadi pewaris perusahaan.
Pemahaman Ivona tentang SMA kurang jelas karena dia hanya belajar selama 3 bulan saja saat itu.
"Tidak masalah?!" pekik Vaya.
Vaya merasa konyol, Senyum meremehkan tersungging di bibirnya. "Kau yakin bisa mengejar materinya?" cibirnya. Tadinya Vaya tak ingin terlalu memperlihatkan ketidak sukaannya, tapi sikap Ivona benar-benar memancing emosinya. Perkataan Ivona seakan menantangnya.
Ini pertama kalinya Ivona mendengar ada yang bertanya seperti ini padanya, tatapannya tertuju pada Vaya yang juga tengah menatapnya dengan tatapan meremehkan.
Tak lama kemudian, Ivona menjilat bibir merahnya dan berkata, "Akan aku usahakan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Sunshine
katanya tadi hidup d panti asuhan thor daya ingat mu d ragukan
2022-10-07
3