Perkataan Ivona membuat Thomas tercengang. "Kenapa, apa kau tidak suka?" tanya Thomas.
Ivona terdiam, ia masih memindai setiap sudut ruangan yang akan menjadi kamarnya.
"Kalau kau tidak suka, kau boleh memilih kamar mana saja yang kau mau." Thomas harus melakukan ini jika masih ingin Ivona tinggal di rumah keluarganya.
"Tidak perlu," jawab Ivona lugas.
"Ya?" Thomas, bingung.
"Aku suka dengan kamar ini. Hanya saja aku pikir, apa kamar ini tidak terlalu luas dan mewah untukku?"
Thomas tak menyangka dengan apa yang ia dengar, ia selalu mengira Vaya dan Ivona akan punya selera dan kebutuhan yang sama karena mereka kakak beradik, tapi tak disangka akan ada perbedaan sebesar ini.
Ia baru menyadari betapa adik kandungnya ini adalah seseorang yang bersahaja. Berbanding terbalik dengan Vaya, yang menyukai kehidupan glamor.
"Aku ingin kau merasa nyaman," jelas Thomas.
Ivona menatap Thomas sebentar, lalu mengulas senyum di bibir mungilnya. "Terima kasih," ucap Ivona.
Thomas membalas senyum Ivona dengan senyum kebahagiaan. Baru kali ini ia melihat senyum manis adik kandungnya. Banyak sekali hal yang ia lewatkan dulu. Wajah cantik Ivona, sikap sederhananya, dan kali ini senyum manisnya.
"Bagaimana kalau aku membantumu untuk memindahkan barang-barangmu?"
Ivona nyengir. "Tentu," jawab Ivona canggung. Jujur, ini pertama kali ia berinteraksi dengan Thomas dengan cara yang baik. Sebelumnya, Kakak ketiganya ini selalu tak mengacuhkan, bahkan tak segan menghukumnya demi Vaya. Sebab itulah, sikap baik Thomas justru membuatnya canggung.
"Ayo!" ajak Thomas untuk mengambil barang-barang di kamar lama Ivona.
Dengan semangat, Ivona berjalan mengikuti Thomas ke kamar lamanya. Ia mulai mengambil semua barang-barangnya dan memindahkannya ke kamar yang baru, dibantu Thomas tentunya.
Di kamar Vaya, gadis itu tengah berteriak memanggil pelayannya—Bi Samy. Ia memerlukan Bi Samy untuk minum obat, setelah tadi dokter memeriksanya.
"Bi ... Bi Samy!" teriak Vaya yang terdengar hingga ke lantai bawah.
Pelayan yang mendengar segera berlari memenuhi panggilan Vaya. Sudah biasa bagi Vaya berlaku bagaikan putri raja. Menggerakkan jari telunjuknya adalah karakternya. Sebagai Nona muda Iswara, ia sangat terlatih untuk memerintah orang.
"Ya, Nona ... ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan yang baru saja masuk ke kamar Vaya—bernama July.
"Aku tidak memanggilmu, bodoh!" teriak Vaya melihat pelayan yang datang bukanlah Bi Samy.
"Apa kau tuli, aku memanggil Bi Samy ... bukan kau!!!" sambungnya masih dengan intonasi yang sama.
"Maafkan saya, Nona. Bi Samy sudah tidak ada di sini lagi," jawab July.
"Apa maksudmu?"
"Tuan muda ketiga telah memecat Bi Samy dan mengusirnya dari rumah ini," jelas July.
"Apa?" pekik Vaya.
"Iya, Nona. Bi Samy telah melakukan kesalahan dengan memanggil nona Ivona gadis gila. Karena itu tuan muda ke tiga mengusirnya. Beliau tidak suka ada yang memanggil adik kandungnya dengan sebutan gadis gila," imbuh July.
Mendengar penjelasan July, Vaya merasa tidak tidak senang. Ia memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada kakak ketiganya itu. Bagaimana mungkin ia mengusir Bi Samy tanpa persetujuan darinya. Padahal semua orang di rumah ini tahu, termasuk juga Thomas jika Bi Samy adalah pelayan Vaya yang setia dan paling berjasa pada Vaya.
Mata Vaya mendadak berair, ia tak habis pikir pelayan setianya telah pergi. Siapa lagi yang akan ia percaya untuk merawatnya setelah Bi Samy. "Kenapa kak Thomas melakukan ini, apakah dia tidak sayang lagi padaku?"
Gurat kesedihan di wajah Vaya membuat July ingin menghiburnya. "Nona Vaya, jangan bersedih. Akhir-akhir ini Tuan muda bersikap baik kepada Ivona mungkin karena Tuan Besar. Penyakit Tuan Besar memburuk tahun ini, demi menghindari perselisihan, makanya ia bersabar dengan perbuatan Ivona," ucap July untuk menenangkan Vaya.
"Menurut saya, Anda juga harus berbuat sebaik mungkin di acara ulang tahun Tuan besar nantinya," ucap July memberi ide.
Vaya menarik satu sudut bibirnya ke atas. Membenarkan apa yang July katakan dan menyetujui ide yang diberikan July. Ia harus bersikap baik untuk memenangkan hati Tuan besar. Otaknya mulai bekerja untuk memikirkan hal apa saja yang akan ia lakukan demi menarik perhatian Tuan besar.
Ini tidak akan jadi hal yang sulit bagi Vaya, karena selama ini ia sudah melakukannya dengan sangat baik. Mencuri perhatian semua anggota keluarga. "Baiklah, aku akan menjadi anak yang penurut agar Kakek semakin menyukaiku, dan aku tidak akan pernah terusir dari keluarga ini," Vaya merencanakan semua ini di dalam hatinya. Meski tak terucap, seringai di bibir Vaya sudah cukup menggambarkan isi hati Vaya.
Hal itulah yang disadari oleh July. Nona mudanya ini pasti punya berbagai cara licik untuk tetap mempertahankan statusnya sebagai nona besar.
"Apa ini barang terakhirmu?" ucap Thomas membawa kardus terakhir dari kamar lama Ivona.
"Ehmmm ...."
Kardus yang dibawa Thomas adalah barang terakhir yang ia letakkan bersamaan dengan barang-barang yang lain.
"Terima kasih telah membantuku memindahkan barang-barang ini," ucap Ivona.
"Tidak masalah."
"Ehm ... apa kau lapar?" tanya Thomas.
Ivona mengangguk.
"Katakan apa yang ingin kau makan kali ini, aku akan meminta pelayan untuk menyiapkannya."
"Tidak perlu, Kak," tolak Ivona.
"Tidak apa, katakan saja apa yang kau mau."
Ivona menggeleng. Tentu ia tak enak hati jika harus meminta pelayan memasak apa yang ia sukai. Selain itu, Ivona bukan gadis yang suka memilih-milih makanan. Ia selalu mensyukuri apa pun yang bisa ia makan hari ini. Sebab ia tahu, ada sebagain orang yang bahkan tidak bisa makan sama sekali.
Semua itu ia pelajari saat tinggal di panti asuhan. Di mana untuk makan saja mereka harus antri dan menerima makanan apa pun yang diberikan oleh pihak panti tanpa protes. Rasa masakan yang kurang enak sudah sering ia rasakan, jadi sejak ia diajak tinggal di rumah keluarga Iswara tak ada alasan untuk pilih-pilih makanan apalagi menolaknya. Apa pun yang pelayan siapkan, ia akan memakannya dengan penuh syukur.
"Tunggu sebentar." Thomas keluar dari kamar, menuju ke dapur.
"Pelayan," panggilnya.
"Iya, Tuan," jawab pelayan yang langsung datang begitu Thomas memanggilnya.
"Buatkan makan malam," ucap Thomas.
"Apa yang ingin Anda makan nanti malam, Tuan?" tanya pelayan memastikan.
"Masak saja sesuai kesukaan Ivona," jawab Thomas.
Pelayan itu merasa sedikit canggung dan takut. Pasalnya mereka tak pernah memasak apa yang Ivona suka. Lagi pula, siapa yang akan menjilat nona yang tak dianggap seperti Ivona. Selama ini mereka memasak sesuai dengan selera Nona Besar—Vaya.
Dengan takut, pelayan itu menjawab, "Sepertinya tidak ada yang disukai oleh Nona kedua."
Wajah Thomas berubah, dia teringat akan barang-barang di kamar Ivona sebelumnya. Semua barang-barang Ivona adalah barang bekas yang disumbangkan oleh Vaya. Tak ada yang memperhatikan gadis itu selama ini. Bahkan soal makanan kesukaan, tidak ada yang peduli.
Mengingatnya membuat Thomas kembali marah. "Ivona yang tidak punya makanan favorit atau kalian yang sama sekali tidak menganggapnya sebagai Nona keluarga Iswara, Hah?!"
Pelayan menjadi panik. Ia takut jika kali ini adalah gilirannya untuk bernasib sama seperti Bi Samy.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Zaitun
lanjut
2022-01-05
1
Ida Blado
huh harusnya ivona tegas untuk memberi sefikit pelajaran buat thomas,bagaimanapun kakak2nya udah sgt kejam
2021-12-10
5