"Aku ragu dengan kemampuanmu, mengingat di G-School mempunyai sistem diskualifikasi. Di sekolah lamamu saja kau tidak bisa mengejar materi yang diajarkan, apalagi di G-School. Kemungkinan besar kau akan tertinggal, meskipun kau belajar tanpa henti sepanjang tahun. Tidak akan ada artinya!" ejek Vaya dengan senyum meremehkan.
Di depan Thomas Vaya berani meremehkan Ivona. Thomas bukannya tidak tahu dengan kemampuan belajar Ivona, tapi itu bukan sepenuhnya salah Ivona. Gadis itu hanya tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan yang terbaik.
Sekarang, Thomas ingin semua kembali pada posisi yang semestinya, hal-hal yang seharusnya Ivona dapatkan akan ia berikan sesuai hak Ivona. Salah satunya adalah pendidikan, di mana dulu Ivona hanya belajar di sekolah yang siswanya berasal dari kalangan menengah ke bawah. Kini Ivona harus mendapatkan yamg setara dengan Vaya.
"Tenanglah, semua tidak akan jadi masalah apakah kau bisa mengejar materi di sana atau pun tidak. Keluarga kita adalah penyumbang dana tetap dan juga telah memberikan sebuah gedung untuk institusi itu. Jadi, jangan khawatir, tidak akan ada yang berani mengeluarkanmu dari sekolah," ujar Thomas menghibur.
Mendengar hal itu, wajah Vaya seketika berubah masam!
Vaya menahan diri untuk tidak mengeluarkan api yang sedari tadi bersemayam di hatinya, dan berusaha menghibur dirinya sendiri. "Kakak ketiga bersikap baik kepada Ivona hanya karena Tuan Besar. Tidak lebih, ia pasti hanya dimanfaatkan saja seperti sebelum-sebelumnya. Ia lah adik yang paling di sayang oleh anak laki-laki keluarga Iswara," ucapnya dalam hati. Kemudian, ia tersenyum jahat.
Menarik juga.
Kalau Ivona mau datang ke G-School, maka dia akan membuat Ivona sadar akan jarak besar sesungguhnya di antara mereka! Ini adalah kesempatannya untuk membuat gadis gila itu tahu di mana posisinya berada. Di rumah sakit jiwa!
Pada saat ini, Ivona juga ikut mengernyitkan dahi.
Ucapan Thomas benar-benar mencerminkan kakak yang berusaha menjaga adiknya, menenangkan kala gundah. Dia tidak tahu apakah Thomas sedang mengerjainya, atau tulus mengasihinya.
Akan tetapi pada saat ini, tidak ada yang memperhatikan bahwa telapak tangan Thomas dipenuhi keringat.
Ia mengingat, di kehidupan sebelumnya, dia juga belakangan baru tahu kalau Ivona diperas oleh murid-murid di sekolah sebelumnya, bahkan dibully.
Sehingga Ivona mengidap SCD (Social Communication Disorder) atau gangguan komunikasi sosial akut. Hal yang menyebabkan Ivona menjadi gadis introvert. Karena dia sudah bereinkarnasi sekarang, maka dia tidak akan membiarkan hal seperti ini terulang lagi. Ia harus melindungi Ivona mulai sekarang.
Sorot mata Thomas terlihat tegas. Menyiratkan kesungguhan kata-katanya.
Selesai makan malam, Thomas pergi bersama Ivona dan mengabaikan Vaya yang berada di belakang mereka.
Vaya menatap masygul kakak ketiganya. Thomas yang berjalan di belakang Ivona, dulu begitu menyayanginya, tapi kini mengabaikannya.
Vaya mengambil ponsel di dalam tasnya. Ia mencari nomor seseorang, kemudian menghubunginya.
Vaya mengatur napasnya. Ia harus berpura-pura menjadi anak yang baik untuk mendapatkan kembali kasih sayang dari keluarga Iswara.
Tak lama kemudian, suara lembut Nyonya Iswara terdengar dari ponselnya.
"Hallo, Sayang ... ada apa?" sapa Nyonya Iswara di seberang telpon.
"Kangen sama Mama, ya?" lanjutnya.
Vaya menahan suara tangisannya. "Ma, apa suatu hari nanti mama akan mengabaikan Vaya, membuang Vaya begitu saja?"
Nyonya Iswara buru-buru berkata setelah mendengar nada sedih dari suara Vaya, "Dasar anak bodoh, apa yang kamu pikirkan? Selamanya kamu itu putri Mama, tidak mungkin Mama tega membuang kamu."
Vaya menggigit bibirnya, "Tapi akhir-akhir ini kak Thomas ... tidak peduli padaku."
Nyonya Iswara tertawa mendengarnya.
"Jangan bodoh. Mana mungkin, Kak Thomas melakukannya. Dia kakak yang paling sayang sama kamu. Bahkan waktu kamu kecil pun dia yang suka rebutan gendong kamu."
Vaya juga teringat akan kenangan indah waktu itu setelah mendengarnya. "Apa benar begitu, Kak Thomas tidak akan mengabaikan aku lagi?"
"Tentu saja, Sayang," jawab Nyonya Iswara meyakinkan.
Vaya masih merasa kurang yakin begitu mengingat sikap Thomas akhir-akhir ini.
"Tapi, Ma ...."
"Sudahlah, tidak usah terlalu dipikirkan. Anak gadis jangan suka mikir macam-macam, kalau banyak pikiran nanti cepat tua," goda Nyonya Iswara.
Nyonya Iswara berkata dengan sabar, "Mungkin kakakmu sedang banyak tekanan belakangan ini, dia sedang sibuk mengurusi perekrutan karyawan klub."
Vaya merasa lebih tenang setelah mendengar perkataan Nyonya Iswara.
"Ma, kalau suatu hari nanti Mama tidak menginginkan Vaya lagi, Vaya rela kalau harus memberikan posisi Vaya pada Ivona." Suara Ivona terdengar putus asa.
Temperamen Nyonya Iswara berubah menjadi dingin begitu mendengar nama Ivona. Dia berkata, "Bicara apa sih, kamu. Kamu itu Nona Besar keluarga Iswara yang sesungguhnya, siapa yang berani mengusir kamu? Tenang saja, Mama tidak akan membiarkan dia atau siapa pun merebut semua yang jadi milik kamu."
Sudut bibir Vaya naik perlahan, dia merasa bangga sekarang. Mamanya telah mendukungnya. Ia berhasil mencuri kasih sayang dan perhatian Nyonya Iswara, yang lebih penting lagi adalah dukungan Nyonya Iswara terhadapnya.
Awalnya, Vaya pikir, jika Ivona menurut, dia masih bisa mempertimbangkan untuk berusaha hidup akur dengan Ivona.
Tapi, gadis itu justru memilih untuk menantangnya, jadi jangan salahkan dirinya. Siapa suruh ingin berebut posisi dengannya?
Senyum licik langsung terukir di bibirnya.
"Baiklah, Ma. Aku merasa tenang setelah mendengar semua perkataan mama. Sampai jumpa di rumah, I love you, Mom." Setelahnya Vaya mengakhiri panggilan.
Tak lama setelah itu, terdengar bunyi pesan dari ponselnya. Ternyata Nyonya Iswara mentransfer uang sebesar $20.000 kepada Vaya. Ada pesan singkat juga untuknya.
[Jangan terlalu banyak pikiran, pergilah dengan teman-temanmu dan bersenang-senanglah.]
Membaca pesan dari Nyonya Iswara membuat senyum Vaya mengembang. Nyonya Iswara juga tidak mengungkit Ivona sedikit pun.
___________________
Kurang dari dua hari, Ivona masuk ke G-School, rupanya berita itu telah tersebar terlebih dulu ke seluruh pelosok Great Grammar School. Kelas G kedatangan murid pindahan.
"Apa kalian sudah mendengar berita baru yang beredar?" ucap salah satu siswa yang sedang asik menggosip.
"Ya, dengar-dengar murid pindahan itu punya hubungan dengan keluarga Vaya." timpal yang lainnya.
"Dia akan masuk ke kelas G." sambung lainnya lagi.
"Yah ... semua orang tahu kalau kelas G adalah kelas 'koneksi' yang tak perlu diragukan."
"Benar, meskipun banyak siswa berprestasi yang mau tidak mau harus tinggal di kelas G demi beasiswa, tapi kebanyakan dari mereka adalah anak orang kaya."
Kabar itu menyebar lebih cepat dari angin, hingga tak satu pun dari siswa G-School yang tak membicarakannya. Seolah hal ini memang sedang menjadi topik hangat untuk dilewatkan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Tae Woon
apa Thomas tau bahwa dia bukan viona yang asli
2022-11-25
2