Alexander membawa Ivona pulang ke mansion mewah milik keluarga Alberic. Rumah megah dengan gaya arsitektur royal Victoria ini bisa Ivona lihat dari tampilannya. Rumah victorian memiliki ciri khas yang menggabungkan antara gaya desain kontemporer-modern dan desain tradisional. Biasanya sangat identik dengan dekorasi yang memiliki sentuhan khas dari zaman kerajaan Inggris.
Bangunan yang megah dan diisi dengan furniture klasik nan mewah sangat kental terlihat dari rumah bergaya victorian ini. Hal ini pun terlihat dari penggunaan furniture lampu hias yang besar, dan gorden besar dengan warna dasar emas untuk mempertegas kesan arsitektur victorian pada interior rumah. Belum lagi dengan furniture-furniture lain yang Ivona yakini berharga sangat fantastis.
Ivona terpaku saat pertama kali memasuki bangunan yang layak untuk disebut istana ini.
"Hei, apa yang kau pikirkan?" tanya Alexander menyadarkan Ivona.
"Eh ... apa?" Bukannya menjawab, Ivona justru bertanya dengan bingung.
"Sudahlah, tunggulah di sini. Aku akan mencari Max," ucapnya, kemudian meninggalkan Ivona di ruang tamu milik keluarga Alberic tersebut.
Ivona mengedarkan pandangannya, menatap setiap jengkal dari ruangan megah itu. Alexander dan keluarganya pastilah bukan orang sembarangan, jika mengingat kejadian tadi di rumah sakit. Bagaimana dia dengan begitu entengnya memerintah seseorang untuk menghancurkan rumah sakit tersebut. Ditambah lagi dengan melihat kediaman keluarganya yang begitu mewah.
Tanpa sadar, langkahnya membawa Ivona menyusuri ruangan dalam bangunan megah itu. Hingga sampailah ia pada sebuah ruangan dengan meja yang begitu besar dan dikelilingi bangku dengan model klasik. Pastilah ini ruang makan keluarga ini, tebaknya.
Ivona terus berjalan sembari melihat setiap sudut dalam ruangan. Sampai datang seseorang yang membuatnya tersentak. "Siapa, kau?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Ivona.
Merasa panggilan itu untuk dirinya, Ivona menoleh seketika. Dilihatnya seorang wanita paruh baya berdiri angkuh menatapnya. Entah mengapa, rasa waspada langsung menyelimuti dirinya. Tanpa menjawab, Ivona memundurkan langkahnya, hingga pantatnya menyentuh meja besar yang tadi ia lihat. Ivona melirik pisau buah yang ada di atas meja, dengan sigap ia segera mengambilnya. Berjaga-jaga jika orang di hadapannya adalah orang jahat.
Sebegitu paranoid-nya Ivona pada orang asing yang ia temui. Ia tak ingin lagi kembali tersiksa, sebab itu ia memilih untuk melawan.
"Siapa kau, dan apa yang kau lakukan di sini?" ulang wanita itu lagi.
Ivona tetap diam dan tak ingin menjawab. Raut wajahnya menyiratkan ketakutan dan kewaspadaan.
Alexander baru saja kembali dari mencari Max, yang tadi pulang terlebih dulu dengan adiknya. Melihat Ivona yang menatapnya dengan waspada sambil memegang pisau di tangan, membuat Alexander ingin meledeknya. "Apa kau ingin makan buah?" goda Alexander yang baru saja datang.
Ivona tak menjawab, ia justru menghambur ke pelukan Alexander. Alexander merasa ada yang aneh dengan sikap Ivona yang bersikap dingin di dalam pelukannya. Ia menatap wanita paruh baya yang kini juga tengah menatapnya dan Ivona.
Raut tidak suka terlihat dari wanita itu. "Siapa dia, Alex? apa kau mengenalnya?" tanya wanita itu. "Apa dia gadis gila?" sambungnya. Ada alasan kenapa wanita itu langsung menuduh Ivona gadis gila. Jika dilihat dari penampilan Ivona yang berantakan dengan sorot mata anehnya, tidak berlebihan jika wanita itu langsung menganggapnya gila. Terlebih saat tiba-tiba Ivona mengambil pisau buah dan menatap ke arahnya dengan waspada.
Menyadari sikap dingin Ivona, Alexander mengambil pisau ditangan Ivona masih dengan memeluknya dan menjatuhkannya begitu saja. Tanpa memedulikan anggota keluarganya, dan tidak berpaling sedikit pun, Alexander langsung membawa Ivona keluar dari mansion mewah itu. Ia rasa ia harus menenangkan Ivona.
Ivona hanya menurut saat Alexander menggandeng tangannya melewati wanita paruh baya yang tadi bertanya kepadanya. Di dalam mobil, Alexander merasa aneh bukan hanya pada Ivona, tapi juga dengan dirinya sendiri. Dia sangat jarang segegabah ini.
Dalam beberapa saat mereka saling terdiam. Alexander mengambil sebuah korek api di saku jasnya dan memainkannya.
"Tuan, jika Anda sedang sibuk, turunkan saja aku di tepi jalan." Ivona membuka suaranya. Ia tak ingin berhutang budi lagi kepada Alexander. Setelah memikirkannya, Alexander bukanlah tokoh utama pria dalam novel yang ia baca.
Alexander memutar korek api berwarna silver di tangannya, nada bicaranya terdengar malas dan sedikit dingin, "Bagaimanapun juga, aku harus bertanggung jawab pada gadis kecil yang kabur dari rumah." Setelah menjawab perkataan Ivona, Alexander memasukkan kembali korek api di tangannya, kemudian memacu mobilnya keluar dari gerbang tinggi mansion keluarga Alberic.
Jawaban Alexander membuat jantung Ivona seolah berhenti berdetak sejenak. Kata-kata yang tak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut seorang Alexander. Pria seperti ini kenapa bukan menjadi tokoh utama dalam novel yang ia baca. Ivona ingat betul tokoh utama pria bernama Roy Gibson, seorang pria campuran, keturunan Indonesia-Australia yang sangat kejam. Pria dengan jiwa psikopat.
Di saat pikiran Ivona masih melayang, hal tak terduga kembali Alexander lakukan. Pria itu kembali menggendong Ivona dengan tiba-tiba. Ivona yang tak sadar jika mobil yang dikendarainya sudah berhenti kaget seketika, terlebih saat tubuhnya sudah berada dalam gendongan Alexander. Untuk kedua kalinya, tangannya reflek melingkari leher pria tampan itu.
"Tuan, apa yang kau lakukan?" pekik Ivona kaget.
Alexander mengukir senyum tipis di bibirnya. "Aku sudah memanggilmu beberapa kali untuk turun, tapi kau tetap saja bergeming. Sebab itu aku pikir kau ingin digendong lagi," jawabnya enteng.
Ivona jadi malu, ternyata lamunannya membuat ia seperti tak sadarkan diri. Bahkan tak mendengar saat dipanggil. Mata Ivona terbelalak saat melihat bangunan hotel yang begitu megah. Alexander berjalan ke tempat resepsionis masih dengan Ivona yang berada dalam gendongannya.
"President suite," ucapnya sambil lalu pada sang resepsionis.
Ia bicara seolah hotel ini adalah miliknya. Meski begitu tetap saja ada seseorang yang dengan sigap mengikutinya setelah mengambil salah satu kunci kamar seperti yang Alexander ucapkan.
Raut wajah Ivona terlihat kacau, apalagi setelah melihat kesenangan di sudut bibir Alexander, raut wajahnya menjadi semakin pucat. Ini tidak bisa dibiarkan. Ia tidak ingin terlihat lemah di depan Alexander. Ia harus mencari cara agar tak dipermainkan oleh pria berparas dewa ini.
"Tuan, kalau pacaran pasti cepat, ya?" ucap Ivona berusaha menggoda Alexander.
"Pria lain mungkin cepat, tapi aku lebih cepat dan ganas," jawab Alexander.
Mendengar jawaban Alexander malah Ivona bingung bagaimana harus membalas pria ini. Niatnya untuk menggoda pupus sudah, karena bagaimanapun Ivona yakin Alexander lebih berpengalaman. Contohnya saja apa yang baru saja Ivona ucapkan, ia bertanya soal pacaran, tapi Alexander justru memikirkan hal yang lainnya. Rasanya untuk saat ini akan lebih baik jika ia tak memancing ular keluar dari sarangnya. Akan berbahaya untuk dirinya sendiri.
Ivona memilih untuk diam dan melihat apa yang akan Alexander lakukan selanjutnya.
Tiba disebuah kamar, seseorang yang tadi mengikuti mereka, segera membuka pintu kamar yang Alexander pesan, dan langsung pergi begitu Tuannya memasuki kamar. Alexander mendudukkan Ivona di sofa, lalu bejalan mengambil jubah mandi dan melemparkannya ke samping Ivona.
"Gantilah!" ucapnya dengan nada memerintah.
Ivona tak langsung menuruti perintah Alexander, ia justru menatap jubah mandi di sampingnya. Kemudian menatap Alexander dengan penuh makna tersirat.
"Kenapa?" tanya Alexander yang mendudukkan dirinya di samping Ivona.
Ivona terus menatap lekat pria di sampingnya.
Gemas melihat Ivona yang terus menatapnya, Alexander menarik gadis itu ke pangkuannya. "Aku adalah orang yang jahat, jadi bersikaplah dengan baik. Patuhi apa yang ku katakan atau aku akan memakanmu layaknya santapan ular," bisik Alexander tepat di telinga Ivona. Suara lembut Alexander justru terdengar seperti sedang menggoda dari pada sedang mengancam.
Ivona tak takut, ia terus saja menatap lekat pria yang kini tengah memangkunya. Pandangan mereka yang beradu membuat sesuatu dalam diri masing-masing terasa aneh. Muncul rasa yang bergejolak, tapi tak bisa didefinisikan.
Untunglah, bel kamar berbunyi. Membuat mereka berdua tersadar akan apa yang baru saja mereka lakukan.
"Tuan, saya mengantarkan pesanan Nyonya besar," teriak seseorang dari luar.
"Apa aku perlu masuk ke kamar mandi?" tanya Ivona, masih berada di pangkuan Alexander.
Alexander justru tersenyum, seperti sedang meledeknya. "Kau bisa jadi putriku kalau lebih kecil lagi, jadi tidak akan ada yang salah paham," jawab Alexander.
Ivona pun tertawa mendengar jawaban Alexander. Benar saja, dilihat dari penampilannya Alexander pasti memiliki umur yang jauh lebih tua darinya.
Alexander melihat pakaian Ivona yang sudah basah. "Pergilah ke kamar mandi dan bersihkan tubuhmu."
Ivona memperhatikan dirinya sendiri, baju yang basah dan kotor. Mungkin Alexander jijik kepadanya. Tanpa bantahan lagi, Ivona segera masuk ke dalam toilet.
"Tuan ... Tuan Alexander, apa Anda ada di dalam?" Orang di luar masih saja memanggil dengan gigih.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Zaitun
🤔
2022-01-05
1