Ivona melirik wanita itu sekilas, "Sampai kapan kau akan berada di situ, apa kau menungguku selesai ganti baju?" cibirnya.
Mendengar ucapan Ivona yang menjengkelkan wanita itu pergi dengan kesal. Ivona tertawa puas telah membalas perlakuan angkuh wanita itu. Ia bukan lagi Ivona yang akan pasrah jika diperlakukan tidak baik, ia akan membalas dengan perlakuan yang sama atau bahkan lebih menyedihkan dari perlakuan yang ia terima.
Beberapa menit kemudian, Alexander keluar dari kamar mandi. Dengan handuk melilit di pinggangnya dan satu handuk kecil di tangan kirinya, mengusap rambut basahnya. "Kenapa denganmu?" tanya Alexander saat keluar dari kamar mandi dan mendapati Ivona tengah tertawa.
Seketika Ivona menutup mulutnya. "Eh ... apa?"
Alexander malah bingung, ia yang bertanya malah di tanya balik.
Menyadari sikap Alexander Ivona segera mengatur dirinya dengan baik. "Ah ... itu, aku hanya memikirkan tentang kejadian lucu di masa lalu," bohongnya pada Alexander.
Pria itu mengangguk paham. "Apa ada yang datang?" tanyanya kemudian.
"Siapa?"
Alexander mengernyitkan dahi.
"Oh ... wanita itu, dia sudah pergi," jawab Ivona dingin.
Gadis itu kembali mengambil paper bag tempat ia mengambil baju gantinya, di sana ia menemukan obat untuk luka-lukanya. Mungkin Alexander yang memesan obat itu untuknya. Tak lagi melihat Alexander yang masih berdiri memperhatikannya, Ivona mendudukkan dirinya di ranjang. Ia membuka tutup saleb dan mengolesnya pada luka di kakinya.
"Mungkin Tuan harus menjelaskannya sendiri dengan baik-baik jika pulang nanti," ucap Ivona.
Tanpa malu, Ivona melepas dua kancing kemeja yang ia kenakan, ia merasa ada luka di bahunya, sebab saat mandi ia merasakan perih di sana. Ternyata sulit juga menjangkau bagian belakang bahunya saat ia akan mengoleskan salep.
Melihat Ivona yang seakan kesulitan mengobati lukanya, Alexander tiba-tiba melempar handuk kecil di tangannya dengan asal, kemudian mengambil salep di tangan Ivona. Tanpa bertanya, ia segera menurunkan sedikit kemeja Ivona dan mengoleskan salep pada luka di bahu gadis itu. "Lagi pula aku juga tidak berharap kau bisa berbuat hal baik," ucap Alexander saat mengobati luka Ivona.
Alexander bukan orang yang bodoh, ia bisa melihat karakter Ivona yang arogan dan pastinya tidak bisa tinggal diam. Ia juga tahu benar karakter wanita yang dipilih oleh nyonya besar untuk dirinya. Pasti sudah terjadi hal seru antara dua wanita yang merebutkan seorang pria.
Ivona mencebik kesal mendendengar kejujuran Alexander. "Harusnya tadi aku mengatakan pada wanita itu jika pintu kamar mandi tidak dikunci," ucapnya dengan nada kesal pada ucapan Alexander.
Alexander tertawa. "Kenapa tidak kau lakukan?"
Ivona membalik tubuhnya, matanya mendelik menatap tajam Alexander. Hal justru terlihat menggemaskan bagi pria dewasa seperti Alexander. Hanya sekejab, Ivona kembali ke posisinya semula, membelakangi Alexander agar pria itu bisa dengan mudah mengoleskan salep di bahunya.
"Siapa namamu?" tanya Alexander, yang kembali mengoles salep.
"Ivona Carminda," jawab Ivona tak ingin berbohong.
Sudut bibir pria itu terangkat setelah mendengarnya, sorot matanya terlihat santai.
"Namaku Alexander Alberic." Alexander berdiri dan meletakkan kembali salep di tangan Ivona. "Istirahatlah," ucapnya kemudian. Sebelum pergi ia mengacak rambut Ivona.
Ivona hanya bisa terpaku memperhatikan pria yang telah menolongnya kembali masuk ke kamar mandi. Ada apa dengan dirinya, dan kenapa sikap pria itu serasa aneh bagi respon tubuhnya.
____________
Keesokan harinya, Ivona terbangun saat matahari sudah mulai meninggi. Ia mengedarkan pandangannya mencari Alexander yang semalam memilih untuk tidur di sofa dan membiarkannya menempati kasur berukuran king size itu seorang diri. Tak ada siapa pun di sana, bahkan tak terlihat seorang pun di kamar ini selain dirinya.
Ivona melihat selembar kertas di atas nakas dan beberapa lembar uang dolar. Lagi-lagi ia merasa berhutang budi pada Alexander.
Ia tidak terlalu suka berhutang pada orang lain, apalagi dengan kondisinya saat ini, akan sangat sulit untuk membayarnya.
Ia membaca tulisan dalam selembar kertas itu.
Aku pergi terlebih dahulu, ini adalah nomor teleponku, jika ada sesuatu dan kau membutuhkan bantuan ku, hubungi saja nomor ini. Uang ini juga bisa kau gunakan dan aku tidak menganggapnya sebagai hutang.
Setelah membacanya, Ivona menaruhnya lagi di atas nakas. Ia segera membersihkan diri untuk meninggalkan hotel ini. Tak lupa membawa uang dan nomor ponsel yang diberikan Alexander.
Meskipun tidak menyukai keluarga Iswara, tapi Ivona tetap memutuskan untuk pulang.
____________
Saat ini di keluarga Iswara. Thomas sedang duduk di sofa menyesali diri karena tidak menemukan Ivona kemarin, dia teringat kembali akan kehidupan sebelumnya, karena terjadi kecelakaan pada putri seorang tokoh besar di rumah sakit jiwa, maka barulah rumah sakit jiwa itu terekspos, ketika mereka, kakak beradik menemukan Ivona, Ivona telah dianiaya hingga mengenaskan, sifatnya juga menjadi sangat aneh.
Kalimat Ivona di kehidupan sebelumnya terus muncul di dalam benak Thomas, yaitu "Aku tidak mau lagi jadi adik kalian di kehidupan mendatang." Kata-kata yang membuat Thomas merasa gagal menjadi seorang kakak, hingga ucapan itu keluar dari bibir adiknya.
Kebetulan Ivona berjalan masuk dari pintu, perpaduan antara gaun berwarna merah dengan rambut hitamnya membuat gadis itu terlihat sangat cantik.
Mata Thomas menjadi sembab, sebelum bangkrut di kehidupan sebelumnya, mereka sama sekali tidak memahami Ivona, setelah bangkrut mereka mengetahui kalau Ivona sangat cantik, tapi sebatang lisptik pun tak mampu mereka belikan untuknya, yang bisa dilakukan hanya melihat Ivona bekerja di 3 tempat dan berpakaian lusuh.
Baru saja Thomas hendak memanggil Ivona, Vaya pun muncul dan menyela. "Ruang piano terlalu panas, mungkin karena ruangannya yang tak terlalu luas. Aku ingin menggantinya dengan kamar Ivona."
Thomas ingat kalau di kehidupan sebelumnya dirinya bisa-bisanya menyetujui hal ini, dia merasa dirinya benar-benar kakak yang buruk.
Ivona yang mendengar langsung menyetujuinya dengan segera. "Tidak masalah, kau mau menggunakan kamarku untuk apa pun itu bukan lagi urusanku, karena aku akan tinggal di asrama sekolah."
Mendengar sahutan Ivona, Vaya menoleh, ia melihat Ivona yang berjalan memasuki pintu. Ia sedikitpun tidak percaya kalau ini adalah Ivona, di dalam pandangannya IVona tidak mungkin secantik ini.
"Untuk apa kau tinggal di asrama, jika kau punya rumah sendiri?" tanya Thomas. Thomas tidak tega melihat Ivona tinggal dia asrama sekolah.
Ucapan Thomas membuat Vaya tersadar kalau kakak ketiganya sangat aneh, bukannya dulu dia yang paling membenci Ivona?
Kenapa sekarang bisa kasihan padanya?
Mungkinkah Kak Thomas merasa Ivona tidak akan bisa terbiasa dengan kehidupan asrama, dan akan semakin menyebalkan jika pindah kesana kesini?
"Kak Thom, Ivona bukanlah gadis cengeng yang perlu dikhawatirkan," sahut Vaya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments