Mendengar ucapan Ivona, dua petugas keamanan yang berada di sebelah Alexander tiba-tiba menjadi serius. Mereka berdua saling bertatapan, seolah saling bertanya apa maksud dari gadis gila ini, meminta Tuan muda Alexander untuk membawanya. Begitukah arti dari ucapannya?
Detik berikutnya, hal yang tak diduga oleh petugas keamanan rumah sakit dan membuat asisten Rico tercegang adalah, Alexander mengambil scalpel yang ada di tangan Ivona dan membuangnya begitu saja. Alexander kemudian meminta asisten Rico mencari orang untuk meratakan lahan rumah sakit ini. "Suruh orang-orang kita menghancurkan rumah sakit ini," titahnya pada Rico. "Aku tidak ingin ada yang tersisa sedikit pun," sambungnya.
Petugas keamanan rumah sakit sangat terkejut setelah mendengarnya, mereka merasa sedikit panik, dan sadar jika mereka telah memprovokasi orang yang salah. "Tu-tuan, apa maksud, Anda?" tanya salah satu satpam dengan panik. "Tidak mungkin 'kan, Anda akan meratakan rumah sakit ini dengan tanah?" imbuh yang lainnya.
Alexander tak menggubris pertanyaan petugas keamanan rumah sakit. Fokusnya tetap pada Ivona yang masih terduduk di atas tanah. Pandangannya tertuju pada kaki Ivona yang terluka.
Ivona yang juga mendengar perintah Alexander pada asistennya sedikit lega. Ia punya firasat jika pria tampan di depannya ini akan membantunya mengatasi masalah, tentunya setelah urusan rumah sakit ini selesai. Ia tidak peduli jika Alexander akan menghancurkan bangunan besar ini, justru bersyukur kalau rumah sakit ini benar-benar dihancurkan. Ia tidak ingin ada lagi korban seperti dirinya. Terutama oleh kepala rumah sakit yang merupakan seorang pervert.
Dalam hati, Ivona sedikit bahagia karena akhirnya ia akan keluar dari tempat penyiksaan ini. Neraka yang telah membuat luka bukan hanya di sekujur tubuhnya, tapi juga luka yang akan membekas dalam jiwanya. Netranya menatap teduh Alexander, ia harus berterima kasih pada pria ini setelahnya.
Belum juga selesai Ivona memikirkan cara untuk berterima kasih, tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh Alexander. Hal itu membuat Ivona sedikit tersentak, karena tak siap dengan apa yang Alexander lakukan.
Alexander menggendongnya, mengangkat tubuh rapuhnya dalam dekapan hangat pria itu. Tubuh Ivona yang basah akibat rintik hujan membuatnya merasa tidak nyaman berada dalam pelukan hangat Alexander. Bukan apa-apa, ia merasa tidak enak hati saat menyadari seragam rumah sakit yang ia kenakan kotor dan basah, karena sebelumnya ia terduduk di atas tanah basah di bawah rintik hujan.
Saat Alexander membawanya untuk berdiri, Ivona merasa sedikit takut akan terjatuh. Sebab itu, reflek tangannya melingkari leher Alexander. Pria rupawan itu tersenyum tipis menatap Ivona. Ia menyadari kegelisahan gadis dalam gendongannya. "Apa kau takut? tenanglah, lenganku cukup kuat untuk bisa menopang tubuhmu," bisik Alexander di telinga Ivona. Suaranya yang lembut justru terdengar mesra oleh gadis itu.
Entah mengapa, mendengar suara lembut Alexander justru membuat tatapan memuja Ivona sebelumnya berubah seketika menjadi waspada. Instingnya berkata jika pria rupawan ini sangat berbahaya.
"Apa yang ingin Anda lakukan?" tanya Ivona dengan hati-hati.
Alexander kembali memperlihatkan senyum tipis yang tak bisa Ivona artikan. "Bukankah tadi kau memanggilku Kakak, dan ingin pulang bersamaku." Bukan jawaban yang Alexander berikan, melainkan pertanyaan balik untuk Ivona.
"Rico, berikan payungnya!" titah Alexander pada asistennya tanpa melihat pria itu.
Dengan sigap, Rico membuka payung untuk Alexander dan memberikannya.
"Peganglah!" Alexander melirik Ivona sebagai perintah.
Tanpa bantahan, dan seperti terhipnotis oleh pria rupawan ini, Ivona menerima payung yang diberikan oleh Rico. Ia memayungi dirinya dan juga Alexander dari rintik hujan yang membasahi keduanya. Tak menunggu lagi, Alexander langsung pergi membawa Ivona dalam gendongannya.
Mata Ivona terus memperhatikan Alexander yang terlihat tenang membawa tubuhnya. Pria rupawan yang menimbulkan berjuta tanya dalam benak Ivona.
Petugas keamanan rumah sakit dan juga asisten Rico nampak heran dengan apa yang Alexander lakukan. "Tuan Alexander benar-benar merebut orangnya," gumam Rico dengan tatapan bingung.
Baru saja Alexander menggendongnya sampai ke gerbang, terdengar suara seorang laki-laki yang sedang marah tengah mencari adik perempuannya, dia mengatakan adiknya hilang, dan pasti akan membuat orang-orang ini mendekam di penjara.
"Katakan di mana adikku?" sentaknya pada petugas rumah sakit.
"Kalau sampai adikku tidak bisa ditemukan, aku bersumpah akan membuat kalian semua yang terlibat dalam kasus ini mendekam selamanya di dalam penjara!" ancamnya pada petugas rumah sakit yang terlihat mulai panik.
Pria itu adalah Thomas Iswara. Kakak ketiga dari keluarga Iswara. Pria dengan warna rambut silver grey itu adalah seorang pemain e-sport populer di Australia. Ia baru saja kembali ke tanah air setelah memenangkan perlombaan e-sport di China.
Ivona yang berada dalam gendongan Alexander ternyata memperhatikan pria yang tengah marah-marah itu. Ia menebak dari penampilannya, kalau pria itu adalah kakak ketiga Ivona, Thomas Iswara. Ivona mengingat sejenak identitas Thomas di dalam novel yang ia baca. Tidak salah lagi, pria berambut silver grey itu memanglah Thomas, kakak ketiga Ivona.
Alexander yang berjalan melintas di depan Thomas, membuat pria itu menyadari bahwa gadis dalam gendongan pria yang tak ia kenal adalah adiknya. Melihat Ivona menatapnya dengan tatapan dingin dan berada di dalam pelukan pria asing membuat darah pria itu mendidih seketika.
"Iv ...." Baru saja ia akan memanggil nama Ivona, saat tiba-tiba muncul dua orang di pintu gerbang.
Ivona mencibir, "Orang yang tak kuharapkan datang justru datang semua."
Thomas keheranan, dia menoleh dan melihat kakak pertamanya, Rio Iswara dan Vaya—adiknya— datang.
Tak ingin terlibat pertemuan dengan kakak-kakaknya dan juga gadis yang telah menggantikannya, Ivona berbisik di telinga Alexander. "Bawa aku pergi dari sini."
Thomas menatap murka pada Alexander. Bukankah seharusnya saat ini Ivona meminta bantuannya. Kenapa adiknya itu justru meminta bantuan pada pria asing, dan berbicara dengan lembut pada pria yang menggendongnya.
Thomas sedikit cemburu, dia saja tidak pernah menggendong wanita semesra ini, dia mengepal tinjunya erat secara tak sadar, matanya memerah, menunjukkan amarah dalam hatinya.
Ivona pikir, Thomas akan menyindirnya seperti yang ada di dalam novel saat ia melihat ekspresi Thomas. Oleh karena itu ia memalingkan wajah dan tidak menggubrisnya. Namun tidak, Thomas hanya berdiam menatapnya.
Thomas merasa dunia seakan runtuh, tepat di saat Vaya bertanya padanya, "Kak Thom, Ivona baik-baik saja, kan?"
Thomas belum sempat meladeni Vaya, saat melihat Alexander membawa Ivona pergi. Pria rupawan itu bersikap seolah tak ada siapa pun saat berjalan melewati Thomas. Ia terus saja berjalan keluar sembari membawa Ivona dalam gendongannya. Sehingga kedua orang yang berjalan masuk ke dalam tidak melihat dengan jelas siapa pria yang menggendong Ivona.
Thomas ingin mengejar, tapi dihentikan oleh Vaya. "Kak Thom, sudahlah, dia itu hanya ingin mencari perhatian kalian."
Thomas hanya bisa menahan geram melihat kepergian Ivona bersama pria asing yang tak ia kenal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Zaitun
kaka gak berguna
2022-01-05
1
Istiana Bela
ceritanya sama kyak sebelah dri plat nama serta alurnya bahkan dialognya sama...
2021-12-20
2
(~‾▿‾)~
sejauh ini masih tidak mengecewakan.... semangat Thor nulisnya
2021-12-16
17