Thomas menatap nanar pada Ivona. "Jika memang karena mereka, maka aku akan mengusir mereka semua!" ujar Thomas selanjutnya.
Tak hanya terkejut, Ivona merasa sangat aneh dengan pertanyaan Thomas juga pernyataannya yang baru saja terucap. Sampai sejauh ini Thomas berusaha mencegahnya pergi, hingga ia berani memecat semua pelayan yang menjadi alasan Ivona ingin pergi. Karena tidak tahu harus menjawab apa, maka ia pun bertanya balik. "Memangnya untuk apa lagi aku masih tinggal di sini?"
Jawaban Ivona membuat Thomas semakin sedih. Adiknya berbicara seolah ia tak punya hak di rumahnya sendiri.
Tak menunggu reaksi Thomas, Ivona pun hendak pergi untuk membereskan barangnya dan angkat kaki dari rumah keluarganya sendiri. Ia tak ingin lagi berlama-lama di tempat yang tak bisa menerima dirinya. Akan lebih baik jika ia pergi dan mencari kebahagiaannya sendiri. Tak perlu lagi merasa diabaikan, disiksa dan sakit hati.
Thomas menghentikannya, saat Ivona baru saja melangkah. "Ivona ... tunggu!"
Ivona menghentikan langkahnya. Berbalik menatap Thomas.
"Jangan pergi." Sorot mata Thomas memancarkan harapan untuk adiknya.
"Setidaknya jangan hari ini, kau tidak akan bisa tinggal di asrama hari ini juga. Sebab untuk tinggal di asrama membutuhkan waktu sekitar 2 hari untuk pengajuan. Aku akan mengurusnya untukmu nanti," ucap Thomas seolah berjanji.
"Lagi pula, beberapa hari lagi adalah ulang tahun kakek, bagaimana bisa kau tidak hadir di hari yang penting bagi keluarga Iswara."
"Bagaimana kalau setelah ulang tahun kakek saja?" sambungnya untuk mencegah kepergian Ivona. Paling tidak untuk mengulur waktu agar Ivona bisa tetap tinggal.
Para pelayan yang menyaksikan sikap Thomas pada Ivona benar-benar tercengang, mereka sulit memercayai kalau Thomas sedang membujuk Ivona. Bahkan sebelumnya jarang sekali mereka melihat Nona besar dibujuk seperti ini oleh Thomas atau pun anak laki-laki keluarga Iswara, seperti yang Thomas lakukan pada Ivona saat ini.
Bi Samy yang berada di samping Ivona sangat cemas melihatnya. Ia tidak ingin Ivona menggantikan Vaya. Dengan cepat ia berkata, "Tuan ... Ivona hampir saja membunuh Nona besar tadi, kenapa Tuan muda sekarang justru membelanya?"
Tidak suka dengan apa yang Bi Sami katakan, Thomas meneriakinya, "Diamlah! ini bukan urusanmu!"
Suara Thomas yang menggelar membuat Bi Samy terperanjat.
"Paman Roger," teriak Thomas memanggil kepala pelayan. "Berikan dia gaji tiga bulan dan suruh dia angkat kaki dari keluarga Iswara!"
Pelayan yang lain seketika menjadi ketakutan.
Bi Samy adalah pelayan yang mengurus keperluan Vaya selama ini, karena itu lah, tiga orang tuan muda cukup menghormatinya dulu. Sekarang tuan muda ketiga bahkan langsung memecat Bi Samy demi Ivona!
Bi Samy tidak bisa menerima apa yang Thomas lakukan kepadanya. "Tuan muda, apa yang Anda lakukan? Anda memecat dan mengusir saya hanya demi orang luar ini!" Bi Samy menunjuk Ivona.
"Saya hanya melakukan tugas saya untuk membela Nona besar. Bukankah Anda dan Tuan muda yang lain begitu menyayangi Nona besar?" sambung Bi Samy mengingatkan.
"Kenapa Anda memperlakukan saya seperti ini sekarang?" Bi Samy tidak rela jika ia harus terusir hanya karena gadis yang ia anggap gila ini. Lagi pula, jasanya kepada Vaya cukup besar. Bagaimana bisa ia diperlakukan dengan sangat rendah. Dipecat dengan tidak hormat. Ia tidak terima!
"Apa yang kau katakan, tadi? orang luar?" Thomas mendelik.
Bi Samy hanya bisa menelan ludahnya kasar melihat cara Thomas memandangnya.
"Orang luar yang kau sebut tadi adalah adik kandungku. Nona besar keluarga Iswara yang sesungguhnya!" tegas Thomas.
"Sekarang keluar dari rumahku. Keluarga Iswara tidak butuh pelayan yang tidak bisa menghormati tuannya!" sentak Thomas.
Bi Samy dan para pelayan lainnya semakin heran dengan sikap Thomas. Bukannya beberapa hari yang lalu Tuan muda masih mengirim Ivona ke rumah sakit jiwa karena mendorong Vaya jatuh dari tangga?! Tapi sekarang hal tersebut terjadi lagi, dan yang dihukum justru orang-orang Vaya, bukan Ivona.
Bi Samy masih ingin mengatakan sesuatu. "Tuan ... Anda tidak bisa me____"
"Satpam!!!" teriak Thomas menyela ucapan Bi Samy. Ia tidak ingin lagi mendengar apa pun yang Bi Samy katakan, ia juga tak mau memedulikan pembantu itu.
"Tuan ... Anda tidak bisa melakukannya," protes Bi Samy.
"Satpam!!!" teriak Thomas, lagi.
Dari luar dua petugas keamanan berlari memenuhi panggilan Thomas.
"Bawa pelayan ini keluar dari rumah ini sekarang juga," titahnya saat dua satpam rumahnya tiba.
"Tuan ... jangan usir saya, saya mohon." Bi Samy berteriak, memohon agar Thomas merubah keputusannya.
Bi Samy mendekat, ia bersujud di kaki Thomas untuk memohon. "Tuan, tolong jangan pecat saya," ujarnya memohon.
Thomas tak acuh pada Bi Samy yang terus memohon di kakinya.
Semua pelayan menatap iba pada Bi Samy. Tak disangka jika pelayan yang selama ini sombong karena di bawah perlindungan Vaya bisa merendahkan diri seperti itu hanya untuk sebuah pekerjaan. Bersujud memohon di bawah kaki Thomas.
Bi Samy sendiri sudah hilang akal. Ia benar-benar tak ingin keluar dari rumah keluarga Iswara. Apa pun akan ia lakukan agar tetap bertahan menjadi pelayan Vaya. Salah satunya adalah menghinakan dirinya seperti saat ini.
"Satpam!" teriak Thomas.
Kali ini, satpam langsung memegangi tangan Bi Samy. "Lepaskan!" Bi Samy meronta saat dua satpam berusaha menyeretnya keluar. Namun, dua satpam itu tak peduli dengan Bi Samy, ia hanya melakukan tugasnya dengan patuh.
"Tuan ...."
Ivona dan para pelayan, hanya bisa diam menyaksikan bagaimana dua satpam menyeret Bi Samy keluar dari rumah keluarga Iswara.
Setelah Bi Samy tak terlihat, Thomas mendekati Ivona. "Kau bisa tidur di kamar kosong di sebelah kamarku," ucap Thomas pada Ivona. Thomas pikir dengan menyuruh Ivona tidur di kamar yang berada di sebelah kamarnya ia bisa menjaganya, dan juga bisa memperbaiki hubungannya dengan Ivona.
"Di sana kau akan merasa lebih nyaman, dan bisa fokus untuk belajar."
Sikap Thomas benar-benar aneh. Namun, setelah melihat semua sikap yang Thomas tunjukkan padanya, tidak ada salahnya jika ia menyetujuinya. Kamar di sebelah kamar Thomas sangat bagus, sebelumnya Vaya bahkan ingin tinggal di sana, tapi Thomas tidak mengijinkannya dan menolaknya dengan halus.
Sekarang malah dia sendiri yang memberikannya kepada Ivona, dan disertai bujukan seolah-olah takut ditolak.
"Baiklah." Ivona mengangguk. "Aku akan menunda kepergian ku sampai hari ulang tahun kakek."
Senyum Thomas terbit, Ivona setuju untuk mengurungkan kepergiannya.
Akhirnya para pelayan harus mengakui kalau urutan posisi di keluarga Iswara akan mengalami perubahan. Ivona pasti akan menggantikan Vaya sebagai Nona besar. Begitu pun perhatian para tuan muda, nampaknya akan berpihak pada Ivona. Mereka mulai berpikir untuk bersikap baik kepada Ivona, tidak boleh lagi memperlakukan Ivona dengan buruk jika tak ingin bernasib sama dengan Bi Samy.
Thomas naik ke lantai atas bersama Ivona. Ia sendiri yang membawa Ivona untuk melihat kamar yang akan ditempati oleh adiknya itu. Thomas membuka kunci kamar di sebelah kamarnya, dan mempersilakan Ivona untuk masuk.
Namun, ekspresi kebahagiaan yang baru saja ia perlihatkan karena Ivona menyetujui untuk tinggal seketika menghilang kala Ivona masuk dan berkata, "Aku tinggal di tempat seperti ini?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Ida Blado
penyampaian yg berbeda apanya,masih sama kok sama novel yg satunya.aq pikir bkl ada yg beda krn itu aq baca .
2021-12-10
3