Ivona berangsur mundur, yang membuat kepala rumah sakit itu kembali jemawa. Sorot ketakutan, nampak jelas di manik gadis berambut ikal itu.
Kepala rumah sakit, semakin suka melihat rasa takut yang kembali diperlihatkan Ivona. Tatapannya semakin liar, saat baju pasien yang dikenakan Ivona tersingkap. Matanya jelas memperlihatkan niat dan isi otaknya yang menjijikkan.
Pria tambun itu menunduk, dan akan menerjang ke arah Ivona. Gadis yang disangka kembali lemah itu justru dengan cepat menghindar, yang membuat kepala rumah sakit jatuh tersungkur.
Ivona memanfaatkan kelincahannya, dengan cepat ia meraih scalpel yang tergeletak di lantai. Benda pipih nan kecil itu, cukup untuk membuat kepala rumah sakit merasakan kengerian jika terkena benda tersebut. Meski kecil nan pipih, tapi kemampuan dari benda itu tak bisa diragukan, cukup untuk bisa mengoyak jaringan pada tubuh tambun kepala rumah sakit. Membayangkannya saja sudah membuat kepala rumah sakit menelan salivanya dengan susah payah, seolah ada kerikil yang mengganjal tenggorokannya.
"A-apa yang akan kau lakukan?" tanya kepala rumah sakit dengan bibir bergetar.
Ivona tersenyum senang, melihat raut ketakutan dari pria tambun yang telah menyiksanya. Dia terus mengacungkan pisau itu di depan kepala rumah sakit.
Badannya yang besar membuat pria itu sulit untuk segera berdiri. Namun, pria itu tak menyerah, dia tetap berusaha bangkit untuk menghindari Ivona yang semakin mengancamnya dengan scalpel di tangannya.
"Mau ke mana, bukan kah tadi kau ingin memberiku pelajaran?" Ivona mengukir senyum kegilaan di bibirnya.
"Ayo, beri aku pelajaran seperti yang tadi kau katakan," ucap Ivona menantang.
Kepala rumah semakin ketakutan, ia terus berusaha membawa tubuhnya menjauh dari gadis gila dihadapannya, meski harus menyeret tubuh tambunnya dengan susah payah.
"To-tolong lepaskan aku," mohonnya dengan ketakutan.
Ivona terus mengikuti kepala rumah sakit sembari mengacungkan scalpel di tangannya. "Kenapa, kenapa kau terlihat sangat takut?"
"Di mana sikap angkuhmu tadi, yang kau bilang ingin memberiku pelajaran." Ivona terus mengintimidasi.
"Tidak ... kumohon jangan lakukan apa pun padaku." mohon pria itu lagi.
Semakin memohon, semakin besar niat Ivona untuk menyakiti pria di depannya. Pria ini juga harus merasakan hal yang ia rasakan, semakin di siksa saat ia semakin memohon. Menggunakan scalpel di tangannya Ivona merobek paksa pakaian kepala rumah sakit. Suara robekan yang dihasilkan dari kain yang terkoyak, terdengar mengerikan bagi kepala rumah sakit.
"Ternyata pisau ini lebih tajam dari yang kubayangkan, bahkan ketajamannya melebihi gunting kain milik ketua panti asuhan tempatku berasal." Ivona terus menakuti kepala rumah sakit.
"Aku jadi ingin mencoba apakah pisau ini juga bisa merobek kulitmu." Ivona mengacungkan scalpel itu tepat di wajah kepala rumah sakit.
"Ja-jangan lakukan itu, kalau kau melakukannya kau akan dituntut. Kau akan di penjara karena membunuh itu adalah perbuatan melanggar hukum," ucap kepala rumah sakit, yang bersikap seolah memperingatkan Ivona tentang akibat yang harus dia tanggung jika dia sampai melukai pria itu.
"Oh ... benarkah, begitu?" Ivona menunjukkan ekspresi kaget. Namun, bukan kaget yang sebenarnya, karena Ivona hanya ingin mengejek ucapan kepala rumah sakit.
Sebentar kemudian Ivona tertawa. "Bukannya kalian yang memasukan aku ke rumah sakit jiwa, apa kalian lupa?"
Tentu saja kepala rumah sakit itu tidak lupa, sebab apa yang terjadi pada Ivona sudah ia rancang dengan rapi bersama Vaya.
"Aku ini sakit, apa kalian juga lupa? Aku adalah seorang pasien rumah sakit jiwa." Ivona menyeringai, kali ini disertai tawa membahana.
Kepala rumah sakit kembali menelan ludahnya kasar. Dia paham betul ke mana arah dan arti dari ucapan Ivona. "Aku mohon, ampuni aku." Pria tambun itu terus memohon.
Tentu saja dia tak ingin berakhir tragis oleh pasiennya sendiri. Dia masih ingin hidup, sebab itu apa pun akan dia lakukan. "Jangan Ivona, aku yakin kau gadis yang baik, jangan lakukan apa pun padaku," ucap kepala rumah sakit untuk mempengaruhi pikiran Ivona.
Ivona tak bergeming sedikit pun, tidak juga mengasihaninya, apalagi menggubris ucapan kepala rumah sakit yang menurutnya hanya mempermainkannya. Ivona terus menatap kepala rumah sakit layaknya target. Sorot matanya tajam, seolah telah menemukan mangsa yang siap ia cabik-cabik.
Ivona berkata sambil tersenyum dengan tatapan sedingin es. "Aku memang gadis yang baik, karena itu aku tidak akan melukai kedua kakimu," jawab Ivona yang membuat kepala rumah sakit sedikit lega.
"Kalau begitu, bagaimana jika kaki ketiga saja." Belum selesai kalimatnya, scalpel di tangannya telah turun. Pisau bedah itu telah melukai bagian ************ kepala rumah sakit. Pria itu spontan menutup bagian selangkangannya dan berteriak histeris.
Ivona tertawa menang melihat darah dan kesakitan pada pria tambun itu. Kini ia yang menikmati kesakitan dari pria yang telah menyiksanya. Hanya sebentar, sebab Ivona tak lagi mempedulikan teriakan kepala rumah sakit, dan beranjak pergi.
Setelah kepergian Ivona, pria itu berusaha meraih ponsel di saku celananya, dia menelpon seseorang dengan rasa sakit yang masih terasa. "Vaya, Ivona kabur! Dia iblis, orang gila, kamu harus bantu ayah balas dendam," ucapnya setengah berteriak pada wanita di ujung telpon, bernama Vaya. Setelahnya ia menghubungi satpam rumah sakit, untuk segera mencari pasien yang kabur.
Satpam di rumah sakit jiwa bergerak cepat. Mereka mulai mencari keberadaan Ivona di seluruh penjuru rumah sakit.
Akibat kehilangan banyak darah karena penyiksaan yang dilakukan pada Ivona sebelumnya membuat Ivona menjadi lemah. Ivona bersembunyi di dalam hamparan bunga.
Meskipun terlihat malang dari belakang, tapi tangannya terus mengelap noda darah di pisau yang ia pegang, sorot matanya menggambarkan kegilaan dalam otaknya.
"Baiklah, giliran kalian yang akan aku ajak bersenang-senang," lirih Ivona pada dirinya sendiri. Dia terus mengawasi satpam yang terlihat kebingungan mencari dirinya. Mengabaikan segala rasa sakit yang ia terima.
"Auh," teriak Ivona, saat seekor anjing alaskan berbulu putih menerjangnya ke tanah dan menjilatinya dengan senang sebelum sempat menghindar. Membuat seluruh tubuhnya terasa sakit dan perih.
Ivona mengingat hewan yang satu ini. Dalam novel yang ia baca, anjing alaskan ini adalah peliharaan Ivona, si pemilik tubuh tempat jiwanya berada. Max, adalah nama anjing ini. Hewan ini merasa menemukan majikannya kembali. Seolah ingin menyampaikan rindu, Max terus menjilati Ivona. Membuat Ivona merasakan geli sekaligus perih karena luka yang terkena liur Max.
Pikiran Ivona masih tentang anjing alaskan berbulu putih ini, saat terdengar suara dari seseorang. "Tuan Alexander, sudah ketemu! Alaskannya ada di sini!" teriak seseorang.
Ivona menoleh, dalam posisi duduk di tengah hujan, dia melihat sosok samar, seseorang yang berdiri dalam derasnya rinai hujan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Yan
Kok aku merasa mmbaca bab ini sperti org sebelah jln crita nya 😂😅...cuma nama doang gak sama n judul nya tpi jln crita nya persis sama syyyyy 😆
2023-05-02
2
IG👉Salsabilagresya
Pengen nampol yg namanya Vaya
2022-03-13
0
Zaitun
👍
2022-01-04
1