"Dari mana kau dapat kabar itu?" tanya seorang siswa yang sempat mengukir seringai di bibirnya.
"Dari seorang teman yang satu kelas dengan si murid pindahan di sekolah lamanya."
"Aku dengar murid pindahan ini punya sifat penakut dan penyendiri, tidak cantik dan juga punya nilai yang jelek," jelasnya.
Dia semakin suka mendengar karakter dari murid pindahan. Sungguh contoh klasik untuk anak yang tidak akan melawan kalau ditindas. Dialah target bullying selanjutnya.
Bukankah ini hal yang menyenangkan, jika kelas G punya mainan baru?
Terlebih lagi, anak baru memang mudah dikucilkan.
Dia semakin bersemangat, dan tidak sabar menunggu mangsanya datang. Ia pasti akan bersenang-senang sepanjang bersekolah di G-School.
Bukan hanya itu, tidak sedikit orang yang memperlihatkan ketidaksukaan pada kerabat primadona yang baru datang ini dengan tatapan menghina dan berniat buruk. Pasti akan lebih menyenangkan mem-bully-nya karena pendukungnya cukup banyak.
Wali kelas memasuki kelas, di belakangnya ada Ivona yang mengikuti. Sesuai arahan Mrs.Angela, Ivona sempat menunggu sebentar guru yang akan menjadi wali kelasnya—Mr.Patrick—yang sedang berada di ruang kepala sekolah, agar mereka bisa masuk ke kelas G bersama-sama.
Mr.Patrick meminta semua siswa untuk tenang. "Ok, bisa minta perhatian sebentar." Ia pun membuat suara dengan tepukan tangan, untuk membuat para siswa fokus.
Semua siswa di kelas G menghentikan gerakan mereka saat melihat murid pindahan yang mereka bicarakan, mereka tak tahan untuk menatap lebih lama gadis yang baru saja masuk.
Di luar ekspektasi mereka, gadis yang mereka bicarakan sebelumnya tidak cocok sama sekali dengan gadis yang berdiri di depan mereka saat ini. Gadis ini sangat cantik, membuat orang bisa mengingatnya dalam sekali lihat.
Sepasang mata yang indah menatap sekeliling dengan santai. Memindai setiap sudut yang akan menjadi kelas tempatnya belajar.
Aura yang terpancar dari tubuhnya pun tidak bisa dihentikan, membuat orang-orang yang menatapnya menjadi terpesona hingga memikirkan bahwa gadis ini bagaikan bintang yang tak bisa digapai. Terlalu indah.
Semua murid terperangah, menatap kagum pada Ivona yang tengah berdiri tepat di samping wali kelas. Sosoknya yang menawan, membuat mereka kecewa. Apa yang mereka gosipkan berbanding terbalik dengan kenyataan.
"Perkenalkan dirimu," ucap Mr.Patrick.
Setelah beberapa detik berlalu. Suaranya yang malas terdengar. "Namaku Ivona."
Seketika, semua nampak bergeming dalam pikiran masing-masing.
Ini murid baru pindahan kelas mereka?!
Bukankah berita yang beredar dia memiliki wajah yang jelek, sampai-sampai tidak akan ada yang mau berteman dengannya, apalagi meliriknya untuk dijadikan pacar?
Tapi, dengan wajah yang seperti ini, primadona seperti Vaya pun bisa kalah telak kalau berdiri berdampingan.
Mr. Patrick menatap Ivona yang tak lagi bicara setelah menyebutkan namanya. Seolah ingin bertanya apa lagi yang ingin ia beritahukan pada teman-teman barunya. Namun, Ivona hanya mengangguk sebagai tanda bahwa cukup sekian saja perkenalannya.
Perkenalan diri Ivona terlalu singkat, tapi Mr. Patrick tetap menghargainya. "Baiklah, silakan duduk di bangku kosong yang kamu inginkan," ujar Mr.Patrick.
Ivona melihat 2 bangku kosong yang tersisa di dalam kelas. Satunya berada di sisi jendela di sebelah seorang gadis, hanya saja di atas meja penuh dengan barang milik gadis itu. Jelas dia tidak ingin Ivona duduk di sana.
Pandangannya beralih pada bangku kosong lainnya, Ivona langsung berjalan ke bangku yang satunya tanpa berpikir panjang. Dengan santai ia meletakkan tasnya di atas meja.
Tindakannya yang berani ini membuat orang-orang yang ada di sekitar menjadi ketakutan. Takut, jika mereka terkena imbas dari apa yang Ivona lakukan. Pasalnya, tak ada yang berani menempati bangku di samping William. Selain tak ingin membuat masalah, hal lainnya adalah bahwa itu semacam peraturan yang tidak tertulis—DILARANG DUDUK DI BANGKU SEBELAH WILLIAM.
"Murid baru ini sudah gila, ya? Beraninya dia duduk di sebelah Kak William," gumam seorang siswi.
Teman di sebelahnya tertawa kecil. "Mungkin dia sudah mencari informasi. Dasar tidak tahu diri, beraninya mau ganggu William."
"Biarkan saja, biar ia merasakan bagaimana William akan menyiksanya, sedangkan kita akan mendapat tontonan gratis yang menyenangkan." Siswi lainnya yang sedang bergunjing ikut menimpali.
Tidak sedikit orang yang membicarakannya—lagi—tapi kali ini tentang sikapnya yang berani. Berani menantang William—Si tukang bully sekolah.
Setelah meletakkan tasnya di atas meja, Ivona melirik orang yang tak dikenal jenis kelaminnya. Ia sedang tertidur pulas di sebelahnya. Ivona menggeser kursi dan mendudukkan dirinya di sana.
"Ivona, tolong bangunkan William yang ada di sebelahmu, karena kita akan mulai belajar," seru Mr.Patrick.
Murid yang lain mulai mengomel dalam hati.
"Apa Mr.Patrick sudah mulai pikun dengan siapa William. Bisa-bisanya dia meminta murid baru untuk membangunkannya."
"Apa dia berpikir William tidak akan turun tangan terhadap seorang gadis?"
William adalah anak yang menyandang predikat sebagai tukang bully di G-School. Siswa yang yang tidak bisa disinggung sama sekali, karena jika sudah berani menyinggungnya, berarti harus siap menderita selama bersekolah di sekolah ini.
Ivona mengerutkan keningnya tanpa jejak, lalu menaikkan sudut bibirnya. "Pak, kalau nanti dia marah bagaimana?"
Mendengar itu, ada murid wanita yang tertawa.
"Pintar juga dia, tahu kalau William tidak boleh diganggu." Nada bicara ini disertai ejekan dan rasa iri yang amat dalam, sangat jelas kalau dia merasa Ivona punya maksud tersendiri dengan duduk di sebelah William.
"Apa maksudmu?" Wajah pak guru memerah, dia berkata lagi dengan enggan, "Sudahlah, kita mulai belajarnya!"
Pak guru berbalik menghadap papan tulis, lalu berkata dengan marah, "Ini saja sudah cukup susah, malah ditambah murid pindahan
Sebenarnya apa yang dipikirkan sekolah ini?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
el nurmala
sabar mister🥰
2021-11-02
3
Nabila Bilqis
semangat ivona...kan kmu ank pintar
2021-10-31
3
puput
lanjut dong thor
2021-10-31
2