Alexander meraih korek api dan juga rokok dari saku jasnya. Ia menyalakan sebatang rokok dan mengabaikan panggilan itu. Dari sorot matanya tak terlihat sedikit pun ia tertarik untuk menanggapi panggilan dari orang di luar kamarnya.
Alexander masih terduduk dengan santai menghisap nikmatnya asap tembakau. Suara yang sedari tadi menuntut untuk dibukakan pintu tak sedikit pun ia hiraukan. Hingga lama kelamaan suara itu menghilang dengan sendirinya. Ia segera meraih ponsel dan menghubungi seseorang.
Barulah saat pintu kamar mandi terbuka, Alexander mematikan rokok dan menengadahkan kepala. Terperangah melihat Ivona yang baru saja keluar dari kamar mandi. Gadis kecil itu terlihat seperti orang yang berbeda dalam balutan jubah mandi. Wajahnya putih bersih, tubuhnya yang mungil dengan sepasang kaki jenjang yang putih mulus terlihat begitu menggiurkan bagi pria dewasa sepertinya.
Ivona seolah berubah dari pertama kali Alexander menolongnya. Sebelumnya, Ivona terlihat seperti gadis yang menyedihkan dengan baju yang lusuh dan penuh luka. Namun kali ini, aura yang terpancar dari gadis itu seolah membuatnya terpana. Bak mawar berduri yang menantang untuk ditaklukkan.
Dibalik sikap arogan gadis kecil ini, sorot matanya justru menampilkan hal yang sebaliknya, murni layaknya tanpa dosa. Sungguh gadis yang sangat berbeda.
Alexander menyunggingkan senyum tipis dibibirnya. Melihat Ivona dengan wajah polosnya, ia yakin kalau pun Ivona melakukan kejahatan dengan paras lugunya ini, siapapun tidak akan tega memarahinya.
"Apa ada yang aneh?" tanya Ivona saat mendapati Alexander tersenyum saat memperhatikan dirinya.
Alexander hanya menggedikkan bahunya, tak ingin berterus terang tentang isi kepalanya.
Ivona mencebik. Sedetik kemudian matanya melihat celana Alex yang basah. "Apa kau juga ingin mandi?" tanya Ivona. "Celanamu basah," imbuhnya.
Alexander melihat bagian celana yang di maksud Ivona. Ia pun bangkit menuju kamar mandi. Sebelum menutup pintu ia berpesan pada Ivona. "Jangan biarkan siapa pun masuk saat aku sedang mandi. Nanti akan ada seorang staf wanita yang datang membawakan pakaian untuk mu." Pintu kamar mandi segera ditutup tanpa menunggu jawaban dari Ivona.
Sikap Alexander justru membuatnya terkesan. Sebelum masuk ke dalam novel, di sekelilingnya juga ada lumayan banyak pewaris keluarga besar yang tidak mudah tergoda oleh wanita, tapi tidak satu pun di antara mereka yang menolak secara terang-terangan seperti Alexander. Ia tak habis pikir jika Alexander akan bersikap demikian padanya, tidak seperti apa yang ia pikirkan sebelumnya, pria berbahaya.
Tak lama kemudian, pintu kamar kembali diketuk. "Masuklah," jawab Ivona dengan berteriak.
Pintu terbuka, seorang staf wanita masuk dan meletakkan barang bawaan di tangannya, lalu segera keluar. Di belakangnya diikuti seorang wanita dengan tampilan yang berlebihan menurut pandangan Ivona. Riasan tebal yang terkesan norak dan baju terbuka yang ingin menampilkan kesan seksi tapi justru terlihat aneh saat wanita ini memakainya.
Wanita tersebut masuk setelah staf tadi pergi, dengan angkuh ia bertanya, "Siapa, kau?"
Ivona bergeming, masih menatap aneh pada wanita yang terlihat lebih tua darinya itu.
"Apa kau tidak punya mulut?" sentaknya karena kesal, sebab Ivona tak kunjung menjawab.
"Dasar ******, masih kecil tapi tidak tahu malu melakukan hal seperti ini," tuduhnya dengan nada tak bersahabat.
"Pergi sekarang juga dari kamar ini!" usirnya dengan angkuh.
"Apa hakmu mengusirku?" Akhirnya Ivona membuka suara.
"Berani sekali kau bicara seperti itu padaku! Aku adalah pacar yang dipilihkan oleh Nyonya Besar Alberic untuk Alexander," jawabnya sombong.
Ivona hanya tersenyum sinis sebagai tanggapan.
"Sekarang kau mengerti, bukan. Pergilah sebelum aku memanggil petugas keamanan untuk menyeretmu keluar," sambungnya masih dengan keangkuhan yang sama.
Tak takut sama sekali, Ivona justru diam tak menanggapi.
"Hei ... apa kau tuli, hah!!!" sentaknya karena merasa tak diacuhkan. "Cepat keluar dari sini!" usirnya lagi.
"Hanya Tuan yang bisa mengusirku dari kamar ini, sebab dia adalah alasanku berada di kamar ini," ucap Ivona, sengaja ingin membuat wanita di hadapannya ini meradang.
"Apa kau sudah gila! kau sadar dengan apa yang kau ucapkan. Apa kau tahu bedanya anak kecil dengan wanita. Lihatlah dirimu yang sepeti tulang dibalut kulit, tidak menarik sama sekali. Berbeda denganku, aku adalah wanita dewasa yang penuh gairah," ucapnya dengan bangga. Seolah ingin membandingkan dirinya dan Ivona secara fisik.
Ivona tersenyum sinis. "Tapi Tuan memilihku malam ini, bukan kau!" jawab Ivona yang makin membuat wanita itu kesal.
"Kau ____" Wanita itu ingin memaki Ivona lagi, tapi tak melanjutkan kata-katanya. Ia memilih untuk menarik napas panjang demi menenangkan diri. Gadis kecil ini sukses membuatnya naik darah.
Setelah mengatur napasnya, ia berkata, "Baiklah, aku akan memberi tahumu. Alexander hanya main-main saja sekarang karena penasaran, dia akan memberimu uang dan memintamu pergi. Begitulah seorang ****** diperlakukan." Ucapan wanita ini semakin menjadi, tak memikirkan sedikitpun perasaan Ivona. Sebagai sesama wanita ia tidak ada sedikit pun rasa kasihan pada Ivona, ia terus saja memaki Ivona.
"Apa kau mengerti sekarang, ****** kecil?" Seringai terukir di bibir merahnya.
Namun, Ivona tetap tenang menanggapi. Ia biarkan saja wanita itu mengoceh mencomooh dirinya. Wanita itu terus saja bicara saat Ivona meraih sebuah paper bag yang tadi dibawa oleh staf hotel. Ivona meletakkan paper bag di atas ranjang dan mengeluarkan isinya.
Tak peduli sama sekali dengan keberadaan wanita itu, Ivona melepaskan jubah mandinya dengan sengaja. Memperlihatkan jika tubuh yang tadi dicemooh oleh wanita itu adalah tubuh yang pastinya diinginkan bukan hanya kaum pria, tapi juga didamba oleh para wanita. Tubuh ramping dengan kulit seputih susu, adalah perpaduan apik dari seorang gadis seperti Ivona. Bukan hanya sekedar membuka jubah mandinya, ia berganti pakaian tanpa menggubris wanita sombong itu. Postur tubuh Ivona yang indah, membuat raut wajah wanita itu seketika berubah. Keangkuhan dan kesombongannya tentang bentuk tubuhnya seketika luruh, saat melihat betapa moleknya tubuh seorang gadis.
Ivona berkata sambil tersenyum. "Laki-laki jaman sekarang benar-benar hebat ya, tak mengijinkan aku tidur barang sejenak."
Ucapan Ivona bak pion yang men-skak mat dirinya. Mematikan langkah arogannya. "Kamu ____!!!" Mata wanita itu melotot merah, raut wajahnya sangat buruk saat melihat Ivona berganti pakaian dengan santai di depan matanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 169 Episodes
Comments
Istiqomah Fachiroh
bagus ivona jgn mau ditindas💪💪💪
2022-11-19
1
Zaitun
dah tau alur sih
2022-01-05
2