"Halah lihat saja nanti, kamu tidak akan dapat mengejar materinya, dan yang perlu kamu tahu IV, di SMA Dharma Nusa memiliki sistem diskualifikasi. Aku yakin kamu akan susah melalui tahapan itu." Vaya terus mengejek Ivona.
"Aku saja dulu sangat kesulitan mengejar materi, karena dari sekolah lama belajar satu bulan itu tidak ada artinya. Kak Thom, kenapa tidak mencarikan sekolah lain untuk Ivona sih?"
"Sudah tidak perlu kalian berdua berdebat. Lanjutkan makan kalian!" akhirnya Thomas menanggapi pertanyaan Vaya.
"Kamu jangan risau Iv, kamu pasti akan diterima dan akan bisa tetap bersekolah di SMA Dharma Nusa. Kakak jamin, karena keluarga Iswara menyumbangkan sebuah gedung untuk sekolah itu. Tidak akan ada yang berani mengeluarkan anggota keluarga kita yang bersekolah disana."
Mendengar hal itu, wajah Vaya seketika jadi masam. Sedangkan Ivona tetap bersikap acuh dan tidak mempedulikan semua. Dia tetap melanjutkan makan malamnya dengan santai.
"Ah, kakak ketiga bersikap baik pada Ivona hanya demi Tuan Besar. Sabar Vaya!" Vaya berpikir sendiri, berusaha untuk menghibur dirinya sendiri. Kemudian, dia tersenyum jahat.
"Boleh juga, bisa kita lihat nanti apa yang akan terjadi. Jika Ivona tetap bersikeras akan datang ke sekolah itu, maka aku akan membuatnya sadar. Akan aku buat jarak antara aku dengan dia semakin tidak bisa terjangkau." pikirnya lagi.
"Jadi Ivona, tenangkan dirimu ya. Kakak sudah atur semuanya akan mudah untuk kamu jalani." dengan tersenyum, Thomas kembali meyakinkan Ivona.
Pada saat ini, Ivona juga ikut mengernyitkan dahi. Dia tidak tahu apakah Thomas sedang iseng, atau sedang mengasihaninya. Berbagai tanda tanya ada di benak Ivona, karena dari novel yang dia baca, tidak ada sedikitpun kebaikan pria itu pada Ivona lama. Tetapi Ivona tetap diam, dia akan melihat bagaimana selanjutnya, dan dia melirik ke arah Vaya yang terlihat dari wajahnya dia merasa sangat kesal.
Akan tetapi pada saat ini, tidak ada yang memperhatikan bahwa telapak tangan Thomas dipenuhi keringat. Thomas mengingat jaman dulu. Di kehidupan sebelumnya, dia juga belakangan ini baru tahu. Dia mendapatkan informasi kalau Ivona diperas oleh orang di SMA sebelumnya, bahkan dibully. Ivona adik kandungnya itu sampai mengidap SCD (Social Communication Disorder) atau gangguan komunikasi sosial akut.
'Aku tidak akan membiarkan ke depan, kejadian serupa menimpa Ivona. Aku sendiri yang akan melindunginya." batin Thomas, karena saat ini dia sudah bereinkarnasi sekarang, maka dia tidak akan membiarkan hal seperti ini terulang lagi. Sorot mata Thomas terlihat tegas.
"Kakak sudah selesai makannya?" Ivona tiba-tiba bertanya mengagetkan Thomas, karena dari tadi dia melihat seperti ada yang dipikirkan kakak ketiganya itu.
"Sudah, bagaimana kalian sudah belum? Jika sudah, aku akan ke kasir dulu untuk membayar bill nya dulu."
"Ivona sudah kak."
"Vaya juga sudah"
Akhirnya Thomas meninggalkan kedua adiknya, untuk membayar pesanan makan malam mereka.
***************************************
Ivona menunggu Thomas di depan pintu restoran, sedangkan Vaya berdiri sedikit menjauhi Ivona. Tetapi, betapa terkejutnya Vaya, karena setelah menyelesaikan semua bill, Thomas berjalan menghampiri Ivona dan tanpa menghiraukan keberadaanya langsung mengajak Ivona menuju mobil.
"Ayo Iv, kita pulang. Kamu bareng kakak saja ya, tidak usah pulang dengan pak Jaya!"
"Ivona mau jalan-jalan dulu kak. Kak Thomas pulang dulu saja bersama Vaya, Ivona bisa pulang sendiri."
"Tidak baik, anak gadis jalan sendiri. Ayo kakak temani, biar Vaya pulang bersama dengan pak Jaya!"
Akhirnya Ivona menyetujui perkataan Thomas yang akan menemaninya jalan. Sekalian dia ingin mengetahui sikap kakaknya berubah itu main-main atau memang benar-benar sudah berubah.
"Vaya, kamu pulang dengan pak Jaya, itu dia sudah ada di halaman parkir. Kakak mau menemani Ivona dulu." tiba-tiba Vaya dikejutkan dengan kalimat yang baru saja diucapkan kakak ketiganya.
"Tapi kak..," belum sampai selesai perkataan akan diucapkan Vaya, sudah dipotong oleh kalimat kakak ketiganya.
"Sudah, gantian dulu. Tadi kamu berangkatnya sudah bareng kakak, sekarang gantian kakak mau menemani Ivona."
"Ya, terserah kakak."
Vaya menatapi kakak ketiga yang dulu menyayanginya, tapi sekarang kakaknya sudah meninggalkannya sendiri. Dia melihat kakak ketiganya berjalan di belakang Ivona, dan dia merasa sedih.
"Aku akan telpon mama saja, aku akan memberi tahu sikap kak Thomas yang cuek padaku hari ini." gumam Vaya.
Sambil berjalan menuju mobil, Vaya mengambil ponsel dan menelpon Nyonya Iswara, ibu angkatnya yang sekaligus ibu kandung Ivona. Setelah tiga kali panggilan, tak lama kemudian, suara lembut Nyonya Iswara terdengar.
"Ada apa Vaya sayang, tumben jam segini menelpon mama?"
"Ma...., hiks..., Vaya sangat sayang pada mama, hiks..." Vaya pura-pura menangis dalam panggilannya untuk mengambil hati mama angkatnya.
"Iya, mama juga sangat sayang sama kamu. Va, kamu kenapa sayang, apakah sedang ada masalah? Atau kamu lagi rindu sama mama?"
"Ma, Vaya lagi sedih. Apakah suatu hari nanti mama akan membuangVaya?" Vaya berusaha menahan suara tangisan.
Mendengar perkataan Vaya yang menahan tangis. Nyonya Iswara buru-buru menghiburnya.
"Dasar anak bodoh, apa yang kamu pikirkan? Kamu itu selamanya putri mama, masa mama tega buang kamu? Ada apa Vaya, apa yang sedang terjadi, ceritakan semua pada mama!"
Vaya menggigit bibirnya, kemudian melanjutkan bicaranya.
"Tapi akhir-akhir ini kak Thomas... sepertinya cuek sama aku. Berkali-kali kak Thom mengabaikan Vaya, dia tidka lagi peduli sama Vaya. Hiks"
Nyonya Iswara tertawa mendengarnya.
"Mana mungkin, Kak Thomas kan paling sayang sama kamu. Bahkan waktu kamu kecil pun, dia yang rebutan gendong kamu. Jangan berpikir yang aneh-aneh Vaya!"
Vaya kemudian teringat akan kenangan indah waktu itu setelah mendengarnya, dia tersenyum sendiri.
"Berarti Kak Thomas beneran tidak akan cuek sama Vaya ya ma?" Vaya masih merasa kurang yakin begitu mengingat sikap Thomas akhir-akhir ini.
"Sudah Vaya, percayalah pada mama. Anak gadis itu memang gampang mikir macam-macam."
"Mungkin kakakmu lagi banyak masalah. Dia baru mendapatkan tekanan belakangan, dia lagi sibuk mengurusi perekrutan karyawan klub." dengan sabar Nyonya Iswara meyakinkan Vaya.
Vaya merasa lebih tenang setelah mendengar perkataan Nyonya Iswara. Tetapi Vaya malah semakin ngelunjak sama mamanya.
"Ma, kalau suatu hari mama tidak menginginkan Vaya lagi, Vaya bakal ngosongin tempat buat Ivona kok."
Temperamen Nyonya Iswara berubah menjadi dingin begitu mendengar nama Ivona.
"Ngomong apa sih kamu, kamu itu Nona Besar keluarga Iswara yang sesungguhnya, siapa yang berani ngusir kamu? Tenang saja, mama tidak bakal biarin dia merebut semua yang sudah menjadi milik kamu."
Sudut bibir Vaya naik perlahan, dia merasa bangga sekarang. Hatinya kembali menjadi bahagia.
"Ya sudah kalau begitu, Vaya sayang banget sama mama. Da.. mama sayang."
Akhirnya Vaya mengakhiri panggillan pada Nyonya Iswara. Pada awalnya, sebenarnya Vaya bisa menerima Ivona. Jika Ivona menurut padanya waktu itu, dia masih bisa hidup akur dengan Ivona. Tapi siapa suruh Ivona malah ingin rebutan dengannya?
"Tring." Ivona menengok pada screen ponselnya, dan dia tersenyum bahagia.
Ternyata ada notifikasi dari mobile banking yang menginformasikan ada uang masuk. Nyonya Iswara mentransfer uang sebesar 200 juta kepada Vaya. Setelah itu, mamanya mengirim pesan via aplikasi whattsapps.
"Tidak perlu risau, nikmati hidupmu. Gunakan uang yang mama kirim untuk kamu bersenang-senang dengan teman-temanmu."
Vaya tambah semangat karena sedikitpun mamanya tidak mengungkit Ivona.
********************************************
Kurang dari 2 hari sebelum Ivona betul-betul masuk ke SMA Dharma Nusa, suasana sekolah sudah geger. Berita adanya Kelas G akan mendapatkan kedatangan murid pindahan dari sekolah lain telah tersebar ke seluruh pelosok SMA. Beberapa murid menjadikan topik kepindahan itu menjadi perbincangan hangat di antara mereka.
"Sudah dengar kabar belum?"
''Apa? Kedatangan murid pindahan ya ke kelas G? Sudah dong, siapa sih sebenarnya murid itu?"
"Dengar-dengarnya sih, murid pindahan itu punya hubungan dengan keluarga Vaya."
"Oh, pantas saja. Siapa sih yang tidak kenal dengan keluarga Iswara, dia mah enak, mau bawa siapapun tidak akan yang menolaknya."
Semua orang di SMA Dharma Nusa tahu, jika kelas G adalah kelas 'koneksi' yang tak perlu diragukan. Meskipun banyak siswa berprestasi juga di kelas itu, karena mau tidak mau harus tinggal di kelas G demi beasiswa, tapi
kebanyakan dari mereka adalah anak orang kaya.
************************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
jadi mm dodol yg di lahirin siapa yg di sayang siapa...aneh...
2024-01-10
1
human
tante butuh aku santet ga kalo butuh sini aku santetin sampe mampus
2022-07-08
0
Rhin Kar
Sebenarnya ceritanya sudah bagus, namun sayangnya dalam cerita selalu mengungkit masa lalu ivona dan kakaknya yang sudah bereinkarnasi.
Hal itu, membuat cerita ini kurang menarik.
2022-05-26
0