Nenek itu tidak mempercayai apa yang dikatakan Ivona, dia tetap meminta gadis itu bertemu dengan cucunya. Melihat kecantikan dan kesopanan Ivona, nenek ingin menjadikan gadis itu menjadi cucu menantunya. Ivona menjadi pusing, karena nenek itu tidak mau berpisah dengannya. Dia terus mendesaknya agar mau berkenalan dengan cucunya. Bahkan nenek itu mencari gambar foto cucunya untuk diperlihatkan pada Ivona. Ivona terus mengatakan bahwa dia sudah memiliki pacar, sehingga tidak mau dikenalkan dengan cucunya.
"Nak, kalau kamu memang sudah punya pacar. Tunjukkan pada nenek, telpon dia sekarang di depan nenek."
Ivona terkejut mendengar perkataan nenek itu, dia sendiri bingung karena sama sekali tidak memiliki pacar, bagaimana dan siapa yang akan dia telpon.
"Aku harus mencari cara untuk mengalihkan nenek ini." Ivona berpikir sendiri.
Dia kemudian memegang kedua bahu nenek itu, dan dengan mata jernihnya, Ivona mencoba menatap mata nenek, lemudian berkata.
"Nek, Ivona tidak bisa menelpon pacar Ivona. Saat ini dia masih kerja lembur, dia kan kerja cari uang agar bisa nafkahin aku."
"Berarti kamu berbohong sama nenek ya. Kamu belum punya pacar, kamu hanya tidak mau kan untuk aku kenalkan dengan cucuku." nenek itu terus mengejar Ivona, dan tidak mau melepaskannya.
"Apa aku ajak saja nenek ini ke dalam cafe itu ya, nanti aku tinggal nitip uang pada pelayan cafe. Kemudian aku tinggalkan saja nenek disitu." sebuah pemikiran terlintas di benak Ivona.
Karena nenek itu tetap bersikeras tidak mau ditinggalkan, dan terus mendesak Ivona agar mau diajak kenalan dengan cucunya, akhirnya Ivona membawa nenek itu memasuki sebuah cafe. Setelah mendapatkan tempat duduk dan menunggu pelayan datang, Ivona mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Ayolah nak, mau ya aku kenalkan pada cucuku. Dia memiliki wajah yang tampan, dan dia juga memiliki perusahaan sendiri. Gajinya besar, kamu nanti akan enak jika menjadi cucu menantuku." Ivona tidak mendengarkan ocehan nenek itu, tiba-tiba matanya seketika berbinar. Dia melihat sosok yang tidak asing, pandangan tertuju pada seorang anak kecil yang berada di depan pintu caffe.
"Akhirnya ketemu juga. Nak.., lihatlah ini foto cucu nenek. Tampan kan..," nenek itu mengambil kertas bergambar seorang laki-laki dan akan memperlihatkannya pada gadis itu. Tetapi gadis itu sudah berdiri dan berlari keluar. Dengan ngedumel, nenek itu menyimpan kembali foto cucunya ke dalam tasnya kembali.
"Mau dikasih tahu foto cucuku, kok malah lari keluar." gumam nenek itu.
Ivona ternyata berlari keluar menghampiri seorang anak kecil. Dia adalah Tuan Muda Kecil yang dia temui dua hari lalu, yang sempat membawa Max anjing Alaskan bersamanya. Tuan Muda kecil itu sedang berdiri di depan pintu cafe, dia sedang menghitung mobil yang lewat sambil memakan permen.
"Sepuluh, sebelas, duabelas...," guman Tuan Muda kecil.
"Hai, apa yang kamu lakukan disini sobat kecil?" seru Ivona dengan ramah menyapanya.
Melihat siapa yang berjalan menuju ke arahnya, mata Tuan Muda Kecil itu langsung berbinar.
"Kakak..., kita ketemu lagi akhirnya." seru Tuan Muda kecil itu sambil menghampiri Ivona.
"Mana kakakmu, kenapa kamu disini sendiri?"
Anak itu diam dan memandang ke arah restoran yang tak jauh dari sana.
"Aku tidak punya kakak. Kalau kakak mau menjadi kakakku, aku akan mengatakan kalau aku sudah memiliki kakak."
Melihat anak kecil yang berwajah tampan itu, Ivona merasa gemas. Kemudian dia tersenyum dan mengajak anak itu ikut dengannya.
"Baiklah, sekarang kamu ikut kakak dulu ya, sambil menunggu siapa yang membawamu kesini. Mau?"
Anak kecil itu tersenyum kemudian menganggukkan kepalanya, kemudian dia langsung menggandeng tangan Ivona. Ivona membawa anak kecil itu masuk ke dalam cafe, kemudian mengajaknya untuk duduk berhadapan dengan nenek itu.
****************************************************
Sepeninggalan Ivona dan anak kecil itu, Alexander datang dan tampak bingung mencari adiknya. Dia merasa tadi meninggalkannya di tempat ini, tetapi kenapa tiba-tiba dia sudah menghilang. Bisa-bisa dia akan diomeli mamanya habis-habisan jika adiknya benar-benar hilang di tempat itu.
"Rico, dimana Evan, kenapa dia tidak ada disini?" Alexander bertanya pada asisten pribadinya.
Asisten merasa sedikit ketakutan saat mendengar suara dingin itu, karena dia tidak mengetahui kemana perginya Tuan Muda Kecil itu.
"Maaf Tuan, saya tidak tahu. Tadi Tuan Muda Kecil meminta saya untuk menjauh darinya, Tuan Muda kecil tidak mau saya ikuti.
"Bodoh kamu, sekarang kita harus mencarinya dimana? Apakah kamu mau tanggung jawab jika Evan sampai hilang."
"Ampun Tuan, atau mungkin Tuan Muda Kecil masuk ke cafe ini ya?" Rico menunjuk ke dalam cafe.
"Tidak usah banyak bicara, cari anak itu sampai ketemu."
"Baik Tuan."
***********************************************************
Dari arah pintun masuk, nenek bertanya-tanya siapa anak laki-laki tampan yang sedang bergandengan tangan dengan Ivona. Dia hanya melihatnya tanpa berkedip, saat gadis itu mendudukan anak kecil itu di kursi yang ada di hadapannya. Setelah anak kecil itu duduk di kursi, nenek melihat Ivona berjongkok kemudian mencium kedua pipi anak itu.
"Nenek.., kenalkan. Dia ini anakku Nek."
Anak kecil itu merona pipinya, dan dia merasa sangat senang karena mendapatkan ciuman dari Ivona. Dia tidak mempedulikan apa yang dikatakan Ivona pada nenek yang duduk di depannya itu.
"Jangan berbohong pada orang tua sepertiku. Apakah kamu tidak tahu betapa beratnya membohongi orang tua."
"Ivona tidak berbohong nek, anak ini memang putraku. Kebetulan tadi, dia pergi dengan papanya, karena tahu saya ada disini terus dia diantarkan kesini."
"Aku tahu kamu telah membohongiku. Anak kecil ini tidak ada mirip-miripnya denganmu. Kamu hanya mengambil anak ini di jalan kan, kemudian kamu memberinya permen agar mau kamu anggap sebagai anakmu."
"Dia memang tidak mirip aku nek, karena anak ini memiliki wajah sangat mirip dengan papanya. Kalau nenek tetap tidak mempercayaiku, coba nenek tanyakan sendiri pada anak ini."
"Mami..., Evan ingin pulang. Ayo pulang mam." tiba-tiba Evan berkata untuk meyakinkan perkataan Ivona.
"Sebentar ya sayang, nanti kita akan segera pulang. Mami harus mengantar nenek pergi dengan selamat sayang. Sabar ya nak."
Evan mengangguk dengan patuh, dengan tatapan curiga nenek itu mengamati interaksi antara Ivona dan anak kecil itu.
"Tunggu mami sebentar ya sayang." Ivona berjalan meninggalkan mereka berdua untuk beberapa saat, dan ketika kembali dia sudah membawa seporsi dessert untuk anak itu. Tidak lupa dia juga memesankan teh manis panas dan kue untuk nenek itu.
"Dimakan dulu sayang, makannya perlahan saja ya."
"Siapa sih yang membawa anak kecil ini keluar. Tega sekali dia meninggalkannya di tengah jalan."
Ivona kemudian duduk di samping anak kecil itu, dan dia mengelus lembut rambut anak itu, persis seperti seorang ibu yang mengelus rambut anaknya.
Sebelum nenek bersuara, nenek itu telah melihat seorang pria yang berjalan kemari dari belakang Ivona.
"Mirip sekali, ternyata benar-benar sangat mirip. Gadis ini tidak berbohong." gumam pelan nenek itu.
Mendengar gumaman nenek, dan arah pandangan matanya membuat Ivona penasaran. Dia menolehkan kepalanya ke belakang, dan seketika dia merasa terkejut. Ternyata malam ini dia bertemu lagi dengan pria yang pernah menolongnya dari rumah sakit jiwa. Ivona teringat betapa dia memiliki hutang budi dan hutang uang kepada pria itu. Pria itu adalah Alexander, dan Ivona melihat pria dingin tetapi elegan itu berjalan menghampirinya.
Ivona akan menjelaskan pada pria itu mengapa anak kecil itu bisa tiba-tiba bersamanya. Tetapi belum sempat keluar suara dari mulutnya untuk menjelaskan, terdengar suara nenek itu.
"Suamimu benar-benar tampan."
***************************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
imah umaraya
kaya' nya nenek si Pemeran utama laki2 nya deh.. 🤔🤔
2021-12-09
1
Cherry
aku tertipu. aku kira itu nenek nya alex
2021-11-22
24
Eka Priyanti
makasih thor upnya
2021-10-25
1