Wanita itu tetap bertahan di dalam kamar itu, Ivona mengabaikannya. Ivona melirik wanita itu sekilas, kemudian dia memiliki ide untuk memanasinya lagi.
“Waduh…, kenapa kak Alex belum keluar-keluar ya dari dalam kamar mandi. Oh, mungkin baru berusaha agar tubuhnya memiliki aroma yang harum, ehm…, kenapa aku jadi pingin lagi ya.” ucap Ivona sambil duduk di atas ranjang.
Wanita itu melotot mendengar perkataan Ivona.
“Kenapa sih, kamu tidak memiliki malu sedikitpun?“
“Lho apa yang harus membuat aku malu. Kita saling membutuhkan kan, dan rasanya ternyata nikmat dan surga dunia berkumpul jadi satu. Kenapa kak Alex tidak keluar sih?”
“Ayo, kamu kapan mau pergi dari ruangan ini. Atau gimana kalau kita melakukan itu tuh, apa aku lupa namanya, yang satu laki-laki terus perempuannya ada dua. Sepertinya asyik.”
“Kamu itu ya, semakin tidak tahu diri, aku bisa bilangin ini ke Nyonya Besar. Lihat saja, kalian akan langsung dipisahkan.” Wanita itu berbicara dengan nada tinggi.
"Ha..ha..ha.., menarik kan disini. Bagaimana tertarik tidak dengan tawaranku tadi. Atau sudah merasa tidak nyaman di kamar ini?” Ivona tertawa dan sangat bersemangat mengerjain wanita itu.
“Sebentar lagi mas Alex akan keluar dari dalam kamar mandi. Bagaimana, mau pergi atau bergabung dengan kami?
“Dasar gila kamu ya.” Dengan nada marah, akhirnya wanita itu pergi dengan kesal. Dia langsung menutup kamar hotel dengan sekuat tenaga, seperti lupa jika pintu itu menggunakan door closer otomatis.
“Ha…,ha…, ha.., akhirnya pergi juga dia. Katanya pacar, masak melihat pacarnya bersama wanita lain malah kabur.” Ivona tertawa terbahak-bahak menyaksikan wanita itu pergi.
**********************************************
Sepeninggalan Wanita itu, beberapa menit kemudian, Alexander keluar dari dalam kamar mandi. Dia melirik ke Ivona dan melihat jika gadis itu sudah mengenakan pakaian lengkap. Gadis itu sedang membersihkan luka-luka di kakinya dengan menggunakan obat yang dikirimkan staf hotel tadi.
“Selain staf hotel, apakah ada orang lain yang datang kesini barusan? Sepertinya tadi aku mendengar ada suara wanita yang berteriak.”
“Kenapa tidak cerita kalau kamu mengundang perempuan kesini, pacarmu ya? Sangat tidak punya sopan santun, tapi yah lumayanlah untuk hiburan di malam ini. Tetapi sayang sekali, perempuan itu sudah pergi dengan sendirinya.” kata Ivona dengan dingin dan sarkasme.
“Itu bukan pacarku, aku sendiri tidak tahu siapa perempuan yang dikirim kesini oleh mamaku.”
“Wow.., aduh kenapa aku tadi lupa bilang ya sama dia, kalau kamar mandimu tidak dikunci.”
Ivona berbicara sambil berusaha membalut luka-lukanya. Alexander melihat cara dia membalut lukanya, dia merasa risi dengan cara gadis itu membalut lukanya. Dia tidak menanggapi ocehan Ivona dari tadi, dan akhirnya di mengambil perlengkapan PPPK. Kemudian tanpa disuruh dia membalut luka di kaki gadis itu dengan rapi.
“Terima kasih kak, ternyata balutan yang dibuat kakak tampak rapi.” Ivona tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada laki-laki itu.
"Lagian aku juga tidak berharap kamu bisa membuat hal baik."
“Kamar ini disiapkan oleh mamaku. Dia mengirimkan perempuan untuk menjebakku disini. Telingaku sampai bosan, setiap ketemu mama, selalu kapan menikah, kapan menikah?”
Ivona tertawa melihat ekspresi wajah laki-laki tersebut.
“Lha kakak kan bisa menjelaskan baik-baik kan sama mamanya. Kalau seperti ini, Namanya kakak juga membohongi mamanya.”
Alexander diam mendengarkan perkataan Ivona. Tiba-tiba,
"Siapa namamu?" tanya Alexander.
"Ivona Carminda."
Sudut bibir pria itu terangkat setelah mendengarnya, sorot matanya terlihat santai.
"Namaku Alexander Kavindra, nih nomor ponselku, istirahatlah. Aku akan istirahat di kamar yang lain."
“Kak Alex.., Wanita tadi mengirimkan makanan. Tuh, kenapa tidak makan dulu baru pergi?”
“Baiklah, ayo kita makan dulu.”
Akhirnya Alexander dan Ivona makan berdua. Setelah selesai, Alexander langsung keluar dari kamar tersebut. Merasa capai dan mengantuk, begitu Alexander keluar kamar Ivona langsung membaringkan tubuhnya di atas bed.
*******************************
Pagi hari berikutnya, dengan rasa malas Ivona terbangun dari tidurnya. Dengan malas dia beranjak dari tempat tidur, dan saat dia akan mengganti lampu tidur di melihat selembar kertas di atas nakas dan uang beberapa ratus ribu. Dia kemudian mengambil kertas tersebut dan membacanya.
“Hai Ivona…, maaf ya aku pergi dulu. Aku masuk kamarmu tapi kamu sudah tertidur. Aku tahu kamu tidak memiliki uang, gunakan uang itu untuk mencukupi sementara kebutuhanmu. Ini bisa menjadi bukti kan perkataanku kemarin, kalau aku bukan orang jahat. Bye Ivona…. See you next time… Alex.”
Mulutnya tersenyum setelah membaca surat yang dituliskan Alexander untuknya.
“Aduh, aku banyak berhutang budi pada Alexander.”
Ivona membatin sendiri. Dia sebenarnya tidak terlalu suka berhutang pada orang lain, apalagi dengan kondisinya saat ini, akan sangat sulit untuk membayarnya.
Kemudian dia masuk ke kamar mandi. Setelah membersihkan dirinya, dia mengunci puntu kamar, kemudian menuju ke restoran. Selesai breakfast, Ivona kemudian meninggalkan hotel.
“Aku harus pulang ke rumah.” Akhirnya Ivona memutuskan untuk pulang ke rumah. Meskipun tidak menyukai keluarga Iswara, tapi dia tetap memutuskan untuk pulang.
*************************
Saat ini di keluarga Iswara. Terlihat Thomas yang sedang duduk di atas sofa, Dia merasa menyesal karena tidak menemukan Ivona kemarin. Kemudian dia teringat kembali akan kehidupan sebelumnya. Terjadi kecelakaan pada putri seorang tokoh besar di rumah sakit jiwa, maka barulah rumah sakit jiwa itu terekspos. Dia dan kakaknya menemukan Ivona di rumah sakit itu. Tetapi Ivona telah dianiaya hingga mengenaskan, dan menurut mereka sifatnya menjadi sangat aneh.
Thomas kembali mengingat kalimat Ivona di kehidupan sebelumnya. Sebuah kalimat yang ditujukan kepada dia dan kakaknya, dan kalimat itu terus muncul di dalam benak Thomas.
"Aku tidak mau lagi jadi adik kalian di kehidupan mendatang."
Kalimat itu terus terulang dan muncul terus di benaknya, dan tanpa dia sadari Thomas menangis. Mata Thomas menjadi sembab, sebelum bangkrut di kehidupan sebelumnya, mereka sama sekali tidak memahami Ivona. Baru setelah bangkrut, mereka baru mengetahui kalau Ivona sangat cantik. Dia dan keluarganya terlambat untuk mengetahui kecantikan Ivona, dan saat mereka menyadari, sebatang lisptik pun tak mampu mereka belikan untuknya. Mereka hanya bisia melihat Ivona adik perempuannya bekerja di 3 tempat dan berpakaian lusuh, untuk menghidupi keluarga mereka.
Pada saat Thomas masih termenung, tiba-tiba dia melihat Ivona berjalan masuk dari pintu depan. Saat ini dia melihat Ivona mengenakan gaun berwarna merah, dan muncul perpaduan dengan rambut hitamnya. Perpaduan itu membuat Ivona saat ini terlihat sangat cantik. Thomas merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Ivona.
Baru saja Thomas hendak memanggil Ivona, tiba-tiba Vaya datang dan menyela.
“Kak Thom…., ruang piano sekarang terlalu panas, aku pingin menggantinya. Bagaimana kak, kalau diganti di kamar Ivona?”
“Apa yang kamu bicarakan? Tidak boleh, nyalakan AC kalau kamu merasakan panas.” Seru Thomas dengan nada tinggi.
Thomas mengingat jika itu terjadi di kehidupan sebelumnya, dirinya akan menyetujui hal ini.
"Ternyata aku dulu benar-benar biadab sama adik kandungku sendiri.”
“Tidak apa-apa kak Thomas, aku akan tinggal di asrama sekolah saja. Pindahkan ruang piano ke kamarku segera.” Tiba-tiba Ivona menyetujuinya dengan segera.
Mendengar suara Ivona, Vaya menengok ke arah pintu dan dia baru melihat Ivona yang berjalan memasuki pintu. Dengan mata lebar karena terbelalak, Vaya sedikitpun tidak percaya jika gadis ini adalah Ivona.
“Kenapa Ivona menjadi secantik ini. Benarkah itu Ivona.” Batin Vaya.
“Tidak, Ivona tetap berada di kamarnya. Ruang piano tetap berada disitu.” Dengan suara tegas, Thomas berteriak. Thomas tidak tega melihat Ivona tinggal dia asrama sekolah.
Mendengar suara keras kakak ketiganya, Vaya baru sadar.
“Kenapa kakak ketiga menjadi sangat aneh, bukannya dulu dia yang paling benci Ivona? Kenapa kakak tiba-tiba bisa kasihan padanya?”
Berbagai pertanyaan muncul di benak Vaya, kemudian dia mulai berpikir dari sudut yang lain.
“Mungkinkah Kak Thomas merasa Ivona tidak akan bisa terbiasa dengan kehidupan asrama, dan akan semakin menyebalkan jika pindah kesana kesini?
Raut wajah Vaya menjadi lebih baik setelah berpikir demikian.
"Kak Thom, Ivona nggak segitu cengengnya kok. Kakak tidak perlu mengkhawatirkan Ivona."
******************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Shenaylin..😌😌
🤭🤭🤭🤭
2024-08-20
0
kutu kupret🐭🖤🐭
perek babi ngepet 🖕🖕
2023-03-13
2
ayam receh
yuhuuu
2021-12-01
1