"Hai.., berita apa yang kamu bawa Ndut? Cerita yang jelas dong!"
"Aku dapat kabar dari sekolah lama murid pindahan, yang hari ini dia sudah datang melaporkan diri ke ruang guru."
"Kabar apaan? Baik atau buruk?" teman-temannya mengerumuni si Gendut.
"Ya terserah pendapatmu bagaimana, mau baik boleh, tetapi buruk juga boleh. He..he.., Aku dengar kalau si murid pindahan itu anaknya memiliki sifat penakut. Dia suka menyendiri, juga wajahnya tidak cantik, dan nilai-nilainya jelek semua. Bisa kewalahan dia masuk ke sekolah kita ini. Ha..ha..ha..."
"Wow..., itu mah berita bagus Ndut untuk kelas kita. Berarti murid pindahan itu, sungguh-sungguh merupakan contoh klasik anak yang tidak akan melawan kalau ditindas. Cocok sekali untuk kelas kita ini."
"Ha...ha..ha.., iya cocok untuk mainan kita."
"Iya, apalagi anak baru kan memang sangat mudah untuk kita kucilkan. Siapa yang akan membelanya."
"Jika dengan dibandingkan dengan Vaya, si primadona sekolah kita, sangat jauh. Bagaikan langit dengan bumi."
"Okay, mari kita tunggu kedatangannya. Kita akan lihat, berapa lama murid pindahan itu akan bertahan di kelas kita ini."
Hampir semua penghuni kelas G ini melihat murid pindahan memiliki kesan yang buruk, dan berniat akan mengerjainnya.
*****************************************************
Saat kelas dalam kondisi ramai, tiba-tiba wali kelas datang dan memasuki kelas. Dia memandang semua murid yang sudah hadir di kelas.
"Tenang semuanya, dan segera duduki kursi kalian masing-masing. Kita akan segera mulai pelajaran untuk hari ini." teriak wali kelas tersebut.
Para murid yang masih bermain di kursi temannya langsung berlarian dengan gaduh kembali ke kursinya masing-masing. Wali kelas mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas, dan melihat satu murid laki-laki William Chandra sedang tidur. Anak laki-laki ini memiliki perangai yang unik, anaknya pemarah, dan suka membully teman-teman lainnya, dan sangat mudah tersinggung. Wali kelas itu juga tidak berani membangunkannya.
"Permisi, selamat pagi. Apakah saya bisa masuk kelas Bapak?" tiba-tiba terdengar suara lembut seorang perempuan yang meminta ijin untuk masuk kelas.
Semua murid di kelas itu langsung menghentikan gerakan mereka, dan sesaat mereka terkejut dan saling berpandangan. Seorang gadis yang sangat cantik dengan kulit putih bersih berdiri di depan pintu kelas mereka. Mereka saling berpandangan dan menanyakan siapa gadis itu. Para murid hanya mengangkat kedua bahunya sebagai isyarat bahwa mereka menjawab tidak tahu. Kemudian mereka kembali menatap gadis itu lebih lama lagi. Beberapa murid perempuan merasa sensi melihat kecantikan dan penampilan menakjubkan yang dibawa oleh gadis itu.
Wali kelas juga terpukau dengan pesona yang ditawarkan oleh gadis itu. Gadis itu memiliki wajah yang sangat cantik, dan akan membuat orang mengingatnya dalam sekali lihat. Dia memiliki sepasang mata yang indah dan jernih, dan saat ini dia menatap ke sekeliling kelas dengan santai. Selain itu, dia memiliki aura di sekujur tubuhnya
tidak bisa dihentikan, membuat orang-orang memikirkan bahwa gadis itu laksana bintang yang tak bisa digapai.
Beberapa detik berlalu dalam diam, akhirnya.
"Hmm.., kamu siapa? Masuklah!" wali kelas memecah keheningan kelas dengan bertanya pada gadis itu.
"Perkenalkan namaku Ivona. Saya murid pindahan yang akan masuk kelas mulai hari ini. Baru saja saya selesai mengurus perpindahan saya ke SMA ini. Dan tadi, oleh Bu Sisca saya disampaikan untuk langsung masuk ke kelas G." Suara Ivona yang malas terdengar, tetapi terasa sangat merdu di telinga murid-murid di kelas G.
"Siapa?" wali kelas kembali bertanya.
"Ivona pak. Apakah saya diperbolehkan masuk sekarang?"
Seketika mendengar nama itu, otak semua orang di dalam kelas terasa langsung konslet. Mereka langsung berbisik-bisik menanyakan apakah benar Ivona adalah murid pindahan yang baru saja mereka bicarakan.
"Hai Ndut..., apakah benar ini murid pindahan kelas yang baru?"
"Katanya dia memiliki wajah yang sangat jelek, dan bahkan sampai tidak bakal dilirik kalau berada di kerumunan orang?"
"Aku juga tidak tahu, tetapi kenapa murid pindahan ini tidak sama dengan informasi yang barusan aku dapatkan dari sekolah sebelah?"
"Kalau dengan tampang seperti ini, primadona seperti Vaya saja bisa kalah telak jika berdiri di sampingnya."
Akhirnya satu kelas menjadi ribut sendiri, mereka saling berbisik membicarakan tentang Ivona.
"Baiklah, silakan pilih sendiri tempat duduk di kelas ini."
"Terima kasih pak."
Ivona kemudian mengedarkan pandangannya untuk mencari tempat duduk, dan dia melihat masih ada 2 bangku kosong yang tersisa di dalam kelas. Satu bangku berada di sisi jendela yang sebelahnya diduduki seorang gadis. Ivona tersenyum, dia tidak berminat duduk di situ. Karena di atas meja penuh dengan barang milik gadis itu, yang dibaca oleh Ivona sebagai sebuah isyarat jika dia tidak ingin Ivona duduk di sana.
Ivona melihat satu bangku lagi yang kosong, dan melihat ada seorang anak yang sedang tertidur pulas. Tanpa berpikir panjang,Ivona langsung berjalan ke bangku yang satunya. Dia langsung menaruh tasnya di atas bangku, kemudian menarik kursi dan duduk sambil menghadap ke depan.
Melihat Ivona duduk di kursi tersebut, teman-teman sekelas menatapnya dengan penuh rasa khawatir. Tindakan Ivona yang terlalu berani menurut mereka, membuat orang-orang yang ada di sekitar menjadi ketakutan.
"Apakah Ivona itu gila, berani-beraninya dia duduk disitu?"
"Iya, sepertinya murid baru ini memang udah gila ya? Beraninya dia duduk di sebelah Kak William..."
"Hehe, kita lihat saja nanti bagaimana reaksi William."
"Mana tahu dia untuk cari informasi 'kan. Dasar tidak tahu diri, masih mau ganggu William." beberapa murid perempuan berbisik membicarakan Ivona.
Tidak sedikit orang yang ingin menonton keramaian di dalam kelas. Mereka menunggu terjadinya insiden saat William bangun dari tidurnya, bahkan wali kelas sendiri tidak berani mengganggu tidur William.
"Ivona, kamu bangunkan teman sebangkumu ya. Bapak segera akan mulai pelajaran!"
"Gila banget itu wali kelas. Dia sendiri tidak pernah berani untuk mengusik William, kenapa malah dia menyuruh murid baru untuk membangunkannya?" dalam hati para murid memarahi guru itu.
"Apawali kelas itu berpikir, jika William tidak akan turun tangan terhadap seorang gadis?"
Melihat pandangan miris dari para teman sekelasnya, Ivona mengerutkan keningnya tanpa jejak, lalu menaikkan sudut bibirnya.
"Pak, sepertinya saya sebagai murid baru belum memiliki keberanian membangunkannya. Kalau nanti jadinya kami malah berantem nanti gimana? Apakah Bapak mau bertanggung jawab?" jawab Ivona.
"Ha..ha..ha.." mendengar jawaban Ivona, ada murid wanita yang tertawa.
"Pintar juga dia, tahu kalau William tidak boleh diganggu."
Nada bicara dari seorang teman wanita di kelas ini, seperti disertai ejekan dan rasa iri yang amat dalam. Dari nadanya, sangat jelas kalau dia merasa Ivona punya maksud tersendiri dengan duduk di sebelah William.
"Eh, apa maksudmu?!"
Ivona hanya tersenyum tidak menjawab pertanyaan yang barusan dilontarkan guru itu. Wajah pak guru memerah, dia berkata lagi dengan enggan, "Sudah, cepat duduk!"
Pak guru berbalik menghadap papan tulis, lalu berkata dengan marah, "Ini saja sudah cukup susah, eh malah nambah murid pindahan. Apa sih yang dipikirin sekolah ini?"
***********************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Umi Ningsih Mujung
😘
2021-11-01
1
Intan Khairani Putry Marma
💪💪💪
2021-11-01
1
Wiwuk Putri
bagus ceritanya kpn lanjut
2021-11-01
1