Mendengar perkataan Vaya, Ivona tersenyum dengan sinis. Dia mengabaikan keberadaan kakak ketiganya dan Vaya, Ivona langsung naik ke lantai atas tanpa sedikitpun menggubris keberadaan mereka. Melihat sikap Ivona, Thomas menyadari kalau Ivona mulai mengacuhkan mereka setelah keluar dari rumah sakit jiwa. Dia bergegas
melangkahkan kakinya ingin mengikuti Ivona ke lantai atas. Tetapi Vaya dengan cepat menariknya, menahan agak kakaknya tidak mengikuti Ivona ke lantai atas.
“Kak Thom mau kemana? Untuk apa kakak ke lantai atas?”
Thomas memandang Vaya dengan tatapan marah, tetapi dia menyadari harus menjaga bahwa agar Vaya tidak mengetahui jika dia bukan lagi kakaknya Thomas yang dulu. Melihat tatapan marah dari kakak ketiganya, Vaya akhirnya mulai sadar jika kakak pertama dan kakak ketiganya tidak begitu mengutamakan dan menyayanginya
lagi seperti dulu. Di masa-masa lalu, pada saat Vaya mengabaikan kedua kakaknya, mereka berdua akan segera datang untuk membujuknya.
“Mau naik ke atas, membantu Ivona membereskan kopernya.”
“Kakak tetap disini menemani Vaya!” seru Vaya dengan nada marah.
Thomas berhenti dan melihat ke arah Vaya. “Semakin ngelunjak ini anak. Sabarkan dirimu Thom!” Thomas berpikir sendiri.
“Pilih Ivona atau Vaya, dan bagi kakak siapa yang lebih penting. Ivona atau Vaya?”
Dengan tatapan dan senyum sinis Thomas mendekati Vaya, kemudian tangannya memegang dagu anak itu. Ivona sedikit merasa ngeri melihat tatapan dari kakak ketiganya, jika dulu melihat dia ngambek maka kakak ketiga akan segera membujuknya. Tetapi kenapa tatapan itu sekarang berubah.
“Vaya…, apakah kamu sudah lupa, jika Ivona adalah adik kandungku?”
Mendengar perkataan ini, langsung membuat Vaya tersadar seketika, dia merasa tidak percaya.
“Apa maksud kakak ketiga, mungkinkah Thomas sudah tahu kalau aku yang mencelakai Ivona?” Vaya kembali berpikir sendiri.
Melihat ekspresi Thomas, Vaya kemudian beraksi untuk mengambil hati kakak ketiganya. Kemudian dia mendekat dan memeluk Thomas yang masih berdiri di lantai bawah.
“Maksud Vaya, kak Thomas tetap dibawah saja, Vaya yang akan naik ke kamar Ivona.”
Mendengar perkataan Vaya yang terlihat tenang, Thomas mulai mengendorkan emosinya. Melihat perubahan Thomas, Vaya semakin berusaha untuk mengambil hatinya.
“Lagian kak Thom, Ivona kan seorang gadis, kamar anak gadis tidak boleh seenaknya dimasuki laki-laki.
Thomas khawatir jika Ivona akan semakin membenci dirinya, akhirnya dia menyetujui kata Vaya.
*********************************************************
Sesampainya di lantai 2, Ivona mendorong pintu kamarnya yang tidak terkunci. Dia berjalan memasuki kamarnya dan mulai terbatuk-batuk. Akhirnya dia mencari kain bersih untuk menutup hidungnya.
“Bisa-bisanya Ivona tinggal di kamar seperti ini.” Gumam Ivona saat ini.
Dia melihat kamar yang dia masuki ini gelap, bau dan penuh dengan debu. Melihat ke arah jendela, dia berjalan menghampiri kemudian membuka jendela tersebut. Seberkas cahaya menyinari ke dalam kamar itu, yang semakin jelas menunjukkan jika di jendela banyak terdapat tempelan benda pengusir roh jahat, Ivona mengedarkan pandangannya ke seluruh area kamar.
“Sangat ironis sekali kamar ini. Bisa jadi jamur jika aku tidur di kamar ini.”
Dia kemudian mengingat isi novel itu. Akhirnya dia mengingatnya kenapa kamar Ivona bisa menjadi menyeramkan seperti ini. Waktu itu, Vaya mengatakan kepada seorang pembantu kalau Ivona kerasukan setan. Akhirnya mereka datang ke kamar ini, dan menempel penuh kamar Ivona dengan benda-benda ini. Bahkan yang lebih parah lagi
adalah, mereka juga menyiram air bawang setiap hari, tanpa mempedulikan perasaan pemilik tubuh asli.
“Toh aku juga tidak akan tinggal di kamar ini lagi. Biarkan saja, agar bisa menjadi prasasti.” Ivona menggumam lagi.
Kemudian Ivona membuka lemari, dan dia mencari seragam sekolahnya. Setelah menemukan seragam sekolahnya dia memasukkan ke dalam koper lusuh yang dia letakkan di atas lemari yang ada di kamarnya. Sebelum memasukkan bajunya, dia kibaskan dulu debu yang banyak menempel di luar koper tersebut.
******************************************
Setelah mendapatkan persetujuan dari kakak ketiganya, Vaya kemudian naik ke lantai atas dan kemudian masuk ke dalam kamar Ivona. Melihat Ivona sedang menyusun baju seragamnya ke dalam koper, dia mendekatinya. Tangan kanannya menarik baju di punggung Ivona.
“Dasar anak tidak tahu diuntung. Kenapa kamu tidak pernah berkaca, apakah hari ini kamu merasa bangga dengan tampilanmu hari ini?”
Ivona mencoba bersabar, kemudian dia berdiri dan melepaskan tangan Vaya dari punggungnya. Dia tersenyum dan mencoba mendengarkan ceramah dari Vaya.
“Apakah kamu berpikir jika dengan kamu berpenampilan seperti ini, kamu akan bisa mendapatkan perhatian dari kakak? Jangan pernah bermimpi kamu.”
“Dari dulu kasih sayang keluarga ini, dan terutama kakak hanya diberikan kepadaku, Vaya. Tidak ada kasih sayang untukmu gadis kampungan.”
Mendengar ocehan Vaya, Ivona menanggapinya dengan santai. Dia kemudian duduk di atas ranjang, dan sedikitpun perasaannya tidak bergejolak. Kembali dia memberikan senyuman manis kepada Vaya, dan kemudian dia berkata.
"Terus apa yang kamu takutkan? Kalau kamu sudah yakin jika semua kasih sayang dari keluarga ini hanya diberikan padamu, apa yang kamu khawatirkan dan takutkan Vaya?"
Seketika raut wajah Vaya berubah, selama ini dia menjadi ratu di rumah ini.
“Kenapa Ivona menjadi berani seperti ini.” Vaya berpikir sendiri.
"Jaga mulutmu! Tidak ada yang aku takutkan darimu."
Vaya kemudian berjalan mendekat dan berdiri di sisi Ivona, dia akan menekan Ivona kembali seperti yang selalu dia lakukan pada saat-saat dulu. Kakak pertama dan kakak ketiga selalu berada di belakangnya, mereka akan selalu membela dan mendukungnya.
"Ivona.., apakah kamu lupa bagaimana aku bisa mempengaruhi keluarga ini?” dengan tatapan mengejek, Vaya berbicara pada Ivona.
Sedangkan Ivona tetap tenang dan sedikitpun tidak terprovokasi dengan semua ucapan Vaya. Kehidupannya sebagai gadis barbar dalam kehidupan sebelumnya, telah membentuknya menjadi seorang gadis yang kuat dalam menghadapi tekanan dari manapun. Ivona hanya melihat ke arah Vaya, sambil tersenyum kembali.
“Ingatlah Ivona, Jika waktu dulu, aku bisa membuat kakak mengirimmu ke rumah sakit jiwa sekali, maka pasti akan ada kedua kalinya!” dengan melotot, Vaya mengingatkan Kembali kejadian saat Ivona dimasukkan ke rumah sakit jiwa.
“Di dalam hati kakak, kamu tuh bahkan tidak sebanding dengan sehelai rambutku..."
"Oh iya, hampir aja lupa, aku belum buat perhitungan denganmu." Belum selesai perkataan Vaya, ternyata telah disela oleh Ivona. Vaya terkejut dengan reaksi yang ditunjukkan Ivona.
“Vaya…, aku ingat bagaimana kalian menarikku dari kamar ini. Menyeretku, dan sedikitpun tidak mendengarkan perkataanku waktu itu.”
“Dan itu semua sepertinya terjadi karenamu kan Vaya?”
Ivona mengingatkan Vaya bagaimana dirinya dimasukkan ke rumah sakit jiwa oleh Vaya. Saat ini keadaan menjadi berbanding terbalik dari sebelumnya. Dengan tertawa sinis, Ivona berdiri dan mendekat pada Vaya.
“Kamu kenapa Vaya, apakah saat ini kamu takut kepadaku?”
“Berhenti disitu, jangan mendekatiku. Kalau kamu berani menyentuhku, aku akan teriak
Ivona.”
Vaya ketakutan, nada bicaranya bergetar, dia mundur secara reflek.
“Silakan kalau kamu akan teriak Vaya, teriaklah. Aku tidak akan takut lagi pada kalian semua, terutama padamu.”
“Mundur.., jangan mendekat padaku. Ingat Ivona, ada kakak ketiga di rumah. Jika kamu berani menyentuhku, maka Kak Thomas pasti tidak akan mengampuni kamu.”
"Sangat menarik sepertinya, dan kedengarannya boleh juga."
Selesai mengatakannya, Vaya pun dibawa keluar oleh tenaga besar dan langsung menabrak
dinding, wajahnya mengerut karena kesakitan.
**************************************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
kutu kupret🐭🖤🐭
anak harram babi ngepet 🖕🖕
2023-03-13
1
ayam receh
oioi
2021-12-01
1
Cherry
gak ada greget nya cm senyum doank gk mlawan. bar bar nya mana
2021-11-22
8