Ivona merasa Bahagia merasakan kehadiran orang lain yang bukan berasal dari rumah sakit. Apalagi kehadirannya terkait dengan anjing Alaskan yang saat ini sedang menempel di tubuhnya. Meskipun pria itu memiliki wajah yang tampan, tetapi Ivona juga dengan jelas melihat pria itu, abstinensi, tegap, dingin dan sedikit malas. Sedangkan laki-laki itu terpukau dengan kecantikan yang terpancar dari wajah Ivona. Bersyukur air hujan mengguyur tubuhnya, jadi air itu tanpa disadari sudah memandikan Ivona, dan menampakkan penampilan cantiknya. Hidungnya sangat mancung, dengan kulit wajah yang bersih.
Satpam rumah sakit yang sedang mencari keberadaan Ivona, juga berlarian menuju kemari, tetapi mereka reflek berhenti di depan pria itu. Para satpam berniat untuk membawa pergi Ivona, mereka kemudian berusaha memfitnah
Ivona sebagai Wanita yang memiliki penyakit jiwa, dan saat ini sedang kabur dari bangsal dari bangsal rumah sakit.
“Tuan…, saya harap Tuan berdua segera menjauhi Wanita ini. Dia memiliki penyakit yang berbahaya Tuan, dia saat ini dinyatakan mengidap Sakit jiwa, dan sedang berusaha kabur dari bangsal rumah sakit.” Ucap Satpam tersebut pada dua laki-laki yang berdiri di depannya.
“Bagaimana kita bisa menjauhi dia, kalian lihat tidak. Anjing Alaskan yang sedang bersamanya adalah anjing Tuan Muda.” Seru seorang laki-laki. Dia adalah Rico asisten dari Alexander.
Melihat Max si anjing Alaskan sepertinya sangat menurut padanya, Ivona mengelus bulu di tubuh anjing itu. Kemudian dia memiliki niat untuk menggunakan kedua laki-laki itu sebagai jalan kaburnya dia dari rumah sakit tersebut.
"Tuan, apakah kalian berdua bisa membantu aku untuk lapor pada polisi? Kepala rumah sakit di sini adalah seorang pervert yang menyiksa gadis muda. Aku adalah salah satu gadis yang disiksanya, aku tidak sakit jiwa
Tuan. Tetapi mereka memperlakukan aku seperti seorang gadis yang sedang sakit jiwa.” Ivona memohon pertolongan pada kedua laki-laki tersebut.
“Hai…, kamu diam. Apakah ada orang gila mengaku kalau dia sedang menderita sakit jiwa. Ayo Kembali ke bangsal, nanti keluargamu akan menyalahkan kami.” Teriak satpam tersebut pada Ivona.
“Rico…, sekarang kamu telpon polisi seperti keinginan gadis ini.” Seru laki-laki yang memegang payung di tangannya.
Akhirnya terjadi perdebatan antara kedua laki-laki itu dan satpam rumah sakit.
“Tuan…,” belum selesai Ivona melanjutkan perkataannya, laki-laki yang dia panggil sudah berjalan mendekatinya.
Laki-laki itu tersenyum pada Ivona, kemudian mengulurkan ujung jarinya dengan mesra dan menunjuk kening Ivona. Ivona agak terkejut dengan sikap laki-laki itu, tetapi dia adalah jalannya hari ini untuk bisa keluar dari rumah sakit jiwa tersebut.
"Kenapa kok saat ini kamu manggil tuan?" sapa laki-laki itu dengan tersenyum lembut.
"Ayo, panggil kakak dong.” Lanjutnya lagi.
Ivona menyadari bahwa saat ini dirinya sedang dipermainkan oleh laki-laki itu, dia juga merasakan aura kehangatan yang mengalir dari ujung jari itu, ke keningnya yang terasa dingin terkena air hujan. Ivona agak memundurkan badannya, tetapi laki-laki itu malah mengusap tangannya ke mukanya.
Tidak hanya Ivona, bahkan asisten Alexander Kavindra, yaitu Rico yang saat ini juga berada di tempat itu, juga merasa terkejut. Tuan Alexander yang sudah dan selalu berusaha menahan Hasrat laki-lakinya selama lebih dari 20
tahun, saat ini bisa-bisanya mempermainkan seorang gadis gila. Tetapi kemudian Ivona malah membalas senyum pada Alexander, karena dari laki-laki itu dia merasakan akan mendapatkan jalan kebebasan dari rumah sakit jiwa tersebut. Kemudian Ivona memegang jari Alexander yang berada di keningnya, kemudian mencium jari tersebut.
"Kak, Ivona ingin pergi dari tempat ini. Apakah kakak saat ini bisa membawa aku pergi?" tanya Ivona dengan memberikan senyum manis pada Alexander.
Alexander merasa bahwa Wanita di depannya bukan Wanita yang sedang mengalami sakit jiwa.
“Rico…, coba kamu hubungi polisi sekarang juga. Suruh mereka untuk melakukan penyelidikan di rumah sakit ini.” Alexander meminta anak buahnya melapor polisi.
“Tuan…, gadis ini pasien kami. Jangan lapor polisi Tuan.” Satpam rumah sakit berusaha menahan keinginan Alexander.
“Segera lakukan perintahku Rico.” Teriaknya lagi-lagi.
Kemudian Rico segera melakukan perintah Tuannya, dia menelpon polisi untuk segera datang ke rumah sakit jiwa ini. Ivona merasa lega dalam hatinya.
************************************************************************
Polisi yang dihubungi Rico sudah melakukan perjalanan menuju arah rumah sakit. Karena merasa urusannya menolong Wanita itu sudah selesai, Alexander segera mengajak Rico untuk membawa anjing Alaskan tersebut pulang ke rumah. Melihat situasi itu, Ivona merasa khawatir. Polisi belum datang, tetapi Tuan yang menolongnya sudah akan pergi dari situ. Para satpam akan dengan mudah meyakinkan polisi jika dia memang seorang gadis yang sedang menderita sakit jiwa.
“Max…, sini ke sisiku.” Ivona memanggil anjing Alaskan untul datang ke sisinya.
Max langsung menurut pada panggilan Ivona, dia langsung mendatangi gadis itu, kemudian Max berbaring di hadapan Ivona dengan patuh, kemudian Ivona menggosok perut Max dengan penuh kelembutan.
“Max…., ayo kita pulang.” Rico asisten Alexander memanggil anjing Alaskan itu.
Tetapi Max tetap berbaring di sekitar kaki Ivona, dan merasa enggan untuk meninggalkan gadis itu. Setelah berpikir sebentar, Rico sepertinya menyadari jika anjing Alaskan yang dipelihara tuannya adalah peliharaan gadis ini.
“Tuan…, si Max tidak mau ikut kita. Sepertinya gadis itu sebelumnya adalah Tuan dari Max. Apa yang harus kita lakukan Tuan.” Tanya Rico pada Alexander.
“Cuman ngurus hal seperti itu saja tidak becus kamu Rico. Apa harus aku yang membawa Max pergi.” Seru Alexander.
Kemudian Rico Kembali mendekati Max dan Ivona, tetapi Max hanya mengangkat wajahnya saja, dia tidak bersedia. Dia tetap mendekat pada Ivona. Melihat hal tersebut, Alexander yang sudah merasa kedinginan karena air hujan, dia mendekat ke arah Ivona dan Max. Di samping Max dan Ivona, Alexander berdiri kemudian tangannya akan meraih Max.
Ivona secara reflek menengadahkan kepala melihat Alexander, dan Alexander melihat muka Ivona yang tampak tulus. Wajahnya menunjukkan sikap yang terlihat patuh, dengan sorot matanya tampak murni. Melihat Alexander yang tampak diam, Ivona mencoba mengambil hatinya.
"Jangan rebut anjing Ivona, Kak. Jika kakak mau, kenapa tidak sama yang memiliki Max juga?" ucap Ivona dengan berani sambil memandang ke arah Alexander dengan senyum ketulusan.
Alexander terdiam sebentar, tapi kemudian dia berdiri kembali.
“Rico…, ajak sekalian gadis itu bersama Max.” perintah Alexander sambil melangkah menuju ke mobil.
“Tapi Tuan…,” protes Rico yang kurang setuju untuk mengajak Ivona.
“Jangan bantah aku. Ajak gadis itu dan Max. Lumayan, di rumah perlu tambahan Asisten Rumah Tangga.” Sahut Alexander tanpa menoleh.
***********************************************************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Shenaylin..😌😌
uhuu🤭
2024-08-19
0
kutu kupret🐭🖤🐭
bener ya aku juga membaca Inova😂😆
2023-02-26
0
🍷Jihan ❄️¹⁰
nice, bagus battttt
2021-11-22
3