Alexander menjadi tidak tahu malu, dia terus menggoda dan berusaha membuat Ivona marah. Tetapi, baru saja Ivona akan membalas perkataan Allexander, ponsel Ivona tiba-tiba berbunyi. Seketika Ivona merasa kesal saat melihat screen ponsel yang menunjukkan Thomas memanggil.
"Maafkan aku Kak Alex, aku akan traktir lain kali." kata Ivona sambil membalikkan badan dan pergi meninggalkan Alex.
"*Shi**..., tunggu aku!" seru Alex meminta Ivona menunggunya. Tetapi Ivona si ratu barbar pada kehidupan sebelumnya sudah menghilang dari pandangannya. Dengan marah, Alexander segera keluar dan kembali menuju mobilnya.
Melihat kedatangan Alex, Rico langsung membukakan mobil untuknya. Dengan kesal Alex langsung duduk di kursi mobil dalan diam.
"Wah kak Alex lama ya ngobrolnya dengan kakak cantik. Kakak cantik itu sangat baik, sangat memperhatikan Evan lho kak." Tuan Muda kecil langsung nyerocos melihat kakaknya sudah masuk ke dalam mobil.
"Setahu Evan, mama setiap hari meminta kakak untuk segera menikah kan? Kenapa kak Alex tidak menikahi kakak cantik saja?" lanjutnya lagi.
Rico yang sedang mengemudikan mobil, menutup mulutnya sambil tertawa kecil mendengar ocehan Tuan Muda Kecil.
"Diam kamu Rico, kamu mentertawai apa?" seru Alex pada asistennya.
"Tidak Tuan." jawab Rico sambil kembali fokus mengemudikan mobilnya.
"Jika kak Alex menikahi kakak cantik, maka setiap hari kita semua akan bisa melihat wajahnya yang cantik." Evan terus melanjutkan promosi Ivona dengan semangat.
"Ya kak, mau ya? Nanti Evan bantu deh, bicara sama mama."
"Tidak. Diam kamu anak kecil. Kepala kakak setiap hari sudah sakit kepala menghadapi tingkahmu, apalagi mau kamu tambah lagi dengan gadis tadi. Bisa-bisa kakakmu ini kena hipertensi." seru Alex yang menakutkan Evan.
Evan jadi terdiam. dia mengingat jika dalam 1 tahun itu ada 365 hari. Sebanyak itu pula kakaknya selalu menatapnya dengan kesal dan marah, seakan-akan ingin membuangnya. Sedangkan Alex langsung menyandarkan kepalanya di atas kursi mobil, dan mulai memejamkan matanya.
**********************************************
"Kak Thom.., Ivona itu selalu seperti ini. Dia tidak bisa merubah kelakuannya. Padahal sudah ada di dekat sini, tetapi sangat suka melihat orang lain menunggunya." Vaya mengomel pada kakak ketiganya.
"Sabarlah dulu, kita tunggu sebentar lagi. Siapa tahu ada kendala di luar restoran." Thomas mencoba menenangkan Vaya.
"Tapi mau sampai kapan, sudah satu jam lebih lho kak. Kita menunggu dia disini, Vaya sudah keburu lapar."
Thomas sebenarnya jengkel dengan sikap Vaya, tetapi dia tidka bisa merubah sikapnya menjadi keras padanya. Karena pada kehidupan sebelumnya, dia yang paling suka menuruti keinginan anak itu. Setelah beberapa saat mereka menunggu Ivona belum juga datang, Thomas hendak keluar untuk mencarinya.
"Kamu tunggu dulu disini sendiri ya, kakak akan coba cari Ivona di luar restoran, siapa tahu dia nyasar."
Baru saja Thomas mau melangkahkan kaki akan keluar mencari Ivona, dia tersenyum melihat adiknya itu berjalan masuk.
"Kenapa lama sekali baru sampai, ada halangan?" tanya Thomas dengan lembut kemudian dia duduk kembali.
"Iya kak, sedikit ada gangguan. Maaf, kalian menungguku terlalu lama." Ivona langsung duduk di sebelahnya Vaya.
'"Sudah seperti artis saja ya, baru jalan banyak fans yang mengganggu." Vaya lagi-lagi menyindir.
Ivona tidak menanggapi sindiran dari Vaya, Thomas berusaha menengahi mereka, kemudian mengajak mereka segera makan.
"Sudah, ayo segera kita makan. Makanan sudah dihidangkan dari tadi, keburu dingin."
Tanpa menunggu lama, Ivona langsung mengambil nasi dan lauk. Dia langsung menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Kak Thom, masak Ivona tidak sopan. Harusnya kan kakak ketiga dulu yang ambil nasi, masak dia makan duluan."
"Tidak apa-apa Vaya, Ivona kan dari siang belum makan apapun. Tadi siang kita melakukan pindahan kamar Ivona. iya kan Iv." dengan lembut Thomas bertanya pada Ivona.
Merasa malas berurusan dengan Vaya, Ivona menganggukkan kepala. Dia tetap cuek melanjutkan makan malamnya, karena memang betul-betul merasa sangat lapar.
"Ivona.., kakak sudah mengurus proses perpindahan sekolah kamu. Jadi, nanti kamu tinggal datang ke sekolah untuk melaporkan diri kesana." tiba-tiba Thomas memberi tahu tentang pindah sekolah Ivona.
Ivona menghentikan makannya, kemudian memandang ke arah Thomas.
"Benarkah kak? Ke sekolah mana jadinya Ivona dipindahkan?" Ivona bertanya pada kakak ketiganya.
"SMA Dharma Nusa, sudah kita atur semuanya. Kamu tinggal masuk saja."
"Jadi Ivona satu sekolah dengan Vaya kak? Kenapa begitu?" Vaya merasa sangat keberatan, dan dia tidak terima jika Ivona satu sekolah dengannya.
"Kenapa Ivona tidak disekolahkan di tempat lain? Akan sangat susah nanti Ivona mengikuti pelajarannya."
"Hadeh, bagaimana nanti, kalau teman-teman dan juga guru-guru sampai tahu bahwa ivona adalah Nona Besar keluarga Iswara yang sesungguhnya, mau ditaruh dimana mukaku?"
"Bisa-bisa aku akan menjadi bahan tertawaan di sekolah." Vaya berpikir sendiri membayangkan jika Ivnona jadi masuk satu sekolah dengannya.
"Ada apa denganmu Vaya? Apakah kamu keberatan jika Ivona satu sekolah denganmu?"
"Bukannya begitu kak, tetapi Vaya hanya mengkhawatirkan kalau Ivona tidak dapat mengikuti ketertinggalan pelajaran." Vaya mencari alasan pada Thomas.
"Apakah bukan karena alasan yang lain, kenapa Ivona tidak boleh satu sekolah denganmu?" dengan tegas Thomas mengulang kembali pertanyaan pada Vaya.
Kelemah lembutan di mata Thomas perlahan menjadi dingin, dan membuat Vaya merasa iri dan sedih. Vaya merasa sepanjang hari ini, kakak ketiga tidak sekalipun memihaknya. Bahkan dia menganggap Ivona seperti harta berharga.
"Aku oke-oke saja, mau dimasukkan ke sekolah manapun tidak merasa ada masalah. Terserah kamu saja yang atur," kata Ivona dengan santai.
Thomas dan Vaya tidak mengetahui latar belakang Ivona saat ini. Di kehidupan sebelumnya, sebelum masuk ke dalam buku, kedua orang tua Ivona berstatus cerai. Perceraian tersebut menjadikan Ivona sebelum usia 18 tahun, dia hidup bersama ibunya yang merupakan seorang ilmuwan terkenal. Sedangkan Ivona sendiri telah lulus kuliah kelas junior (sekolah untuk anak berbakat) di usia 14 tahun. Hingga akhirnya sang Ibu meninggal dunia, barulah dia kembali ke perusahaan sang Ayah dan menjadi pewaris perusahaan.
Pemahaman Ivona sendiri tentang SMA kurang jelas, karena dia hanya belajar selama 3 bulan. Tetapi bakat genius yang dia warisi dari ibunya, dia tidak menganggap itu sebagai masalah.
"Apa? Kamu merasa oke-oke saja?" tanya Vaya. Vaya merasa konyol, akhirnya dia bermaksud untuk meremehkan Ivona.
"Kamu yakin bisa mengejar semua materinya?"
Ivona heran, karena melihat statusnya di kehidupan lampau, ini pertama kalinyadia mendengar ada yang bertanya seperti ini padanya, tatapannya tertuju pada Vaya. Sambil tersenyum manis, tak lama kemudian, dia menjilat bibir merahnya dan berkata.
"Akan aku usahakan deh?"
Thomas tersenyum melihat perdebatan antara Ivona dan Vaya, tetapi dia memposisikan dirinya sebagai pengamat. Selama tidak ada yang membahayakan pada diri Ivona, dia tidak akan mencampuri keduanya.
*******************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Shenaylin..😌😌
🤭🤭
2024-08-20
0
Shenaylin..😌😌
🤭🤭🤭
2024-08-20
0
Ida Blado
ivona kok jadi menikmati kebaikan thomas,gk ada ingin bls perbuatan mereka gitu yg udah bikin ivona yg asli mati,,,,
2021-11-20
7