Vaya menjerit kesakitan saat tubuhnya menyentuh dinding di luar kamar Ivona. Akhirnya dia jatuh terduduk di lantai. Dengan berani dan tatapan sadis, Ivona berdiri di depannya dengan sinisnya.
“Aduh, kamu gila Ivona, kamu menyakiti aku. Hentikan!” teriak Vaya sambil menjerit kesakitan.
Mendengar teriakan dan jeritan Vaya, malah menjadikan Ivona menjadi lebih beringas. Dia berjalan mendekat ke Vaya, kemudian tangannya memegang krah baju Ivona, dan Ivona belum sampai berdiri, kerah bajunya ditarik dan diseret ke tepi tangga.
“Tolong.., tolong aku, Ivona Kembali menjadi gila!” jerit ketakutan Vaya memenuhi isi rumah keluarga Iswara.
“Kak Thom, tolong Vaya kak. Ivona semakin menjadi gilanya. Tolong kak!” dengan wajah pucat pasi, Vaya terus meminta pertolongan pada kakak ketiganya.
Para pembantu yang sedang berada di tempatnya masing-masing berlarian ke arah sumber suara. Mereka terkejut melihat keadaan Vaya yang sedang diseret Ivona di atas tangga lantai atas. Mereka berlarian naik ke atas tangga, untuk menolong Nona Vaya.
“Berhenti kalian disitu, atau Nona kalian aku lemparkan dari atas sini!” dengan berani Ivona meneriaki para pembantu.
“Dasar tidak tahu diuntung, kamu berani menyakiti Nona Vaya. Lepaskan Nona, dasar perempuan gila. Kamu itu seperti kacang yang lupa sama kulitnya. Lepaskan!” teriak Bi Sami.
Bi Sami adalah pembantu yang memiliki kekuasaan di rumah itu, dan sudah bertahun-tahun dia melayani Vaya. Saat Bi Sami melihat Thomas masuk ke dalam dari luar rumah, dia semakin menjadi memarahi Ivona.
Lepaskan Non Vaya, jangan sakiti dia!” sekali lagi Bi Sami meneriaki Ivona.
Melihat ekspresi Bi Sami, rasa muak muncul di hati Ivona. “Ha..ha.., ha.., bodoh sekali kamu Ivona, Ivona. Bisa-bisanya seorang pembantu saja berani menghinamu.” Ivona mentertawakan Ivona asli pemilik tubuhnya.
Dia mengingat kembali jika semalam di hotel, dia bermimpi jika Ivona pemilik tubuh asli ini meninggal dengan tragis di jalanan. Ivona asli hidup bertahun-tahun di jalanan, dengan kondisi yang sangat mengenaskan. Dia putri asli dari keluarga Iswara, yang harusnya hidup dengan gelimang harta, harus menjalani kehidupan seperti itu. Ivona saat ini, yang hidup sebagai seorang gadis barbar, yang terkenal tidak memiliki sedikit belas kasihan, sekarang merasa depresi merasakan penderitaan Ivona asli, dan berempati untuk mengembalikan kejayaan Ivona di keluarga ini.
“Jangan kurang ajar kamu Ivona. Lepaskan aku, jika kamu berani mendorongku. Maka kamu akan hancur Ivona. Bi Sami, tolong aku!” terdengar kembali suara Vaya yang seperti menantang keberanian Ivona.
Ivona tersenyum sinis mendengar perkataan Vaya, dia mengabaikan Bi Sami, dia berkata dengan nada menakutkan.
"Jangankan berani mendorongmu, kalau aku lagi tidak senang, aku bahkan bisa menguburmu hidup-hidup."
Begitu selesai mengatakannya, para pembantu langsung mendengar suara teriakan Vaya, lutut belakangnya ditendang Ivona ke depan, dan dia terjatuh dari tangga.
“Aaaaa, aduh, sakit.”
Melihat Vaya, jatuh dari lantai atas karena didorong Ivona, dan saat ini terduduk di lantai bawah, para pembantu ketakutan setengah mati.
“Kak Thom…, tolong Vaya Kak. Sakit kak.., Ivona kembali gila kak.” Dengan wajah pucat Vaya berteriak keras memanggil Thomas.
Melihat Ivona berdiri sendiri di atas tangga, tanpa adanya sandera mata Bi Sami jadi berbinar. Dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk mengusir Ivona dari rumah ini. Vaya pasti akan mengingat jasanya,
dan juga tidak perlu lagi membuat para tuan muda merasa sebal.
“Tangkap perempuan itu, kita beri hukuman pada dia. Dia telah menyakiti Non Vaya!” teriak Bi Sami sambil menunjuk ke arah Ivona.
Beberapa pembantu berlarian mendatangi Ivona. Dengan buah pikirannya tadi, Bi Sami menjadi lebih berani. Dia kemudian menaiki tangga, dan berusaha mendekat pada Ivona. Di depan Ivona, Bi Sami mengangkat tangannya, dia bermaksud untuk memberikan tamparan di wajah Ivona.
“Ini pembantu yang lupa dimana posisinya, lihat saja. Aku akan memberi dia pelajaran, dan menyadarkan dimana posisi seharusnya dia berada.” Ivona melirik tangan yang diangkat ke depannya itu.
Secepat kilat, Ivona mengangkat tangannya yang kecil dan putih mulus, dan langsung menahan tangan besar milik Bi Sami. Dengan tatapan sengit, dan sudut bibir yang terangkat sedikit menjadikan wajah Ivona berubah menjadi bengis dan kejam. Bi Sami merasa terkejut, dan sedikit takut dengan perubahan pada Ivona. Tetapi mengingat kembali apa yang akan dia dapatkan dan diperoleh jika berhasil menangkap Ivona, Bi Sami menepiskan rasa takutnya itu.
“Lepaskan tanganku, dasar Wanita gila. Apa kamu tidak mengingat bagaimana posisimu di rumah ini?”
“Lepaskan atau ….”
“Plak.” Semua orang menengok ke arah tangga.
“Aduh.” Teriak Bi Sami kesakitan.
Tiba-tiba Ivona memberikan tamparan yang sangat pedas di wajah Bi Sami, dan suara tamparan itu terdengar sangat nyaring. Bi Sami berteriak kesakitan dan mengelus wajahnya. Tamparan itu terasa sangat menyakitkan dan panas di wajahnya. Tanda merah berupa tangan yang kecil tercetak jelas di wajah Bi Sami.
Para pembantu dan Vaya tercengang melihat Bi Sami ditampar dengan keras oleh Ivona. Mendengar teriakan Bi Sami, dia membayangkan betapa sakit yang dialami.
“Kamu mengatakan bagaimana posisiku di rumah keluarga ini. Aku adalah putri dan juga nona di keluarga Iswara. Tidak tahukah kamu, siapa perempuan itu.” Ivona menunjuk Vaya yang masih terduduk di lantai.
Mendengar suara keras Ivona, Bi Sami terkejut dan terdiam. Rasa takut kembali menyergapnya.
"Kamu tidak ingat siapa posisimu di keluarga ini. Kamu adalah pembantu rumah ini, jangan coba-coba kamu mencari muka di rumah ini. Apakah kamu sudah lupa diri, apa hakmu berbicara di sini?"
Suara Ivona yang terdengar malas dalam memarahi Bi Sami, terdengar saat mengerikan dan terdengar nyaring di seluruh rumah ini. Para pembantu lainnya akhirnya berjalan mundur, dan membiarkan Bi Sami sendirian.
Mendengar suara teriakan dan nyaring di ruang depan, Thomas keluar dan berjalan menuju kesitu. Dia sangat terkejut melihat Ivona yang berdiri di atas tangga dan sedang memarahi Bi Sami. Dia merasa tidak mengenali Ivona adiknya yang dulu, saat ini dia merasa melihat orang lain berada di dalam tubuh adiknya.
"Iv, kamu..." terdengar suara Thomas dari belakang.
Ivona melihat ke arah Thomas, kemudian tersenyum sinis dan tidak menjawab panggilan kakaknya itu. Keadaan berbeda terjadi di diri Vaya. Melihat kakak ketiganya muncul, muncul cara untuk memperngaruhi kakaknya agar
berpihak pada dirinya.
"Kak Thom, tanganku sakit banget. Tanganku sudah disakiti sama Ivona." Seru Vaya sambil menangis tersedu.
Thomas melihat kea rah Vaya. Dan dia baru tahu jika saat ini Vaya yang berada di lantai.
“Cepat panggilkan dokter untuk memeriksa Vaya. Kenapa semua malah diam dan bengong!”
********************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Ryskha Priska
thomas gila
2022-01-19
0
ayam receh
wahhh
2021-12-01
1
Cherry
yah jgn mau ditindas. pembantu pun gk tau diri
2021-11-22
6