Para pembantu kemudian berlarian untuk memanggil dokter untuk memerikasa Vaya. Karena khawatir dengan yang terjadi selanjutnya pada Ivona, maka Thomas bersikap baik pada Vaya. Dia tidak dapat memikirkan bagaimana Vaya akan berusaha lebih keras lagi dalam mencelakai Ivona. Sedangkan Vaya mengira Thomas sedang membelanya, dia menatap Ivona dan diam-diam mengejeknya. Ivona tetap bersikap tenang, dan menatap Vaya dengan senyuman sinis.
"Ada apa dengan kak Thom, kenapa hari ini kakak begitu dingin sikapnya terhadapku." Vaya membatin sendiri tentang sikap Thomas terhadapnya. Vaya berusaha untuk menjatuhkan Ivona di depan Thomas, dia terus mengadu sambil menangis. Selama ini kakaknya akan selalu berada di pihaknya.
"Hiks..., Kak Thom..., sakit kak. Tangan Vaya terluka, beberapa hari lagi Vaya akan mengikuti lomba piano. Semua karena Ivona. Tolong Vaya kak..hiks..."
Vaya memang pemain piano yang handal, dan sangat terkenal keahliannya dalam memainkan alat musik tersebut. Keluarga Iswara melatih Vaya dengan sangat detail, dan mendatangkan seorang komposer handal untul melatihnya sejak dia masih kecil. Dalam usianya yang baru 19 tahun,Vaya sudah mengadakan konser tur piano, dan dia merupakan gadis genius yang paling dikagumi dalam lingkaran tersebut.
"Kenapa kalian semua diam, cepat bawa Non Vaya naik ke kamarnya." teriak Thomas mengagetkan para pelayan.
"Iya, baik Tuan."
Para pelayan langsung berdiri dan dengan cepat mendatangi Vaya yang masih terduduk di lantai bawah, sambil menangis maraung-raung. Mereka merasa heran karena sikap Thomas kepada Nona Besar agak berbeda hari ini, tapi mereka segera menepis pemikiran itu, para Tuan Muda adalah orang yang paling menyayangi Nona Besar. Mereka segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Thomas.
"Mari Non, kami antar ke kamar untuk istirahat." Vaya dipapah bangun oleh pelayan.
"Ah sakit, jangan keras-keras memegangku. Aaaw......Kak Thom..!" teriak Vaya kesakitan, dia memanggil Thomas. Tetapi kakak ketiganya itu tidak sedikitpun merespon panggilannnya, menolehpun tidak, sehingga menjadikan Vaya merasa tidak senang. Dia heran karena biasanya kakak ketiga sangat menyayangi dan selalu menuruti apa yang dia inginkan, dan pasti akan menggendongnya naik ke lantai atas. Tetapi kali ini, kakanya bersikap acuh dan terkesan membiarkannya.
Pada saat ini, dia mendengar suara ribut Bi Sami yang mengadu pada kakak ketiganya. "Tuan Muda, Ivona benar-benar kejam, dia pasti sengaja melakukan itu pada Nona Besar!"
"Semua pelayan melihatnya, bagaimana si gila ini menganiaya Nona Besar."
Mendengar kalimat yang diucapkan Bi Sami pada kakak ketiganya, membuat hati Vaya merasa lebih baik.
"Pasti kak Thomas pasti akan membantuku memberi pelajaran pada Ivona," batin Vaya sambil tersenyum.
Hatinya menjadi terasa sangat nyaman dan senang, kemudian dengan dipapah pelayan dia beranjak naik ke lantai atas.
***************************************
Namun pada saat ini, pemandangan yang terjadi di ruang tamu lantai bawah, bukanlah seperti yang berada dalam bayangan Vaya.
Bi Sami terduduk di lantai, dia berpura-pura seperti disiksa oleh Ivona. "Aduh, Tuan Muda, si gila ini mau mematahkan tangan saya. Tolong bantu saya Tuan Muda."
Ivona menjilat bibirnya yang tersenyum, kemudian dia memegang tangan Bi Sami kemudian memelintir tangan tersebut.
"Aaaawwww, sakiiit, hentikan!" Bi Sami berteriak kesakitan.
"Mau patah tangan? Gampang kok. Aku bisa mengabulkan keinginanmu." tanya Ivona dengan tersenyum Smirk pada Bi Sami, dan diakhiri dengan Ivona langsung menggenggam pergelangan tangan Bi Sami. Setelah itu, dengan pelan Ivona mematahkannya.
"Aaawwww, sakit..., tolong Bi Sami Tuan Muda... Tolongggggg, tangan saya dipatahkan sama si gila ini!"
Mendengar jerit dan teriakan kesakitan Bi Sami, Thomas menoleh ke arah mereka. Dengan pandangan heran, Thomas memandangi Ivona yang seolah-olah hari ini dia berubah menjadi orang lain. Ivona yang biasanya lemah, hari ini dia melihatnya menjadi gadis yang berani menindas orang yang menyakitinya. Mendengar panggilan Bi Sami pada adik kandungnya Ivona, hati Thomas merasa sakit hati dan perlahan muncul amarah di hatinya. Dia tahu bagaimana kebaikan Bi Sami pada Vaya pada kehidupan sebelumnya. Dia selalu setia dan memperhatikan Vaya dengan sangat baik.
"Bi Sami, tadi kamu panggil Ivona dengan panggilan apa?" teriak Thomas tiba-tiba dengan suara keras.
"Apakah kamu lupa atau tidak tahu, dengan siapa kamu berbicara?" lanjut Thomas masih dengan suara keras.
Bi Sami terkejut, dan tidak menyangka Thomas akan menanyakan pertanyaan ini padanya. Dia mengira Thomas sedikit lupa.
"Ivona mendorong Nona Besar dari atas tangga Tuan Muda, Bi Sami dan para pelayan lain akan menahan si gil..." tapi belum sampai Bi Sami selesai berbicara, suara Thomas menggelegar menyela perkataannya.
"Ingat posisimu dalam keluarga Iswara. Kamu itu cuma seorang pelayan, beraninya manggil adikku dengan sebutan 'orang gila'? Dan juga kalian semua, ingat siapa kalian semua dalam keluarga ini?" dengan mata merah karena marah, Thomas mengacungkan jari telunjuknya ke para pelayan termasuk Bi Sami.
"Maafkan saya Tuan." ucap Bi Sami lirih.
"Sekali lagi aku mendengar kamu dan kalian semua memperlakukan Nona Muda Ivona dengan tidak baik. Aku akan pecat kalian semua."
Bi Sami dan para pelayan menundukkan kepala, mereka yang dari tadi menghina Ivona, saat ini merasa takut menyaksikan sendiri kemarahan Thomas yang membela Ivona. Di sisi lain, mendengar perkataan yang diucapkan Thomas, Ivona sendiri juga merasa aneh. Karena dari novel yang dia baca, berdasarkan setting tokoh di dalamnya, Thomas seharusnya memihak Vaya dan menyiksa dirinya. Tetapi kenapa saat ini, dia melihat Thomas berperilaku sebaliknya.
"Sudahlah kamu tidak perlu berpura-pura lagi, aku tidak akan mengadukan dan menceritakan perbuatan Vaya terhadapku, lagian dia memang didorong olehku dari atas sana." dengan acuh Ivona berbicara pada Bi Sami sambil wajahnya menengok ke belakang.
Bi Sami tidak menjawab perkataan yang disampaikan Ivona. Para pelayan yang lain sulit memercayainya, mereka saling berpandangan dan berbisik satu dengan lainnya.
"Apa Ivona sudah tidak waras hari ini? Harusnya dia diam tidak mengaku pada Tuan Muda, tetapi malah bisa-bisanya dia mengaku!
Mendengar ucapan adik kandungnya Ivona, Thomas diam mematung, dia tahu kenapa Ivona berkata demikian. Di dalam kehidupan sebelumnya, dia dan kakak lainnya memperlakukan gadis itu dengan sangat tidak baik. Di dalam rumah ini, hanya Tuan Besar Iswara satu-satunya orang yang baik pada Ivona. Tuan Besar Iswara tidak segan untuk memberi hukuman padanya jika berani menyakiti Ivona. Bahkan, saat dia dan Rio membela Vaya dan memaki Ivona, Tuan Besar Iswara akan menghukum mereka sesuai tata krama keluarga. Sampai pernah terjadi, dimanaVaya tidak diizinkan untuk memasuki kediaman besar.
Namun, setahun kemudian Tuan Besar Iswara meninggal dunia karena sakit. Mengingat kembali kehidupan yang dia jalani pada masa sebelumnya, mata Thomas jadi memerah, karena dia mengingat betapa jahatnya dia dan Rio Iswara memperlakukan adik kandungnya yang seharusnya mereka bela dan lindungi. Thomas mengira, hari ini Ivona berkata demikian, karena dia sudah tidak ingin menetap di rumah ini lagi. Dia berharap jika Ivona tidak jadi pergi meninggalkan rumah ini.
"Ivona adikku, tetaplah berada di rumah ini. Ini rumah kita." terdengar suara Thomas berusaha menahan agar Ivona tidak pergi dari rumah keluarga.
"Apa kamu tidak mau tinggal lagi di sini karena orang-orang ini?" tangan Thomas langsung menunjuk pada para pelayan, yang langsung mengejutkan mereka.
Para pelayan tidak ada yang berani berbicara apa-apa, mereka diam sambil menundukkan kepala.
*******************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
achaaa_AlisyaJeslynchaniago
RAMEIN🔥🔥🔥
2021-11-23
3
Ida Blado
iyuuhh jgn mau ivona
2021-11-20
2
AYU DANI
helow kaena dirimu juga keles
2021-11-19
3