Melihat kamar yang ditempati adik kandungnya selama ini, Thomas merasa prihatin dan sangat kasihan pada Ivona. Meskipun dia tahu jika Vaya selalu mendapatkan pelayanan khusus, tetapi Thomas selalu mengira jika Vaya dan Ivona akan punya pelayanan dan kebutuhan yang sama. Mereka berdua adalah kakak beradik, sama-sama memiliki jenis kelamin perempuan. Tapi tak disangka akan ada perbedaan sebesar ini yang diterima Vaya dan Ivona. Mengingat dirinya pada masa sebelumnya, Thomas merasa malu pada Ivona.
"Ivona.., selama ini kamu tinggal di kamar seperti ini? Kenapa kamu tidak menyampaikan hal ini pada kakak?" dengan penuh keprihatinan Thomas bertanya pada Ivona.
"Maksud kakak bagaimana? Apakah kakak tidak pernah tahu, selama ini apa yang Ivona alami. Aku pikir, selama ini kakak-kakakku pada terpejam semua matanya." dengan sarkasme Ivona menjawab pertanyaan Thomas, dan dia langsung masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Thomas merasa tertohok hatinya, mendengarkan jawaban dari Ivona. Akhirnya Thomas diam, dan mengikuti Ivona masuk ke dalam kamar.
"Aduh," saat Thomas membereskan buku-buku Ivona, dia mendengar adiknya berteriak. Dia langsung membalikkan badannya dan menghampiri Ivona.
"Kenapa Ivona, kamu terluka?" tanya Thomas khawatir.
"Tidak apa-apa kak, ini hanya terjepit pengait tas pakaian." mendengar jawaban Ivona, Thomas langsung meraih tangan adiknya, kemudian dengan penuh perhatian dia meniup jari adiknya yang tampak merah. Ivona mau menarik tangannya, tetapi Thomas memegangnya dengan erat.
"Sudah lebih baik kan? Atau kamu duduk dulu saja Ivona, biar kakak yang membereskan semua perlengkapan kamu!"
"Barang Ivona tidak banyak kok kak, hanya buku dan pakaian-pakaian ini. Kebetulan tadi sudah Ivona bereskan, jadi sekarang tinggal memindahkan ke kamar di samping kakak."
"Ya sudah, kalau begitu kakak saja yang bawa. Kamu jalan duluan,"
"Bukunya Ivona saja yang bawa kak, kasihan masak kak Thomas sendiri yang mengangkat semuanya."
"Tidak apa-apa Ivona. Kakak ini kan laki-laki. Ayo kita jalan, jujur kakak merasa pengap berada di kamarmu ini."
Akhirnya Ivona tidak membawa apa-apa, karena semua sudah dibawa oleh kakaknya. Dia mengikuti langkah Thomas untuk segera berpindah kamar.
*******************************************
Setelah memeriksa Vaya, dan tidak ada yang serius dari kesehatannya Dokter berpamitan pulang dan meninggalkan obat untuk dikonsumsi Vaya.
"Jadi Non, ini obatnya diminum 3 kali sehari, dan usahakan makan dulu sebelum Non Vaya mengkonsumsi obat."
"Iya Dok." Vaya menjawab singkat.
"Baiklah Non, saya akan pulang dulu. Selamat beristirahat, dan jangan lupa obatnya diminum." Dokter pamitan, dan Vaya hanya menganggukkan kepala. Dokter kemudian meninggalkan kamar gadis itu.
"Bi Samiiii....." terdengar teriakan Vaya memanggil Bi Sami. Seorang pelayan berlari menuju kamar Vaya. karena dia tahu bagaimana tabiat Vaya. Dia akan mengamuk jika ada yang berani mengabaikannya.
"Iya Non, apa yang bisa bibi bantu?"
"Mana Bi Sami? Aku butuh Bi Sami saat ini." Vaya langsung menanyakan Bi Sami pada pelayan itu.
"Maaf Non, Bi Sami sudah pergi dan tidak akan kembali lagi ke rumah ini."
"Apa?? Kenapa kamu berbicara seperti itu. Kemana Bi Sami?" Vaya terkejut mendengar jawaban tersebut.
"Iya Non, Bi Sami telah diusir oleh Tuan Muda ketiga, karena Bi Sami memanggil Ivona dengan panggilan "si gila." Tuan Muda ketiga menjadi marah, dan memecat serta mengusir Bi Sami dari rumah ini. Sekarang, saya yang akan melayani Nona Besar." pelayan itu mencoba mengambil hati Vaya.
"Kenapa semua bisa berubah begitu cepat? Aku akan minum obat, siapkan semuanya!" dengan muka merah menahan marah, Vaya meminta pelayan itu untuk melayaninya minum obat.
Pelayan itu membaca petunjuk yang ada di plastik pembungkus, kemudian sebelum menyiapkannya, dia memberi tahu Vaya untuk makan dulu.
"Non.., di petunjukknya, Nona Besar harus makan dulu. Baru bisa mengkonsumsi obatnya. Saya siapkan makan dulu ya Non?"
"Tidak, aku lagi malas makan. Hatiku lagi tidak senang, seleraku hilang. Cepat bawa kesini obatnya!"
Pelayan itu menuruti apa yang diperintahkan Vaya, dengan sabar dia melayani Vaya sampai obat diminum oleh gadis itu.
"Non tidak perlu khawatir. Tuan Muda ketiga paling hanya untuk menjaga Tuan Besar. Karena kata dikter, kesehatan Tuan Besar tahun ini mulai memburuk, jadi Tuan Muda tidak mau beradu mulut pada Tuan besar." pelayan itu mencoba menenangkan Vaya.
"Apakah begitu Bi?"
"Iya Non, jadi Tuan Muda bersabar dengan apa yang dilakukan Ivona. Karena tidak mau ada keributan."
Vaya terdiam sebentar, mencoba menerima apa yang disampaikan oleh pelayan itu.
"Dan Nona bisa memanfaatkan kesempatan besok. Kan bebeberapa hari lagi, Tuan Besar akan ulang tahun. Nona Besar harus bisa memanfaatkannya, buat hati Tuan Besar bahagia dan terkesan dengan sikap Non."
"Okay, nanti bantu saya Bi, untuk mengambil hati kakek."
"Baik Non, Bibi janji akan membantu Non."
*********************************************
Thomas membantu Ivona menata barang-barang di kamarnya yang baru. Karena Ivona tidak memiliki banyak barang, maka tidak sampai satu jam semua barang sudah tertata dengan rapi. Bahkan Thomas mengambil beberapa hiasan dinding dari dalam kamarnya, dan menempelkan di dinding kamar adiknya. Semua mereka lakukan berdua, tanpa meminta bantuan dari pelayan di rumah ini.
"Terima kasih kak Thomas, kakak sudah membantu Ivona memindahkan barang. Bahkan kakak juga mempercantik kamar ini." kata Ivona yang merasa puas dengan kamarnya saat ini.
Senyuman manis dari tadi menghiasi mulutnya, dan Thomas mengakui ternyata adiknya sangat cantik.
"Tidak apa-apa Iv.., sudah tugas kakak membantu adiknya yang sedang kerepotan. Kalau ada apa-apa, hubungi kakak ya, nanti kakak pasti akan membantu Ivona."
"Baik kak, sekali lagi terima kasih. Nanti Ivona akan hubungi kak Thomas, jika butuh bantuan."
"Dari tadi kita sudah bekerja keras. Kamu merasa lapar tidak? Biar kakak sampaikan pada pelayan untuk menyiapkan makanan untukmu. Kamu ingin makan apa?"
"Tidak perlu kak. Nanti Ivona akan cari sendiri kalau sudah merasa lapar."
"Benar apa yang kamu katakan Iv?"
Ivona menganggukkan kepalanya.
'Ya sudah, jika begitu kakak keluar dulu ya. Istirahatlah!"
"Baik Kak."
Thomas segera keluar dari kamar Ivona, dan saat dia mau masuk ke dalam kamarnya sendiri, seorang pelayan datang menghampirinya.
"Tuan Muda Ketiga..., untuk menu makan malam nanti, Tuan Muda ketiga ingin dimasakan menu apa?"
tanya pelayan itu.
"Masak sesuai dengan menu kesukaan Nona Besar Ivona."
Mendengar jawaban Tuan Muda Ketiga, Pelayan itu merasa sedikit canggung dan takut. Karena selama ini mereka tidak tahu, dan tidak pernah menanyakan apa yang disukai dan tidak disukai oleh Ivona. Para pelayan berpikir jika tidak ada gunanya kalau mereka menjilat seorang nona yang tidak dianggap, dan memperhatikan kesukaannya. Selama ini mereka memasak sesuai dengan selera Nona Besar.
"Tuan Muda Ketiga, sepertinya tidak ada yang disukai Nona kedua..."
Wajah Thomas berubah jadi merah menghitam, seketika amarah menguasainya. Dia teringat akan barang-barang di kamar Ivona sebelumnya.
"Apa maksud bicaramu? Apakah kamu mau aku pecat dan diusir dari rumah keluarga Iswara?"
"Ampun Tuan Muda ketiga, ampuni saya!"
"Ivona yang tidak memiliki makanan favorit, atau kamu yang sama sekali tidak pernah menganggap jika dia ada di rumah ini, dan kamu tidak pernah menganggap Nona Besar Ivona sebagai Nona keluarga Iswara?!"
Melihat kemarahan Tuan Muda Ketiga, Pelayan menjadi panik, dan langsung meminta ampun pada Thomas.
*******************************************************
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 296 Episodes
Comments
Wiji NurQoma Riyah
ivona kok malah jadi polos dan menye menye sih
2023-09-17
1
fanfan
karakter ivona.. katanya bar".. mana yang bar" ,, cuma tersenyum manis truss..
2022-01-08
1
Cherry
masih memantau
2021-11-22
5