Leon sudah mulai mengemudikan mobilnya. Sesekali ia melirik Sela yang sudah duduk di sampingnya. Wanita pekerja keras ini terlihat lebih cantik dari terakhir kali mereka bertemu.
"Maaf kemarin aku tidak bisa menjemputmu di Bandara. Akhir-akhir ini aku lebih sibuk mengurus pekerjaan di kantor." Leon memecah keheningan, sebelumnya mereka sudah sepakat untuk tidak bicara terlalu formal selama di luar kantor.
"Tidak masalah. Harusnya aku yang minta maaf karena sudah merepotkan, kamu sudah mengirimkan supir dan juga menyiapkan apartmen untuk tempat tinggalku."
"Itu sudah menjadi tanggung jawabku. Aku yang meminta agar kamu dipindahkan ke perusahaanku, jadi aku tidak mungkin lepas dari tanggung jawabku. Aku harap kamu betah tinggal di apartmen itu."
Leon masih fokus mengukur jalan, ia tidak melihat wajah Sela sudah berubah murung.
Sela tampak berfikir, sebelumnya ia betah tinggal di apartmen itu. Tapi, semenjak melihat Mark di sana suasana apartmen terasa menyeramkan. Bagaimana kalau Mark menangkapnya?
Tadi malam saja ia tidak bisa tidur nyenyak, takut tiba-tiba Mark datang dan menghabisinya tanpa belas kasih.
"Ehmm, sebenarnya tempat itu terlalu mewah untukku. Apa tidak ada tempat yang lain lagi?"
"Bukankah wanita suka kemewahan?" Leon menoleh sekilas dan tertawa. "Maksudku, di sana fasilitas dan pengamannnya lengkap jadi aman untukmu." Leon memutar stir berbelok memasuki area restoran.
"Baiklah...." pasrah Sela. "Boleh aku bertanya?" tanya Sela ragu, ia takut Leon terganggu mendengar pertanyaannya.
"Apapun yang ingin kau ketahui," jawab Leon seraya membuka sabuk pengaman.
"Kenapa ganti sekretaris? Maksudku, bukankah di sini banyak sekretaris yang lebih kompeten dibandingkan aku?"
Leon menatap wajah Sela dan berucap, "Dia pengkhianat! Berkhianat dengan cara menjual informasi penting perusahan pada rivalku. Sampai aku mengalami kerugian besar dan hampir bangkrut." Raut wajah Leon tampak murung, tangannya terkepal di stir kemudi.
Sela terkejut. "Kenapa dia tega melakukannya?"
"Karena uang! Wanita itu gila uang dan haus akan kekuasaan, dia dijanjikan mendapatkan uang banyak dan naik jabatan ketika bergabung di perusahaan lain dan ya, aku tertipu!"
Sela tidak mengira ada orang yang tega mengkhianati Leon. Padahal menurutnya pria ini sangat baik.
"Aku prihatin mendengarnya." Sela simpti seolah merasakan perasaan yang dialami Leon.
Leon tersenyum. "Semua sudah berlalu dan aku harap kau tidak pernah berpikir untuk melakukan hal yang sama."
"Tenang saja, kau bisa percaya padaku. Aku tidak akan berkhianat," jawab Sela.
Restorant seafood terlezat menjadi tempat lunch pertama Leon dan Sela. Tempat ini tidak pernah sepi pengunjung, mobil-mobil mewah pun sudah berjejer rapi. Lokasi yang strategis dan dekat dengan gedung-gedung perkantoran semakin menjadi pilihan orang banyak.
Sela dan Leon sudah duduk berhadapan, makanan yang mereka pesan sudah tersaji di atas meja.
"Sepertinya jadwal kita dalam minggu ini sangat padat, apa kau siap bekerja keras, Sela?" tanya Leon sembari menyantap makanannya.
"Apa kau meragukan aku? Aku bahkan lebih tangguh dari yang Anda pikirkan," canda Sela.
"Hmmm aku tidak salah memilihmu." Menunjuk Sela dengan garpu ditangan. Keduanya sama-sama tertawa.
Pintu yang terbuat dari kaca terbuka lebar. Dua pria berjas hitam mulai menapaki lantai restoran.
Langkah kaki Mark terhenti ketika tidak sengaja melihat Leon bercanda dengan seorang wanita. Kelopak matanya hampir tidak berkedip memandang wanita yang duduk memunggungi pintu.
"Bukankah itu Leon?" rasa penasarannya mendadak muncul. Padahal sebelumnya ia tidak pernah seperti ini. "Siapa wanita itu?"
"Mungkin dia sekretarisnya yang baru, Tuan," jawab Ozan orang yang selalu mendampingi Mark.
Mark mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum sinis. "Hmmmm menarik untuk dijadikan bahan permainan. Ozan marih kita bertaruh seperti biasa!"
"Tuan yakin?" Ozan menggelengkan kepala, heran karena Mark tidak pernah berubah, suka taruhan dan tidak akan berhenti sebelum lawannya menyerah.
"Huh, kita lihat saja, wanita mana yang sanggup menolak Mark?" Mark melangkahkan kakinya mendekati meja Leon. Suara tawa semakin jelas di telinganya hingga ia berdiri tepat di belakang wanita berambut hitam dan panjang.
"Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat. Apa aku mengganggu kalian?" Mark tersenyum mengejek Leon. Tangannya memegang sandaran kursi yang diduduki sekretaris Leon.
Leon berdecih dan menyandar di kursi. Menatap tajam pria tidak tahu malu yang selalu merebut kepunyaannya, sekretarisnya dulu, proyek kerja dan wanitanya.
"Pergilah, jangan ganggu kami!" usir Leon. "Kau tidak ada hubungannya dengan kami!"
Mark tidak terpengaruh, ia melihat Ozan yang berdiri di sampingnya. "Kau lihat dia, Ozan? Sepertinya pelajaran yang aku berikan belum cukup!" ucapnya remeh.
"Tuan Leon mau mengulang sejarah!" timpal Ozan, ikut menertawakan Leon.
Leon mengepalkan tangan, kalau saja tidak ada Sela dihadapannya, sudah ia habisi laki-laki ini. Tahan! Leon tidak mau terlihat cacat di depan Sela.
Jangan ditanya seperti apa perasaan Rossela. Hati dan pikirannya tidak bisa ditipu. Telinga dan hidungnya masih berfungsi dengan baik. Meskipun matanya tidak melihat wajah pria yang berdiri di belakangnya, tapi ia kenal suara dan aroma parfum ini.
Jantung Rossela berpacu lebih cepat. Tubuhnya terasa kaku hingga ia tidak bisa bergerak bahkan untuk menoleh pun terasa berat. Inikah akhir dari persembunyiannya? Inikah awal penderitaannya? Apakah Mark akan menangkapnya di depan Leon?
Rossela berada diantara dua pilihan, pasrah atau melawan. Satu yang ia sadari, hubungan para pria ini sangat buruk.
"Sela lebih baik kita pergi dari sini!" ajak Leon. Belum sempat ia berdiri, Mark sudah memegang pundak sela. "Jauhkan taganmu darinya, Mark!" hardik Leon.
Rossela menelan ludah melihat jemari kokoh yang menempel di pundaknya. Mark mencegahnya berdiri, bahkan pundaknya terasa sakit.
Ingin memaki tapi Rossela takut Mark mengenali suaranya. Sudah dipastikan sebentar lagi mereka akan saling berhadapan.
"Kau takut sekali aku merebut sekretariamu ini." Mark menarik kursi dan duduk diantara dua orang yang tidak menginginkan kehadirannya. Ah! Mana ia perduli.
Mark melipat tangan di atas meja dan masih fokus menatap Leon. Dua pria ini masih beradu argumen.
"Asal kau tau, aku tidak pernah merebut sekretarismu! Justru wanita itu yang datang menjual informasi dan menjual dirinya padaku!"
"Kau sudah keterlaluan Mark! Benar-benar tidak tahu malu!" umpat Leon.
Mark tertawa. "Kau marah karena belum sempat menikmati gadis itu?"
"Mark!!!!
"Atau kau marah karena aku bicara dihadapan sekretarismu yang baru ini?"
Mark berpaling muka tepat menghadap Rossela. Seketika mulutnya terkatup rapat.
Terlambat! Rossela tidak bisa menghindar lagi. Mata Mark sudah menembus manik matanya, pria ini terpaku melihatnya. Untuk sesaat keheningan tercipta di meja itu.
'Mata ini?' batin Mark mulai bergejolak, 'Aku seperti pernah melihatnya.' Untuk pertama kali setelah sekian lama, matanya enggan berpaling dan jantungnya pun berdetak kencang melihat wanita cantik di depannya.
Mata yang indah, wajah putih bersih walau tanpa make up. Bibir tipis dan merah seperti buah chery. Batin Mark mengakui kecantikannya. Tapi, mengapa ia merasa tidak asing melihatnya?
***
Duar!!!😅
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 57 Episodes
Comments
ヨーブ
sumpah ... deg²an gaiss 🤣😂😂🤭🤭
Author nya keren bs mencabik² hati readers nya wkwkw... ampuuunn dehh🤣😂🤭
2021-12-29
1
Stevani febri
DEG.
Duaarr meladak thor🤭😁
2021-12-20
0
langitsenja
jederrr🤣🤣💦
2021-12-16
0