Serra dengan gelisah menunggu Arkan yang tidak kunjung datang, tiba-tiba Serra merasakan ada suara langkah kaki yang mendekat kearahnya tanpa ada suara pintu kamar terbuka.
" Arkan kamu sudah pulang," tegur Serra berdiri.
" Arkan," panggilnya lagi, karena tidak mendapat jawaban, tetap sama tidak ada respon sama sekali.
Seseorang telah memasuki kamar Serra tanpa sepengetahuannya, Damar dosennya Serra yang sekarang juga menjadi buronan polisi, melompat dari jendela kamar dan mendekati Serra.
" Arkan Kenapa kamu diam?" tanya Serra yang bingung, Damar tersenyum jahat melihat wanita yang berdiri tersebut, gelisah, dia bahkan tersenyum seakan menertawakan kekurangan Serra.
" Arkan tolong tutupkan jendelanya, aku kedinginan," ucap Serra, Damar menoleh kearah jendela, sangat beruntung baginya jendela terbuka jadi dia bisa dengan mudahnya masuk kekamar Serra.
" Dasar bodoh," batin Damar mengejek Serra.
Damar mendekati Serra dan memegang tangan Serra, Serra sontak kaget atas perlakuan tiba-tiba seseorang yang di pikirnya suaminya Arkan.
" Arkan," tegur Serra.
Damar dengan keinginan jahatnya, menatap tubuh Serra dari bawah hingga atas dengan tatapan liar, seperti ingin memangsa Serra saat itu juga.
" Kenapa dari tadi Arkan tidak menjawabku, apa yang sebenarnya terjadi?" batin Serra masih bingung
"Hari ini kau akan menjadi milikku wanita buta," desis dalam hati Damar yang menahan hasratnya selama ini.
Damar menghelus pipi Serra dengan penuh gairah, Serra merasakan aneh dengan sentuhan Arkan, meski jarang memegang tangan Arkan tetapi Serra masih sangat mengenalnya, perlahan damar ingin meraih bibir kecil Serra.
" Tidak aku tidak bisa melakukannya di sini, semuanya akan sia-sia nanti," batin Damar mengurungkan niatnya dan tersenyum penuh rencana kepada Serra.
Damar pun meraih tangan Serra seperti ingin mengajaknya pergi dari kamar tersebut.
" Kita mau kemana?" tanya Serra bingung.
Tidak mungkinkan damar harus berbicara, Damar hanya diam dan menuntun Serra berjalan, Serra yang tidak mendapatkan jawaban pasrah dan mengikuti saja.
Seluruh ruangan sangat gelap di rumah Arkan, mungkin para pelayan sudah tidur mengingat sudah larut malam. Hal tersebut memudahkan Damar untuk melanjutkan aksinya.
Damar berhasil membawa Serra keluar dari istana Arkan dan sekarang Damar sudah membawa Serra masuk kedalam mobil, mendudukkan Serra di samping pengemudi.
Serra bisa merasakan keberadaannya, suara derasnya hujan lebih terdengar kuat, di bandingkan saat berada di dalam rumah.
Serra mendengar suara pintu mobil tertutup dan merasakan jika di sampingnya sudah ada orang. Tanpa berpikir panjang Damar pun melajukan mobilnya dengan cepat sebelum ada yang mengetahui perbuatannya.
" Arkan kita mau kemana bukannya lagi hujan?" tanya Serra. Damar masih tidak menjawab dan fokus menyetir.
Walau gagal fokusnya sudah hilang gara-gara melihat paha mulus Serra, beberapa kali Damar harus menelan ludahnya akibat makanan yang lezat di sampingnya.
*********
Mobil Arkan berhenti tepat di depan rumahnya, tidak lama setelah kepergian damar dan Serra dengan buru-buru Arkan memasuki rumah.
Rumah tampak sepi, tanpa berpikir panjang Arkan menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Saat tiba di depan kamar Arkan melihat pintu kamarnya dan Serra terbuka.
Arkan yang mulai cemas langsung memasuki kamar, Arkan tidak menemukan Serra di kamar hanya ada tongkat Serra yang di atas tempat tidur.
" Serra," Panggil Arkan dengan kuat, dan mengecek kekamar mandi, Arkan tidak menemukan istrinya di sana.
" Di mana dia?" tanya Arkan panik.
" Serra," teriak Arkan keluar kamar dan mencari di sekitar rumah. Arkan menuruni anak tangga dan memanggil-manggil nama istrinya dengan kuat.
" Serra, Serra, Serra," teriakan Arkan membuat para pelayan menghampirinya, mendengar majikan mereka berteriak.
" Dimana Serra?" tanya Arkan keras.
" Bukannya non Serra bada di kamarnya tuan," sahut Bi sufi ragu.
" Kalau dia ada di kamarnya, saya tidak mungkin mencarinya," teriak Arkan, membuat Bi sufi, Pak Yatno, dan Nindy kaget dan langsung menunduk.
" Apa yang kalian kerjakan Hah! apa kalian tidak bisa menjaganya," bentak Arkan.
Arkan mengacak rambutnya dengan ke-2 tangannya lalu menghapus wajahnya kasar, Arkan benar-benar emosi melihat kelalaian pelayan di rumahnya.
" Kalian benar-benar tidak bisa di andalkan," teriak Arkan.
Arkan membuang napasnya kasar, emosinya semakin naik melihat 3 orang pelayan itu yang hanya bisa menunduk dengan gemetar.
" Cari dia sekarang juga," teriak Arkan.
" Ba-baik, tuan," sahut pak Yatno dan segera pergi di susul istri dan anaknya.
Arkan mencoba menetralkan pikirannya dan kembali menaiki anak tangga, Arkan memasuki ruang kerjanya langsung memeriksa layar cctv dengan cepat.
" Kurang ajar," teriak Arkan melihat Damar yang membawa Serra pergi dengan mengendap-ngendap.
" Apa yang ingin di lakukannya, aku akan membunuhnya jika terjadi sesuatu dengan Serra," umpat Arkan.
Arkan begitu emosi mengepal tangannya ingin segera menghabisi nyawa Damar detik ini juga.
Tanpa berpikir lama Arkan keluar dari ruangan kerjanya, dengan langkah yang cepat Arkan menuju mobilnya dan melajukan dengan kecepatan tinggi.
********
Damar memberhentikan mobilnya di jalanan, jalanan itu sangat sepi tidak ada orang sama sekali, hujan deras pun belum berhenti.
Damar tersenyum saat melihat di lokasi tersebut terdapat pondok kecil, seakan alam semesta mendukung niatnya terhadap Serra.
" Arkan kita di mana, apa kita sudah sampai?" tanya Serra yang merasa mobil berhenti.
Damar mengendus dan keluar dari mobil, membuka mobil pintu mobil Serra dan menggendong Serra keluar.
" Arkan apa yang kamu lakukan," tanya Serra merasa tubuhnya terangkat, dan merasa air hujan mengenai tubuhnya.
Tetap tidak ada jawaban sampai Damar membawa Serra ke pondok kecil tersebut dan membaringkan Serra, Serra pun yang tidak tau keberadaannya merasa gelisah, dan merasa aneh dengan pria yang dianggapnya suaminya.
Damar yang berdiri di depan tubuh Serra yang sudah terbaring di bawahnya sudah tidak tahan melihat tubuh indah itu, Damar duduk disamping Serra, kaki damar menyentuh tanah.
Dengan lancang damar membelai wajah Serra. Serra sontak kaget dan sudah mulai merasa ada yang tidak beres.
" Arkan apa yang ingin kamu lakukan?" tanya Serra berusaha duduk.
"Dasar bodoh," batin damar mengejek.
Damar pun memegang ke-2 pundak Serra yang sekarang berada di depannya dan menurunkan lengan baju Serra.
" Arkan lepaskan, apa yang kamu lakukan," ucap keras Serra menepis tangan tersebut.
perlahan Serra mundur.
" Aku ingin menghabiskan malam dengan mu," sahut Damar, membuat Serra kaget mendengar suara itu, Serra melebarkan matanya.
" Siapa kamu," bentaknya.
" Aku suamimu," sahut Damar terkekeh.
" Bukan, kamu bukan suamiku siapa kamu," teriak Serra panik.
Serra terus mundur, panik ternyata sedari tadi dia telah di jebak.
" Ha-ha-ha-ha," Damar tertawa puas melihat kebodohan Serra, " tenanglah sayang, kamu sekarang akan menjadi milikku," ucap Damar tersenyum puas.
Serra berpikir sedikit, suara itu tidak asing baginya.
" Pak Damar," ucap Serra setelah mengingat suara itu.
" Wauuuu, aku tidak menyangka ternyata muridku sangat pintar, kamu langsung bisa menebak siapa aku, aku tidak sia-sia mengajarimu," sahut Damar dengan kekehannya.
" Apa yang ingin, bapak lakukan di mana Arkan?" tanya Serra dengan berteriak.
" Aku hanya ingin menuntaskan yang belum aku tuntaskan," jawab Damar sinis.
" Apa maksudmu," tanya Serra
" Aku ingin menikmati tubuh indah mu itu, Sebulan yang lalu hampir saja aku menikmatinya, meski kamu memberontak tetapi gara-gara pria tua itu mencampuri urusanku aku jadi gagal bersenang-senang denganmu," ucap Damar.
" Jadi kau pria yang ingin memperkosaku waktu itu," teriak Serra mengingat kejadian tersebut.
" Ya benar sekali, pria tua itu merusak rencana ku, dan terpaksa aku harus membunuhnya," ucap damar lagi.
Serra tidak percaya jika selama ini Dosennya di balik semuanya, dan bahkan ingin memperkosanya dan hari ini dia malah terjebak lagi.
" Kurang ajar kamu, aku akan melaporkanmu ke Polisi," ancam Serra membuat Damar tertawa terbahak-bahak.
" Ha-ha-ha, lapor Polisi, silahkan sayang tetapi sebelum itu mari bersenang-senang dulu," ucap Damar seakan mengejek Serra yang tidak mungkin lepas darinya malam ini.
" Bajingan, menyinggirlah kamu dari ku, papaku akan membunuhmu," teriak Serra.
" Sebelum semua terjadi, biarkan aku menikmati tubuhnya terlebih dahulu," ucap damar dan langsung menarik kasar kaki Serra.
" Lepaskan aku, berengsek," umpat Serra memukul dada Damar yang ingin menyentuhnya.
" Diamlah," bentak damar.
Plakkk
Damar menampar pipi Serra dengan keras, dan tamparan itu melayang beberapa kali kewajah Serra.
" Lepaskan-lepaskan," Serra terus memberontak saat damar terus memaksanya, bahkan dengan kasar Damar merobek pakaian yang di kenakan Serra.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Ilan Irliana
biasa org buta itu lbh peka loh dlm keadaan skitar...emnk pnciumn Sherra brmslh jg y...ko g bd bedain Arkhan sm yg lain...p Arkhan g prnh pke parfum??
2023-05-13
0
Fransiska Siba
makanya jgn begooooooo Serra, sdh tahu Orngaya tdk bicara tp ttp saja ikut
2022-02-18
1
afra
lanjut
2021-10-18
1