Pranggg.
Arkan berbalik badan saat mendengar pecahan tersebut.
" Serra apa yang kamu lakukan," teriak Yasmine air jus tersebut bahkan mengenai kakinya.
" Kamu sengaja melakukannya," ucap Serra yang memang tau itu ulah ibu tirinya
" Kamu menuduhku, jangan sembarangan bicara kamu. Dasar bikin susah, kamu memang sangat tidak bisa berguna, menyalahkan seenaknya."
Dengan kesal Yasmin pergi dari Serra sangat kesal melihat anak tirinya meski buta selalu bisa mengetahui rencananya. Serra perlahan berjongkok dan meraba dengan tangannya mencoba mengutip gelas yang pecah.
" Auuuu," lirih serra saat ujung jarinya terkena pecahan kaca.
Arkan yang melihat kejadian tersebut langsung menghampiri Serra dan berjongkok, Arkan langsung sepontan mengisap darah di jari Serra. Tubuh Serra bergetar seperti ada aliran listrik yang mengalir ditubuhnya. Saat ada yang menyentuh jarinya.
Serra tidak tau siapa yang melakukannya tetapi dari farfumnya Serra bisa menebak jika itu pria yang ditemuinya di kantor polisi.
" Serra," teriak Vira yang melihat sepupunya.
" Serra lo nggak apa-apa?" tanya Vira ikut berjongkok.
" Tidak Vira, aku tidak apa-apa aku hanya ingin minum tetapi Yasmine menaruh gelas diujung meja agar aku menjatuhkannya," ucap Serra jujur, meski buta, tetapi dia sangat tau apa yang dilakukan ibu tirinya yang sama sekali tidak pernah dipanggilnya mama itu, sedari dulu sampai sekarang dia tetap memanggilnya dengan nama.
" Benar-benar, keterlaluan," desis Vira ikut kesal " Terima kasih pak Arkan sudah membantu Serra," ucap Vira, membuat apa yang ditebak Serra benar, jika pria yang mengisap darah di jarinya memang pengacaranya.
" Saya tidak melakukan apapun," jawab Arkan santai.
" Ayo Serra, aku bantuin," ajak Vira membantu Serra berdiri.
" Bisa saya bicara sebentar dengan Serra," pinta Arkan.
" Baiklah pak Arkan," ucap Vira menarik kursi dan membantu Serra untuk duduk, " serra gue tinggal dulu ya," lanjut Vira dan meninggalkan Arkan dan Serra.
Setelah kepergian Vira, Arkan pun duduk di sebelah Serra yang menatap fokus kedepan.
" Ada apa?" tanya Serra.
" Kamar yang kamu katakan tidak terdapat cctv," ucap Arkan, mendengar suara Arkan Serra mengalihkan wajahnya kehadapan Arkan yang sudah tau Arkan berada disampingnya.
" Iya, memang kamar itu tidak ada cctv," jawab Serra yang memang sudah tau dari awal.
" Apa kamu memang tidur di situ," tanya Arkan.
" Tidak, kamar ku di atas, itu kamar tamu, aku bahkan tidak pernah tidur di sana," jawab Serra
" Terus Kenapa Kamu bisa ada di sana?" tanya Arkan.
" Aku hanya ingin ke dapur mengambil minum dan tiba-tiba ada yang membawaku, Aku juga tidak tau siapa itu. Dia menghempaskan ku ke ranjang dan melakukan seperti yang kukatakan sebelumnya. Setelah berusaha memberontak tiba-tiba semua hening aku tidak menemukan siapa yang bersama ku. Aku meraba ranjang dan tidak menemukan siapapun, Saat aku berjalan aku seperti menyenggol seseorang, sehingga aku jatuh, aku raba tubuhnya dan aku hanya merasa ada noda ditanganku, setelah aku menciumnya itu noda darah," jelas Serra menceritakan kronologi kejadian tersebut.
" Terus kenapa pisau itu ada di tangan kamu?" tanya Arkan.
" Saat aku meraba lantai aku menemukan benda itu, aku merasa perih saat meraba benda itu mungkin mengenai sedikit tanganku saat aku merabanya," jawab Serra.
" Coba kamu lihat pasti masih ada bekasnya," ucap Serra memperlihatkan tangannya pada Arkan, ya namanya juga buta jadi tidak tepat sasaran.
Arkan pun menarik napasnya dan melihat dan memegang tangan Serra dan memang benar ada goresan luka ditangannya.
Saat pria itu menyentuh tangannya, Serra merasakan hal yang aneh lagi seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Serra selalu merasa nyaman bercerita atau melakukan apapun terhadap pria yang tidak bisa dilihatnya itu. Arkan pun melepaskan tangan Serra perlahan.
" Baiklah aku akan menyelidikinya kembali," ucap Arkan datar beranjak dari duduknya dan berlalu pergi.
" Apa kamu punya hubungan dengan Yasmine?" tanya Serra menghentikan langkah Arkan.
" Kamu mendengarnya," ucap Arkan memastikan.
" Hmmm, sepertinya dia sangat menyukaimu, apa kamu dan dia sebaya, aku tidak bisa melihat wajahmu, jadi aku tidak tau kamu," ucap Serra," " berapa usia mu?" tanya Serra membuat Arkan mengingat perkataannya 3 Tahun lalu.
" Berapa umurmu."
" 19 Tahun."
" Usiaku, 28 tahun." Jawab Arkan.
" Hmmm pantes saja, dia memang seharusnya lebih cocok denganmu dari pada papaku," ucap Serra membuat Arkan berpikir.
" Kamu mendukung ibu tirimu dengan orang lain,? tanya Arkan mengkerutkan dahinya, Serra mengangguk.
" Terus apa yang akan kamu lakukan, apa kamu akan mengadu kepada papamu, jika dia menyukaiku," tanyak Arkan.
" Tidak, papaku tidak akan mempercayaiku, menurutnya istrinya wanita yang setia," ucap Serra.
" Kalau begitu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Arkan lagi.
" Tidak ada, aku tidak peduli jika kamu punya hubungan dengan dia atau tidak, tetapi memang sebaiknya kamu memiliki hubungan dengan dia, supaya kamu membawanya dari rumah ini," ucap Serra terus terang membuat Arkan mengkerutkan dahinya.
" Apa kamu sangat membencinya?" tanya Arkan memastikan.
" Iya aku sangat membencinya sejak saat pertama kali dia menikahi papaku, aku memang tidak pernah menyukainya. Jadi lanjutkan saja hubunganmu dengan dia dan bawa saja dia pergi dari rumah ini," cap Serra lagi yang tidak bisa berbohong.
" Apa dia seperti ibu tiri yang ada di sinetron, yang menurut ceritanya sangat keja?" tanya Arkan, sungguh dia seperti tidak ada kerjaan menanyai hal yang tidak penting .
" Ya, menurutku dia bukan cuma kejam tapi lebih dari segalanya," jawab Serra lagi.
" Ohhhh... Begitu rupanya. Tapi sayang aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya, dia bukan tipeku," ucap Arkan dan langsung pergi. Serra yang bisa merasakan langkah kaki itu menjauh, tau jika Arkan sudah pergi.
" Siapa sebenarnya pria itu, kenapa aku merasa suaranya tidak asing," gumam Serra penasaran.
*********
Arkan kembali kerumahnya dia sangat kesulitan menangani kasus yang yang dihadapi Serra. Banyak barang bukti yang hilang dan cctv di lokasi kejadian pun terhapus pada waktu kejadian, dia sungguh mencurigai ada sabotase dalam hal ini dan melibatkan Serra yang menjadi kambing hitamnya.
" Sial, siapa sebenarnya yang membunuh rekan bisnis Suroto, tidak mungkin Serra, jikapun Serra ingin membela dirinya, pisau itu tidak mungkin ada di kamar itu," gumamnya tidak bisa berpikir.
" Serra, kenapa sekarang menjadi buta," tanyanya dalam hati.
Arkan mengambil hanphonenya dan memencet tombol Roy. Teman lamanya yang sampai sekarang masih menjadi detektif di kepoliasian.
📞" Ada apa sob" tanya Roy yang jauh di sana.
📞" Gue pengen info tentang Putri dari Suroto, secepatnya," perintah Arkan pada Roy.
📞" Ok, sob santai gue bakal cepat dapat infonya,"
📞 " Gue tunggu secepatnya," ucap Arkan menutup telponya.
**************
Kantor pengacara.
Dengan sangat cepat Roy yang mendapat perintah dari temanya langsung mendapat semua informasi mengenai putri semata wayangnya Suroto. Roy menelusuri kantor Arkan dan langsung menuju ruangannya tanpa mengetuk pintu Roy langsung masuk tanpa sedikit segan.
" Sibuk," sapa Roy dan langsung duduk di sofa di ruangan Arkan. Roy menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan kakinya di meja. Arkan pun langsung menghampiri.
" Kaki lo turunin," ucap Arkan menatap Roy tajam.
" Iya, sorry" Roy pun langsung menurunkan kakinya.
" Gimana lo udah dapat semua tentang anaknya Suroto?" tanya Arkan yang dianggukkan Roy dan langsung memberikan map, dengan cepat Arkan membuka isi map, ada beberapa foto Serra dan juga data mengenai Serra.
" Serra Anandita Suroto," gumam Arkan menyebutkan nama asli sang wanita.
" Dia ini mantan kekasih dari Rangga salah satu anak pengusaha ternama. Mereka dulu ingin menikah, tetapi hubungan mereka kandas, karena salah paham," jelas Roy yang sebenarnya Arkan sudah tau.
" Dan lo, tau nggak Arkan, Rangga itu yang dulu terikat kasus narkoba," lanjut Roy.
" Terus sekarang, gimana kabar dia"? tanya Arkan.
" Dia sudah bebas, dan menetap di Luar Negri," jawab Roy.
" Oh, iya Arkan gue juga ingat Serra ini dulu pernah ada di lokasi, dan tiba-tiba hilang, Kemana ya," Roy kembali mengingat, membuat Arkan pura-pura serius melihat data Serra.
" Bukannya sama elo ya, Ohhh gue tau lo pasti dulu ajak dia negosiasi ya," tebak Roy senyum nakal menunjuk Arkan.
" Sialan lo, gue gak tau," Elak Arkan berusaha santai agar Roy tidak mengetahui yang sebenarnya, jika Serra memang bersamanya malam itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Crystal
Astaga, menggemaskan sekali Arkan😅😂
2022-11-17
1