Arkan belum melihat Serra, Arkan dan Seketarisnya sibuk melihat dokumen, sementara Yasmine sangat jelas menunjukan kesalnya pada suaminya.
Gara-gara Serra dia harus batal arisan bersama teman-temanya, karena harus mengikuti suaminya untuk mengunjungi putrinya itu.
" Pak Arkan ini putri saya,' ucap Suroto, Arkan yang mendengar namanya dipanggil pun menghampiri Suroto yang masih melihat seorang wanita berada dipelukan Suroto.
Betapa terkejutnya Arkan saat wanita itu melepas pelukannya dan menghadap kepadanya. Wanita yang pernah ditemuinya 3 tahun lalu saat dirinya masih menjadi Detektif.
" Wanita itu," gumamnya dalam hati tidak percaya.
Arkan tidak mungkin lupa dengan wanita yang 1 malam pernah bersamanya, bahkan setelah kejadian itu Arkan terus mengingatnya dan beberapa kali terlintas dipikirannya untuk mencarinya.
Arkan sedikit bingung kenapa wanita itu justru tidak mengenalinya.
" Sayang ini akan menjadi pengacara kamu," ucap Suroto membantu Serra mengulurkan tangannya pada Arkan.
" Saya Serra," ucap lembut Serra. Arkan terdiam, saat menyadari jika wanita yang didepannya itu ternyata tidak bisa melihat. Pantas saja wajahnya terlihat santai saat bertemu dengan Arkan.
" Arkan," jawab Arkan..dek. jantung Serra tiba-tiba berdetak kencang saat mendengar suara lantang sang pria seakan merasa pernah mendengar cukup lama Arkan dan Serra saling bersalaman.
" Kenapa suara pria itu tidak asing?"batin Serra menurunkan tangannya dari Arkan.
" Pak Arkan, inilah putri saya, jadi saya mohon tolong bantu putri saya, bapak bisa melihat keadaannya tidak mungkin dia melakukannya," ucap Suroto sangat berharap Arkan bisa membebaskan Serra.
" Hmmm saya tidak bisa memastikannya," jawab Arkan yang masih shock, dan belum bisa berpikir jernih.
" Saya percayakan semua kepada bapak," ucap lagi Suroto.
Arkan dan Serra berada di ruangan introgasi, ruangan itu sangat sempit hanya ada 2 kursi yang saling berhadapan dan ditengah meja persegi yang kecil. Ruangan itu juga sangat gelap yang memang tidak berpengaruh untuk Serra mau gelap atau tidak, karena penglihatannya sudah gelap.
Arkan justru merasa sangat canggung tidak seperti biasanya saat mengintrogasi kliennya, dia akan tegas, tetapi entah mengapa berhadapan dengan wanita yang pernah ditidurinya justru dia tidak bisa fokus.
Pikirannya juga masih melayang tidak percaya bertemu dengan Serra dalam keadaan yang sudah berbeda. Arkan membuang napasnya kasar menetralkan pikirannya agar fokus dalam pekerjaannya.
" Kenapa kamu membunuhnya?" tanya Arkan mulai mengintrogasi.
" Aku tidak membunuhnya," jawab Serra dengan menggenggam kedua tangannya.
" Dimana kamu menemukan pisau itu, di mana kamu mendapatkannya, apa ada yang memberikannya?" tanya Arkan lagi.
" Aku tidak tau apa yang aku pegang," jawab Serra memang kenyataannya.
" Kalau kamu tidak tau kenapa benda itu ada di tanganmu dan kenapa kamu bisa berada di sini," tanya Arkan suara meninggi mulai kesal dengan jawaban sang wanita yang tidak ada gunanya.
" Mereka membawaku," jawab Serra santai.
" Ahhhhhhhhh," Arkan frustasi melihat Serra yang sama sekali tidak berguna untuknya.
" Dulu dan sekarang wanita itu tetap terlihat santai, bahkan sudah membunuh pun masih pura-pura tenang," Arkan berdecak kesal dihatinya mendengar jawaban Serra.
" Kamu sebaiknya mengingat kembali kejadian yang kamu alami baru aku akan menemuimu lagi," ucap Arkan beranjak dari duduknya.
" Kamu mau kemana?" tanya Serra yang mendengar langkah Arkan.
" Aku tidak bisa mengintrogasi seseorang yang tidak bisa menjawab dengan benar," ucap Sinis Arkan dan melanjutkan langkahnya.
" Aku buta," ucap Serra menghentikan langkah Arkan yang ingin membuka pintu ruang introgasi.
" Aku tidak bisa melihat apapun, bukankah di rumahku di lengkapi cctv, kenapa tidak mengeceknya. Aku tidak tau siapa dia aku, hanya mencium bau alkohol dihadapanku seperti ada orang yang mendekati ku, tubuhku di hempaskan, yang aku tau itu sebuah ranjang, dia tidak bersuara sama sekali.
Mulutku juga ditutup, sehingga aku tidak bisa berteriak sedikitpun, dan aku merasakan leherku seperti dihisap dan tangan dress yang aku pakai seperti diturunkan kasar dan tanganya mulai menarik bagian bawah dressku dan..
" Cukup," bentak Arkan yang mendengar pengakuan dari wanita itu.
Arkan sudah bisa menebak jika wanita buta itu ingin diperkosa sebelum kejadian. Arkan menarik napasnya sungguh tidak percaya dia bisa langsung iba dengan wanita yang di hadapanya.
" Kita lanjutkan besok," ucap Arkan dan langsung pergi tanpa ingin mendengar pengakuan Serra lagi.
Serra bisa pulang saat itu juga, Arkan menjaminnya sampai kasusnya selesai. Polisi tetap menyelidiki kasus pembunuhan di rumah Serra.
Polisi memberi keringanan kepada Serra saat mendengar pengakuan dari Arkan mengenai pelecehan yang hampir terjadi.
Polisi memberinya kemudahan bisa pulang tetapi masih dalam kondisi seorang tersangka.
" Terima kasih pak Arkan, sudah membuat anak saya pulang," ucap Suroto menggandeng Serra.
" Kasusnya belum selesai jadi jangan senang dulu," jawab Arkan datar.
" Saya percayakan semuanya kepada pak Arkan," ucap Suroto lagi.
" Saya tidak bilang melanjutkan atau tidak menjadi pengacara putrimu," sahut Arkan ketus membuat Suroto menarik napasnya harus sabar mengahadapi pengacara yang memang terkenal angkuh.
" Hmmmm... Baiklah saya mengerti," jawabnya singkat.
" Jesika kamu periksa semua cctv di lokasi kejadiannya!!" perintah Arkan, dan Arkan pun langsung pergi.
********
Keesokan harinya kediaman Suroto kembali dipenuhi polisi pemerikasaan kembali dilakukan bukan hanya polisi tetapi para wartawan juga sudah mulai berdatangan saat mendengar motif baru dari kasus pembunuhan.
Arkan mencoba menyelidiki kamar tamu yang menurut pengakuan Serra dia berada di sana. Di kamar tamu tidak terdapat cctv membuat Arkan kesulitan menemukan sesuatu.
" Bagaiman," tanya Arkan pada Alex yang juga pernah menjadi temannya saat menjadi Detektif. Dan sekarang Alex masih tetap menjadi Detektif tapi sudah kelas atas.
" Gue masih periksa semua cctv yang di rumah ini," jawab Alex.
" Ok, lo lanjutin aja," ucap Arkan menepuk bahu Alex.
" Bagaimana Serra bisa mendapatkan pisau itu," desis Addrian dan keluar dari kamar.
Addrian menuju dapur dan mencoba memeriksa dapur yang mungkin terdapat barang bukti. Saat sibuk mencari, Arkan kaget saat membalikkan tubuhnya melihat wanita yang tersenyum kepadanya memegang 1 gelas jus jeruk.
" Kamu sepertinya lelah aku buatkan minuman," ucap manis Yasmine menghampiri Arkan.
" Aku tidak perlu berikan saja pada suamimu," jawab Arkan ketus dan pergi melewati Yasmin.
Yasmin meletakkan gelas di meja makan dan berlari mengejar Arkan memeluk pinggang laki-laki itu dari belakang.
" Kamu Cemburu?" tanya manja Yasmine.
" Lepaskan aku," Arkan menyingkirkan tangan Yasmine, tetapi Yasmine bukan melepasnya malah tambah mengeratkan pelukannya
" Kapan kamu akan jadi pengacara ku?" tanya Yasmine.
" Untuk apa aku menjadi pengacaramu," tanya Arkan dengan ketus membalikkan pertanyaan.
" Untuk perceraianku, aku menjadikan mu pengacara perceraianku," jawab Yasmine.
" Kamu akan menceraikan suamimu," tanya Arkan.
" Iya, apa kamu bahagia mendengarnya," Arkan justru menyunggingkan senyumnya.
" Ciihh.... Kamu akan miskin dan hidupmu akan melarat jika diceraikannya," ucap Arkan ketus melepaskan tangan Yasmine dari pinggangnya dan berlalu dari Yasmine.
" Tapi kamu bahagiakan mendengarnya," teriak Yasmine menghentikan langkah Arkan, bukan karena perkataan Yasmin, tetapi karena wanita yang tidak bisa melihatnya itu ada di depannya.
" Apa ada orang di sini," tanya Serra yang mencoba berjalan dengan tongkatnya.
" Iya aku di sini apa yang ingin kamu lakukan," ucap Yasmine.
" Bukan urusanmu" jawab ketus Serra dan perlahan berjalan meraba dengan tongkatnya melewati Arkan yang di depannya. Serra berjalan menuju meja makan, meraba meja makan ingin meraih gelas karena kehausan. Serra memang sangat hafal dengan rumahnya.
Yasmine dengan usilnya membuat gelas jus yang dipegangnya tadi di pinggir meja agar Serra menjatuhkannya. Dan yang benar saja rencananya berhasil.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments