Setelah kepergian Roy dan Alex, arkanpun memasuki kamarnya, dan melihat Serra sudah berbaring di ranjang. Arkan menutup pintu kamarnya, jantung Serra semakin berdetak kencang mendengar langkah Arkan yang semakin lama semakin dekat.
Arkan menaiki ranjang, mencium harum tubuh Serra yang sangat merefleksikan bagi pikirannya. Arkan menyandarkan dirinya di kepala ranjang menoleh kearah Serra, Arkan bisa melihat wajah Serra yang sangat gugup dan kulit wajahnya yang putih sudah berubah menjadi memerah.
Arkan menyunggingkan senyumnya melihat Serra yang selama ini terlihat santai sekarang diam tidak berkutik sama sekali.
" Kenapa kamu belum tidur?" tanya Arkan membuka obrolan.
" Aku, aku, hanya tidak terbiasa tidur di tempat lain," jawabnya berusaha santai.
" Tidurlah, kamu akan terbiasa," ucap Arkan.
" kamu juga akan tidur di sini?" tanya Serra memastikan.
" Hmmm ini kamarku, jadi bukannya seharusnya aku tidur di sini," jawab Arkan santai.
" Tapi kan, aku-aku," Serra malah menjadi gugup terlihat jelas Serra memegang kuat selimutnya tidak berani mengungkapkan apa yang ada di pikirannya.
" Tapi apa?" tanya Arkan.
" Apa yang akan kamu lakukan setelah ini," tanya Serra membuat Arkan mengendus mendengar pertanyaan Serra.
Arkan memikirkan sesuatu dan mendekatkan tubuhnya kepada Serra, Serra bisa merasakannya dari aroma tubuh Arkan yang semakin dekat dengannya. Dada Serra tiba-tiba sesak merasakan Arkan sangat dekat dengannya.
" Memangnya apa lagi yang akan di lakukan orang setelah selesai menikah," bisik Arkan menggoda Serra dengan jahil, Serra langsung menelan ludahnya, semakin memegang erat selimutnya, Arkan yang melihat Serra salah tingkah tersenyum lebar.
Serra pun memiringkan tubuhnya, membelakangi Arkan yang takut Arkan melakukan apapun, Arkan justru geleng-geleng melihat Serra, dia tau Serra sekarang sedang canggung.
" Kenapa kamu malah membelakingiku?" tanya Arkan. Serra sama sekali tidak menjawab, dan pura-pura menutup matanya.
" Aku rasa kamu sudah siap melakukannya," ucap Arkan lagi terus menggoda Serra, Serra yang mendengar perkataan Arkan merasa ngeri dan takut.
" Kamu sudah siapkan?" tanya Arkan tersenyum licik, " menerima sentuhan dari ku," lanjut Arkan terus menggoda Serra,
Serra sama sekali tidak merespon pertanyaan Arkan, dia hanya memejamkan matanya dan memegang erat selimutnya.
" Aku rasa kamu sudah siap, kamu pasti sengaja tidur dengan wewangian, kamu mencoba menggoda ku," ucap Arkan lagi membuat Serra menyerngitkan dahinya.
" Apa yang ada dipikirannya, kapan aku ingin menggodanya," batin Serra kesal.
" Sudah lupakan, tidurlah aku tidak akan menyentuhmu, aku tidak ingin bercinta, jika wanita itu tidak melihatku, kamu jangan khawatir aku tidak akan melakukannya sebelum kamu melihat," ucap Arkan membuat Serra menghembuskan napasnya pelan merasa lega.
" Tapi aku tidak janji, mungkin aku bisa berubah pikiran," ucap Arkan lagi membuat Serra panik kembali, dan kesal melihat Arkan yang memang sengaja ingin menggodanya.
" Sudah tidurlah," ucap Arkan lagi menjauh dari Serra kembali ke posisi awalnya dan merebahkan dirinya, memejamkan matanya.
Serra sudah tidak mendengar suara Arkan lagi, yang berarti memang benar Arkan sudah tidur, Serra merasa lega mendengar perkataan Arkan yang tidak akan menyentuhnya sebelum penglihatannya kembali.
Tetapi tetap saja hati Serra was-was, ya sebenarnya itu sudah memang seharusnya menjadi kewajiban Serra, tetapi dia hanya belum siap melakukannya dengan keterbatasannya dan juga tidak tau siapa Arkan.
Serra pun yang merasa tenang mulai memejamkan matanya dan berusaha tenang menjauhkan pikiran buruk dari Arkan dia hanya ingin tidur nyenyak.
********
Pagi hari kembali tiba, Arkan mulai mengerjapkan matanya, sinar matahari yang masuk dari sela-sela jendela kamarnya sangat menggangu tidurnya.
Arkan melirik kearah Serra yang sekarang menghadap dirinya, wanita itu tidur seperti bayi yang menggemaskan, Serra yang merapatkan ke2 tangannya di bawah pipinya.
Ini kali kedua Arkan melihat wanita itu tidur satu ranjang dengannya, setelah 3 tahun lalu. Arkan justru memiringkan tubuhnya menatap wajah Serra seperti menelusuri semua wajah itu, yang dipenuhi kesempurnaan.
Arkan tidak percaya dengan apa yang terjadi, dulu, wanita itu mengajaknya untuk tidur bersama kerena sakit hati dan bahkan tidak menyesali apa yang terjadi.
Dan malah bertemu setelah sekian lama dalam keadaan yang berbeda, Serra justru tidak bisa melihat dan malah terlibat kasus pembunuhan.
Bahkan Arkan mendengar dari Roy jika Serra sempat hamil, Arkan memang tidak pernah menanyakan secara detail tentang masa lalu Serra, karena dialah masa lalunya.
Arkan hanya memandangi wajah yang sangat cantik itu, dengan jahil tangan Arkan menghelus pipi Serra dengan lembut, Arkan tersenyum saat wanita itu bergerak sedikit merasa geli di pipinya, memang sekarang menjadi hobi Arkan menjahili Serra.
*********
Serra yang sudah selesai mandi, keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe, Serra meraba jalan dengan kedua tangannya.
Arkan sudah terlebih dahulu selesai mandi, dia juga bersiap ingin kembali bekerja Arkan yang berada di depan cermin, menoleh kearah Serra yang berjalan pelan.
Arkan terus menatap wanita yang terlihat sexsi dan rambutnya yang basah, bahkan tetesan dari ujung rambutnya jatuh kelantai, hasrat Arkan sebagai laki-laki normal langsung naik, melihat keberadaan Serra.
" Apa ada orang di sini?" tanya Serra.
" Hmmm aku di sini," jawab Arkan santai yang mengancing lengan kemejanya.
" Kalau begitu keluarlah, aku ingin berganti pakaian," perintah Serra membuat Arkan mengendus tidak percaya jika Serra akan mengusirnya.
" Kenapa harus keluar akukan suamimu," sahut Arkan sinis.
" Iya, tapi aku tidak mungkin berganti pakaian di depanmu," protes Serra meski sudah menjadi istrinya Serra jelas tidak ingin Arkan melihat tubuhnya.
" Aku sudah pernah melihat seluruh tubuhmu,' gumam Arkan pelan, Serra yang seperti mendengar tetapi tidak jelas apa yang dikatakan Arkan.
" Kamu bilang apa?" tanya Serra.
" Tidak, Apa-apa!" ucap Arkan bohong.
" Arkan, kenapa Vira tidak ada di sini?" Tanya Serra.
" Kenapa juga dia harus ada di sini," tanya Arkan membalikkan.
" Aku tidak bisa apa-apa tanpa dia," jawab Serra.
" Aku menikahimu bukan Vira," ucap Arkan sinis.
" Baiklah, aku tau, kalau begitu pergilah aku akan mengganti pakaianku," usir Serra lagi.
" Gantilah pakainamu aku tidak akan melihatnya." ucap Arkan membuat Serra menyerngitkan dahinya, mana mungkin.
" Bagaiman aku percaya," ucap Serra, Arkan pun melangkah mendekati Serra memegang pinggang Serra mendekatkan kepadanya. Jantung Serra langsung berdetak tidak beraturan, pipinya seakan merah saat dekat dengan Arkan.
" Aku sudah mengatakan aku suamimu, aku pun bisa menggantikan pakaianmu sekarang," bisik Arkan dengan suara serak, membuat Serra semakin merinding.
Arkan yang begitu dekat dengan Serra merasa hasratnya naik, sebenarnya dia tidak tahan lagi dengan Serra yang sangat menggoda di depannya.
" Le-le paskn aku," ucap Serra gugup.
" Kenapa?" tanya Arkan.
" Aku, tidak nyaman," jawab Serra.
Arkan pun melepaskan Serra, perlahan dia bisa merasakan kegugupan Serra.
" Gantilah pakaianmu di kamar mandi," perintah Arkan.
"Hmm," Serra mengangguk. Arkan pun keluar dari kamar menuju meja makan, pelayan di rumah Arkan sudah menyiapkan sarapan pagi, Arkan menarik kursi dan duduk.
" Bantu Serra turun dari kamarnya," perintah Arkan pada sang pelayan yang berdiri di belakangnya.
" Baik pak," jawab pelayan dan menaiki anak tangga ikut membantu Serra bersiap, setelah beberapa lama Serra pun akhirnya turun dibantu pelayan di rumah Arkan Bi sufi yang sekitar berusia 40 tahunan.
Serra turun menggunakan dress pinknya di atas lututnya, rambutnya di biarkan di gerainya.
bi sufi menarik kursi dan mendudukkan Serra.
" Layani dia," perintah Arkan, bi sufi langsung mengabilkan nasi goreng keriting Serra, dan mendekatkan tangan Serra pada sendok.
" Terima kasih bi," ucap Serra
Serra pun mulai memakan makanananya, Arkan yang berada di depannya sesekali memperhatikannya. Melihat bagaiman wanita itu makan.
" Arkan ada yang ingin aku tanyakan," ucap Serra sambil mengunyah makanannya.
" Hmmm, tanyalah," sahut Arkan melanjutkan makannya.
" Apa kita tidak bisa tinggal di rumahku saja," ucap Serra membuat Arkan menghentikan makannya dan menatapnya.
" Kenapa harus tinggal di rumahmu, aku punya rumah sendiri, lagi pula kalau kita di sana bukannya kamu takut jika ibu tirimu akan menggodaku," sahut Arkan.
" Tidak, aku tidak pernah takut, kalau ibu tiriku bersamamu," jawab Serra bohong.
"Hmmm, oh iya,"
" Kenapa kamu jadi membahas dia," tanya Serra.
" Kamu, yang memulai,"
" Aku, tidak pernah memulainya, aku tidak suka kalau kamu membahasnya," ucap Serra seakan memperingatkan.
" Kamu, mencumburinya." ucap Arkan menebak membuat Serra menghentikan makanannya.
" Tidak," jawab Serra cepat.
" Sudahlah, jangan di bahas lagi, kamu lanjuti makannya, aku pergi dulu," pamit Arkan.
" Hmmm," jawab Serra dengan deheman ketika Arkan meninggalkannya di meja makan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
MaL@🪄✨
sampai di sini blom ada gambaran nasib kehamilan serra ya tor
2021-11-10
2
Pangeran Matahari
like and fav mendarat...semangat y..
jangan lupa mmpir juga ke cucu manja oma
2021-10-16
0