Hari pernikahan Serra semakin dekat, memang tidak akan dirayakan hanya sekedar ijab kabul saja. Itu lah permintaan Serra. Serra tidak bisa berbuat apa-apa meski mengetahui bahwa ibu tirinya menyukai Arkan. Serra hanya pasrah dan berharap bisa mengatasi masalahnya ketika menikah dengan Arkan.
Karena pernikahan Serra semakin dekat, hari ini Suroto mengajak Arkan untuk makan malam bersama, Suroto sebenarnya sangat bahagia dengan rencana pernikahan putrinya paling tidak putrinya ada yang menjaga.
Walau pun kemarin Serra menolaknya, tetapi Arkan kembali meyakinkannya, sehingga Serra pun pada akhirnya mengalah.
Suroto tetap merasa cemas kepada Serra karena menikah dengan Arkan. Suroto memang mengetahui Arkan adalah pria sombong, tetapi, dari caranya memperhatikan Serra, suroto percaya Arkan memiliki hati yang baik dan bisa menjaga putrinya.
Suroto, Yasmine dan Arkan sudah berada di meja makan, para pelayan mulai menjamu mereka. Arkan, Yasmine, duduk saling berhadapan, Yasmine tidak pernah tidak mengambil kesempatan untuk tidak menggoda Arkan, terbukti kakinya yang panjang sudah menggeser-geser kaki Arkan.
Arkan menatap tajam Yasmine, sangat geram dengan sikap Yasmine yang kurang ajar kepadanya. Dalam benak Arkan, seharusnya Serra menyampaikan saja kepada papanya, tentang kejadian malam itu agar Yasmine mendapat akibat dari perbuatannya.
Tidak berapa lama Serra pun datang bersama Vira. Vira memang selalu menuntun Serra.
" Serra kamu lama sekali, calon suami kamu sudah menunggu," ucap sang papa.
" Maaf sudah membuatmu menunggu," ucap Serra, Arkan pun berdiri dan menarik kursi membantu Serra untuk duduk, Yasmine yang melihatnya pun kesal melihat Arkan yang selalu memperhatikan Serra.
" Tidak apa-apa, duduk lah," ucap Arkan dan kembali duduk, Vira pun ikut duduk di samping Serra.
" Pelayan memasukkan nasi dan lauk kepiring Serra, Serra pun mulai memakannya, saat makan harus ada yang mendampingi Serra, karena takut Serra salah makan.
" Makan saja tidak bisa mau jadi istri orang." batin Yasmine kesal, menekan garfu kepiringnya.
" Oh, iya nak Arkan, bagaimana kelanjutan kasus Serra," tanya Suroto membuka obrolan.
" Masih banyak yang perlu di selidiki, setelah saya menikahinya, saya akan fokus menangani kasusnya," jawab Arkan santai
" Kita akan secepatnya mempersiapkan pernikahan kalian," ucap Suroto tersenyum.
" Mas, Yasmine akan mengurus keperluan Serra," ucap manis Yasmine.
" Tidak perlu, aku bisa melakukannya bersama Vira," Tolak Serra ketus.
" Serra, kamu itu sebentar lagi akan menjadi istri, kamu tidak bisa bergantung terus pada Vira, seharusnya kamu harus belajar mandiri." sahut Yasmine lagi dengan nada lembut.
" Aku tau, apa yang harus aku lakukan, sebaiknya kamu jangan mencampuri urusanku," ucap Serra ketus tidak peduli dengan ucapan Yasmine.
" Tante, Vira senang bantuin Serra, jadi Tante jangan khawatir," sahut Vira.
" Saya mengerti, saya hanya mengatakan demi Serra," ucap Yasmine yang mulai terlihat sedih.
" Aku sudah katakan jangan ikut campur," ucap Serra penuh penekanan.
" Serra kamu tidak boleh seperti itu," sahut Suroto yang melihat wajah Yasmine mulai sedih.
Arkan yang melihat situasi sudah mulai merasa tidak nyaman, dia harus berada ditengah-tengah drama keluarga Serra.
" Hmmm," Arkan berdehem, " Aku sudah katakan dari awal, aku tidak perlu apapun dari Serra, dia juga tidak perlu menjadi mandiri. Meski aku menikahi Serra, tidak akan ada yang berubah, aku tidak menyuruhnya untuk mandiri. Aku menikahinya bukan untuk jadi pelayan," tegas Arkan membuat Vira tersenyum lebar.
" Terima kasih nak Arkan," sahut Suroto, merasa kepercayaannya menikahkan Serra semakin yakin.
Setelah selesai makan malam, Arkan mengajak Serra berjalan-jalan malam, Arkan berjalan lambat mengikuti langkah yang disampingnya meraba dengan tongkatnya, Serra masih terlihat marah, dan sebenarnya terpaksa ikut dengan Arkan.
" Kamu pernah tinggal di Bali?" tanya Arkan membuka obrolan.
" Iya, kamu tau dari mana?" tanya Serra kembali menanyakan.
" Aku pengacaramu, jadi aku pasti tau apapun tentangmu," jawab Arkan santai.
" Hmmm... Iya aku lupa, pasti kamu tau semuanya dengan sangat detail. Sebelum kamu menikahiku tanyalah apapun yang ingin kamu ketahui, aku tidak ingin kamu menyesal nanti," ucap Serra terus memperingatkan Arkan.
" Kenapa kamu tidak percaya diri dengan yang kamu miliki," tanya Arkan yang menurutnya Serra terlalu merendahkan dirinya.
" Percaya diri, aku tidak tau apa yang harus aku banggakan, dari kecil aku tidak bisa melakukan apapun. Papa dan mamaku selalu memanjakanku, ketika mamaku meninggal papaku juga sangat menyayangiku. Sampai aku dewasa aku selalu bergantung pada orang lain, sampai akhirnya Tuhan marah dan mengambil penglihatanku, dan aku lebih tidak bisa melakukan apapun," ucap Serra dengan mata berkaca-kaca.
" Sebaiknya kamu berpikir lagi sebelum menikahiku," ucap Serra lagi.
" Kenapa kamu tidak ingin menikah denganku?" tanya Arkan.
" Karena kamu tidak menginginkanku," jawab Serra apa adanya.
" Apa cuma itu alasannya," tanya Arkan.
" Iya."
" Aku sudah katakan, tidak akan membatalkan pernikahan itu," ucap Arkan mengulangi sekali lagi.
" Hmmm baiklah, terserah kamu," ucap Serra pasrah " aku boleh tanya sesuatu," ucapnya lagi menghentikan langkahnya dan menghadap Arkan.
" Iya silahkan,"
" Apa orangtuamu tidak keberatan kau, menikahikiku?" tanya Serra, Arkan memang tidak pernah berpikir sejauh itu, dia memang tidak memberi kabar itu kepada keluarganya yang ada di Luar Negri.
" Mereka tidak akan mencampuri urusanku," jawab Arkan
" Berarti mereka tidak tau," tebak Serra.
" Itu tidak penting, kamu hanya perlu menikah denganku," ucap Arkan menegaskan, " Sebaiknya kita pulang, ini sudah larut ayo." Ajak Arkan.
"Tunggu dulu," ucap Serra.
" Ada apa lagi?" tanya Arkan.
" Boleh aku minta sesuatu sebelum menikah," ucap Serra, Arkan menyerngitkan dahinya.
" Apa,"
" Jika kita jadi menikah, jangan melarangku untuk kuliah, atau bertemu dengan papaku," ucap Serra ingin memastikan hal yang penting dulu sebelum menjadi istri Arkan.
" Baiklah, tetapi bukan pria itu yang menjadi Dosenmu," jawab Arkan tidak keberatan asal sesuai dengan keinginannya.
" Terima kasih, dan ada satu lagi," ucap Serra lagi membuat Arkan menatap Serra yang banyak maunya.
" Apa lagi?" tanya Arkan tidak ikhlas.
" Ketika kita menikah nanti, aku mohon kembalikan penglihatanku," jawab Serra membuat Arkan kaget tidak percaya mendengar permintaan Serra.
" Kamu ingin melihat lagi?" tanya Arkan Serra mengangguk.
" Iya, aku ingin melihat lagi, dan juga melihat mu," jawab Serra yakin.
" Hmmm, aku tidak bisa janji, karena aku harus menyelesaikan kasusmu terlebih dahulu," jelas Arkan, sebenarnya dia juga memang ada rencana untuk mengembalikan penglihatan Serra.
" Aku akan menunggu," sahut Serra.
" Hmmm... baiklah, sekarang ayo kita pulang," ajak Arkan kembali.
Serra dan Arkan pun meninggalkan taman.
************
Hari pernikahan.
Acara pernikahan Serra begitu sederhana tidak banyak yang tau, Serra memang tidak ingin diadakan acara pernikahan yang mewah, yang jelas keluarganya lengkap.
Arkan yang memakai kemeja putih yang dibalut jas hitam, merasa dek-dekan, dia sungguh tidak menyangka akan menikahi wanita yang 3 tahun lalu ditemuinya.
Arkan sudah duduk disamping penghulu dan berhadapan dengan Suroto yang akan menjadi mertuanya itu. Seumur hidup Arkan memang inilah hari yang paling gelisah untuknya.
Serra pun datang di antar Vira, Arkan menoleh kebelakang ketika mengetahui kedatangan Serra. Arkan sangat pangling melihat calon istrinya itu.
Serra yang memakai dress putih panjang, rambutnya dililit kesamping membuat Serra semakin cantik, mata Arkan tidak berkedip melihat wanita itu yang semakin lama dekat dengannya.
Vira pun mendudukkan Serra disamping Arkan dan memasangkan selendang ke atas kepala Serra dan Arkan, Semua yang mengikuti acara tersenyum melihat Serra, kecuali Yasmine yang terus memandang sinis Serra.
" Baiklah kita mulai acaranya," ucap penghulu membuat Arkan membuyarkan pandangannya dari Serra dan berusaha tetap santai. Arkan menarik napasnya saat penghulu mengulurkan tangannya.
Penghulu pun mengucapkan ijab qobul dan langsung disambut Arkan.
" Saya terima nikahnya Serra Anindita Suroto dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai," sahut Arkan.
Penghulu melihat ke kiri dan kanan.
" Sah," Ucapan terakhir penghulu menandakan Serra dan Arkan sudah resmi menjadi suami istri.
Mereka berdoa bersama, setelah selesai berdoa, Serra mencium tangan Arkan yang sudah menjadi suaminya, Arkan pun mencium lembut kening Serra.
Arkan dan Serra pun menandatangani buku pernikahan mereka. Arkan membantu untuk menandatanganinya.
Bisa-bisanya anak sialan itu menikah dengan Arkan," batin Yasmine kesal kalah dengan Serra.
" Serra selamat ya," ucap Vira tersenyum memeluk Serra merasa ikut bahagia.
" Terima kasih Vira." Jawab Serra.
" Papa senang sekarang kamu sudah menjadi istri Arkan, papa berharap kamu bisa bahagia," ucap papanya memeluk Serra.
" Iya pa."
" Nak, Arkan titip anak saya," ucap Suroto.
" Pasti," jawab Arkan
" Serra selamat ya sayang," ucap Yasmine memeluk, Serra dengan cepat langsung menghindar.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments