" Apa yang kau lakukan di sini," tanya Serra.
" Aku, hanya menikmati udara segar," jawab
Arkan.
Arkan merasa pemandangan dari balkon tersebut sangat indah, angin sepoi-sepoi di pagi hari yang sangat sejuk, tiupan angin juga membuat rambut Serra menari-nari di wajahnya.
" Di sini memang sangat cocok, untuk menikmati udara pagi dan juga malam hari, tempat ini juga salah satu favorite ku," sahut Serra mempromosikan.
" Oh, iya, kenapa?" tanya Arkan, entah kenapa memang menjadi hobinya mendengarkan semua yang di katakan Serra.
" Dari kecil aku selalu di sini menghabiskan waktu, sampai aku dewasa, kalau bangun tidur aku akan langsung menikmati cuaca pagi memandang sinar matahari dan juga burung - burung berterbangan dan malam hari aku juga melihat keindahan malam dari sini. Tetapi sekarang aku tidak bisa melakukannya lagi, aku tidak bisa menikmati pemandangan yang indah itu," ucap Serra sedih.
Arkan dengan setia mendengarkan Serra berbicara, dari dia melihat senyum lebar di wajah Serra sampai senyum itu hilang karena mengingat keterbatasannya.
Ada rasa iba di hati Arkan yang tidak bisa dijelaskannya apa memang hanya simpatik atau justru yang lain. dia tidak mengerti tentang hatinya.
" Sepertinya kamu dari kecil sudah tinggal di rumah ini," ucap Arkan mengalihkan kesedihan Serra.
" Hmmm benar. Di sana," tunjuk Serra yang Arkan mengikuti arah telunjuk Serra. Pada sebuah rumah yang berhadapan dengan rumahnya.
" Ada apa di sana?" tanya Arkan bingung
" Itu dulu rumah sahabatku, aku dari kecil suka bermain di sana," jelas Serra mengingat teman kecilnya.
" Sampai sekarang kalian masih berteman?" tanya Arkan, Serra menggeleng dengan tidak bersemangat.
" Hmmm dia sudah pindah, setelah selesai lulus SMP dia pindah ke Surabaya. Sekarang rumah itu sudah ditempati orang asing," jawab Serra dengan nada yang sedih.
Arkan pun terus melihat rumah yang di tunjuk Serra dan tiba-tiba mata Arkan tertuju pada suatu benda yang melekat di tembok teras depan rumah tersebut.
" Rumah itu memiliki cctv," gumam Arkan pelan.
" Ada apa?" tanya Serra yang mendengar suara Arkan, tetapi tidak bisa jelas mendengar ucapan Arkan.
" Cctv itu, berhadapan dengan rumah Serra," Arkan terus berdecak seperti menemukan titik terang.
" Arkan kamu masih di sini?" tanya Serra lagi yang tidak mendapatkan respon dari Arkan.
" Iya, aku masih di sini," jawab Arkan.
" Kenapa kamu diam, apa ada sesuatu?" tanya Serra.
" Tidak, tidak ada apa-apa," jawab santai Arkan.
" Arkan terima kasih sudah menolongku kemarin," ucap Serra yang belum sempat mengucapkan Terimah kasih pada Arkan.
" Kamu tau itu aku?" tanya Arkan.
" Aku, bisa mengenalimu dari suaramu, dan aku ingin bertanya sesuatu boleh," sahut Serra ingin menanyakan hal yang mengganjal di pikirannya.
" Hmmm..ada apa?" tanya Arkan.
" Apa kamu menciumku saat itu," tanya Serra santai.
Pertanyaan Serra membuat Arkan menoleh cepat kearah wajah Serra yang terlihat sangat penasaran. Arkan tidak habis pikir, bisa-bisanya wanita itu malah menanyainya.
" Jika iya memang kenapa," jawab Arkan santai terus memandangi wajah Serra. Serra jadi terdiam dan tidak tau harus berbicara apa.
" Apa kita pernah bertemu?" tanya Serra, pertanyaan yang sudah lama ingin ditanyakanya. Arkan Justru terdiam saat wanita itu menanyakannya.
" Kenapa kamu tanya seperti itu?" tanya Arkan.
" Aku hanya merasa, seperti pernah bertemu denganmu sebelumnya," jawab Serra.
" Bukannya memang seperti itu, kalau orang yang tidak bisa melihat, saat seseorang bertemu dengannya dia akan merasa pernah bertemu dengannya," ucap Arkan.
" Benarkah, tapi aku tidak tau, aku merasa pernah bertemu sebelumnya denganmu," ucap Serra lagi yakin.
" Dimana?" tanya Arkan memancing ingatan Serra.
" Aku juga tidak ingat, tapi jika kita pernah bertemu, bukannya seharusnya kamu ingat,"
Serra malah mengalihkan kepada Arkan masalah ingatan yang membuat Arkan menyunggingkan senyumnya.
" Kamu benar, jika kita pernah bertemu, pasti aku akan mengingatnya dan aku tidak ingat apa-apa," ucap Arkan bohong.
" Iya mungkin aku salah," sahut Serra dengan perasaan kecewa.
Wajah cantik itu menunjukkan kekecewaan Serra sangat penasaran dengan Arkan, dari pertama kali mendengar suaranya dan juga tata cara Arkan yang berbicara dengan santai seperti mengingatkannya pada seseorang yang melekat di otaknya.
" Kembalilah kekamarmu, ingat gantilah dosen mu. Ini yang terakhir kalinya dia menjadi Dosenmu," ucap Arkan mengingatkan Serra kembali.
Memang Arkan sudah bisa menilai seperti apa Dosen yang bersama Serra. Yang modus untuk kuliah padahal Dosen tersebut mungkin sudah beberapa kali ingin melecehkan Serra.
" Baik lah, suruhlah pelayanmu mengantarmu aku harus pergi, masih banyak pekerjaan," ucap Arkan.
" Kenapa dia malah pergi, aku jelas seperti pernah menemuinya," gumam Serra pelan.
Arkan yang masih di berada di belakang Serra masih bisa mendengar Serra berbicara. Arkan menyunggingkan senyumnya saat mendengar kata-kata Serra.
***********
Setelah melihat adanya cctv di depan rumah Serra, Arkan langsung menyuruh Roy untuk kerumah tersebut dan mengecek cctv.
Dengan cepat Roy mendapatkannya dan langsung menunjukkan pada Arkan. Roy yang langsung datang kerumah Arkan ingin melapor hasil pekerjaannya.
Arkan dan Roy yang berada di ruang tamu, melihat rekaman cctv dengan laptop. Wajah ke-2 nya sangat serius saat melihat rekaman tersebut.
" Stop," ucap Arkan saat melihat Vira keluar dari rumah itu.
" Siapa dia?" tanya Roy.
" Sepupu Serra, yang tinggal bersamanya, dia keluar pukul 9 :12. Dan kejadian di rumah itu pukul 9:25," Arkan berdecak mengingat kejadian tersebut.
" Arkan lihat siapa dia," sahut Roy lagi, melihat pria memasuki rumah tersebut setelah Vira pergi. Roy men zoom camera agar terlihat jelas.
" Itu pria yang tadi pagi aku lihat," ucap Arkan yang melihat Damar memasuki rumah Zira.
" Siapa dia?" tanya Roy.
" Dosennya Serra. Tapi kenapa dia tidak berada saat di lokasi kejadian," gumam Arkan berpikir.
" Maksud lo?" tanya Roy.
" Saat polisi datang kelokasi kejadian, dia tidak ada di sana," jawab Arkan.
Arkan mengingat jelas semua keterangan dari kepolisian dan memang tidak ada sama sekali Damar di sana.
" Lihat dia keluar pukul 9: 20. Dan para warga baru tiba pukul 9:25," jelas Roy dengan teliti.
" Sial, jangan-jangan dia terlibat dalam hal ini," tebak Arkan tiba-tiba membuat kesimpulan.
" Kita sebaiknya selidiki dulu," saran Roy.
" Lo, benar gue harus introgasi dia terlebih dahulu," ucap Arkan setuju dengan saran Roy.
Arkan cukup lega karena mendapat bukti baru dari kasus pembunuhan rekan bisnis Suroto.
Rekan bisnisnya memang bertamu kerumah Serra pada saat itu. Suroto sedang keluar. Rekan bisnisnya bersedia menunggu Suroto karena memang hanya beberapa menit lagi Suroto kembali.
Tetapi saat Suroto kembali rumahnya sudah dipenuhi warga dan melihat kedalam rekan bisnisnya sudah dilumuri darah bersama putrinya.
**********
Arkan kembali kerumah Serra ingin bertanya kepada Serra mengenai Dosennya. Sementara Roy dan Alex mencoba menyelidiki Damar. Mobil Arkan sudah berhenti di rumah Serra.
" Dimana Serra?" tanya Arkan pada pelayan yang berpapasan dengannya.
" Non Serra ada di atas tuan," jawab sang pelayan dan Arkan langsung mencari keberadaan Serra di lantai atas.
Saat ingin menemui Serra tiba-tiba saja ada yang menarik bajunya, dan mendorongnya keatas ranjang dalam sebuah kamar.
" Yasmine apa yang kamu lakukan," ucap Arkan yang melihat Yasmine berdiri dihadapannya. Arkan ingin bangkit namun Yasmin mencegahnya dan malah menindih tubuh kekar Arkan.
" Apa kamu tidak merindukanku?" tanya Yasmine membelai wajah Arkan dengan jarinya.
" Menyingirlah kamu dari hadapanku," ucap sinis Arkan menepis kasar tangan Yasmine dari wajahnya.
" Kalau aku tidak mau bagaiman? Aku tau kamu pasti sengajakan menjadi pengacara Serra agar bisa selalu bersama denganku," ucap Yasmine percaya diri.
Menurutnya kehadiran Arkan di keluarga Suroto hanya untuk mendekati Yasmine kembali.
" Jangan mimpi kamu, aku tidak pernah tertarik denganmu," jawab Arkan sinis.
" Kenapa? kamu sekarang jual mahal, ayolah Arkan mumpung suamiku tidak ada di sini, dan gadis buta juga pasti sudah tidur, walaupun dia bangun dia tidak akan bisa melihat kita," Yasmine terus membelai wajah Arkan mencoba merayunya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Tina Nine
Ulat keket rupanya si Yasmin...
2023-03-28
0
MaL@🪄✨
hadeuhh si yasmin, pgn bgt kuiket rambut nya ke pohon beringin...
2021-11-10
4