Setelah kemarin berdiskusi dengan Arkan dan Alex, kali ini Roy mendatangi rumah Serra, Roy mencoba memeriksa kembali rumah Serra. Kasus pembunuhan yang terjadi di rumah Serra sudah lebih 1 bulan, tetapi polisi maupun Arkan belum menemukan titik terangnya.
" Ni Pak, silahkan," ucap pelayan mengantarkan Roy kedalam kamar tamu yang di maksud Arkan.
" Terima kasih," jawab ucap Roy.
Setelah kepergian sang pelayan Roy kembali memeriksa kamar, lantai di dalam kamar dekat pintu masih ada bekas tanda kapur dari kepolisian, di mana ditemukan mayat, rekan bisnis Suroto.
" Arkan mengatakan dari keterangan Serra dia ingin di lecehkan, jika bukan Serra yang menusuk korban, lalu siapa, sementara tusukan mayat, sangat tepat di perutnya," gumamnya memikirkan misteri kematian rekan bisnis Suroto.
Roy terus menggerutu pada dirinya sendiri berusaha mendapatkan jawabannya atas dari pertanyaannya. Kemunculan Damar dalam kasus yang ditangani Arkan membuat Roy semakin bingung.
Damar yang memang datang pada saat sebelum kejadian menjadi tanda tanya besar, padahal Serra tidak sedang ada jadwal kuliah, belum lagi dengan riwayat kehidupan rekan bisnis Suroto yang tidak ada cacat sama sekali.
Sebelum mendatangi rumah Serra, Roy memang kembali menyelidiki korban, Roy bahkan menemui istri korban, istri korban menceritakan semua tentang ALM suaminya sampai akar-akarnya, dan dari keterangan istri korban memang tidak mungkin jika korban ingin melecehkan Serra.
Tetapi Serra juga tidak mungkin bohong, teka-teki kasus Serra semakin membingungkan.
" Aku harus periksa yang lainnya," ucap Roy mengambil keputusan dan keluar dari kamar.
Roy sangat terburu-buru saat keluar dari kamar tersebut. Vira yang lewat dari kamar pun bertabrakan dengannya.
" Auhhh.." rintih Vira memegang lengannya kesakitan.
" Sorry, sory, gue gak sengaja," ucap Roy merasa bersalah.
" Nggak, apa-apa," sahut Vira bohong padahal lumayan sakit lengannya tertabrak Roy.
" Yakin,"
" Iya, maaf kamu siapa ya?" tanya Vira yang melihat Roy seperti bukan petugas.
" Aku, Roy, temanya Arkan, dan juga detektif dari kepolisian, yang mengurus kasus Serra," ucap Roy mengulurkan tangannya.
" Aku Vira, sepupunya Serra," jawab Vira menyambut uluran tangan Roy dengan ramah.
" Kamu yakin kan, tidak apa-apa?" tanya kembali Roy.
" Iya, nggak apa-apa," oh iya gimana kamu sudah selesai memeriksanya," tanya Serra.
" Hmmm, belum sih, bisa nggak aku tanya-tanya kamu sebentar," ucap Roy serius.
" Boleh, ayo kita di ruang tamu saja," ajak Vira
Vira dan Roy pun beralih keruang tamu, duduk berdekatan, Vira terlihat santai, karena sudah terbiasa diminta keterangan semenjak ada pembunuhan di rumah omnya tersebut.
" Kamu sudah lama tinggal di sini," tanya Roy.
" Iya, semenjak orang tuaku meninggal aku tinggal di rumah ini, ke-2 orang tua ku meninggal bersama mamanya Serra dalam kecelakaan, karena aku cuma punya om Suroto jadi aku tinggal di rumah ini," jelas Vira mengatakan yang sebenarnya.
Vira menjadi sedih saat mengingat kembali orangtuanya, yang meninggal bersama mamanya Serra.
" Pada saat kejadian, kamu meninggalkan Serra," tanya Roy.
" Iya, aku meninggalkan Serra sebentar,"
" Apa saat kamu pergi, tamu Pak Suroto sudah berada di lokasi," tanya Roy lagi.
" Iya, dia sudah menunggu di ruang tamu," jawab Vira.
" Apa kamu sempat bertemu Damar," tanya Roy.
Vira yang mendengar nama Damar mengkerutkan dahinya bingung.
" Tidak, pada hari itu Serra tidak ada kuliah,"
" Damar terekam cctv dari rumah yang berada di depan," jelas Roy.
" Aku, baru tau kalau pak Damar ada, padahal serra gak ada kuliah, sebaiknya aku tanya dulu semua pelayan di rumah ini," ucap Vira " kamu tunggu sebentar ya,"
Vira pun beranjak dari tempat duduknya dan pergi, Roy membuang napasnya kasar menyandarkan tubuhnya ke sofa.Tidak berapa lama Virapun kembali datang.
" Bagaimana," tanya Roy yang sangat penasaran.
" Tidak ada satupun pelayan yang tau jika pak Damar memasuki rumah," sahut Vira setelah bertanya kepada semua pelayan di rumahnya.
" Menurut kamu Damar orang yang seperti apa," tanya Roy.
" Aku kurang mengenalnya, aku juga tidak pernah berbicara sekalipun dengannya," ucap Vira seadanya, " kalau dia datang langsung, keruang belajar, dan langsung pulang," lanjutnya lagi.
" Apa di ruang belajar Serra, ada cctv?" tanya Roy.
" Iya, ada," jawab Vira mengangguk.
" Bisa saya melihatnya?" tanya Roy.
" Boleh, mari silahkan," ajak Vira yang tanpa keberatan.
Vira dan Roy pun menaiki lantai atas, menuju ruang belajar Serra, sesampai di sana mereka langsung mengecek cctv, dengan serius Roy mengecek kegiatan Damar selama mengajar Serra.
Vira mengkerutkan dahinya, menatap jijik saat melihat monitor cctv, yang mana Damar yang terus memperhatikan Serra dengan mata keranjangnya, sangat jelas terlihat Damar yang begitu mesum terhadap Serra.
" Aku gak nyangka kelakuannya seperti ini, memanfaatkan keterbatasan Serra untuk memenuhi hasratnya, dia benar-benar kurang ajar, pantas saja Arkan menyuruh Serra mengganti Dosenya,"
Vira kesal melihat Damar yang secara tidak langsung ingin melecehkan sepupunya.
Roy masih serius melihat rekaman cctv dan tiba-tiba, mata Roy melihat ada hal yang aneh, dengan cepat Roy men zoom kamera agar melihat dengan jelas.
" Ada apa?" tanya Vira.
" Lihat cincin itu," tunjuk Roy pada layar laptop.
" Kenapa dengan cincin itu," tanya Vira yang tidak mengerti, melihat yang ada di jari tangan manis damar.
Cincin itu di temukan di kolong kamar tamu, tapi kenapa cincin itu ada ditangannya," tanya Roy bingung.
" Apa jangan-jangan, Pak damar yang membunuh rekan bisnis Suroto," tebak Vira mengambil kesimpulan.
" Ini pasti terjadi kesalahan, Serra hampir diperkosa saat itu," ucap pelan Roy membuat Vira menatapnya tidak tidak percaya.
" Serra hampir di perkosa!" sahut Vira kaget, Serra memang tidak pernah menceritakan hal itu padanya.
" Iya," jawab Arkan mengangguk.
" Jadi maksud kamu, Serra ingin di perkosa rekan bisnis om Suroto dan pak Damar membunuhnya," tebak Vira, menyimpulkan semuanya.
" Bukan, Setelah gue teliti, sepertinya bukan rekan bisnis Pak Suroto yang ingin memperkosanya, tetapi..." Roy tidak melanjutkan kalimatnya.
" Tetapi apa?" tanya Vira penasaran.
" Damar lah yang ingin memperkosa Serra dan rekan bisnis om Suroto ingin menolongnya, dan damar membunuhnya," ucapnya yakin membuat Vira kaget menutup mulutnya.
" Astaga, kamu yakin," tanya Vira tidak percaya Roy hanya mengangguk.
" Terus bagaimana dengan Pak Damar?" tanya Vira.
" Damar menghilang," jawab Roy membuat Vira menjadi khawatir.
" Kalau begitu, kalian harus mencari Damar, dia bisa membahayakan Serra." ucap Vira panik.
" Iya, aku harus kasih tau Arkan, thanks ya," Roy pun pergi secepatnya.
*******
Cuaca terang langsung berganti malam, derasnya hujan membasahi bumi, Arkan yang sedang menyetir di dalam mobilnya, melewati hujan deras, Arkan buru-buru pulang kerumahnya, saat mendengar dari Roy jika Damar di balik semua ini.
Arkan begitu mencemaskan Serra, takut terjadi sesuatu pada wanita yang sekarang sudah menjadi istrinya itu.
*****
Serra berada di kamarnya sendirian tiupan angin yang kencang membuat horden jendela menari-nari, sautan petir yang begitu keras membuatnya sedikit ketakutan, Serra yang duduk di pinggir ranjangnya memegang tongkatnya kuat, dia sungguh ketakutan.
" Kenapa Arkan belum pulang, hujannya sangat deras, aku tidak bisa menutup jendelanya," gumamnya menahan dingin karena tiupan angin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Taufiq Ismail
so far ceritanya bagus thor, aku baru baca di 2022
2022-12-16
0
Usrok Ursok
maaf y thor 🙏 yg lebih fokus lagi jadi menyebutkan nama karakternya jadi salah alias ketukur😁🤭...
tetap semangat y thor....karna keberhasilan dan kesuksesn butuh peroses.
ditungguh kelanjutannya.....👍👍
2021-10-17
2