" Kamu mengikutiku?" tanya Serra membuat Arkan menjadi gugup, dan malah salah tingkah dia sunguh tidak sadar atas apa yang dilakukannya.
" Hmm.. ti-tidak, aku hanya berjalan sambil bermain hanphone jadi tidak sengaja aku berada di belakangmu," jawab Arkan gugup membuat Vira bingung, padahal Arkan tidak sedang memegang ponsel.
" Ohhhh... Kalau gitu baiklah, ayo Vira kita pulang," ajak Serra dan Vira yang masih bingung pun membawa Serra perlahan berjalan menuju mobil. Arkan menarik nafasnya panjang mengacak rambutnya frustasi.
" Sial, kenapa gue jadi kayak gini, kenapa cewek itu dari dulu terlihat sangat santai," decaknnya kesal tidak tau apa yang dipikirkannya.
********
Serra telah berpikir dengan matang syarat yang diminta Arkan pada dirinya, sebenarnya Serra ragu harus menjalankan pernikahan, apa lagi kondisinya yang sangat terbatas. Tetapi papanya sepertinya sangat khawatir tentang dirinya yang akan di penjara, jadi dia pun menerima tawaran Arkan demi sang papa.
Yasmine yang mendengar keputusan Serra sungguh naik darah. Bahkan Suroto sudah memberi kabar pada Arkan tentang pernikahan itu. Yasmin dengan kemarahanya memasuki kamar menutup pintu kamar dengan keras.
Brukkk
" Siallll," teriaknya menyapu peralatan makeup yang ada di meja riasnya dengan ke -2 tanganya.
" Kenapa Arkan ingin menikahi wanita buta itu, aku sungguh tidak menyangka aku akan kalah dengan wanita buta seperti dia," umpat Yasmine kesal.
" Aku tidak akan membiarkan semuanya terjadi, liat saja aku akan melakukan sesuatu agar Arkan mengurungkan niatnya dan kembali kepadaku," ucapnya penuh rencana tersenyum licik.
*********
Serra sudah bangun dari tidurnya dan sudah menunggu bi Ijah, salah satu pelayannya yang memang akan mengantarkannya mandi dan membantunya bersiap.
" Non Serra mau langsung mandi," tanya bi Ijah.
" Iya, bi, oh iya bi Vira mana?" tanya Serra.
" Non Vira, sudah kekampus," jawab bi Ijah.
" Oh, aku lupa jika ini hari kammis jadwalnya Vira kekampus," ucap Serra mengingat jadwal Vira dengan dirinya memang sama.
Meski buta Serra sekarang menjalankan S2 nya, tetapi tidak seperti Vira yang harus kekampus, Serra hanya perlu kuliah di rumahnya dengan dosen yang sudah ahli menangani cacat fisik sepertinya.
" Apa hari ini masih ada pemeriksaan bi," tanya Serra, dia selalu merasa kurang nyaman seminggu belakangan ini mengetahui rumahnya sering ramai orang.
" Iya non, di bawah masih ada pemeriksaan seperti biasanya," jawab bi Ijah membuat Serra manyun, " ayo non kekamar mandi," ajak bi Ijah dan langsung menggandeng Serra memasuki kamar mandi.
Serra sedang mandi, untuk urusan mandi dia tidak perlu di temani, karena dia bisa sendiri. bi Ijah menyiapkan pakaian Serra yang akan dipakainya hari ini.
Yasmine yang lewat dari kamar Serra berhenti saat melihat pelayan yang sedang merapikan kamar Serra, ya pintunya memang tidak tertutup.
" bi Ijah," panggil Yasmine membuat Ijah menoleh.
" Iya nyonya,"
" Buatkan saya jus jeruk, dan antar kekamar saya," perintah Yasmine.
" Tetapi, nyonya saya sedang menunggu non Serra," jawab bi Ijah.
" Aduh nantikan bisa, dia juga masih mandi, jadi masih lama, sudah sekarang cepat, saya tunggu," ucap Yasmine tidak mau tau dan pergi. Ijah menarik napasnya dan langsung pergi meninggalkan Serra di kamar mandi.
Setelah beberapa menit bi Ijah pergi, Serra keluar dari kamar mandi menggunakan bathrobe, rambutnya masih basah, Serra merasa seperti tidak orang.
" Bi Ijah," panggil Serra meraba dan memang tebakannya benar tidak ada orang.
" Kenapa dia meninggalkan ku, kan aku belum selesai, di mana pakaianku," gumamnya meraba ranjangnya dan menemukannya.
Arkan yang kebetulan lewat dari kamar Serra, pintu kamar Serra tidak tertutup bi Ijah lupa menutupnya dan Serra juga tidak tau kalau pintu itu di tutup atau tidak. Arkan harus melihat wanita itu perlahan membuka bathrobenya dan sampai jatuh kelantai.
Arkan terkejut menganga saat melihat tubuh polos Serra terpampang nyata di depannya. Tidak ada yang berubah tubuh itu masih tetap indah seperti 3 tahun lalu saat di temuinya pertama kali.
Arkan menelan salavinanya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, meski hanya melihat bagian punggungnya saja, hasrat Arkan sebagai laki-laki normal mulai naik.
Arkan sadar dalam pikirannya dan membuang pikiran liar di dalam dirinya dan dengan cepat menutup pintu kamar Serra, takut ada yang melihat Serra berganti pakaian.
Brukk suara tutupan pintu tersebut membuat Serra kaget, dan dengan cepat mengambil pakaiannya
" Apa ada orang di sana," ucapnya panik dan tidak ada jawaban, Serra pun dengan cepat kekamar mandi untuk berganti pakaian.
Setelah selesai berhias sedikit, bi Ijah mengantarkan Serra keruang belajar untuk menemui dosenya. Bi Ijah mendudukkan Serra disamping dosennya.
" Maaf menunggu lama," ycap sopan Serra.
" Tidak apa-apa," jawab Damar pria sekitar 40 tahunan
" Saya tinggal dulu ya non," ucap bi Ijah pamit yang dianggukkan Serra.
Damar dan Serra pun mulai belajar dan sudah hampir satu jam, Serra dan damar duduk bersebelahan dan sangat dekat, Serra yang fokus kuliah, sementara damar terus menatap wajah Serra yang disampingnya dengan hasrat liar, apa lagi baju yang dipakai Serra mampu memperlihatkan belahan dadanya.
Serra bisa merasakan dosenya itu memang sangat dekat dengan dirinya, tetapi memang itu cara belajar yang di lakukan selama ini, dan Serra tidak tau jika dosenya selalu memandanginya dengan mesum.
Mungkin hasrat damar sudah dan tidak tertahan lagi, dia mulai menyingkap keatas dress Serra, dan menghelus pahanya dan Serra kaget menerima serangan itu.
" Pak Damar," ucap Serra panik dan bergeser sedikit.
" Maaf Serra saya terlalu fokus pada laptop saya, jadi saya tidak sengaja," jawab Damar bohong, bahkan dia berhasil membuat dress itu naik tanpa sepengetahuan Serra dan dengan nikmatnya mata damar memandang indahnya paha Serra yang sudah hampir terlihat area sensetif Serra.
Damar meneguk salavinanya tidak tahan dengan kulit tubuh Serra yang mulus.
" Serra maaf ada sesuatu di leher kamu," ucap Damar bohong.
" Ada apa ya pak?" tanya Serra polos memegang lehernya
" Biar saya yang ambil," ucap damar menjalankan aksinya dan berniat ingin menyesap leher jenjang mulus Serra.
" Ehmmmm!!" suara deheman Arkan yang berdiri di depan pintu ruang belajar membuat Damar bergeser sedikit dari Serra.
" Sial," umpat damar dalam hati.
" Saya ingin bicara dengannya," ucap Arkan ketus menghampiri Serra dan Dosenya.
" Tetapi aku sedang kuliah," jawab Serra.
" Aku rasa sudah cukup. Benarkan," ucap Arkan menatap tajam Damar, damar mulai panik takut jika niatnya ketauhan bisa habis hidupnya oleh papanya Serra.
" Iya, Serra kita sudahi saja, besok dilanjut lagi," jawab gugup Damar dan dengan gemetar membereskan peralatannya yang ada di atas meja.
" Saya permisi dulu," ucap pamit Damar gugup dan melewati Arkan dengan rasa takut.
" Kenapa dia malah pergi," Serra berdecak bingung.
Arkan menghampiri Serra dan duduk disampingnya. Arkan membuang napasnya kasar saat melihat dress Serra tersingkap.
" Dasar," desis Arkan menurunkan dress Serra.
" Apa yang kamu lakukan?" tanya Serra kaget merasa ada yang menyentuh pahanya.
" Kamu pikir aku akan melakukan apa, apa tidak bisa menggunakan pakaian yang lebih layak," ucap Arkan sinis melihat pakaian Serra yang terbuka yang bisa mengundang hasrat para lelaki termasuk dirinya.
" Memang ada apa dengan pakaianku, aku juga tidak tau menggunakan pakaian yang seperti apa," ucap Serra membuat Arkan geleng-geleng ya mana juga Serra tidak tau berpakaian seperti apa.
" Sudahlah, lain kali suruh pelayanmu memakaikanmu pakaian yang tertutup sedikit kalau perlu pakai jubah," ucap kesal Arkan membuat Serra menyerngitkan dahinya bingung.
" Dan gantilah dosenmu, jangan dia, ganti dengan wanita," lanjut Arkan lagi membuat Serra bingung.
" Kenapa?" tanya Serra
" Jangan banyak tanya, aku tidak suka melihatmu berduaan dengan laki-laki lain, ingat kamu itu calon istriku," ucap tegas Arkan dan Sera semakin bingung.
" Ada apa dengannya tadi mengomentari pakaianku sekarang menyuruhku mengganti dosenku," serra berdecak dalam hatinya.
Arkan beralih dari kursi di samping Serra menuju balkon, Serra bisa merasakan langkah kaki Arkan kemana pergi. Serra pun bangkit dari kursinya dan mengikuti Arkan, Serra memang sudah sangat hafal dengan semua sudut rumahnya.
Arkan meletakkan ke-2 tangannya di pagar balkon rumah tubuhnya agak membukkuk sedikit. Ruang belajar Serra yang berada di lantai paling atas dan memili balkon yang bisa melihat keindahan dari atas.
Tidak berapa lama Serra pun sudah berdiri di samping Arkan dengan memegang togkatnya tangannya juga meraba balkon tersebut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
☂⃝⃞⃟ᶜᶠ 𝐑𝐢𝐓𝐚★𝐚𝐅𝐫𝐞𝐋𝐢💕
kak apa mungkin serra akan buta selamanya.🤔🤔
2021-12-03
0
Hen
maraton baca
2021-11-08
0
Usrok Ursok
ceritanya bikin gemes thorr...
g sabar pengen lanjut ceritannya😉
2021-10-12
6