" Serra tidak bersalah pa, jadi tidak masalah jika dia tidak ingin menjadi pengacara Serra," jawab Serra seakan tidak peduli.
" Sayang, ayolah kamu jangan seperti ini, cuma dia satu-satunya pengacara yang bisa membebaskan kamu,"
Suroto terus membujuk Serra, agar Serra mengubah keputusannya, bagaimanapun Suroto tidak ingin putri semata wayangnya tinggal di dalam jeruji besi.
" Kalau begitu biarkan saja Serra di penjara," jawab Serra cepat.
" Serra kenapa kamu bicara seperti itu," sahut Suroto.
Arkan yang sedari tadi berdiri di depan pintu mendengar Suroto terus membujuk Serra untuk bersedia menikah dengannya.
Arkan menarik napasnya panjang, dan membuangnya cepat. seperti Arkan harus bertindak dalam mengatasi masalah ini.
" Maaf saya menggangu," sahut Arkan yang dari depan pintu dan berjalan mendekati Suroto, Serra dan Yasmine.
Serra yang mendengar suara Arkan langsung gelisah seperti tidak ingin bertemu dengan pria itu.
" Nak Arkan," ucap Suroto.
" Saya ingin bicara dengannya," sahut Arkan. melihat kearah Serra yang duduk dengan memalingkan wajahnya.
" Pa, Serra mau makan, Serra lapar," sahut Serra menghindar, tau yang di maksud Arkan pasti dirinya.
" Sebaiknya nanti saja, kamu bicara terlebih dahulu dengannya," ucap Suroto menolak permintaan Serra.
" Tapi Serra lapar pa," keluh Serra merengek seakan tidak mau kalah.
" Papa akan suruh pelayan membawakan mu makanan, bicaralah dengan calon suamimu, setelah itu kamu akan makan, papa dan mamamu akan menunggu di bawah," ucap penuh penegasan terhadap Serra
Suroto mengajak Yasmine turun. Suroto menepuk bahu Arkan. Berharap jika Arkan bisa membujuk putrinya. Setelah kepergian Suroto Arkan pun duduk disamping Serra.
" Aku ingin menanyakan kejadian sewaktu pembunuhan di rumahmu," ucap Arkan yang ingin menanyakan yang tidak sempat ditanyakanya tadi malam.
Serra hanya diam tanpa ekspresi.
" Apa kamu ada kuliah saat itu?" tanya Arkan langsung pada intinya
" Tidak," jawab Serra datar.
" Apa Dosenmu mengunjungi mu?" tanya Arkan lagi.
" Tidak,"
" Apa kamu mengetahui jika ada orang lain yang datang kerumahmu," tanya Arkan lagi.
" Tidak, aku tidak tau, apa kamu tidak melihat jika aku buta," jawab Serra Ketus mengingatkan Arkan.
Arkan menyunggingkan senyumnya melihat wajah Serra yang tampak cemberut dan masih pasti marah kepadanya.
" Apa sudah cukup bertanya, kalau tidak ada lagi maka biarkan aku pergi," ucap Serra mengambil tongkatnya dan berdiri.
Arkan memegang tangannya seakan memberhentikannya langkahnya.
" Aku belum selesai bicara," ucap Arkan mendongak menatap Serra yang berdiri di depannya.
" Ada apa lagi?" tanya Serra Menyinggirkan tangannya dari Arkan.
" Kenapa kamu menolak menikah denganku?" tanya Arkan, Serra terdiam sejenak, memang itu pasti akan ditanyakan Arkan, apa lagi tadi malam dia menampar pria itu.
" Meski aku buta aku juga pemilih dalam mencari pasangan," jawab Serra ketus. Membuat Arkan mengendus.
" Memang kamu ingin pasangan seperti apa?" tanya Arkan yang sebenarnya tidak penting untuknya.
" Aku hanya ingin menikahi pria yang tidak diinginkan wanita itu," jawab Serra
Jawaban Serra membuat Arkan mengerti jika memang benar Serra mendengar semuanya tentang apa yang dikatakan Yasmine.
" Bukannya aku mengatakan jika aku, tidak tertarik dengannya," jawab Arkan santai.
" Kamu juda tidak tertarik denganku, dan kamu ingin menikahiku, apa bedanya dengannya kamu tidak tertarik dengannya dan kamu bersamanya," sahut Serra sinis.
" Kamu mendengar semuanya?" tanya Arkan.
" Iya, dari awal, sebaiknya kamu menikah saja dengannya dan bawa dia keluar dari rumahku," Sahut Serra dengan penuh penekanan.
Serra memang jelas menunjukkan ketidak sukaannya dengan Yasmine meski Arkan sudah tau.
" Tapi aku menginginkanmu bukan dia," ucap Arkan berdiri, Arkan menatap 2 bola mata itu yang begitu jelas menunjukkan kemarahan dan mungkin juga salah paham.
" Aku sudah mengatakan, aku tidak bisa apa-apa, dan kamu juga mendengar sendiri dari wanita itu jika aku tidak bisa melakukan apapun, jadi berhentilah berpikir untuk menikahiku, menikahlah dengan orang yang menginginkanmu," ucap Serra penuh penegasan.
" Dengar ya Serra, tidak ada yang bisa mengatur ku, kamu atau siapapun, aku menikahimu, agar kamu terbebas dari hukum," jelas Arkan.
" Jika ingin membantu seseorang kenapa harus menikahinya, pernikahan bukan hari, Minggu bulan, tapi akan selamanya, tidak menutup kemungkinan kamu akan menikahi wanita lain demi membebaskannya," ucap Serra membuat Arkan tidak percaya jika Serra berpikir sejauh itu.
" Belum apa-apa kamu sudah takut kehilanganku," ucap Arkan mencoba menggoda Serra.
" Bukan itu maksudku,"
" Kalau begitu jangan biarkan aku dengan wanita lain," ucap Arkan membuat Serra menyerngitkan dahinya bingung dengan perkataan Arkan.
" Maksud kamu?" tanya Serra.
" Sudah lah Serra. Kamu jangan bertingkah, pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi, jadi mengikut saja lah, karena aku tidak suka membatalkan sesuatu yang sudah aku rencanakan," ucap Arkan menegaskan.
" Kamu tidak bisa mengaturku," sahut Serra yang masih tetap keras kepala.
" Aku bisa melakukannya, apapun itu, jadi jangan berpikir untuk membatalkannya, kalau tidak.."
Belum sempat Arkan melanjutkan kalimatnya Serra langsung memotongnya.
" Kalau tidak apa, apa yang akan kamu lakukan, selain mengancam untuk tidak menjadi pengacara ku," sahut Serra.
" Hmmmm.... Sudahlah aku tidak ingin memperbesar masalah. Jadi sebaiknya kamu pikirkan baik-baik, kamu jangan hanya memikirkan diri kamu, pikirkan papa kamu juga. papamu yang khawatir terhadapmu, jadi jangan pernah berpikir membatalkan pernikahan dan jangan bertindak bodoh seperti tadi malam,"
Arkan terus mengingatkan Serra akan resiko yang akan di dapatkannya jika tidak menikah dengannya.
" Aku pergi dulu," ucap Arkan pamit, membuat Serra masih mematung diam.
Serra menarik napasnya, tidak mudah baginya untuk menyuruh Arkan membatalkan pernikahannya. Serra kembali duduk seakan pasrah pada nasibnya selanjutnya.
" Non, makanannya sudah siap," sapa sang pelayan setelah kepergian Arkan.
" Aku tida lapar," jawab Serra langsung berubah pikiran.
" Baiklah, apa non Serra, butuh sesuatu?" tanya pelayan.
" Tidak aku hanya ingin istirahat," jawab Serra.
" Bawa makanannya kemari," sahut Arkan yang ternyata masih berdiri di depan pintu mendengar Serra yang menolak untuk makan.
" Kamu masih di sini?" tanya Serra.
" Cepat bawa makanannya kemari!!" perintah Arkan lagi tanpa menjawab pertanyaan Serra dan pelayan menunduk langsung pergi.
" Aku tidak mau makan, kenapa kamu menyuruhnya mengambilnya," sahut Serra kesal.
" Bukannya tadi kamu bilang sangat lapar," ucap Arkan.
" Selera makanku sudah hilang," jawab Serra ketus. Arkan tersenyum melihat tingkah Serra.
Tidak berapa lama 2 pelayan pun datang membawakan nampan berisi makanan. Mereka langsung menghidangkan makanan di atas meja.
Jika Serra makan memang harus ada pelayan disampingnya yang memantaunya agar Serra tidak salah makan.
" Tinggalkan kami," ucap Arkan ketika melihat pelayan memasukkan nasi kepiring Serra.
Wajah Serra berubah menjadi bingung, bagaiman dia bisa makan kalau pelan itu tidak ada.
" Baik tuan," jawab pelayan dan pergi.
" Apa yang kamu lakukan, kamu suruh mereka membawa makanan, dan malah menyuruhnya pergi lagi," protes Serra tidak mengerti maksud Arkan.
" Aku minta maaf, jika, kejadian tadi malam membuatmu marah dan penuh pikiran lain, sebagai gantinya aku akan menjadi pelayanmu hari ini," ucap Arkan, dia juga tidak tau apa yang dikatakannya, entah mengapa dia justru merasa bersalah kepada Serra.
Serra bingung dengan apa yang dikatakan Arkan. Dia tidak mengerti dengan ucapan pria itu. Arkan mulai memasukkan nasi kepiring Serra dan beberapa lauk.
Arkan memegang dagu Serra dan menyodorkan sesendok nasi tepat di mulut Serra.
" Makanlah," ucap Arkan, Serra bisa merasakan ada makanan di depan mulutnya.
" Aku bisa sendiri," tolak Serra mengalihkan wajahnya.
" Tanganmu sakit, jadi makanlah, jangan menolak," sahut Arkan yang melihat tangan Serra masih memakai perban akibat luka tadi malam.
" Ta-ta-tapi," serra belum sempat melanjutkan kalimatnya sendokan pertama sudah masuk kedalam mulutnya. Serra pun mengunyah makanan yang diberikan Arkan.
Meski keberatan dengan perlakuan Arkan Serra akhirnya menerima suapan demi suapan yang di berikan Arkan. Selama Arkan menyuapinya selama itu juga jantungnya berdebar kencang.
Arkan memperlakukan Serra dengan baik, hal yang tidak pernah di lakukannya kepada siapapun termasuk Yasmine.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
desi_adiba
so sweeeettt 😍
2022-02-14
1
Usrok Ursok
lanjut thorrr...jadi penasaran😁
2021-10-14
2
伊達
lnjut
2021-10-14
0