Setelah acara sakral pernikahan yang berlangsung sebentar. Vira mengantar Serra kembali kekamarnya. Seperti biasa Vira akan membantu Serra bersiap. Hari ini Arkan langsung akan membawa Serra kerumahnya.
Serra keluar dari kamar mandi setelah cukup membersihkan dirinya, Serra sudah mengganti pakaiannya dengan dress toska di bawah lututnya.
Dengan lesu Serra duduk di pinggir ranjang, menggenggam erat tongkatnya dengan ke-2 tangannya, Vira memperhatikan wajah Serra yang tampak gelisa seperti memikirkan sesuatu, Vira pun mendekati Serra dan duduk disampingnya.
" Ada apa Serra?" tanya Vira memegang bahu Serra.
" Aku bingung Vira," sahut Serra membuat Vira menyerngitkan dahinya.
" Bingung kenapa?" tanya Vira tidak mengerti.
" Apa yang harus aku lakukan nanti di rumah Arkan, aku tidak tau rumahnya, aku pasti kesasar, aku juga tidak tau apa yang harus ku perbuat," jawab Serra mengutarakan isi pikirannya.
" Bukannya Arkan juga punya pelayan," ucap Vira yang memang sudah di ketahuinya dari omnya, karena Arkan memang memberi tahu terlebih dahulu agar Suroto tidak khawatir.
" Iya, tapi tetap saja aku tidak tau harus bersikap apa, dan Arkan apa yang harus aku lakukan dengannya," ucap Serra.
" Serra pelayan di rumah Arkan pasti membantumu, Arkan akan marah jika dia tidak membantu mu," ucap Vira meyakinkan.
" Terus bagaimana dengan aku dan Arkan?" tanya Serra membuat Vira tersenyum.
" Ya kamu sama Arkan kan sudah menjadi suami istri, ya tugas kamu menuruti semua keinginannya dan kamu harus melakukan hubungan layaknya suami istri seperti biasanya," jawab Vira senyum seakan mengerti maksud Serra, Serra akan mengalami kecanggungan saat bersama Arkan.
" Tapi kan aku..."
" Hey, sudahlah kamu jangan takut, Arkan itu suami kamu bukan Monster, percayalah dia akan menjaga kamu, dan akan memberikanmu kebahagian, kamu hanya perlu menurut kepadanya dan jangan membangkang," ucap Vira lagi terus meyakinkan Serra agar Serra bisa tenang.
Ditengah pembicaraan mereka pelayan memasuki kamar Serra.
" Permisi non Serra, non Vira, tuan menyuruh untuk turun," ucap sang pelayan menyampaikan perintah majikannya.
" Baiklah kami akan segera turun, kamu tolong bawa koper Serra terlebih dahulu," ucap Vira, pelayan pun langsung melaksanakan tugasnya menyeret koper Serra.
" Ayo Serra," ajak Vira meraih tangan Serra.
" Kamu tidak ikut?" tanya Serra membuat Vira tertawa kecil.
" Hahhhh,,, kamu ini ada-ada saja, ya mana mungkin aku ikut, yang menikah itu kamu, bukan aku," ucap Vira, menurutnya Serra tidak masuk akal.
" Sudah ayok," Vira kembali meraih tangan Serra dan membawanya keluar kamar menemui suaminya yang sudah menunggu di ruang tamu.
Setelah Serra berpamitan kepada papanya Serra pun mengikuti Arkan yang akan membawanya kerumahnya, Arkan mengemudi mobil sendiri, Arkan fokus menyetir, sementara Serra yang duduk di sebelahnya terus merasa gelisah.
Selama di dalam mobil tidak ada obrolan di antara ke-2nya, Serra juga yang biasa banyak tanya lebih memilih membungkam mulutnya, Arkan melirik Serra sesekali, Arkan sangat mengerti Serra begitu canggung saat berada di dekatnya.
Baru di dalam mobil bagaiman nanti di kamar pikiran itu terbesit dalam pikiran Arkan.
Arkan dan Serra pun sampai kerumah mewah Arkan, pelayan membantu membukakan pintu mobil dan mengeluarkan barang-barang Serra dari bagasi mobil, Serra perlahan turun dan menginjakkan kakinya di rumah mewah Arkan.
Mau rumah Arkan mewah atau tidak Serra tidak akan tau, Serra mulai berjalan di bantu pelayan yang menuntunnya, usia pelayan itu sekitar 20 tahunan.
Serra masih terlihat gugup, tetapi dari cara pelayan memperlakukannya Serra bisa tau kalau pelayan itu sangat baik.
Vira memang benar pelayan di rumah Arkan pasti baik kepadanya, tetapi tetap saja dia masih takut dengan Arkan, apa yang akan dilakukan Arkan setelah ini, pikiran itu terus menggangu pikirannya.
Pelayan mengantarkan Serra kekamar Arkan sementara Arkan belum ikut masuk kekamarnya, pelayan mendudukkan Serra di pinggir ranjang, dan langsung beralih ke koper Serra membongkar pakaian Serra dan langsung menyusunnya kedalam lemari.
Sebelumnya Arkan memang menyuruh pelayannya mengosongkan beberapa pintu lemarinya untuk pakaian Serra dan ketika Serra datang Arkan langsung menyuruh untuk menyusun pakaian Serra, karena dia tidak mau repot.
" Nona mau ganti pakaian," tanya pelayan ramah, melihat sudah malam pasti majikannya yang baru akan mengganti pakaian dengan pakaian untuk tidur.
" Hmmm, tolong bantu aku ambilkan," sahut Serra.
" Mau yang mana non," tanya pelayan.
" Ambilkan aku piyama yang berwarna pink yang lebih tertutup," ucap Serra membuat pelayan senyum lebar seperti tau apa yang akan di pikirkan majikannya yang baru.
" Baiklah,"
Serra pun kembali mengganti pakaiannya, memakai locion ketubuhnya dan menyemprotkan farfum, itu memang hal yang sering di lakukannya sebelum tidur, dia memang sering menjaga perawatan tubuh nya dan meski tidur harus tetap fress.
" Nona masih butuh sesuatu?" tanya pelayan.
" Tidak aku mau tidur saja," jawab Serra.
" Baiklah non, jika butuh sesuatu silahkan panggil saya, saya keluar dulu," ucap pelayan
" Tunggu dulu," ucap Serra menghentikan langkah pelayan.
" Siapa namamu?" tanya Serra.
" Nama saya Nindy, saya anak dari bi sufi dan pak Yatno yang sudah lama bekerja di rumah ini," jelas Nindi.
" Berapa umurmu?" tanya Serra.
" Umur saya 20 tahun," jawab Nindy.
" Hmmm, baiklah Nindy, senang bertemu denganmu, teruslah berada di sisiku, karena kamu tau sendiri aku memiliki keterbatasan." ucap Serra mengingat keadaannya.
" Terima kasih non Serra sudah mempercayai saya untuk melayani non Serra, kalau begitu saya permisi dulu, silahkan istirahat," ucap Nindy senyum dan langsung pergi.
Setelah kepergian Nindy, Serra meraba kasur dan merebahkan dirinya di tempat tidur, Serra menarik selimut dan menutup tubuhnya sampai dadanya, perasaannya masih tidak nyaman.
" Apa yang harus aku lakukan setelah ini, di mana Arkan, kenapa dia belum masuk kamar dan bagaimana aku melakukannya," Serra berdecak merasa gugup dengan hal baru dalam hidupnya.
Serra memang sudah lama tidak menjalin hubungan dengan pria, semenjak putus dari tunangannya Serra memang tidak pacaran lagi. Apa lagi semenjak dia kehilangan penglihatannya Serra semakin tidak ingin memiliki hubungan dengan siapapun.
Karena pasti tidak ada yang menerimanya apa adanya. Orang -orang yang mendekatinya pasti memiliki maksud tujuan tertentu apalagi melihat kekayaan milik papanya.
Arkan masih berada di ruang tamu bersama Alex dan Roy, mereka masih bekerja menyelidiki kasus Serra.
" Kenapa tiba-tiba damar menghilang, di saat kita ingin menyelidikinya," ucap Arkan tanda tanya.
" Gue yakin, ini pasti ada yang tidak beres, masalah pembunuhan di rumah Serra pasti ada hubungannya dengan dia," sahut Alex memiliki firasat.
" Gue setuju, atau jangan-jangan, dia dalang pembunuhan rekan bisnis Suroto," ucap Roy mengambil kesimpulan membuat Arkan dan Alex saling menatap seakan setuju dengan kesimpulan Roy.
" Tetapi kita tidak punya bukti, dan kenapa dia membunuhnya," ucap Alex.
" Benar, kita tidak punya bukti, dan ada satu lagi Serra mengatakan dia hampir di perkosa oleh korban, tetapi ketika gue selidiki korban memiliki riwayat hidup yang baik, bahkan pak Suroto saja mengakui selama ini korban merupakan teman yang sangat baik dan santun," jelas Arkan terlebih dahulu menyelidiki korban yang terbunuh.
" Kita harus cari Damar, karena dia kuncinya, kita harus secepatnya mendapat keterangan," Sahut Alex. Arkan dan Roy mengangguk setuju.
" Yaudah kalau begitu kita balik dulu ya, soalnya kita nggak mau ganggu lo malam pertama,"
goda Roy tersenyum, mengingatkan malam pertama untuk sahabatnya
" Gue gak nyangka lo punya pikiran buat nikahi dia," sahut Alex masih tidak percaya.
" Ya buat apa lagi, kalau bukan buat mainan di ranjang, kan Arkan gak perlu tutup matanya lagi," goda Roy lagi, yang terus membuat Arkan kesal.
" Sialan lo ber-2, sana lo pulang," ucap Arkan kesal melihat k-2 temannya yang terus menggodanya.
" Iya-iya kita pulang, kita juga gak mau ganggu kerjaan lo sama istri lo," sahut Roy.
" Apa lagi lo udah nggak pernah melakukannya, sekali ingin melakukan langsung di halalin dulu," ucap Alex, Arkan merapatkan giginya seakan ingin membunuh sahabatnya itu.
" Pergi nggak lo ber-2," ucap Arkan kesal menodongkan pistolnya.
" Galak amat sih, iya kita pergi, ayo Lex," Roy mengajak Alex pergi dengan cengengesan, Arkan geleng-geleng melihat kelakuan sahabatnya. Arkan menarik napasnya melihat ke ujung tangga dan beranjak dari duduknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments
Ilan Irliana
mngkin pas c Damar mo lecehin Sherra,ktauan m rekan bisnis Suroto...jd'y dy di bunuh m Damar..
2023-05-13
0