" Tapi gue masih penasaran, kemana dia pergi saat itu dan gue ingat memang dia sama elo," ucap Roy lagi membuat Arkan kesal.
" Lo, nggak usah ngebahas itu lagi, lupain sekarang gue pengen tau kenapa Serra bisa buta?" tanya Arkan tanpa ingin membahas masalahnya dengan Serra.
" Dia mengalami kecelakaan 2 tahun lalu, dan menyebabkan dia kehilangan penglihatan," jelas Roy.
" Bukannya dia anak orang kaya, masa iya penglihatannya tidak bisa kembali," sahut Arkan penasaran.
" Pengobatannya dulu berjalan di Luar Negri, tetapi lama kelamaan pengobatannya diberhentikan dan Serra pun 3 bulan lalu pulang kembali ke Indonesia," jelas Roy lagi.
" Kenapa pengobatannya di berhentikan?" tanya Arkan.
" Ya mana gue tau, lo tanya sendiri sama keluarganya," sahut Roy kesal.
" Apa Penyebab kecelakaannya," tanya Arkan.
" Tidak jelas, Serra mengalami kecelakaan tunggal, Pengadilan tiba-Tiba menutup kasusnya, sampai sekarang tidak ada yang tau, penyebab kecelakaannya. Mereka mengambil kesimpulan kalau semua kelalaian Serra dalam berkendara," jelas Roy lagi.
" Tanggapan Suroto?" tanya Arkan
" Hmmm... Suroto, sih cuma merasa itu kesalahannya, karena sebelum Aurora bertengkar dengan Serra," jawab Roy.
Arkan kembali mengecek data Serra.
" Serra pernah tinggal di Bali?" tanya Arkan menemukan data baru.
" Hmmmm... awalnya dia diusir dari rumah," jawab Roy.
" Kenapa?"
" Menurut info yang gue dapat, biasalah anak muda, itu hal yang wajar, 3 tahun lalu dia hamil di luar nikah," jawab Roy membuat Arkan kaget dan langsung menatap Roy.
" Jadi wanita itu sempat hamil," batin Arkan.
Memang hal itu pasti akan terjadi pada Serra, karena terlalu menikmati malamnya bersama Serra. Arkan tidak sadar dia telah meninggalkan benihnya kerahim Serra.
Arkan memang tidak pernah melakukan itu kepada siapa pun, Serra lah orang yang pertama menerima benihnya. Arkan selama bermain gila dengan wanita selalu berhati-hati, karena tidak mau mengikat hubungan apapun.
Arkan terdiam sejenak mengingat masa lalu yang terjadi, di dalam benaknya terpikir kenapa wanita itu tidak mencarinya saat semua itu terjadi.
" Woy... Malah Bengong," ucap Roy membuat Arkan membuyarkan lamunannya.
" Nggak gue cuma kepikiran sesuatu, oh iya terus gimana kandungannya," tanya Arkan penasaran.
" Mungkin di gugurkan untuk menutupi aibnya," ucap Roy, yang memang mengetahui dengan ditail divsaat orang lain tidak tau karena masalah kehamilan Serra yang akhirnya terungkap hanya papanya, ibu tirinya dan Vira yang mengetahuinya.
" Begitu rupanya,"
" Lo, lagi nangani kasus dia ya," tanya Roy.
" Jadi lo sudah tau," sahut arkan
" Ya ampun, kasus ini sudah menyebar luas kali, jelas gue tau, gue kasian aja sama dia, sudahlah cantik eh malah dituduh pembunuh, tuhan itu memang adil tidak selamanya gadis cantik itu bernasib baik," ucap Roy.
" Gue kesulitan menghadapi kasusnya, banyak barang bukti yang hilang. Gue curiga Serra cuma jadi kambing hitam," ucap Arkan merasa tidak ada yang beres.
" Maksud lo ada orang lain di balik semua ini," tebak Roy.
" Sepertinya, lo haris bantuin gue ya," ucap Arkan.
" Sip bos, lo santai aja gue bakal selidiki semuanya," ucap Roy yakin.
************
Serra yang berjalan dengan tongkatnya dipinggir kolam renang. Serra ditemani pelayan menghampiri kolam renang. Pelayan membantu Serra duduk di pinggir kolam renang. Serra memasukkan kakinya kedalam kolam renang, exsperesinya berubah ketika kulit kakinya, menyentuh air yang dingin.
" Non Serra, mau saya ambilkan minum," tawar sang pelayan.
" Boleh terima kasih bi," jawabnya. Sang pelayan pun pergi.
Rumah Serra sering dikunjungi polisi dan juga pengacaranya Serra merasa kurang nyama dengan keramaian rumahnya.
Serra lebih memilih menyendiri, dia juga sangat bungkam masalah kejadian itu jika ada yang menanyainya, tetapi jika Arkan yang menanyainya baru lah dia menjawab.
Yasmine yang mengangkat telpon melihat Serra yang duduk tersenyum bermain air.
" Dasar sudah buta masih banyak tingkah, kenapa juga Arkan mau menjadi pengacaranya, seharusnya dia dibiarkan membusuk dipenjara," desisnya kesal dan menghampiri Serra.
" Uhhhh airnya dingin banget ya, enak kali ya kalau berenang," ucap Yasmine yang Serra mendengarnya langsung mendongak keatas seakan tau posisi Yasmine, setelah mendengar suara itu.
" Jika mau berenang, maka berenang lah, aku akan pergi," ucap Serra ketus.
" Ya, memang sangat enak jika berenang, sayang banget ya kamu tidak bisa melakukannya," ucap Vira sinis mengejek Serra. Serra hanya terdiam.
Arkan ternyata melihat dan mendengarkan Serra dan Yasmin yang tidak berapa jauh dari mereka. Arkan bisa melihat bagaimana angkuhnya Yasmine terhadap anak tirinya itu.
" Kenapa kamu selalu mengejekku," tanya Serra.
" Siapa yang mengejekmu, itu adalah kenyataan, setelah buta kamu tidak bisa melakukan apapun. Jangankan setelah buta sebelum butapun kamu tidak berguna," ucap Sinis Yasmine.
" Tutup mulutmu," bentak Serra.
" Kamu harus sadar, dengan kenyataan, kalau kamu sangat tidak berguna," ucap Yasmine lagi membuat Serra kesal, dan berdiri cepat, tetapi karena ketidak seimbangannya membuat tubuhnya melayang masuk kedalam kolam renang.
Byurrrr, Yasmine kaget dan menutup mulutnya saat Serra sudah masuk kedalam kolam renang.
" Tolong-tolong." Teriak Serra kesusahan berteriak karena mulutnya dipenuhi air. Yasmine sedikit khawatir, takut Serra mati di kolam renang pasti dia yang akan disalahkan, belum sempat berteriak Arkan melompat kekolam renang.
Arkan pun menolong Serra yang sudah berada di dasar kolam renang, Arkan melihat Serra sudah tidak sadarkan diri, Arkan mencoba membangunkan Serra dengan memukul lembut pipinya, tidak berhasil Arkan mengambil tindakan dengan memberinya napas buatan.
Perasaan Arkan sungguh bergejolak, dia tidak tau bagaimana hatinya, dia merasa sangat khawatir terhadap wanita itu. Serra merasa ada yang aneh di bibirnya, meski matanya sudah terbuka, tetapi tetap saja dia tidak bisa melihat apa yang terjadi.
Tetapi dia tau jika ada yang mencium bibirnya, dan rasa itu seperti rasa yang pernah dialaminya 3 Tahun lalu. Arkan melepas ciumannya saat Serra sudah sudah mulai sadar dan tanpa menunggu lama Arkan membawa Serra kepermukaan dan membaringkannya di pinggir kolam renang.
Uhhhh. uhuh. Serra batuk mengeluarkan air yang masuk kemulutnya.
" Kamu, gak apa-apa," tanya Arkan panik.
" Serra," ucap Yasmine yang melihat Serra terbaring lemah.
" Apa yang kamu lakukan, apa kamu sudah gila ha," teriak Arkan pada Yasmine.
" Apaan sih kamu, dia yang jatuh sendiri," jawab Yasmine tidak terima disalahkan.
" Ya ampun non Serra," teriak pelayan melihat majikannya sudah entah seperti apa.
" Cepat ambil handuk," perintah Arkan tegas.
" Baik tuan," jawab pelayan dan buru-buru pergi. Serra masih terus batuk. Tidak berapa lama pelayan kembali dengan membawa handuk putih, Arkan langsung meraihnya dan membalutkannya ketubuh Serra yang menggigil. Serra memegang kuat handuk yang dibalut ketubuhnya.
Tanpa berpikir lama Arkan pun menggendong Serra ala bridal style, pergi dari kolam renang.
" Sialan si Arkan, seenaknya menuduh dan sekarang dia malah perhatian lagi dengan wanita buta itu," desis Yasmine kesal yang melihat Arkan menggendong Serra masuk kedalam rumah.
Serra yang merasa nyaman pun, mengalungkan tangannya keleher Arkan. Arkan membawa Serra kedalam kamarnya merebahkan Serra di tempat tidur.
" Gantikan pakaiannya, nanti dia masuk angin," perintah Arkan pada pelayan yang terus mengikutinya.
" Baik tuan." Jawab sang pelayan. Arkan pun keluar dari kamar Serra, pelayanpun membantu Serra mengganti pakaiannya. Arkan masih berdiri di depan pintu kamar Serra.
...*****Hay para readers jangan lupa like, Coment, dan jangan lupa follow ya*****. Vote karya aku ya...
Jangan lupa mampir kemari ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 124 Episodes
Comments