Ketika para anak-anak tanpa orang tua berkumpul, maka mereka akan berbagi perasan kehilangan dan kesepian mereka. Tanpa mereka sadari mereka hidup dengan tergantung satu sama lain. Saling menyemangati dan menguatkan.
Menjadi dewasa, dengan mengemban tanggung jawab masing-masing. Membuat mereka sedikit renggang dan terjadilah kesalah fahaman diantara mereka.
Meski permusuhan sudah terjadi diantara mereka, tapi kasih sayang selama bersama itu akan tetap melekat dan ada.
.
.
.
.
Juju dan Seva segera kembali ke pangkalan militer SYPUS. meski baru bertemu tapi sikap mereka bagaikan pernah mengenal sebelumnya. Mereka tampak akrab dan berbicara santai.
"Kupukir, seumur hidupku aku tak akan melihat seseorang dimaksut dengan Gan Horo," kata Seva.
"Aku juga tak menyangka jika aku punya Gen, setahuku ibuku adalah orang Malio. Dan lahir di Malio," ujar Juju.
Mereka masih didalam pesawat menuju ke SYPUS. Seva menyetir pesawat itu, karena Juju belum belajar bagaimana menyetir pesawat sebelumnya.
"Permintaanku untuk menjauhi Jupiter, kau bisa melupakannya!
"Aku sadar aku tak berhak menghakiminya begitu," ujar Seva.
Wanita berwajah manis dan bermata bulat itu masih fokus pada kemudinya.
Jupiter ternyata dia punya masa lalu yang menyedihkan juga. Keputusannya memilih Vie saat itu mungkin karena campur tangan keluarga Gen Akisnya.
Tapi suami kedua dan Juju sendiri, bukankah wanita itu bisa menolak. Apa gadis itu mendapat ancaman yang serius dari keluarganya jika tak menurut.
Juju memang pernah bertemu dengan Petinggi Gen Akis. Tapi dia merasa bahwa para petinggilah yang membawa Jupiter sampai ketitik ini. Dilihat bagaimana kerasnya mereka di pertemuan petinggi kala itu.
.
.
.
.
Seorang Monitoring menangkap sebuah sinyal dari Benua Aust, mereka agak ragu untuk menerima sinyal itu.
"Sebaiknya kita bicara dulu pada Seva atau Tuan Anthony!" kata salah satu dari mereka.
"Seva sedang keluar, Tuan Anthony ada di gedung utama!" kata lelaki yang duduk di paling depan.
"Sebaiknya hubungi Tuan Anthony saja!" usul seseorang.
Pria yang duduk paling depan, dengan akses paling penuh di ruangan itu segera menghubungi Anthony.
.
"Apa sinyal dari Benua Aust?!" Anthony tampak bingung.
Kabar yang disampaikan oleh anak buahnya melalui panggilan telepon itu, sangat membuatnya tercengang.
Benua Aust biasanya sangat menjaga jarak dengan SYPUS, tapi kenapa mereka membuka diri tiba-tiba begini.
"Terima saja sinyal itu, aku akan ke ruang monitoring sekarang juga!" kata Anthony.
Pria bertubuh atletis yang tinggi itu segera berlari dari tempatnya saat ini menuju ruang monitoring yang berada di gedung lain.
Setiap gedung punya penghubung yang bisa diatur secara otomatis. Jika ingin digunakan tinggal pencet tombol dan penghubung itu akan terpasang.
Penghubung itu berbentuk lorong panjang, yang tersedia di setiap lantai. Mereka terhubung dengan lantai yang sejajar dengan letak penghubung itu.
Anthony masih berlari sekencang yang dia bisa, lelaki itu selalu saja panik ketika sesuatu yang baru muncul.
Sinyal dari Benua Aust bisa jadi tantangan perang, padahal mereka sedang sibuk perang dengan Zombi. Itu yang ada dikepala Anthony.
.
.
Seva dan Juju baru saja sampai di pangkalan militer SYPUS. Mereka juga mendapat pesan tentang sinyal yang dikirim dari Benua Aust.
"Apa lagi ini," keluh Seva.
"Apa Benua Aust itu berbahaya?" tanya Juju.
"Selama ini tidak, tapi tempat itu adalah satu-satunya tempat yang tidak bisa disentuh oleh SYPUS.
"Jadi sebuah gerakan nyata seperti ini adalah sebuah tanda yang aneh!" jelas Seva.
Mereka berjalan cepat menuju menara monitoring. Langkah yang tak bisa berhenti itu telah memasuki area gedung monitoring.
Semua orang di sana ditugaskan untuk mengawasi semua hal di daerah itu. Pergerakan apa pun harus dilaporkan, apa lagi pergerakan Zombi yang saat ini menjadi musuh utama mereka.
.
.
"Apa isi pesannya?" Seva langsung menanyai Anthony yang melihat ke layar paling besar di ruangan pusat kendali itu.
"Apa ini?" tanya Juju.
Sinyal dari Benua Aust adalah sinyal permintaan bantuan pada SYPUS.
Tim Monitoring sedang melakukan pelacakan dengan akses penuh yang diberikan oleh pemerintahan Benua Aust.
Terlihat jelas di layar, kota-kota di Benua Aust sudah di serang oleh Zombi.
"Ini jenis Zombi baru itu. Di tak keluar saat siang!" ujar Juju.
"Ada yang keluar di siang tapi tak banyak!" salah satu monitoring menambahkan informasi yang dia dapatkan.
"Apa kita akan mengirim bantuan?" tanya Anthony pada Juju.
"Tentu saja!" jawab Seva dan Juju secara bersamaan.
"Akhhh kalian!" Anthony merasa kesal.
"Kenapa?" tanya Juju.
"Menambah pekerjaan saja!" keluh Anthony.
"Kau harus tetap disini, biar aku dan Seva yang kesana!" usul Juju.
"Tuan Gayo akan membunuhku, jika tau kau ke sana.
"Apa menurutmu jika kita membantu mereka, mereka akan melemah pada SYPUS?" tanya Anthony pada Juju.
"Lalu bagaimana kita akan mengatasi ini?
"Jika kita biarkan wabah ini akan menghabiskan semua manusia di Benua Aust.
"Dan aku yakin itu akan berdampak juga bagi SYPUS nantinya!" ujar Juju.
"Lalu apa kau akan ke sana dan berhadapan langsung dengan zombi-zombi itu?" tanya Anthony.
"Memang ada pilihan lain, kita harus cepat!" kata Seva.
Juju pun merasa punya dukungan saat ini.
"Kalian cocok sekali!" kilah Anthony.
Lelaki itu mana bisa membantah lagi, bagaimana pun Juju adalah salah satu orang yang berkuasa di SYPUS. Sementara Seva adalah pemimpin di pangkalan militer ini.
"Aku akan ikut, setelah kondisi lebih baik aku baru akan kembali!" ujar Anthony.
Kesepakatan sudah terjadi, Tuan Gayo yang mendapat berita ini hanya duduk termenung di dalam kantornya.
Kali ini dia tak didampingi oleh Luca, tapi dia didampingi oleh seseorang yang dia percaya.
"Berbisnis dengan Benua Aust memang adalah impian SYPUS dari lama.
"Aku tak menyangka jika harus melakuakan kecurangan ini dulu baru mereka mau membuka diri!" kata Gayo.
Serangan Zombi itu adalah ide Tuan Gayo.
"Juju juga tepat tanggap dan akan pergi ke sana!
"Semua berjalan lancar akhir-akhir ini," Tuan Gayo menyandarkan tubuhnya di kursi putarnya yang nyaman.
"Tyfan, pergilah ke ujung selatan dan awasi Juju--ku, jangan sampai dia terluka!" perintah Taun Gayo pada pengawal kepercayaanya.
Pria yang dipanggil Tyfan itu hanya menunduk hormat dan segera pergi dari ruangan pemimpin.
Tyfan yang baru saja membuka pintu kantor Gayo untuk keluar, sudah dihadang oleh Luca.
"Jika kau bertemu Jupiter, hubungi aku!" kata Luca.
Tyfan tampaknya tak suka dengan permintaan yang Luca katakan.
Tapi lelaki dengan wajah datar tapi tampan itu hanya berhenti sejenak dan kembali berjalan. Tyfan tak bilang iya atau menolak permintaan Luca.
Tapi bagi Luca, itu bukan masalah besar. Permintaannya pada Tyfan bukanlah permintaan yang sulit, jadi pengawal Tuan Gayo itu pasti akan melaksanakanya.
.
.
.
.
Semua sudah di posisi masing-masing. Seluruh pasukan yang akan dibawa ke Benua Aust sudah menyiapkan diri mereka masing-masing.
Senjata dan keperluan pribadi mereka, sudah lengkap mereka bawa semua.
Tapi Juju dan Anthony masih sibuk dengan pakaian tempur mereka di ruang ganti.
"Kau tak pamit dulu pada istrimu?" tanya Anthony.
Kedua pria itu sama-sama telanjang dada dan menyiapkan beberapa senjata api.
"Saat seperti ini pun yang kau pikirkan hanya Jupiter," keluh Juju.
"Siapa yang mikirin dia?" tanya Anthony agak merasa cangung.
Kenyataannya pria itu memang memikirkan istri temannya itu.
"Jika kau mau pamit, pamit sana.
"Aku tak peduli dia ada atau tidak!" ujar Juju.
"Wahhhh ternyata kau pria yang amat jahat!" ujar Anthony.
.
.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Yanys Putri
imajinasimu thor👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏👏 bisa bisanya bikin novel sehebat ini
2022-03-14
1
Phoenix
apa mungkin kl Juju bersama Seva ??
2021-10-22
2