Peluru sebesar bola tenis dari moncong senjata jenis meriam milik Athony, telah terlontar. Kecepatan besi terbakar itu tak bisa di kejar bahkan oleh pesawat yang ia tumpangi sekali pun.
Sebutir benda panas membara itu menghantam tepat di salah satu bola mata Zombi besar incaran Anthony. Peluru besar itu membakar dan menembus kepala Zombi yang mengerikan itu.
"Yessss, kena kau Zombi keparat!" pekik Anthony.
Dia sangat senang, lelaki bermata merah itu merasa telah melenyapkan mahluk menijikan itu tapi...
Zombi besar itu kembali bangun dan berjalan lagi.
"Kenapa Zombi selalu saja gigih. Mereka tak tau kapan harus berhenti!" ujar Anthony kesal.
"Coba bidik perutnya!" perintah Juju.
Perut Zombi itu tampak aneh, karena zombi itu seperti mempunya sesuatu yang menyala di dalam perut buncitnya itu.
"Siap Komandan!" kata Anthony dengan nada santai.
Pria bermata merah itu kembali mempersiapkan senjata meriamnya.
"Kita dekati lagi Zombi besar itu!" kata Anthony.
"Kelihatannya, di depan itu juga Zombi!" kata Pilot.
Dengan cekatan, teman penembak yang dibawa Anthony segera memuntahkan pelurunya ke arah depan pesawat yang mereka tumpangi.
"Tepat di perutnya bukan?" tanya suara wanita di balik helm pelindung itu.
"Begitulah, kata komandan!" ujar Anthony.
Duarrrrrrrrrrrr
Perut Zombi besar itu sudah pecah.
Pesawat yang ditumpangi Anthony segera menukik ke atas. Mengindari tembakan pesawat lain dan serangan Zombi-Zombi besar yang mulai berdatangan.
.
.
"Tim Satu, cobalah untuk berlindung. Sebentar lagi kami akan mengirim pesawat evakuasi!" kata Juju.
"Baik komandan, kami mencoba bertahan. Karena Zombi-Zombi biasa mulai berdatangan ke arah kami!" laporan Ketua Tim Satu dari earpiece masing-masing.
.
.
Tim Satu yang berangotakan 20 prajurit itu segera berkumpul dan membentuk lingkaran. 10 prajurit di depan dan mulai menembak, dan yang lain menyiapkan senjata dan peluru mereka.
Mereka hanya bisa terus menembak ke arah Zombi-Zombi yang baru datang. Ini adalah setrategi bertahan yang paling ampuh. Para Zombi-Zombi biasa itu bisa mati jika kepalanya pecah.
Jadi mereka hanya perlu melakukan itu sampai para Zombi itu berhenti mendekati mereka.
Tapi naasnya Zombi-Zombi besar sudah mulai memguasai area di mana Tim Satu mempertahankan diri.
"Kita tak akan bisa bertahan jika kondisinya terus seperti ini!" kata Ketua Tim Satu.
"Jangan nyerah, Pak. Anak istrimu masih butuh makan!" ujar wanita yang berada di dalam pesawat dengan Anthony.
Karena earpiece semua angota terhubung, jadi wanita berambut pemdek itu dapat berkomunikasi dengan ketua dari Tim lain.
Wanita itu juga membuka helmnya karena ingin lebih fokus dengan senjata di tangannya.
"Kenapa aku bisa berpasangan dengan pecinta kucing sepertimu?" keluh Anthony.
Meski mulutnya ngebacot, dia masih fokus pada senjatanya. Anthony juga baru saja melontarkan sebuah peluru untuk membunuh para Zombi-Zombi besar itu.
"Itu bukan kucing, dia rubah!" bentak gadis bermata bulat itu.
Meski sambil ngobrol mereka berdua bisa membidik beberapa Zombi-Zombi besar di sekitar pesawat mereka.
"Tapi kau beri nama kucing--kan?" tanya Anthony dia juga tak mau kalah.
"Namanya sekarang jadi Anthony, karena dia cerewet banget kayak kamu sekarang!" ujar Si Cewek berlengan kanan robot dan kakinya juga bukan kaki aslinya.
"Kita harus bertarung setelah ini selesai, aku akan mengalahkanmu!" kata Anthony, sambil membidik salah satu Zombi Besar yang mendekat ke arah Tim Satu.
"Beraninya cuma sama cewek, cemen banget!" ujar gadis itu.
"Apa itu Cemen?" tanya Anthony.
"Penakut!" ujar gadis berambut pendek itu.
"Sepertinya kau tak faham Seva, aku berhasil dipilih menjadi pengawal Calon Pemimpin!
"Jika aku penakut...!"
"Fokuslah," pungkas gadis itu sambil tersenyum karena bidikannya tak ada yang meleset.
Menembak target bergerak dari atas pesawat bukanlah hal yang mudah. Apa lagi pesawat Ak378 ini, pesawat paling lincah di medan pertempuran.
Seva dan Anthony memang selalu berpasangan dan satu Tim, tapi kedua insan beda Gen itu tak pernah akur.
Seva adalah gadis manusia biasa tanpa diberkati Gen yang bagus. Tapi dia dikenal cukup baik dan kuat saat bertempur. Dia bahkan mengamputasi kaki dan tangannya sendiri agar tak terinfeksi Virus Zombi.
Manusia biasa akan menjadi Zombi jika terluka atau tergigit karena Zombi. Dan Seva adalah salah satu prajurit manusia SYPUS yang masih bisa bertahan sampai hari ini.
.
.
Juju masih mengamati jalannya pertempuran, Tim Satu juga sudah berhasil di evakuasi meski jumlah mereka tinggal separuh.
Dua pesawat AK378 beserta penumpangnya juga harus dikorbankan hari ini. Pesawat itu mendapat serangan dari Zombi yang berhasil naik ke atap gedung dan menjatuhkan dirinya ke atas pesawat itu.
Ledakan dan kematian tak dapat dihindari. Dan yang satunya meledak karena tertembak oleh peluru yang meleset.
Hari sudah semakin terang suasana tembakan, ledakan, desisan dan deru mesin sudah berhenti saat ini.
Juju akhirnya bisa turun dari dalam pesawat induk yang mendarat di pinggiran kota itu.
Semua pesawat tempur AK378 juga sudah mendarat di tanah lapang, yang lebih baik di sebut gurun itu.
Juju segera menghampiri pesawat Anthony yang berjarak paling dekat dengan pesawat induk yang tengah mendarat.
"Kau baik-baik saja?" tanya Juju pada Anthony.
"Tentu saja, karena kamu!" kata Seva dengan nada tak ada sopan santunnya.
"Kau tak tau siapa dia?!" Anthony mau ngoceh tapi segera dihentikan oleh Juju.
"Emang dia siapa?
"Dia petugas Monitoring baru--kan," ungkap Seva sok tau.
"Anda benar, perkenalkan nama saja Juju!" kata Juju dengan sopan sembari menunduk hormat pada Seva.
"Kau dapat dari mana anak manis ini?" tanya Seva pada Anthony.
"Kau bilang Juju manis?" tanya Anthony.
Lelaki bermata merah itu tampak tak suka dengan ungkapan Seva untuk Juju.
"Bertahanlah, Juju. Bosmu ini punya banyak kelainan!" nasehat Seva pada Juju.
Wanita setengah robot itu segera pergi meninggalkan mereka, dia harus bergabung dengan Tim lain untuk evakuasi kota.
"Kayaknya, kata temanmu ada benarnya juga!" kata Juju.
"Aku tak punya kelainan, aku hanya berbeda!" kata Anthony, dari nada bicaranya pria macho itu tampak sangat kesal.
"Sebaiknya kita pulang lebih dulu, mereka akan di sini sampai besok!" ujar Anthony.
"Kenapa?" tanya Juju.
"Jika Zombi-Zombi besar itu muncul di tempat lain bagaimana?" tanya Anthony.
"Kau benar," Juju sepaham dengan ide Anthony.
Kedua lelaki itu kembali mengunakan pesawat yang lebih kecil. Jadi waktu yang harus di tempuh juga lebih lama.
Anthony menghabiskan waktu di dalam pesawat untuk tidur. Sementara Juju sibuk mengotak atik perangkat datar transparan yang menyediakan semua informasi yang dia butuhkan.
Juju harus belajar sebanyak mungkin, dia harus bisa menangani Zombi-Zombi besar itu dengan cepat.
Seva
.
.
.
.
Jupiter sudah berada di kediaman keluarganya, raut datar menghiasi wajah cantiknya. Tampak sangat jelas, jupiter tak suka berada di tempat itu.
Meski dia juga tak lebih suka berada di kediaman Tuan Gayo.
"Selamat datang kembali putriku!" seorang pria yang sudah cukup tua usianya sekitar 50 tahunan menyapa Jupiter dengan hangat.
Tapi Jupiter hanya melewati pria tambun itu, tanpa menyambut rentangan tangan ayahnya yang ingin dipeluk putrinya itu.
"Dia masih kecewa padaku!" gumam pria tua itu.
Jupiter menapaki ruang depan rumahnya dan langsung naik ke dalam lift. Dia ingin segera masuk le dalam kamarnya, dan tak ingin diganggu oleh siapa pun.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Phoenix
Anthony suka sm seva kyknya ,,..
2021-10-17
1