Juju berjalan pelan mengikuti langkah pria paruh baya yang dia perkirakan, menjabat sebagai atasannya itu. Juju merasa sangat aneh karena mereka berdua membawa senjata api khusus yang amat cangih buatan SYPUS, ke atas menara yang tingginya sekitar 15 meter yang berada di sebelah bagunan pos penjagaan.
"Kau sudah pernah menembak dengan senjata jenis ini?" tanya atasannya.
"Sudah, di pelatihan, Pak!" kata Juju tampa curiga.
Mungkin senjata ini hanya sebuah pelengkap saja, pelengkap untuk pekerjaannya. Meski pekerjaannya sama sekali tak punya resiko menurut juju.
Sesampainya di atas menara atasan Juju segera membuka koper wadah senjata api cangih itu. Juju pikir senjata itu hanya pelengkap, tapi apa iya harus dirakit juga.
"Cepat rakit senjatamu, sebelum terlambat!" suruh atasannya.
Meski bingung dan tak mengerti Juju menurut saja dengan apa yang diperintahkan oleh atasannya. Juju segera berjongkok di depan koper besar itu dan segera membukanya. Dengan sangat cepat pria muda itu sudah berhasil merakit senjata api itu, bahkan atasannya yang mulai duluan belum selesai.
"Cepat sekali, tak salah aku sudah memilihmu!" kata atasan Juju itu.
Dengan tanpa sopan santun yang memang sudah tak diajarkan lagi di sekolahan jaman ini. Juju mengarahkan moncong senjatanya ke arah atasannya.
"Jangan bilang kita harus menembaki supir dump truk itu!" kata Juju dengan penuh emosi.
Perkataan nyolot Juju malah disambut dengan senyuman bersahabat oleh pria kekar dengan kulit coklat terang itu.
"Tentu tidak...Tugas kita bukan membunuh, tapi mencegah pembunuhan!" kata atasan Juju dengan nada yang jenaka.
"Yang harus kita tembak adalah mahluk-mahluk yang keluar dari dalam tanah!" ujar atasan Juju yang sudah mengarahkan moncong senjata apinya ke arah pemakaman yang luasnya 50 kali luas lapangan sepak bola itu.
Tower di pemakaman masal itu berjumlah enam buah, dan di setiap tower ada dua penembak jitu yang berjaga.
Atasan Juju sudah mulai membidikkan pelurunya padahal para sopir dump truk baru saja pergi dari sana.
Suara tembakan semakin nyaring di telinga Juju dan dia pun segera melihat melalui teropong yang terpasang di senjata apinya. Apa yang sebenarnya mereka tembaki.
Juju melihat sesuatu bergerak di tanah melalui teropongnya, tapi dia tau itu adalah manusia. Dengan kulit pucat dan tubuh yang aneh. Mahluk yang baru saja muncul dari dalam tanah itu tampak seperti hantu di mata Juju.
Karena terpicu rasa takut lelaki muda itu langsung mengarahkan tembakannya ke arah kepala mayat hidup itu, dan mayat itu pun langsung tergeletak tak berdaya. Karena kepalanya pecah.
"Bagus Juju, tembak sebanyak yang kamu bisa!
"Jika mahluk-mahluk ini sampai keluar dari area pemakaman, mereka akan menyerang manusia yang masih hidup!" suruh atasannya.
Juju terdiam sejenak karena ini adalah pertama kalinya dia melihat mayat hidup yang begitu mengerikan.
Tanpa banyak bertanya lagi Juju segera memfokuskan lagi matanya ke lensa pembesar di senjatanya yang mengarah pada area pemakaman. Dia terus membidik mahluk-mahluk yang baru keluar dari dalam kubur itu.
Hingga matahari mulai naik dan keringat sudah mengucur deras membasahi tubuh Juju.
"Hebat kamu Nak!" puji atasan Juju.
"Ayo kita turun dan kumpulkan para zombi itu!" ajak atasan Juju.
Atasannya ternyata cukup ramah. Sangat berbeda dengan senior-seniornya di Akademi Kepolisian yang sok berkuasa dan suka memeperbudak adik kelas mereka.
Juju dan atasannya pun turun, dan di bawah sudah ada dua penembak jitu yang menunggu mereka. Mereka berbadan kekar dan juga tinggi, sangat macho sekali. Juju yang tubuhnya berotot sih tapi kecil, jadi dia agak minder.
"Sebaiknya Tuan di sini saja, biar kami yang membereskan sisanya!" kata salah satu dari mereka.
"Saya juga penasaran, kenapa mayat-mayat itu bisa bangun kembali?
"Jadi saya ingin melihat dengan mata kepala saya sendiri!" ujar atasan Juju.
"Tapi akan sangat berbahaya Tuan, sebaiknya anda di sini saja!" kata pria yang lain.
"Saya akan kesana, jangan melarangku!" pria paruh baya itu sedikit membentak ke arah pria-pria kekar itu.
Langkah mereka berempat perlahan-lahan sampai di tengah pemakaman. Di sana sudah ada beberapa pria yang mengunakan sarung tangan. Mereka dengan tanpa jijik mengumpulkan para mayat-mayat itu menjadi gunung.
"Kamu anak baru jangan diam saja, bantu mereka!" perintah salah satu pria kekar yang tadi bersama Juju. Tak lupa pria yang memerintah Juju memberikan sarung tangan lateks pada Juju.
Setelah memakai sarung tangan lateks tebal itu Juju segera berjalan ke arah mayat-mayat itu. Dilihat dari penampakan tubuh mereka mereka telah dikubur di tanah lebih dari tiga hari.
Mayat-mayat yang keluar rata-rata kulitnya sudah membusuk dan bahkan ada yang matanya sudah lepas. Belatung dan kawan-kawan juga sudah keluar dari setiap luka busuk di tubuh para mayat itu.
Ini adalah pertama kalinya Juju melihat pemandangan mengerikan seperti ini, tapi dia tak mutah meski perutnya mual.
Saat semua mayat hampir terkumpul Juju malah melihat sebuah pergerakan di tanah yang baru saja dia pijak. Sebuah tangan yang masih bergerak muncul dari dalam tanah itu.
"Di sini ada yang keluar lagi!" Juju pun berteriak kencang, karena mayat itu mencoba terus merangkak keluar dari dalam tanah yang gersang itu.
Juju terdiam sejenak karena tubuhnya seolah membeku, karena mayat yang saat ini merangkak ke arahnya itu adalah sosok yang amat dia kenal. Zombi itu adalah mayat ibunya yang dinyatakan meninggal seminggu yang lalu.
Tubuh tegap Juju akhirnya melemas dan roboh di atas tanah pemakaman itu.
"Ibu!" panggil Juju.
Tapi mayat hidup itu seakan tak mau mendengar apa yang Juju ucapkan. Mayat hidup ibu Juju itu hanya mendesis dan berusaha keras untuk menyerang Juju.
"Ibu!" Juju kembali memanggil ibunya dengan suara yang amat keras.
Zombi itu mulai mencakar kulit lengan Juju, dan pria muda itu sama sekali tak menghindari serangan dari Zombi ibunya itu.
Wajah ibunya yang membusuk masih bisa dikenali oleh Juju. Anak mana yang tak sedih melihat ibunya yang telah mati, menjadi mahluk mengerikan seperti itu
Jarak ibu dan anak yang sudah berbeda alam itu hanya terpisah alam saja. Kedua mahluk beda alam itu memiliki dua pemikiran berbeda.
Sang anak yang ingin memeluk tubuh ibunya meski sudah membusuk, dan sang ibu yang ingin melahap daging segar di depannya.
Duarrrrrrrr
Duarrrrrrrr
Duarrrrrrrr
Mayat hidup Ibu Juju segera tergeletak mati lagi, karena puluhan tembakan yang menyerang tubuh busuk itu.
"Ibu, kenapa? Kenapa kau?!" ucap Juju.
Lelaki muda itu merangkak ke arah tubuh ibunya yang sudah hancur.
"Ibuuuuuuu, jangan tinggalkan aku. Aku mohon bangunlah lagi!" Juju pun akhirnya terisak keras.
Rasa sakit di hatinya memgalahkan rasa hormatnya pada pekerjaannya pada saat itu.
Ribuan duri seakan menancap bertubi-tubi ke arah dadanya. Juju sangat terguncang dengan apa yang baru saja dia lihat.
.
.
"Kenapa kau menangisi orang yang sudah mati? Kau ini lelaki dan salah satu angota keamanan perusahan SYPUS.
"Kau tak boleh lemah begitu!" nasehat pria berbadan kekar yang mencegah atasnnya untuk pergi ke tengah pemakanan tadi.
"Dia ibuku! Apa jika mayat Ibu anda yang keluar dari tanah, anda akan diam saja?" tanya Juju dengan nada keras.
"Sayangnya aku tak ingat wajah ibuku, jadi meskipun ibuku yang keluar dari tanah aku juga tak faham!" ujar pria itu.
"Cepat mandilah, dan kau bisa pulang!" kata pria yang usianya tal begitu jauh dari Juju itu.
__________BERSAMBUNG_________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Mochamadribut
lanjutkan
2021-11-18
0
Aini
gue pun kalau jadi Juju akan melakukan hal yang sama. dan pasti berat
2021-11-04
2
Machan
perasaan juju gak bisa di bayangin. sedih pokokna
2021-10-26
2