"Dulu kau tinggal di sana?" tanya Seva pada Juju.
Pandangan pria berwajah tampan itu masih lurus ke arah kota yang hangus itu.
"Padahal kita tinggal di area yang sama, tapi kita tak pernah bertemu!" kata Seva.
"Kau juga tinggal di sana juga?" tanya Juju.
Juju tampak kaget, tak mungkin dia tak mengenal Seva. Juju merasa mengenal semua orang di kota Malio yang sekarang terbakar itu.
"Tapi saat usiaku 10 tahun, aku dan kakakku dibawa pergi oleh SYPUS!" kata Seva.
"Kau dibawa saat usiamu masih sangat kecil?" Juju tak percaya, tapi itu pasti kenyataan.
Juju tau gadis didepannya itu tak pandai berbohong.
"Kami dibawa untuk menjadi makanan kembar Jupiter dan Luca!" kata Seva.
"Makanan?" tanya Juju.
"Saat kecil mereka harus menganti darah ditubuh mereka, setiap hari untuk tetap bertahan hidup!" kata Seva.
"Jadi?"
"Di sana--lah, akhirnya kakakku diketahui mempunyai Gen.
"Sementara aku tidak!" ujar Seva.
Juju masih diam dia tak mau banyak berkata. Baginya, Seva yang mau cerita pengalaman hidupnya dengannya adalah sesuatu yang amat sangat berharga.
"Dulu kupikir kakakku beruntung!
"Tapi saat ini, aku baru tau kakakku yang malang.
"Dan yang beruntung adalah diriku!" ujar Seva.
Juju melihat ke arah mata Seva yang juga memandangi kota Malio mereka yang sudah hangus terbakar.
Tapi Juju tak bisa mengatakan apa pun, dia tak bisa berkata apa pun karena dia tau bagaimana sedihnya Seva.
"Aku mencoba menerima semuanya dengan lapang dada, tapi kelihatannya dadaku ini tak begitu lapang!
"Hatiku bahkan masih sakit saat melihat wanita iblis itu!" ujar Seva.
"Jupiter?!" kata Juju.
"Wanita itu!!!
"Kenapa dia memilih kakakku, dia tau dengan jelas Anthony lebih pantas untuknya.
"Kenapa dia malah memilih kakakku yang tak punya kekbalan terhadap Gen Akis?!
"Apa dia memang ingin membunuh kakakku?!" bola mata bulat milik Seva meneteskan air mata.
Apa yang terjadi di masa lalu mereka, kenapa Juju tak bisa menebak apa pun. Semua teka-teki ini semu, kenapa di bahkan tak bisa menemukan jawaban apa pun.
"Kau Calon Pemimpin yang dipilih oleh SYPUS--kan?!
"Si pemilik Gen Horo!" tanya Seva.
"Kau benar," ujar Juju.
Tak ada gunanya juga menyembunyikan hal itu saat Jupiter ada di sini.
"Tolong hukum wanita itu, untuk kakakku.
"Aku tau, aku tak punya hak untuk mengatakan ini. Tapi dia, wanita itu dia hanya ingin membunuh semua manusia di dunia ini!
"Gen Akis ingin menguasai SYPUS dan membunuh semua manusia, dan hanya Gen Akis yang mereka sisakan!" jelas Seva.
"Aku...,"
"Kau tak perlu melakukannya! Jika memang Bumi harus dikuasai Gen beracun itu, tidak papa.
"Lagi pula aku akan menjadi manusia pertama yang mati, karena aku akan bunuh diri!" lanjut Seva.
"Apa tujuan hidupmu adalah memusnahkan semua Gen Akis?" tanya Juju.
"Kau bertahan sejauh ini hanya untuk ambisi kecil itu?!" Juju kembali bertanya pada Seva.
Seva yang berada di sisi pesawat lain pun menoleh ke arah Juju yang melihat ke arah Kota Malio yang hangus.
"Ada ambisi yang lebih besar, dari pada menabuh genderang perang dengan Gen Akis!" kata Juju.
"Apa itu?" tanya Seva.
"Hidup damai tanpa Virus dan Gen menjadi pemisah kasta!" kata Juju.
"Apakah bisa?" tanya Seva.
"Tuan Gayo dan aku akan mewujutkan hal itu, tunggu saja dan lihat!" kata Juju.
"Apa aku bisa percaya padamu?" tanya Seva.
"Percayalah padaku!" kata Juju dengan penuh keyakinan.
.
.
.
.
Masih didalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Mobil biasa yang berjalan santai di atas jalan beraspal.
Benua AUTS memang masih seperti Bumi pada tahun 2020-an. Meski ada teknologi di Benua mereka, tapi teknologi yang mereka miliki tak secangih milik SYPUS.
Mobil bermodel SUV hitam itu melaju tenang di jalan yang cukup ramai dengan mobil pengendara lain.
CIETTTTTTTTTTT, SREEEEEETTTTTTTTT
Decitan kuat terdengar, suara ban yang bergesek dengan aspal itu amat kuat. Tapi tiba-tiba mobil itu berhenti ditengah jalan dengan sembarangan.
Bimmmmm....bimmmmmm....bimmmmmm
Suara klakson para pengemudi lain pun terdengar menggema di seluruh jalan itu.
"Kenapa mobil itu?" tanya seorang pengendara yang baru saja keluar dari mobilnya.
Pengendara itu segera berjalan menuju mobil yang bergoyang-goyang kencang itu. Meski agak takut pria berjas rapi itu menunduk untuk melihat ke dalam ruangan mobil, melalui kaca di samping-samping mobil itu.
Pandangannya menangkap pemandangan wajah wanita yang bersimbah darah. Tentu saja pria itu kaget dan berusaha membuka pintu mobil itu.
Tapi wajah wanita yang bersimbah darah dan terlihat seperti sedang sekarat itu mengeleng pelan. Sebuah tanda agar si pria tak membuka pintu mobil mereka.
Pria itu pun mundur, karena rasa takutnya. Wajah wanita yang bersimbah darah yang menempel disalah satu sisi jendela itu malah ditarik oleh sesuatu.
Getaran dimobil itu terhenti, dan pria yang tadi mengintip ke dalam kaca mobil yang hitam itu. Segera mengintip lagi, kini dia melihat sosok anak kecil yang mengigiti salah satu lengan wanita sekarat tadi.
Wajah tegas yang kokoh milik si pria segera berubah ketakutan, dia mundur dan menabrak beberapa orang di belakangnya.
"Zombiiiiiii!" teriaknya pria itu.
Keriuhan segera terjadi di area yang sudah macet total itu. Letak mobil hitam yang kini didiami Zombi itu melintang di tengah jalan. Sehingga semua mobil di ruas jalan tersebut berhenti.
.
.
.
.
Anthony menatap cermin didepannya, dia melihat wajah tampannya yang masih basah. Dia baru saja membasuk wajahnya dengan air.
Pikirannya tampak tak tenang, tapi tatapan matanya yang amat tajam itu seperti tak bisa dilukiskan. Apa isi dari pandangan kelamnya itu.
Perasaan yang mendalamnya pada Jupiter, membuat lelaki itu tak bisa menyakitai Jupiter. Padahal wanita itu pantas mati, cinta memang bisa mengalahkan pertemanan atau hubungan keluarga.
Hari ini Anthony baru sadar, bahwa dia sudah dikuasai rasa cintanya. Rasa yang tak bisa dihapus meski ingin dihapusnya itu.
"Kenapa kau kembali ke sini, apa kau sudah sadar jika kematianmu lebih bisa diterima dari pada kehidupanmu?" tanya Anthony pada bayangannya di cermin itu.
.
.
.
.
Sepertinya Jupiter pernah tinggal di pangkalan militer itu. Dia bahkan punya kamar pribadi yang belum berubah.
Wanita itu juga bisa keluar masuk ke berbagai area tanpa kesulitan masalah sistem keamanan.
Jupiter berjalan pelan di dalam bekas kamarnya dahulu. Ruangan yang cukup sempit baginya itu, dia telusuri dengan seksama.
Dia sepertinya sedang mengenang masa lalunya, masa di mana hidupnya adalah sebuah anugerah yang indah.
Saat semua orang belum tau dia adalah salah satu Gen Akis. Dan saat semua orang masih menganggapnya manusia bukan Monster.
Jupiter berdiri di meja kecil di sebelah ranjang di kamar itu. Dia mengambil bingkai yang tergeletak tengkurap di atas meja itu.
Foto enam anak muda.
Luca yang masih polos, Anthony yang terlihat seperti remaja yang suka membuat ulah. Jupiter yang tampak sangat mempesona berpelukan dengan Seva yang kakinya masih normal.
Dhan yang gondrong dengan kacamata tebal di wajahnya dan seorang pria yang tampak paling menawan di antara mereka Vie.
Mereka semua mengenakan seragam sekolah setingkat SMU. Wajah-wajah polos mereka tersenyum ke arah kamera tanpa beban.
___________BERSAMBUNG_____________
JANGAN LUPA VOTE, KOMEN, DAN LIKE ❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 102 Episodes
Comments
Ꮇα꒒ҽϝ𝚒ƈêɳт
Kalo uda bahas persahabatan itu ...
Rasanya Anjeeemmm bangaddsss..
2021-10-24
1