Citra meminta dimasakan Soto Ayam dan Doni pun dengan senang hati memasakannya.
"Den Doni kayaknya udah bucin akut sama Non Citra" Ucap Bi Ratih pelan yang berdiri tidak jauh dari tempat duduk Citra yang berada di ruang makan sambil melihat Doni memasak di dapur.
"Mana mungkin sih Bi,dia itu casaanova mana mungkin bisa bucin. Wanitanya aja bertebaran dimana-mana sudah seperti jamur" Jawab Citra dengan nada sedikit sewot,sambil menatap Doni yang sedang memotomg ayam.
"Cie sewot,cie Non Citra cemburu ya" Goda Bi Ratih.
"Aku" Menunjuk dirinya sendiri. "Heh,mana mungkin !".
"Mana mungkin nyangkal,iya enggak" Bi Ratih terus menggoda Citra.
"Ish tau ah,Bi Ratih sudah enggak asik" Bi Ratih terkekeh melihat anak majikannya merajuk.
Tidak berselang lama Doni sudah selesai memasak lalu membawa semangkok soto ayam.
"Ini,cobain" Ucap Doni sambil meletakkan semangkok soto ayam di meja tepat dihadapan Citra.
Citra menelan air liurnya saat aroma soto ayam itu sangat menggugah seleranya.
"Beneran enak ini?" Citra masih tidak yakin.
"Di cobain atuh Non,nih Bibi juga sudah nyobain,wuenakkk banget" Bi Ratih datang dari dapur sambil membawa semangkok soto ayam dan sepiring nasi.
"Den Doni mah memang calon suami idaman,coba aja kalau bibi masih muda pasti mau deh sama Den Doni jadi Den Doni gak perlu susah-susah berjuang untuk mendapatkan Cinta dari orang yang enggak pasti".
"Nyindir !" Balas Citra.
"He he he,enggak Non" Bi Ratih nyengir. Bi Ratih sudah mengasuh Citra sedari kecil jadi Bi Ratih tau semua tentang Citra sekecil apapun itu,dan Bi Ratih juga sudah dianggap keluarga oleh Ferdi dan juga Citra,jadi tak khayal jika Bi Ratih sangat dekat dengan Citra.
Doni yang mendengarnya pun hanya meringis dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku cobain ya" Citra mencicipi kuah Soto itu kedalam mulutnya dan ternyata rasanya sangat enak.
"Bagaimana?" Tanya Doni Antusias.
"Biasa Saja"Jawab Citra singkat,tentu saja dia gengsi untuk memuji masakan Doni.
"Enggak enak ya Non? Sini buat Bibi saja" Ucap Bi Ratih ingin mengambil mangkok Citra.
"Ish,siapa bilang enggak enak !" Citra menahan mangkoknya yang akan di ambil Bi Ratih dan tanpa sadar ia memuji masakan Doni. Membuat Doni tersenyum penuh arti begitu pula Bi Ratih.
Setelah selesai makan siangnya,Citra merasa kenyang dan juga tidak merasa mual.
"Besok aku ada perjalanan bisnis sama Aldo ke kota B. Kamu tidak apa-apa kan kalau aku tinggal?" Ucap Doni yang duduk di samping Citra,kini mereka berada di ruang keluarga sambil menonton Tv.
"Memangnya aku kenapa? Pergi ya pergi aja" Jawab Citra ketus.
"Aku hanya takut nanti kamu mual aja".
"Gitu? Kamu tenang aja,sekalipun kamu enggak kembali aku juga tidak apa-apa" jawab Citra tanpa memikirkan perasaan Doni. Doni hanya bisa menghela nafasnya kasar kemudian ia beranjak dari duduknya menuju kamar dan mempersiapkan keperluan yang akan ia bawa.
Apa aku keterlaluan? Kenapa wajahnya seperti itu. Batin Citra sedikit merasa bersalah,saat Doni beranjak dari duduknya,Citra sedikit melirik Doni yang terlihat sedih.
🌷🌷🌷🌷🌷
Pagi telah tiba tepat jam 10,Doni bersiap berangkat.
"Pa,nitip Citra ya selama aku pergi" Ucap Doni berbicara kepada Ferdi. Ya Doni memanggil Ferdi dengan sebutan Papa karena itu juga permintaan Ferdi sendiri.
"Maaf,Don. Papa mau ke Jogja ada urusan disana" Jawab Ferdi.
"Lagi ? Bukankah Papa sudah ke Jogja tiga hari yang lalu ? Papa ada proyek apa disana?" Sela Citra yang memasuki ruang kerja Ferdi.
"Yang jelas ini adalah proyek sangat besar dan untuk masa depan kita semua" Jawab Ferdi dengan senyuman penuh arti.
"Oh ya? Wah pasti ini proyek bernilai milyaran rupiah kan". Ucap Doni.
"Lebih dari itu" jawab Ferdi.
Doni berdecak kagum dengan calon mertuanya itu "Wah,Papa sangat hebat dalam berbisnis" puji Doni. Ferdi hanya tertawa menanggapinya.
"Citra kamu tidak apa-apa kan dirumah tanpa Doni dan Papa?" Tanya Ferdi.
"Aku tentu saja baik-baik saja". Jawab Citra singkat,lalu keluar dari ruang kerja Ferdi.
"Papa harap kamu bisa lebih bersabar" Ferdi memberi semangat dan Doni pun mengangguk.
Doni pergi berpamitan kepada Citra yang ada di dalam kamar,sebelum berangkat perjalanan bisnisnya.
"Apa aku boleh berpamitan kepadanya?" tanya Doni sambil menatap perut Citra yang masih datar.
"Boleh" Citra mengangguk.
Doni berjongkok lalu mengelus perut Citra sambil berkata. "Hai,Baby ini Daddy,jangan rewel ya dan jangan buat mommy susah,selama Daddy pergi" Ucap Doni terdengar sangat tulus,kemudian Doni mencium perut Citra berulang kali.
Hati Citra terasa tercubit bahkan air matanya sempat menetes tapi ia segera menghapusnya.
"Aku pergi dan jaga diri" Lalu Doni mengecup kening Citra begitu lama.
Citra memejamkan matanya saat benda kenyal mendarat di keningnya. Entah kenapa hatinya menghangat dan jantungnya berdetak cepat.
Doni melepaskan ciumannya dan segera melangkahkan kakinya.
"Hati-hati bawa mobilnya" suara Citra menghentikan langkah Doni yang akan membuka pintu kamar.
Doni tersenyum begitu pula Citra tersenyum tulus untuk Doni.
"Jangan lupa kembali lagi kesini,aku menunggumu" Citra merasa berat melepaskan Doni,dalam hati ia berusaha untuk tidak peduli dengan pria itu,tapi entah kenapa ia sudah tidak bisa menahan rasa yang bergejolak didalam dadanya. Bahkan Citra tak mampu membendung air matanya,dirinya merasa sangat sedih melepas kepergian Doni.
"Hei,Jangan menangis" Doni menghapus air mata Citra yang sudah mengalir deras kemudian memeluknya dengan erat.
"Aku berjanji akan kembali" Ucap bisik Doni.
Citra mengangguk lalu mendongak menatap mata tajam Doni,begitu juga Doni menatap mata sendu Citra.
Awalnya mata mereka yang saling beradu dan kini bibir mereka saling bertaut bahkan Citra mengalungkan Tangannya di leher Doni,begitu pula dengan Doni menarik pinggang Citra dengan tangan kirinya dan tangan kanannya menarik tengkuk Citra untuk memperdalam Ciumannya.
Doni melepas pagutannya sebelum ia lepas kendali,Citra merasa kecewa karena ciumannya terlepas begitu saja.
"Maafkan aku,aku takut lepas kendali dan kembali menyakitimu" Ucap Doni,seakan tahu apa yang di rasakan Citra.
Citra mengangguk kemudian mengusap Bibir Doni.
"Aku pergi dulu dan hati-hati dirumah" Satu kecupan mendarat di bibir Citra dan meninggalkan sensasi basah.
Doni benar-benar sudah berangkat.
Citra memukul kepalanya sendiri karena tidak bisa mengontrol diri.
"Astaga,pasti dia berpikir jika aku wanita murahan" Citra merutuki dirinya sendiri sambil memegang bibir yang terasa bengkak.
Sama halnya dengan Doni yang sedang menyetir mobilnya menuju rumah Aldo. Pria itu tersenyum sendiri sambil memegangi bibirnya yang masih terasa basah.
Author pengen getok kepala Citra nih 😤😤😤😤
Jangan lupa like,komentar,vote dan bunganya🌹🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Raufaya Raisa Putri
udah kecanduan Saliva
2025-01-12
0
Ari Ani
getok ja Thor, aku tlg getok y🤣🤣🤣🤣
2024-01-24
0
Qorie Izraini
Benci dan Cinta otu kata ny beda tipis
maka ny n3ng Citra malu2 meong 😁😁😁
2023-12-09
0