Citra menerjabkan kedua matanya,ia merasa berada di tempat yang asing menurutnya.
"Auhh ,sshhh" Citra memegangi kepalanya yang masih menyisakan pusing.
"Kamu sudah sadar " Ucap Doni yang baru memasuki ruang rawat Citra.
Setelah mengetahui Citra hamil,Doni meminta kepada Dokter agar Citra di tempatkan di Kamar VVIP dan karena Citra juga kondisinya lemah mengharuskan untuk dirawat dirumah sakit terlebih dahulu.
"Hem,kenapa tangan ku di infus?" Tanya Citra saat melihat tangan kanannya ada selang infus.
"Jangan banyak bergerak,karena kondisimu lemah" Jawab Doni kemudian duduk di pinggiran tempat tidur pasien.
"Jangan menatapku seperti itu" ucap Citra saat melihat Doni menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Citra terimakasih" Ucap Doni,tangannya terulur mengusap pipi Citra,membuat Citra risih dan segera menghindar.
Doni tersenyum kecut dan menarik kembali tangannya.
"Hah ? Makasih buat apa?" sepertinya Citra belum sadar jika Citra tengah mengandung.
"Terimakasih,karena sudah mengandung benihku".
JEDARRR
Bagaikan disambar petir disiang bolong,Citra membeku ditempat saat mendengar ucapan Doni. Dunianya seakan runtuh seketika.
"Apa coba ulangi !".
"Kamu mengandung anakku dan terimakasih aku sangat bahagia Citra".Doni mengucapkannnya dengan terus tersenyum bahagia.
"Tapi aku tidak !"
Deg
Jantung Doni berdegup sangat cepat bahkan senyum yang tadi merekah diwajahnya kini luntur seketika.
"Apa maksudmu !" Tanya Doni dingin dan menatap tajam Citra.
"Hidupku sudah hancur karena kamu ! Dan sekarang bertambah hancur,apa kamu pikir aku mau mengandung anakmu ? Aku tidak menginginkannya,aku benci,aku benci" Citra berteriak histeris sambil terus memukul perutnya.
"Citra apa yang kau lakukan" bentak Doni lalu segera memegangi kedua tangan Citra dan memeluk Citra.
"Hiks hiks,aku tidak menginginkannya,lenyap kan dia dari sana" isak Citra di pelukan Doni.
"Jangan seperti ini,please. Dia tidak bersalah,aku yang bersalah dan pukul aku sepuasmu Citra, asalkan kamu jangan menyakitinya" Mohon Doni ikut terisak.
"Maafkan aku yang telah menghancurkan hidup mu,tapi aku berjanji akan berubah dan akan bertanggung jawab atas kalian".
"Tapi aku tidak menginginkannya" ucap Citra mulai melemah.
Doni melonggarkan pelukannya dan menatap wajah Citra dengan sendu.
"Tatap aku Citra,aku sangat serius dengan ucapanku dan aku sangat bahagia karena kamu mengandung anakku. Aku tahu,kamu pasti merasa terpukul dan tersakiti,tapi aku mohon ijinkan aku untuk membahagiakan mu dan anak kita". Citra menatap kedua manik hitam itu,tidak ada kebohongan yang ada hanyalah ketulusan dan kesungguhan.
Tapi hati Citra masih meragu dengan Doni,ia masih takut jika Doni mempermainkannya sama seperti para wanita yang pernah Doni tiduri.
Citra menggeleng dan mulutnya terkunci,ia menangis dalam diam.
Doni melepas pelukannya,ia kecewa dengan jawaban Citra. Tapi ia tak boleh menyerah begitu saja dan akan terus berjuang demi menggapai hati dan cinta Citra.
Dirinya berjanji tidak akan bermain ke Club malam lagi ataupun untuk mendekati wanita lain selain Citra. Ia ingin berubah demi Citra dan juga anak yang ada di dalam kandungan Citra.
Bi Ratih datang ke Rumah Sakit dengan membawa beberapa potong baju ganti Citra dan Doni. Sebelumnya Doni meminta Bi Ratih untuk pulang dan mengambil bajunya dan Citra.
Saat Bi Ratih akan masuk kedalam ruang rawat Citra pun mengurungkan niatnya. Air mata Bi Ratih ikut menetes,menangisi nasib anak majikannya. Bi Ratih sudah mendengar semuanya.
"Ya allah,Non Citra" tangis Bi Ratih. "Kenapa Den Doni jahat sekali dengan Non Citra" gumam Bi Ratih.
🌷🌷🌷🌷
"Apa kamu bersedia melihat anak kita ?" Tanya Doni,saat melihat Citra sudah mulai tenang.
Citra berpikir sejenak,ia ingin memastikan jika dirinya benar hamil atau tidak.
"Iya" jawab Citra. Membuat Doni tersenyum senang.
Citra menggerutu kesal karena Doni menggendongnya ala bridal style menuju klinik kandungan yang ada di rumah sakit itu dan mereka menjadi perhatian orang di sekitarnya.
"Berpeganganlah,Sayang. Nanti kamu bisa jatuh" Ucap Doni,karena kedua tangan Citra bersedekap di dada.
Sayang ? Kok aku jadi merinding mendengarnya. Batin Citra.
Ya setelah mengetahui Citra hamil,Doni mengubah panggilannya menjadi SAYANG.
Citra tetap kekeh tak ingin berpegangan pada Doni. Padahal khayalan Doni,Citra akan memeluk erat lehernya tapi dugaannya salah.
Saat sudah sampai di Klinik kandungan,Citra dan Doni menunggu antrian di kursi tunggu.
Doni menjadi sangat posesive sekali terhadap Citra, seperti saat ini Doni duduk dengan mengeratkan tangannya di pinggang Citra,seolah takut jika Citra kabur atau dilirik pria lain.
"Bisa enggak tangan kamu lepasin dari pinggangku ?". Bisik Citra dengan nada ketus.
"Tidak Bisa ! Kamu lihat para pria dan dokter yang lewat itu? Mereka menatap mu dengan penuh minat" Bisik Doni.
"Lalu apa masalahnya ?" .
"Karena kamu milikku ! Dan ibu dari anak-anak ku. Aku tidak suka pria lain menatapmu seperti itu. Hah,rasanya aku ingin mencongkel mata mereka".
"Ck,dasar menyebalkan" gerutu Citra kesal. Menurutnya sikap Doni sangatlah berlebihan.
"Kamu makin cantik kalau cemberut gitu". Gombal Doni.
Citra hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.
Setelah menunggu setengah jam kini giliran Citra yang di panggil.
"Ibu Citra" Panggil perawat.
Kemudian Citra dan Doni melangkah masuk kedalam klinik kandungan itu.
Citra dan Doni sangat terkejut saat melihat Dokter wanita itu.
"Loh Ana ?".
"Non Citra,Doni ? Kalian ?". Tidak jadi melanjutkan pertanyaanya.
Citra mengangguk lemah dan Doni menggenggam tangan Citra,Ana pun tau apa yang terjadi diantara mereka. Selain menjadi psikiater Ana juga seorang Dokter kandungan.
"Silahkan tiduran disini dulu ibu Citra" Ucap perawat dengan sopan,sambil menunjuk tempat tidur di pasien yang ada disana.
Citra merebakan tubuhnya dibantu oleh Doni. Dan perawat itu pun menutup kaki Citra dengan kain hingga sebatas pinggang dan bajunya di sibakkan hingga sebatas Dada.
Jangkun Doni naik turun saat melihat perut putih mulus Citra. Citra yang ditatap seperti itupun malu bukan kepalang.
"Tahan Don" Ledek Ana terkekeh.
"Apaan sih" Elaknya lalu Doni memalingkan wajahnya.
"Ayo kita mulai ya lihat dede bayi" Ucap Ana sambil mengoleskan Gel lalu meletakkan sebuah alat diatas perutnya dan menggerakannya perlahan.
"Nah lihatlah di layar monitor itu" Tunjuk Ana pada layar monitor berukuran 21 in yang tertempel didinding.
"Masih berukuran sebiji kacang hijau,karena usianya baru tiga minggu" Jelas Ana.
Doni terharu melihatnya,bahkan ia tidak menyangka jika sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah.
Hubungan satu malam yang ia lakukan bersama Citra,ternyata membuahkan hasil.
Berbeda dengan Citra yang terlihat murung,entah ia harus bahagia atau sedih,tapi yang pasti ada setitik rasa bahagia di dalam hatinya saat mengetahui ada janin yang tumbuh di dalam perutnya.
Bersambung
Jangan lupa beri dukungan untuk author ya dengan cara Like,vote dan kasih bunga🌹🌹🌹
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 54 Episodes
Comments
Dedeh Dian
sesuai judul ya Thor..Doni harus insap...trims thor
2022-09-10
0
Tuti Tyastuti
lanjut💪💪💪
2022-08-06
0
Anisatul Azizah
kan yg nyuruh gugurin dl kamu Don, lupa ya
2022-06-09
1