Keriuhan para Manusia itu lansung terdengar meruak di sekitar Kediaman Alfonso, semua orang sibuk menyiapkan Hidangan bagi para Alim Ulama yang datang hanya untuk meresmikan Akikahan kedua Putra dari Mark Sian Alfoenzo dan juga Shena Shanaya Mahardinata atau Rashid.
Para anak Santri dari Pesantren Sheikh Mohammed pun datang meramaikan acara itu hanya untuk memberi ucapan selamat dan sekalian disini akan mengadakan Sedekah bersaudara dari sepasang pasutri itu.
"Sayang, ini kemana yang harus di bagikan?"
Mark pria tampan berkebangsaan Amerika itu mendekati sang istri yang sedang mengurus Kedua Putranya yang tadinya sangat Rewel untuk melihat Hewan yang sudah di Sembelih di Lapangan sana.
"Mimih!"
"Baby, itu tak baik! nanti Kambing sama Sapinya lepas bisa bahaya, hm?"
"Ta.ci mimih mau!"
"Tak boleh, main yang lain!"
Ucap Shena pada Baby Denzo yang cemberut kesal seraya merampas Biskuit dari Baby Mian yang tak mau kalah dari kakaknya membuat Shena menghela nafas halus akan keaktifan para putranya.
"Sayang!"
" ada apa Sian?"
"Kau lelah, hm?"
Shena menggeleng mengecup kilas bibir Mark yang memeluknya dari belakang, pria itu memakai Kopiah dan baju kokoh hitam yang begitu kekar dan gagah membalut tubuhnya.
"Apa Alen dan Nareus sudah datang?"
"Belum, Sayang! mungkin sebe..!"
Brakk..
Suara nyaring dari luar sana membuat Shena terlonjak kaget dengan Baby Mian yang mulai sesak karnanya.
"Baby, tarik nafas pelan. Nak!"
"Memang mencari mati!"
"Si..Sian!"
Panggil Shena saat Mark sudah melangkah keluar dengan wajah mengeras yang begitu menakutkan membuat ia harus mengantisipasi kemarahan Suaminya.
"Berani sekali kalian datang dan menabrak Dinding beton ini!"
"Ma..Maaf, King!"
Ucap Alen yang tadi bertengkar disepanjang jalan dengan Nareus yang hanya diam dengan tampang datarnya, Wajah Mark sudah mengeras membuat Alen takut, memang Nareus akui ia salah namun tetap saja, ia tak akan mengaku.
"Apa acaranya sudah selesai?"
"Kau membuat putraku..!"
"Sian!"
Shena melangkah kehadapan Mark yang ingin memukuli wajah tampan pria eropa itu, bukan sekali saja sepasang parasit ini membuat ulah.
"Mereka itu sudah keterlaluan!"
"Biarkan saja, lagi pula Baby tak apa-apa, hm?"
"Cihh!"
Decih Mark seraya mengambil Baby Rea dari gendongan Shena supaya wanita itu tak lelah sedari tadi beraktifitas, dan kali ini ia tak bisa mentolerir kesalahan Nareus dan Alen yang selalu membuat jantungan Putranya Mian.
"Maaf, King! aku tak tahu kalau Tuan Muda Kedua ada di..!"
"Sudahlah, tak apa! lain kali jangan bertengkar begitu!"
"Baik, Nyonya!"
Alen menunduk patuh menatap Nareus membunuh yang hanya acuh melangkah masuk mendekati Shena untuk melihat Baby Rea si Princess milik Mark dan Shena ini.
"Hay!"
"Jangan menyentuh putriku!"
Ketus Mark mengiring Shena untuk masuk, ia harus membuat kegiatan untuk membuat dua manusia ini tak bertengkar setiap waktu.
"Alen!!"
"Iya, King!"
"Kau cincang semua daging yang sudah di Sembelih tadi!"
"Baik, King!"
Alen melangkah pergi namun ia terhenti menatap Nareus dengan pandangan yang tak biasa.
"Awas kau!"
"Cihh!"
"Kau juga bantu dia!"
Duarr..
Alen dan Nareus lansung menjauh menatap Mark dengan tak percaya, yang benar saja mereka didekatkan dengan cincang menyincang?
"Mark, aku kesini hanya untuk melihat anak-anakmu! bukan membantunya!"
"Kalau begitu seharusnya kau tak usah datang, Anak dan istriku tak perlu jengukan darimu!"
Nareus mengepalkan tangannya kuat dan mengacak rambutnya frustasi. menatap Alen yang sudah lebih dulu menuju lapangan disamping sana karna Nyonya Arabella ibunya Mark terlihat membimbing jalan.
"Selamat pagi!"
"Pagi, Nak!"
Jawab semua orang yang tampak menatap Pembantaian daging yang telah melewati prosesi Akikah ini, terlihat juga para Pelayan dan para Santri sana membantu menyelesaikan pekerjaan ini.
"Ouhh, Alen! kau sudah datang, Sayang! ayo bantu mereka!"
"Hm!"
Gumam Alen malas pada Momy Berry dan Momy Carolin yang hanya saling pandang lalu tersenyum dan kembali berbincang dengan Umi Aisyah Uminya Shena dan juga para tetua Ulama lainnya.
"Kau bantu juga!!"
"Iya, Mom!"
Nareus dengan malas melangkah mendekati Alen yang tampak berbicara dengan Petugas Pemotong yang mengarahkannya untuk memilah dan memotong dengan benar.
"Jadi harus kecil-kecil!"
"Tidak juga, Nona! daging dengan daging dan Tulang disamakan ke tempat Tulang, ukurannya tak usah terlalu besar, sedang-sedang saja!"
Alen mengangguk lalu mengeluarkan ikat rambutnya untuk mengikat rambut pendek sebahu itu tanpa memperdulikan Nareus yang membuka Jaketnya menunjukan tubuh kekar berotot yang dibaluti Kaos tipis itu.
"Pamer otot tak disini!"
Nareus hanya diam duduk diatas bangku kecil khusus untuk mencincang disini, ia memperhatikan cara anak-anak Santri sana yang terlihat sangat terlatih dan rapi.
"Hati-Hati, pisaunya tajam!"
"Hm!"
Jawab Alen acuh, ia masih sibuk mencincang pelan dan teratur segumpal Daging Sapi dihadapannya dengan Nareus yang terlihat menahan sesuatu dari aroma amis Daging kambing sana.
Melihat itu Alen terhenti sejenak, menatap Nareus yang menutup hidung karna aroma menyengat ini.
"Cihh, kalau pria sepertimu tak cocok ditempatkan disini!"
Nareus hanya diam mulai melakukan pekerjaannya, tapi wajahnya sudah sangat merah karna terlihat meradang dengan bau Amis Kambing sana.
"Ehmm!"
"Mau ini!"
Nareus memundurkan wajahnya saat Alen malah mendekatkan kepala kambing padanya, ia tak suka hewan satu ini dan sangat Alergi.
"Jauhkan itu dariku!"
"Ouh, Tubuh kekar, wajah Nyaris sempurna tapi takut kepala kambing, apa ini pria sejati itu?"
"Aku tak takut tapi..!"
"Makan saja!"
Bugh..
Alen meletakan kepala kambing itu kehadapan Nareus yang ingin muntah melihat mahluk itu, tapi tak mungkin ia malah membuat Alen semakin mempunyai bahan untuk mempermalukan-nya.
"Tuan, sebaiknya anda masuk saja kedalam!"
"Aku bisa melakukannya!"
Ucap Nareus lalu mulai mencincang sesuai arahan para petugas, ia berusaha tak bersin meski wajahnya sudah sangat panas membuat Alen yang duduk disampingnya jadi bertambah kesal karna pekerjaan pria ini sangat lelet.
"Kau bisa tidak, ha?"
"Diamlah!"
Ketus Nareus malas berdebat, ia sudah berjuang hidup dan mati membersihkan kepala kambing ini tapi Alen masih saja belum puas menyiksanya.
"Sekalian pahanya!"
"Alen!!"
"Apa? bukanya kau tak takut Kambing?"
Nareus bungkam mengepalkan tangannya kuat, sungguh baru pertama kali ia memeggang Mahluk ini setelah beberapa tahun lalu.
"Kau kerjakan saja punyamu!"
"Baiklah, tapi selesaikan tugasmu!"
"Hm!"
Alen mencabik acuh dan fokus pada tugasnya, pekerjaannya sangat telaten dalam urusan mencincang begini, bahkan para anak Santri dan Petugas pemotong sana sangat salut dengan kegesitan tangan Alen yang tampak sudah terlatih memeggang benda tajam.
"Nareus!!!"
Suara pekikan Momy Carolin membuat mereka terlonjak kaget dengan wajah panik wanita itu, begitu juga Alen yang terlihat bingung dengan wajah datarnya.
"Reus, kenapa kau malah mendekati Kambing, disini ada Sapi Kan sayang?"
"Mom, aku tak apa-apa! lanjutkan saja pekerjaan Momy!"
Ucap Nareus dengan biasa tanpa intonasi yang berlebih, namun Alen membulatkan matanya melihat wajah Nareus yang merah dengan bibir yang pucat.
"Kau kenapa?"
"Minggir!"
Nareus menepis tangan Alen yang memeggangnya, namun Alen tak bisa diam saja, ia melepas sapu tangannya dan menjadikan tubuhnya sebagai bopongan tubuh gagah Nareus.
"Heyy, lepas!!"
"Diam!!"
Geram Alen membuat Nareus meradang, ia tak suka dipegang-peggang begini membuat ia hanya bertambah pusing,
"Lepas!! aku bisa jalan sendiri!"
Geram Nareus menyentak tangannya kasar dan berdiri dengan wajah hampir merah semua bahkan sampai ke telinga Pria tampan dengan bulu mata lentik itu, Momy Carolin membantu putranya untuk melangkah masuk kedalam sana.
.......
Vote and Like Sayang..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 98 Episodes
Comments
Lina RA
"pembantaian"? serius? jgn lebay, pemotongan thor
2024-03-25
0
Sweet Girl
Nareus oyong.
2022-08-01
0
༄༅⃟𝐐Dwi Kartikasari🐢
cie cie cie ada yg perhatian nih
2022-05-30
0