"Hey, tunggu!" teriak anak kecil yang menebus orang-orang yang berlalu lalang.
"Tuan muda jangan berlari-lari, nanti jatuh." Tegur sang ibu asuh yang mengikutinya dari belakang, dan benar saja, anak kecil itu tersandung dan jatuh tersungkur ke tanah.
"Tuan muda!" teriaknya panik.
Aleta dan Alfred menghentikan langkahnya yang tergesa-gesa. Serempak keduanya menoleh dan merasa tak enak hati. Bukan niatnya membuat, anak itu jatuh.
"Kak, kasihan dia."
Aleta melepaskan tangan Alfred, dia berlari menghampiri Aronz yang sudah berdiri dengan di bantu oleh pelayannya, tangan pelayan itu membersihkan tanah yang menempel di pakaiannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Aleta dengan wajah khawatir. Dia merasa bersalah meninggalkan Aronz.
"Sudah! biarkan saja," ujar Aronz dingin pada pelayan itu.
Aleta dan Alfred tercengang, dugaannya salah. Aron bukan anak bangsawan yang manja seperti yang mereka pikirkan.
"Maaf kami terburu-buru untuk menemui, Ibu." Aleta meraih tangan anak laki-laki di depannya. "Apa kamu mau ikut dengan ku?"
Aronz langsung mengangguk antusias, "Ayo!"
Alfred diam, ia tidak berniat meminta maaf atau berbicara. Hati kecilnya merasa kasihan, tapi egonya lebih tinggi.
Aleta terus menggenggam tangan Aronz, sesekali dia tersenyum pada bocah di sampingnya. Keduanya pun sampai di toko milik Violeta. Aronz sedikit heran, namun ia tidak menanyakan apapun. Ia pikir, Aleta Alfred sedang ingin membeli sesuatu.
"Apa kalian membutuhkan gaun? aku akan membelikannya untuk kalian."
"Tidak perlu!" sarkas Alfred tanpa titik tanpa koma.
Aleta langsung naik pitam, ia tidak suka mendengarkan sang kakak yang terlalu cuek. Apalagi setelah melihat perjuangan Aronz yang ingin berteman dengan mereka. Bisa saja suatu saat nanti mereka akan membutuhkan Aronz.
Alfred melirik sekilas, lalu mempercepat langkahnya memasuki toko itu.
"Tunggu! kita mau kemana?" tanya Aronz heran seraya memegang tangan Aleta yang mau mengikuti Alfred menaiki tangga.
"Aku mau bertemu dengan Ibu ku, nanti kamu tahu sendiri. Sekalian aku mau memperkenalkan kamu dengan Ibu ku."
Aronz tersenyum, ia langsung mengangguk antusias. "Ayo! aku tidak sabar berkenalan dengan ibu mu."
Pelayan Mia memberikan hormat pada Alfred dan Aleta, matanya menangkap sosok anak kecil yang asing.
Aleta yang mengerti tatapan pelayan Mia, ia memberikan penjelasan. "Dia teman baru ku Mia. Aku ingin memperkenalkan teman ku ini pada Ibu."
Pelayan Mia tersenyum senang, setidaknya kedua majikannya memiliki seorang teman di kota asing ini. "Baiklah, silahkan masuk," ujar pelayan Mia sembari membukakan pintu.
Mata Alfred dan Aleta tertuju pada seorang wanita yang tengah fokus di atas kertas putihnya, sudah pasti ibunya sedang fokus membuat rancangan baru. Sedangkan Aronz menatap kagum di ruangan itu, bersih, rapi dan wangi. Langkahnya kakinya berbelok ke kanan, berhenti di depan rak buku yang berjajar rapi.
"Ibu," sapa kedua anak itu.
Violeta menghentikan pena di tangannya, ia langsung mencium kening kedua anaknya. Rasa lelah dam letihnya selama berkerja langsung terhapus melihat senyum kedua bocah yang menggemaskan itu. "Sayang, sudah selesai berkelilingnya? Bagaimana? Apa kalian senang?"
"Iya, Ibu. Aku sangat senang, tidak hanya itu aku mendapatkan teman baru." Celoteh Aleta. "Itu dia, Ibu." Aleta menunjuk Aronz yang berada di depan rak buku. Violeta berdiri, ia melangkah menyambut teman baru putrinya.
"Aronz!" panggil Aleta.
Aronz yang merasa di panggil pun, akhirnya menoleh. Dia tersenyum, lalu menghampiri Violeta yang membeku. Langkah kakinya, senyumannya, mengingatkan seseorang yang sudah ia lupakan dan bayangan itu terlihat di tubuh anak kecil yang kian semakin mendekatinya.
"Selamat siang, Nyonya. Nama saya Aronz, Aronz Dhe Brezil," ujar Aronz dengan tangan kanan di memegang dada kirinya dan setengah membungkuk.
Violeta semakin mematung, wajahnya langsung pias dan keningnya mulai berkeringat dingin. Brezil, Marga keluarga yang sudah hampir punah di hidupnya. Tubuhnya terasa lemas, tangannya langsung menyangga pinggiran meja.
"Ka-kami dari keluarga Brezil, si-siapa nama ayah mu?"
Meskipun heran, Aronz tetap menjawabnya dengan tenang. "Duke Aland Brezil."
Jedar
Petir langsung menampar tubuhnya, tenggorokannya langsung tercekat. Tubuhnya gemetar, meskipun ia orang asing, tapi tubuh yang ia tempati sangat merespon. Bahkan ia pun tak bisa menghilangkan atau menghindarinya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Nf@. Conan 😎
Ka-kami apa Ka-kamu
2024-10-08
0
murniati cls
mknya dia merasa dkt sm kkaknya
2024-03-23
0
Sandisalbiah
dunia begitu sempit kan Violeta..
2024-02-07
0