Felica merasa aneh, ia menoleh ke bawah. Melihat Aronz yang diam dan berdiri. Biasanya dimana ada Aronz, pasti ada Duke Aland, tapi kenapa ia tidak melihat Duke Aland.
Felica kembali turun untuk menanyakan keberadaan Duke Aland. "Aronz!" Felica menghentikan langkah anak kecil yang melangkah menuju ke luar.
Aronz, si bocah itu menahan kesal. Jauh dari hatinya, ia rindu pada sang ibu, tapi ibunya tidak mau melihatnya, buat apa ia mengemis rindu dan kasih sayangnya, sedangkan ia terus menerus di tekan menjadi kuat dan kuat, harus pintar, harus menjadi kebanggan Duke Aland. Kadang ia ingin meminta pada Tuhan, kenapa harus di lahirkan tanpa kasih sayang ibunya. Dengan hati dongkol, ia menoleh, menarik nafasnya untuk membuang kekesalannya.
"Iya Ibu,"
"Dimana Duke?"
Dia saja tidak tahu, apa lagi ibunya yang tiap hari keluyuran dan keluyuran, malah sibuk bersenang-senang. "Aronz tidak tahu, tadi ayah keluar dan buru-buru."
Felica menatap kesal. "Kami gimana Aronz, sudah jelas tadi pagi kamu masih bersama ayah mu. Seharusnya kamu tahu, ayah mu sedang apa? Lama-lama kamu gak ada gunanya."
Felica kembali menjatuhkan bokongnya, ia memang menempatkan Aronz di samping Duke Aland untuk berjaga-jaga. Bisa saja Duke Aland mencari keberadaan Violeta, tapi ia bisa apa? hanya Aronz senjatanya pamungkasnya itu. "Cepat cari ayah mu, o iya dimana teman mu yang tak tahu sopan santun itu?"
Aronz menggertakkan giginya, ia tidak pernah mengucapkan nada tinggi. Ingin sekali mulutnya berteriak dan mengatakan 'ibu tidak perlu tahu urusan ayah', namun ia harus menjaga kesopanannya itu.
"Baik Ibu,"
"Jangan hanya menyanggupi kamu harus melakukannya Aronz, apa ada sesuatu yang kamu ketahui?" Selidik Felica seraya menaikkan sebelah alisnya.
"Emz itu, ayah teruz ..."
Felica bisa menebak, Duke Aland pasti mencari Violeta yang sudah di nyatakan meninggal. "Lagi-lagi dia,"
"Violeta itu siapa Bu? katanya dia juga ibu ku."
"Bukan! dia bukan ibu mu, aku ibu mu. Dia sudah meninggal dan mengkhianati ayah mu."
Rahang Duke Aland mengeras, telinganya panas mendengarkan Violeta meninggal dan mengkhianatinya, ia tidak percaya. Violeta sangat mencintainya, ya sangat mencintainya. "Tutup mulut mu Felica."
Kedua orang yang sedarah dan berbeda umur itu terkejut, Keduanya pun serempak menoleh, Felica menelan ludahnya, keningnya telah di basahi oleh keringat.
"Du-duke,"
Duke Aland berjalan dengan langkah lebarnya, matanya menatap sengit. "Katakan sekali lagi, akan aku robek mulut mu."
Felica mengangguk, ia tidak tahan dengan Duke Aland yang selalu mengabaikannya, hatinya sakit, ia berhak bahagia dan mendapatkan kasih sayang dari Duke Aland karena telah melahirkan anaknya, namun sama sekali Duke Aland merubah semuanya, merubah cara pandangnya. "Iya, dia sudah mati dan mengkhianati Duke."
"Dia tidak mati, dia masih hidup dan tidak pernah mengkhianati ku. Jangan kamu kira aku tidak bisa menghukum mu, hah. Karena ada Aronz, tidak! Bukan karenanya, karena aku menghormati mu sebagai ibu dari anak ku."
"Berarti kamu masih mencintai ku," ujar Felica. Berarti Duke Aland masih memiliki rasa padanya. Dia memegang salah satu lengan kekar Duke Aland.
Duke Aland menarik lengannya, cinta. Katakanlah dia egois dan munafik. "Maaf, aku tidak memiliki cinta untuk mu, maaf, aku tidak bisa menjaga cinta yang pernah kita lalui. Kelembutannya membuat hati ku mengikis sedikit demi sedikit cinta ku. Maafkan aku, sudah cukup aku egois di masa lalu dan munafik di masa lalu."
"Kamu egois, dia sudah mat ... "
Duke Aland melayangkan hendak melayangkan tangannya ke pipi Felica, namun teriakan Aronz menghentikannya. Dia muak, tiap harinya Duke Aland dan Felica selalu ada saja yang di perdebatkan, salah satunya adalah nama itu, Violeta.
"Cukup!"
Aronz mengangkat kepalanya dengan mata berkaca-kaca. "Apa kalian tidak bisa seperti orang tua lainnya? Aku iri ayah, aku iri ibu pada mereka yang meluangkan waktunya dengan kedua orang tuanya. Sedangkan kalian, hanya bertengkar dan bertengkar. Aku ingin ayah menghargai ibu ku, mencintainya, tapi aku tidak melarang ayah membawa Duchess Violeta, jika dia masih hidup. Aku akan menerimanya dan menganggapnya ibu ku. Ayah, tolong hargai Ibu, dan Ibu tolong hargai ayah, jangan paksa ayah. Dia juga berhak bahagia, selama ini ayah sering menangis. Jemputlah Duchess Violeta ayah, aku menunggunya."
"Aronz! apa yang kamu lakukan?"
"Cukup Ibu, Aronz mohon, biarkan Duchess Violeta pulang, kembali ke kediaman Duke. Dia berhak, dia berhak dari pada ibu. Karena dia adalah Duchess, istri pertama ayah."
"Kamu tidak tahu apa yang ibu rasakan Aronz,"
"Aku mengerti, ibu mencintai Ayah dan Ayah sudah berpaling, aku lahir karena kesalahan, bukan. Karena kesalahan!" Aronz berteriak, ia berlari ke lantai menuju kamarnya, ia terus mengusap genangan air mata di pelupuknya, sia-sia! Air matanya terus mengalir. Ia lagi dan lagi mengusap pipinya yang basah karena tumpahan itu, hatinya terus dan terus di isi oleh kesedihan, kesepian itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Alfaris Crispy
aisshh laki2 plin plan...
2024-04-04
2
Sandisalbiah
disini ank² justru dewasa terlalu dini tp para org tua yg jadi childish...
2024-02-07
0
fifid dwi ariani
trus berusaha
2022-12-16
0