"Tuan, Duke. Apa ada sesuatu yang mengganggu tuan?" tanya Kesatria Lio. Sejak malam itu, Duke Arland suka menghabiskan waktu malamnya di atas balkom. Di balkom inilah, sebagai saksi, Duchess Violeta melihat ke arah luar gerbang untuk melihat Duke Arland dan menyambut dengan senyuman. Sudah lima tahun lamanya, Duke Arland merasa kesepian, meskipun ada Nyonya Felica, tapi tak membuat Duke Arland tersenyum.
Duke Arland menghembuskan nafasnya melalui mulutnya, terlihat sebuah asap keluar dari mulutnya, kedua tangannya menggenggam erat pagar pembatas itu. "Kenapa aku baru menyadarinya? kenapa aku baru mengakuinya? setelah semuanya berubah dan tak tersisa."
Duke Arland memukul pagar balkom itu dengan kasar, pikirannya berkalut dalam bayangan istrinya, istri yang ia abaikan. Sekalipun wanita itu tertawa di depannya, menyambutnya, kadang dia menangis karena ucapannya, ia tidak menoleh ataupun menghiburnya. Selama satu tahun dia hidup dengan wanita itu, wanita yang selalu tersenyum, menyukai apa yang ia sukai, menolak apa yang tidak ia sukai.
"Violeta, leta." Kedua tangannya berpindah, bersendekap di dadanya.
"Tuan, Duke. Di luar dingin, tidak baik untuk kesehatan tuan."
"Dingin, kedinginan ini tak berarti apa-apa untuk ku, Lio. Aku dulu bersikap dingin, tapi sikap ku perlahan di hangatkan oleh kedatangan wanita dari kedua orang tua ku."
"Nyonya Duchess sudah tenang di sana Tuan Duke."
Mata Duke Arland menyipit seraya memutar tubuhnya menghadap Kesatria Lio. "Cukup! sekali lagi kamu mengatakannya, aku akan mengirimkan mu ke wilayah Wetdnard."
"Tapi sampai kapan Tuan Duke seperti ini? menyiksa diri sendiri. Masih ada Nyonya Felica, tuan."
"Jangan samakan Leta dengan Felica, Kesatria Lio!" tatapannya membunuh dan menekan. Hatinya begitu sensitif dengan kalimat perbedaan itu.
"Tuan, Duke!"
Tiba-tiba seseorang mengetuk di luar pintu. "Masuklah!" teriak Duke Arland, tatapannya tetap dalam posisi membunuh pada kesatria di depannya.
"Ada apa?" tanya Duke Arland.
"Maaf mengganggu waktu Tuan Duke. Di luar ada utusan istana yang ingin bertemu dengan Tuan," ujarnya.
Duke Arland mengangguk, dia melewati pelayan itu di ekori Kesatria Lio.
"Saya datang kesini bermaksud menyampaikan undangan dari Baginda, Tuan Duke."
Duke Arland mengambil sebuah undangan dari tangan sang Kesatria utusan istana.
"Saya permisi Tuan, Duke."
Duke Arland tak menyahut, dia membolak-balikkan undangan itu, undangan yang tak penting untuknya. Dulu, ia lebih menyukai pesta, ruang kerja dan istana, ya menurutnya sangat nyaman berbicara dalam bisnis, namun hidupnya berbalik, ia tidak suka dengan pesta, ruang kerja dan bisnis. Dia lebih suka menyendiri dan melamun, memikirkan seseorang yang telah menjadi berlian di hatinya.
Berlian, nama yang indah sekaligus harus di jaga dengan baik, tetapi tidak dengan dirinya yang tak bisa menjaga berlian itu dengan baik, hingga berlian itu pergi meninggalkannya.
Duke Arland memberikannya pada Kesatria Lio, tangannya terlalu malas memegang undangan itu.
"Duke!" Seru seseorang dari arah pintu, wanita itu tersenyum seraya menatapnya. Perlahan kakinya melangkah, menghampiri Duke Arland. Setelah menikah dengan Duke Arland, ia menghilangkan sikap formalnya.
"Undangan apa itu, Duke?"
"Sesuatu yang tidak penting." Duke Arland menjauh, ia tidak berniat bersitatap dengan Felica.
"Apa Duke akan kesana?"
"Aku tidak berniat kesana,"
Wajah Felica sangat kesal, bertahun-tahun Duke Arland berubah hanya karena seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Hanya sebentar, wanita itu telah mampu mengobrak-abrik hati Duke Arland. "Seandainya, Duke tidak kesana. Semua orang akan merasakan seorang ayah tiba-tiba berubah pada putranya."
Duke Arland menghentikan langkahnya, perkataan Felica ada benarnya, demi wanita itu, ia merendahkan dirinya. Bahkan sebelumnya, ia tak pernah merendahkan pada istri sebelumnya.
"Kamu mencintai ku, bukan mencintainya, buktinya aku dan kamu memiliki seorang putra."
Duke Arland tak berkutik, ia memang mencintai Felica, tapi kejadian itu membuatnya tak bisa lepas dari rasa bersalah. Betapa bahagianya, ia melihat binar di mata Violeta saat mengatakan dirinya hamil, tapi ia malah mengecewakannya.
"Kamu hanya merasa bersalah padanya, sudah cukup! kejadian itu bukan sepenuhnya salah mu."
Bolehkah aku jujur, bolehkah aku mengatakannya, aku mencintainya.
Duke Arland kembali melanjutkan langkahnya, ia terlalu penakut untuk mengatakannya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 78 Episodes
Comments
Ayu Dani
huh gini nih yang ngeselin Bisa bisa nya cinta sama 2orang
2025-03-23
0
PHSNR👾
balkon kak 🙏🙏
2024-10-14
0
njell
Laki-laki pecundang bikin nyesel dan jgn disatukan kembali thor
2024-03-22
8